Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Makan Malam Keluarga
Suasana siang itu terasa sedikit berbeda dari biasanya. Baru saja Alesha tiba di kantornya, ponsel di mejanya berdering, nomor Zaskia tertera jelas di layar.
Ia segera mengangkatnya dengan nada sopan namun tetap santai.
“Halo, Bu? Ada apa menelepon di jam kerja begini?” tanya Alesha sambil menyisihkan tumpukan berkas di hadapannya.
Suara Zaskia terdengar dari seberang sana, tegas namun terasa sedikit menahan sesuatu.
“Nak, sore ini pulanglah lebih awal. Ada hal penting yang harus kita bicarakan dan makan malam bersama di rumah. Kalau bisa, jangan ada urusan lain yang mengganggu, ya.”
Alesha mengernyitkan dahi, merasa ada yang janggal. Biasanya ibunya tidak memintanya pulang mendadak tanpa penjelasan lebih dulu.
“Baik, Bu. Pukul enam sore aku sudah sampai di rumah. Bolehkah aku mengajak Zehar ikut? Ia ingin bertemu kalian, dan aku...”
Belum selesai dengan kalimatnya, namun jawaban Zaskia datang segera, tegas dan tanpa memberi ruang untuk berunding.
“Tidak perlu bawa siapa‑siapa dulu, Alesha. Ini urusan keluarga kita saja. Jangan ada orang lain masuk dalam pembahasan kali ini. Paham?”
Kalimat itu membuat hati Alesha sedikit berdebar. Sejak hubungan dengan Zehar kembali terjalin, ia merasa sangat bahagia dan mulai melupakan masa lalu yang menyakitkan.
Ia bahkan sering mengira bahwa janji sepuluh tahun itu terasa jauh dan belum terasa berat, namun larangan ibunya ini seolah mengingatkannya kembali pada kenyataan yang sebenarnya.
Setelah menutup telepon, Alesha terdiam sejenak. Ia membuka kalender di ponselnya, menghitung hari dengan teliti, dan baru tersadar, masa sepuluh tahun yang disepakati masih tersisa tiga tahun lagi.
Ia lupa bahwa waktu belum sepenuhnya membebaskannya, dan ikatan itu masih tercatat dalam kesepakatan lisan yang diucapkan di hadapan kedua keluarga.
Sore itu, tepat pukul enam kurang seperempat, Alesha sudah melangkah masuk ke halaman rumah.
Ia melihat suasana di dalam rumah sudah terlihat rapi dan teratur, meja makan sudah dibersihkan, taplak meja baru terhampar, dan aroma masakan yang sedap mulai tercium dari dapur.
Reyhan sedang duduk di ruang tengah, tampak sedang membaca koran namun matanya tidak benar‑benar tertuju pada lembaran kertas itu.
Begitu melihat putrinya masuk, ia mengangkat wajah dengan tatapan yang terasa berat.
“Sudah pulang, Nak,” sapa Reyhan lembut. “Duduklah sebentar. Kau pasti sudah lelah bekerja seharian.”
Alesha duduk di samping ayahnya, tidak bisa menahan rasa penasaran yang mulai menggelisahkan hatinya.
“Ayah, sebenarnya ada apa ini? Mengapa tadi Ibu melarangku membawa Zehar? Bukankah hubungan kami sudah jelas sekarang?”
Reyhan menghela napas panjang, lalu menepuk pundak putrinya dengan lemah.
“Ayah juga tidak tahu pasti, Nak. Ibumu yang mengatur semuanya sore ini. Ia hanya bilang ada tamu penting yang akan datang dan kita harus membicarakan sesuatu yang menyangkut kesepakatan kita yang masih berjalan.”
Belum sempat Alesha bertanya lebih lanjut, Zaskia keluar dari dapur dengan celemek masih terikat di pinggangnya.
Wajahnya tampak tenang namun matanya menyembunyikan keseriusan yang mendalam. Ia duduk di ujung meja makan, lalu menatap suami dan putrinya secara bergantian.
“Baiklah, karena kita sudah lengkap, aku akan bicara terus terang saja,” ujar Zaskia membuka pembicaraan.
“Sore ini, tidak lama lagi, orang tua Erhan, Pak Argantara dan Ibu Lestari akan datang ke sini untuk makan malam bersama kita.”
Mendengar nama itu disebutkan, jantung Alesha seolah berhenti berdetak sejenak. Ia menegakkan punggungnya, matanya terbelalak kaget dan tidak percaya.
“Mereka? Untuk apa mereka datang lagi? Bukankah kita sudah sepakat menunggu hingga masa sepuluh tahun itu berakhir? Masih ada tiga tahun lagi, Bu!”
Suara Alesha sedikit meninggi, bercampur kaget dan rasa tidak nyaman.
Ia pikir selama waktu itu ia bisa hidup tenang, membangun hubungan dengan Zehar tanpa gangguan, namun kehadiran mereka kembali terasa seperti mengingatkannya bahwa ia belum sepenuhnya bebas.
“Memang masih ada tiga tahun lagi, Nak,” jawab Zaskia dengan nada tenang namun tegas.
“Tapi itu bukan berarti kita bisa bertindak seolah perjanjian itu tidak ada. Ingatlah baik‑baik, bantuan yang mereka berikan, pelunasan utang, biaya pengobatanku, dan biaya kuliahmu, semua itu diberikan dengan dasar kesepakatan yang kita ucapkan bersama. Selama masa itu belum habis, kita masih memiliki kewajiban untuk menjaga sikap dan tidak bertindak tergesa‑gesa.”
“Tapi aku sudah bekerja keras selama lima tahun ini, Bu!” bantah Alesha, suaranya mulai bergetar menahan emosi.
“Aku mengabdikan tenaga dan pikiranku di perusahaan mereka, aku membuktikan bahwa aku bisa berdiri sendiri. Bukankah itu sudah cukup sebagai bentuk tanggung jawabku? Aku sangat mencintai Zehar, dan ia juga mencintaiku. Mengapa kita harus menunggu lebih lama lagi?”
“Karena kesepakatan itu adalah janji yang diucapkan dengan kesadaran penuh, Nak,” potong Zaskia.
“Jika sekarang kita bertindak seolah semuanya selesai sebelum waktunya, maka kita akan dianggap ingkar janji. Apa yang akan dikatakan keluarga Argantara? Mereka bisa menarik kembali segala kemudahan yang sudah diberikan, atau bahkan meminta pertanggungjawaban secara materi. Kita belum sepenuhnya aman sampai waktu yang ditentukan tiba.”
Reyhan yang selama ini hanya diam akhirnya angkat bicara, nadanya terasa bimbang namun berusaha adil.
“Ibumu benar, Alesha. Secara perasaan, Ayah mengerti keinginanmu. Tapi secara kesepakatan, masa sepuluh tahun itu belum berakhir. Kita tidak boleh melanggarnya terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar nanti.”
Alesha merasakan dadanya terasa sesak, sama seperti saat ia dipaksa mengambil keputusan bertahun‑tahun yang lalu.
Ia berdiri dari tempat duduknya, berjalan beberapa langkah menjauh, lalu berbalik menghadap kedua orang tuanya dengan mata yang mulai berkaca‑kaca.
“Jadi selama tiga tahun ke depan ini, aku harus berpura‑pura tidak memiliki siapa‑siapa? Harus menyembunyikan hubungan dengan Zehar, padahal ia orang yang paling aku cintai? Apakah janji itu lebih berharga daripada kebahagiaanku sendiri?” tanyanya dengan suara parau.
“Bukan menyembunyikan, tapi menjaga situasi agar tidak memanas,” jawab Zaskia mencoba melunakkan nada bicaranya.
“Kita hanya bertemu dan mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan. Jangan menolak atau memutuskan apa pun hari ini juga. Tapi setidaknya hargai kehadiran mereka dan janji yang sudah kita buat, sampai waktunya tiba.”
Belum sempat Alesha menjawab, suara klakson mobil terdengar dari luar rumah.
Suara itu membuat suasana menjadi hening seketika. Reyhan berdiri segera untuk menyambut tamu, sementara Zaskia mengusap ujung matanya dan mengatur napasnya agar terlihat tenang.
“Mereka sudah datang. Alesha, tolong jaga sikap dan bicara dengan sopan. Ingat, kita masih dalam masa perjanjian. Jangan ada kata‑kata yang bisa disalahartikan,” pesan Zaskia terakhir kali sebelum berjalan menuju pintu depan.
Alesha hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Ia merasakan kembali rasa terjebak yang sudah lama ia coba lupakan.
Ia sadar bahwa ia belum sepenuhnya bebas, dan pertemuan malam ini akan menjadi ujian baru baginya, antara memegang teguh perasaannya atau tetap menghormati janji yang belum selesai.
Dengan langkah yang terasa berat, ia mengikuti kedua orang tuanya menyambut kedatangan keluarga Argantara, menyadari bahwa perjuangannya untuk kebebasan dan kebahagiaan belum sepenuhnya usai.
kalah saing kmu erhan
real sahabat ini mah😍
kalau bisa up banyak y. plis 🙏