Klan Jenderal Cang yang agung berdiri di ujung jurang kehancuran. Titah rahasia Kaisar Yan telah turun, mengincar nyawa setiap anggota keluarga yang memegang kendali militer. Sebagai pewaris tunggal, Cang Qixuan memilih jalan yang paling dibenci dunia demi menyelamatkan klannya: menjadi sampah. Ia menenggelamkan diri dalam lautan arak, judi, dan wanita, menghamburkan emas kekaisaran seolah debu. Di balik cemoohan rakyat dan tawa meremehkan musuh-musuhnya, Qixuan merajut Jaring Bayangan. Setiap keping emas yang ia lempar di rumah bordil adalah investasi intelijen; setiap aib yang ia ciptakan adalah perisai pelindung. Berawal dari kultivasi yang hancur, ia memanjat kembali dari dasar jurang kekuasaan, menelan penghinaan untuk kelak menelan seluruh Kekaisaran Yan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 tagihan langit berdarah dan pengkhianatan sembilan naga suci
Angin yang membawa hawa panas dari Kereta Perang Matahari Emas berhembus kencang, menghantam Formasi Tirai Sutra Emas yang melindungi ibukota Jinling. Alih-alih terdengar ledakan atau suara benturan keras, yang terjadi hanyalah riak-riak halus pada permukaan jaring emas transparan tersebut. Ribuan benang energi yang saling menyilang itu dengan tenang menyerap suhu ekstrem yang dipancarkan oleh sembilan naga raksasa di angkasa, menetralkannya sebelum hawa panas itu sempat mengeringkan selembar daun pun di daratan kota fana.
Di atas balkon Menara Teratai Emas, Cang Qixuan masih duduk menyilangkan kaki, memutar-mutar cawan teh di tangannya. Ia mengamati pemandangan di angkasa dengan sorot mata yang penuh evaluasi, layaknya seorang rentenir yang sedang menaksir nilai agunan dari seorang debitur yang keras kepala.
Jenderal Huangpu Ye, yang berdiri di atas anjungan kereta perangnya dengan tombak emas di tangan, merasakan urat-urat di pelipisnya berdenyut keras. Sebagai seorang ahli ranah *Domain Bumi (Earth Realm)* tahap awal dari Benua Tengah, ia terbiasa melihat manusia fana dan kultivator benua bawah berlutut gemetar hingga mengencingi celana mereka hanya dengan merasakan serpihan auranya. Namun pemuda berjubah hitam di bawah sana tidak hanya menolak untuk tunduk, melainkan secara terang-terangan meminta "biaya kompensasi" atas kedatangannya.
Ini bukan lagi sekadar arogansi; ini adalah penistaan mutlak terhadap hukum alam semesta yang diyakini oleh Sekte Titah Langit.
"Kompensasi?" Huangpu Ye tertawa. Tawa itu tidak mengandung kegembiraan, melainkan niat membunuh yang begitu pekat hingga awan di sekitarnya berubah menjadi merah darah. "Bocah dari sumur berlumpur. Kau mengira sebuah formasi kura-kura kelas menengah bisa melindungimu dari murka surga? Aku akan merobek tirai sutramu itu, lalu mencabut lidahmu yang sombong itu inci demi inci!"
Huangpu Ye mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat komando yang tegas.
"Pasukan Bintang Jatuh!" suara sang Jenderal menggelegar membelah cakrawala. "Tunjukkan pada lintah darat ini kekuatan sebenarnya dari Benua Tengah! Formasi Tombak Pemecah Bintang! Hancurkan perisainya dalam satu serangan!"
"HUU HAA!"
Seribu prajurit elit yang melayang menggunakan pedang terbang di sekitar kereta perang menyahut serempak. Teriakan mereka mengandung energi ranah *Jiwa Baru (Nascent Soul)* tahap awal yang disinkronkan menjadi satu gelombang suara mematikan. Hanya dengan teriakannya saja, udara di atas Jinling mendidih.
Seribu prajurit itu mengangkat tombak perak mereka ke udara. Aliran qi murni yang sangat masif mengalir keluar dari Dantian mereka, berkumpul di satu titik tepat di atas kereta perang. Energi tersebut memadat, menyilaukan mata, dan membentuk proyeksi sebuah tombak raksasa berwarna putih keperakan sepanjang seribu meter. Ujung tombak itu memancarkan kilatan hukum ruang yang tajam, mampu menembus perlindungan kota manapun di Benua Atas.
Di dalam ruang takhta Menara Teratai Emas, Shen Feiyan memucat pasi. Tangannya mencengkeram erat tepi meja pualam. "Tuanku! Serangan gabungan dari seribu ahli Jiwa Baru yang disalurkan melalui teknik resonansi militer... kekuatannya setara dengan pukulan puncak dari ahli Domain Bumi! Tirai Sutra Emas kita baru saja diaktifkan, pondasinya belum menyatu sepenuhnya dengan urat bumi Jinling! Formasi itu bisa hancur!"
"Kau terlalu meremehkan desain formasi yang kubuat, Feiyan," jawab Qixuan tanpa sedikit pun nada panik. Ia tidak beranjak dari kursinya, matanya hanya menyipit santai menatap tombak raksasa yang siap dijatuhkan dari langit. "Formasi ini tidak dirancang untuk *menahan* serangan. Berapa kali harus kukatakan? Di dunia kapitalis ini, menahan pukulan adalah pekerjaan orang bodoh. Orang pintar membiarkan musuhnya memukul, lalu menagih biaya perawatan rumah sakit."
Tepat saat kalimat Qixuan berakhir, Huangpu Ye mengayunkan tangannya ke bawah.
"Ratakan mereka!"
Tombak perak raksasa sepanjang seribu meter itu meluncur turun bagai palu godam dewa yang dijatuhkan dari kahyangan. Kecepatannya membelah udara menciptakan suara sonik yang merobek telinga. Langit Jinling seakan terbelah dua.
*BLAAAAARRRRRR!!!!*
Tombak itu menghantam tepat di tengah-tengah Formasi Tirai Sutra Emas yang melindungi ibukota. Ledakan cahaya yang sangat membutakan meledak ke segala penjuru. Gelombang kejutnya menyapu awan-awan hingga radius puluhan kilometer, menyisakan langit yang bersih tanpa awan di atas kereta perang tersebut.
Huangpu Ye menyeringai bengis. Ia sudah membayangkan formasi itu hancur berkeping-keping dan menara emas di bawah sana rata dengan tanah.
Namun, saat cahaya putih itu perlahan mereda, senyum di wajah sang jenderal membeku. Otot-otot rahangnya menegang.
Tirai Sutra Emas itu... masih utuh.
Tidak ada satu pun benang emas yang terputus. Sebaliknya, jaring energi transparan itu kini memancarkan cahaya perak yang berdenyut-denyut. Tombak energi raksasa itu tidak memantul atau meledak menghancurkan permukaan perisai; tombak itu justru *meleleh* layaknya es yang dijatuhkan ke dalam lautan lava, tersedot ke dalam simpul-simpul formasi.
Di dalam Menara Teratai Emas, sebuah panel pualam yang menampilkan indikator energi cadangan kota tiba-tiba melonjak naik dengan kecepatan gila-gilaan.
Qixuan menyesap tehnya, lalu mengangguk puas.
"Ah, seribu ahli Jiwa Baru memang memiliki cadangan energi yang sangat berkualitas," puji Qixuan dengan nada mengejek yang sengaja diperkeras menggunakan qi agar terdengar oleh seluruh pasukan di langit. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari sutra dan sebuah kuas giok.
"Mari kita hitung," Qixuan mencoret-coret bukunya dengan gaya seorang akuntan. "Energi murni yang baru saja kalian tembakkan ke perisaiku berhasil mengisi daya sepuluh lumbung pemanas spiritual kota, menyalakan ribuan lampu jalan selama sepuluh tahun ke depan, dan mensubsidi pabrik senjata Hong Lian dengan qi murni tanpa biaya. Kualitas qi kalian lumayan bagus, kuberikan nilai setara lima ratus ribu batu spiritual tingkat atas."
Qixuan mendongak, tersenyum lebar ke arah Huangpu Ye. "Terima kasih atas sumbangan gratisnya, Jenderal. Namun, biaya perbaikan psikologis akibat suara bising kalian barusan adalah satu juta batu spiritual. Jadi, kalian masih berhutang lima ratus ribu kepadaku. Ada yang ingin menyumbang serangan lagi?"
Seribu prajurit Bintang Jatuh yang melayang di udara ternganga tak percaya. Serangan terkuat mereka... diserap dan digunakan sebagai bahan bakar kota fana?! Dan pemuda itu malah menagih kekurangan bayarannya?! Penghinaan ini begitu absolut hingga beberapa prajurit nyaris memuntahkan darah karena qi mereka berbalik menyerang dada mereka akibat emosi yang meluap.
"Ilmu iblis macam apa ini?!" raung wakil komandan pasukan, wajahnya merah padam.
Huangpu Ye mengepalkan tangannya pada gagang tombaknya hingga logam surgawi itu berderit. Matanya menyipit, menganalisis formasi di bawahnya.
Sebagai ahli Domain Bumi dari Benua Tengah, ia tidak bodoh. Ia segera menyadari cara kerja perisai tersebut.
"Itu bukan sekadar formasi pertahanan biasa," desis Huangpu Ye, giginya bergemeretak. "Dia menggunakan Inti Urat Bumi Tingkat Surga sebagai pusat gravitasi penyerap. Segala bentuk energi spiritual murni yang ditembakkan ke arah formasi itu akan diurai oleh hukum bumi dan ditelan ke dalam tanah. Menyerangnya dengan proyeksi qi sama saja dengan menuangkan air ke lautan padang pasir!"
Huangpu Ye mengangkat tangannya, menghentikan pasukannya yang bersiap melancarkan serangan kedua.
"Kalian tidak bisa menghancurkan karang dengan menyiramnya menggunakan air," Huangpu Ye menatap Qixuan dengan sorot mata sedingin es di neraka terdalam. "Jika dia ingin bermain dengan hukum fisik, maka kita hancurkan dia dengan kebrutalan fisik! Pasukan! Mundur ke belakang kereta!"
Seribu prajurit elit itu segera mundur, memberikan ruang bagi kereta perang raksasa tersebut.
Huangpu Ye menoleh ke arah sembilan naga suci bersisik emas yang menarik keretanya. Naga-naga purba itu masing-masing memiliki panjang dua ratus meter. Mata reptil mereka menyala kuning terang, memancarkan hawa panas yang sangat buas. Kulit dan sisik mereka lebih keras dari baja spiritual mana pun.
"Naga Suci Matahari!" perintah Huangpu Ye, menghentakkan ujung tombaknya ke lantai kereta. Sebuah gelombang komando spiritual mengalir melalui rantai kendali yang mengikat leher kesembilan naga tersebut. "Turun ke bawah! Robek formasi sutra itu menggunakan cakar dan taring kalian! Semburkan Api Naga Emas murni untuk melelehkan pondasi kota itu! Bakar si lintah darat itu hidup-hidup!"
Sembilan naga raksasa itu mengaum bersamaan. Suara mereka melampaui gemuruh badai, menciptakan pusaran angin tornado yang menyapu langit. Insting buas dari monster tingkat puncak Jiwa Baru itu dilepaskan. Mereka menukik turun layaknya sembilan komet emas yang siap menghancurkan daratan Jinling murni menggunakan kekuatan fisik dan api biologis mereka yang tak bisa diserap oleh formasi.
Melihat sembilan monster purba itu melesat ke arahnya, Putri Yan Ling tanpa sadar melangkah maju, memanggil pedang esnya. Wajahnya tegang. Formasi Tirai Sutra Emas memang bisa menyerap energi murni, tetapi ia tidak akan sanggup menahan robekan cakar fisik dari sembilan naga yang setara dengan sembilan ahli Jiwa Baru puncak!
Namun, Cang Qixuan masih tidak bergeming dari kursinya. Ia bahkan tidak menutup buku catatannya.
"Naga, ya?" Qixuan bergumam pelan. Matanya menatap tajam ke arah sembilan monster yang sedang menukik itu. "Benua Tengah benar-benar memiliki armada transportasi yang mewah. Sayang sekali, orang yang mengemudikannya tidak mengerti psikologi binatang buas."
Qixuan berdiri. Ia menyimpan buku catatannya ke dalam lengan baju, lalu tangan kanannya merogoh cincin penyimpanan dimensi miliknya.
Ketika jarak sembilan naga itu hanya tersisa tiga ratus meter dari Formasi Tirai Sutra Emas, hawa panas dari napas mereka sudah membuat udara di sekitar menara bergetar. Mulut-mulut naga itu terbuka lebar, memperlihatkan deretan taring setajam pedang, bersiap menyemburkan *Api Naga Emas* yang bisa melelehkan pualam menjadi lahar.
"Sekarang, mari kita tes seberapa setia peliharaan Benua Tengah ini," ucap Qixuan dengan suara yang anehnya terdengar sangat lembut, namun menembus auman para naga.
Dengan satu ayunan tangan, Qixuan melemparkan ribuan butir pil berwarna merah keemasan ke udara. Pil-pil itu melayang melewati celah Formasi Tirai Sutra Emas, menyebar layaknya hujan bintang jatuh yang menyongsong kedatangan para naga.
Pil-pil itu bukan senjata. Itu adalah *Pil Vitalitas Murni* tingkat Surga yang baru saja Qixuan murnikan menggunakan *Koin Timbangan Surga* dari darah suci Sekte Teratai Darah. Setiap butir pil itu mengandung esensi kehidupan absolut yang telah dimurnikan dari segala kotoran, memancarkan aroma surgawi yang sangat manis dan pekat.
Bagi manusia, aroma itu hanya sekadar wangi herbal. Namun bagi monster spiritual dan binatang buas yang evolusinya sangat bergantung pada kemurnian garis keturunan darah, aroma pil tersebut adalah ekstasi absolut. Itu adalah kunci menuju evolusi tingkat dewa yang selalu dicari oleh naluri purba mereka.
Saat aroma ribuan pil vitalitas itu mengenai indera penciuman kesembilan naga suci tersebut, sebuah fenomena yang membuat mata Huangpu Ye nyaris melompat keluar dari rongganya terjadi.
Sembilan naga yang sedang mengamuk dan siap menyemburkan api kiamat itu... mendadak menghentikan laju mereka di udara dengan cara yang sangat canggung. Sayap raksasa mereka mengepak panik untuk melawan inersia turun mereka sendiri. Api yang sudah terkumpul di tenggorokan mereka ditelan kembali hingga membuat mereka terbatuk-batuk mengeluarkan asap kecil.
*KROAAAR?*
Auman ganas mereka berubah menjadi dengusan bingung, lalu seketika berubah menjadi rengekan penuh hasrat.
Insting purba mereka langsung menyingkirkan perintah spiritual dari rantai kendali kereta. Mata reptil yang tadinya dipenuhi niat membunuh kini terbelalak lebar, memancarkan keserakahan yang lugu. Kesembilan naga itu memutar tubuh raksasa mereka di udara, saling bertabrakan satu sama lain, membuka mulut mereka lebar-lebar bukan untuk menyemburkan api, melainkan untuk berebut menangkap hujan pil emas yang ditaburkan Qixuan.
*Nyap! Hap! Kres!*
Naga-naga itu menelan ratusan pil sekaligus. Saat pil-pil itu masuk ke dalam perut mereka, sisik emas mereka langsung bersinar jauh lebih terang dari sebelumnya. Luka-luka cambuk lama di tubuh mereka sembuh dalam hitungan detik. Evolusi garis darah yang tertahan selama ratusan tahun akibat perbudakan sekte kini mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
"A-Apa yang kalian lakukan?!" raung Huangpu Ye dari atas kereta perangnya. Kereta raksasa itu terguncang hebat dan nyaris terbalik karena kesembilan naga yang menariknya kini bergerak acak ke segala arah, sibuk berburu "makanan burung" di udara. "Naga Suci Matahari! Patuhi perintahku! Hancurkan kota itu sekarang juga! Atau aku akan menggunakan cambuk dewa untuk menguliti kalian!"
Huangpu Ye mengalirkan qi Domain Bumi-nya ke dalam rantai kendali, berusaha memberikan sengatan hukuman pada jiwa kesembilan naga tersebut.
Sengatan itu berhasil, tetapi alih-alih membuat naga-naga itu patuh, rasa sakit itu justru memicu kemarahan purba mereka. Naga adalah makhluk dengan harga diri tinggi yang hanya ditundukkan oleh sekte menggunakan penyiksaan dan rantai sejak mereka menetas. Kini, di hadapan mereka ada seseorang yang dengan sangat dermawan memberi mereka makanan tingkat dewa yang tidak pernah mereka rasakan seumur hidup.
Kesembilan naga itu menghentikan perburuan pil mereka sejenak. Mereka menoleh secara serempak ke arah kereta perang yang mereka tarik. Mata kuning mereka tidak lagi melihat Huangpu Ye sebagai majikan mutlak, melainkan sebagai parasit yang menghalangi mereka dari sumber makanan tanpa batas di bawah sana.
"Kroaaaaaarrrrr!!!"
Auman kesembilan naga itu kini diarahkan kembali ke langit. Mereka mengibas-ngibaskan kepala mereka dengan sangat buas, menarik rantai kendali kereta perang itu ke segala arah secara tidak beraturan.
"J-Jenderal! Rantainya tidak kuat menahan amukan mereka!" teriak wakil komandan, berpegangan pada tiang kereta yang kini miring empat puluh lima derajat. Pasukan Bintang Jatuh yang melayang di udara harus segera menghindar agar tidak tersapu oleh kibasan ekor naga yang memberontak.
Di balkon menara, Qixuan tertawa terbahak-bahak. Tawanya begitu lepas dan merendahkan. Ia kembali mengambil segenggam *Pil Vitalitas Murni* dari cincinnya.
"Kalian lihat? Ini adalah pelajaran kedua dari ilmu ekonomi," Qixuan melempar-lemparkan pil itu ke atas dan menangkapnya layaknya kelereng. "Loyalitas yang didapat dari penyiksaan adalah loyalitas palsu. Berikan mereka apa yang benar-benar mereka inginkan, dengan harga yang jauh lebih besar dari yang bisa diberikan oleh majikan lama mereka, dan mereka akan mencabik-cabik majikan itu dengan senang hati."
Qixuan menyentak lengan bajunya, melemparkan sisa pil itu ke udara, kali ini diarahkan tepat di luar perisai, sedikit lebih jauh dari posisi kereta perang.
"Ayo, anak-anak manis. Tunjukkan pada Jenderal sombong itu bagaimana cara menggigit tangan yang memegang cambuk," perintah Qixuan dengan senyum iblis.
Seolah memahami maksud sang Dewa Kekayaan, kesembilan naga itu mengamuk dengan kekuatan penuh. Sembilan ekor monster ranah Jiwa Baru puncak itu menarik rantai secara bersamaan ke arah yang berlawanan dari kereta perang.
*KRAAAK! TAAANG!*
Logam surgawi penyusun rantai kendali itu tidak mampu menahan beban tarikan ekstrem dari sembilan naga yang sedang berontak. Rantai itu putus.
Kereta Perang Matahari Emas, yang tadinya ditopang oleh keseimbangan sihir naga, seketika kehilangan daya angkat utamanya. Kereta raksasa sebesar kota terapung itu oleng parah, miring ke satu sisi, lalu mulai meluncur turun dengan tidak terkendali ke arah pegunungan di luar Jinling.
Kesembilan naga yang kini terbebas melesat turun, sama sekali mengabaikan mantan majikan mereka yang sedang jatuh. Mereka terbang mengitari Menara Teratai Emas dengan jinak, sesekali menyambar sisa-sisa pil yang berjatuhan, lalu mendarat di danau raksasa dekat pangkalan udara Jinling layaknya anjing peliharaan raksasa yang sedang menunggu diberi makan oleh majikan baru.
Ribuan prajurit Bintang Jatuh di langit membeku melihat tunggangan suci mereka... disuap menggunakan manisan.
Di dalam kereta yang sedang menukik jatuh, Huangpu Ye melompat ke udara, menggunakan qi Domain Bumi-nya untuk melayang stabil di angkasa. Wajahnya yang sangat tampan kini terdistorsi oleh amarah dan rasa malu yang melampaui batas kewarasan. Wajahnya semerah darah. Keagungan Benua Tengah telah dilecehkan secara absolut.
"CANG QIXUAN!" raung Huangpu Ye, suaranya membuat langit retak. Urat nadi di dahinya menonjol seperti cacing. "Kau berani mencuri naga peliharaan sekteku?! Kau menggunakan trik kotor hewan untuk merusak keretaku?! Bagus! Aku tidak butuh naga atau formasi untuk menghancurkanmu!"
Huangpu Ye mengacungkan tombak emasnya ke arah menara.
"Pasukan Bintang Jatuh! Lupakan formasi jarak jauh! Turun ke bawah! Tembus perisai itu dengan serangan jarak dekat, bunuh setiap makhluk bernapas di menara itu, dan bawakan aku kepala lintah darat itu dalam keadaan hancur!"
Seribu prajurit elit ranah Jiwa Baru tahap awal, yang telah dipermalukan dan marah, mencabut pedang pusaka mereka. Mereka melesat turun bagai meteor-meteor putih, mengincar satu titik fokus: balkon menara tempat Qixuan berada. Mereka yakin, meskipun formasi sutra itu bisa menyerap serangan energi proyektil, formasi itu tidak akan sempat menyerap ribuan tusukan pedang fisik secara bersamaan.
Di balkon, Yan Ling mencabut pedang esnya, bersiap bertarung sampai mati. Namun Qixuan hanya duduk kembali ke kursinya, menyesap sisa tehnya yang sudah mulai dingin.
"Mereka selalu berpikir bahwa karena aku memiliki uang, aku tidak tahu cara bertarung," Qixuan mendesah pelan. Ia tidak menoleh, hanya berbicara pada udara kosong di samping kursinya.
"Mo Chen," panggil Qixuan dengan nada malas.
Dari bayangan kursi Qixuan, sebuah kegelapan yang sangat pekat merembes keluar, menggenangi lantai pualam.
"Hamba hadir, Tuanku." Suara Mo Chen tidak lagi terdengar dari satu arah, melainkan menggema dari setiap sudut ruangan, bahkan dari dalam pikiran mereka yang mendengarnya.
Qixuan tidak menatap ribuan prajurit elit yang sedang menukik turun dengan niat membunuh absolut. Ia hanya memutar-mutar cawan tehnya.
"Seribu prajurit elit dari Benua Tengah... Mereka menggunakan seragam sutra putih yang cukup mahal. Darah sangat sulit dibersihkan dari sutra. Pastikan kau memotong leher mereka dengan sangat bersih. Aku tidak ingin ada percikan darah kotor yang menetes mengenai formasi sutra emasku. Pemandangan kotaku akan menjadi tidak indah."
"Sesuai kehendak Anda, Penguasa Bayangan," jawab suara tak bertubuh itu.
Tepat saat seribu prajurit Bintang Jatuh berjarak hanya seratus meter dari batas Formasi Tirai Sutra Emas, langit senja di sekitar mereka tiba-tiba padam.
Bukan karena awan, melainkan karena cahaya di wilayah tersebut benar-benar *dihisap* hingga ketiadaan.
*Domain Jiwa Baru: Ruang Pembantaian Bayangan Mutlak.*
Mo Chen, sang pembunuh bayangan yang telah menyerap Inti Jiwa Kegelapan murni, melepaskan domain perdananya. Ribuan prajurit Bintang Jatuh mendadak kehilangan visi mereka. Panca indera spiritual mereka dibutakan. Suara teriakan rekan di sebelah mereka menghilang. Mereka seolah dijatuhkan ke dalam ruang hampa tak bersuara dan tak bercahaya.
Di tengah kepanikan massal para kultivator Benua Tengah tersebut, kematian datang tanpa bentuk.
Tidak ada kilatan pedang, tidak ada benturan qi yang spektakuler. Yang ada hanyalah suara yang sangat halus, *sreett... sreett... sreett...*, seperti suara gunting tajam memotong kertas sutra.
Dalam kegelapan mutlak yang hanya berlangsung selama sepuluh tarikan napas itu, satu per satu prajurit Bintang Jatuh ranah Jiwa Baru kehilangan kepala mereka. Leher mereka digorok dengan presisi anatomis yang mengerikan, begitu cepat dan bersih hingga darah bahkan belum menyadari bahwa ia harus menyembur keluar dari pembuluh nadi yang terputus.
Ketika Domain Bayangan itu ditarik kembali oleh Mo Chen, cahaya senja kembali menyinari langit Jinling.
Pemandangan yang tersaji benar-benar membekukan jiwa siapa pun yang melihatnya.
Di udara, seribu tubuh tanpa kepala masih melayang kaku karena inersia sisa kultivasi mereka. Beberapa detik kemudian, tanpa ada komando, seribu tubuh berbaju zirah putih itu jatuh berhamburan ke bumi layaknya hujan patung batu, mendarat di luar area formasi kota dengan bunyi debuman tumpul yang memilukan.
Seribu kepala berjatuhan ke dalam keranjang bayangan yang entah sejak kapan disiapkan oleh Mo Chen di luar perisai, tersusun rapi tanpa setetes darah pun mengotori jaring emas formasi pelindung.
Seribu prajurit ranah Jiwa Baru dari Benua Tengah. Pasukan yang bisa meratakan separuh dunia fana. Dibantai dalam keheningan mutlak tanpa sempat memberikan perlawanan, layaknya memotong ilalang liar di taman belakang.
Mo Chen muncul kembali dari dalam bayangan, berdiri diam di sebelah kursi Qixuan. Pedang hitam di tangannya bahkan tidak memiliki noda merah sedikit pun. Ia kembali menjadi patung pelayan yang setia, seolah pembantaian barusan hanyalah tugas menyapu debu.
Di langit, Jenderal Huangpu Ye berdiri mematung sendirian. Tombak emasnya bergetar di tangannya yang kini kaku. Seluruh pasukannya musnah. Kesembilan naganya telah membelot menjadi hewan peliharaan Jinling. Kereta perangnya telah jatuh hancur di pegunungan.
Ia datang sebagai matahari pembawa kiamat, menuntut benua ini berlutut di bawah kakinya. Kini, ia hanya berdiri seperti badut kesepian di langit senja, menatap sang iblis berjubah hitam yang masih duduk santai menikmati pemandangan sore.
Qixuan meletakkan cawan tehnya, lalu berdiri perlahan. Ia melangkah maju hingga wajahnya menembus proyeksi luar balkon, menatap lurus ke arah Huangpu Ye dengan mata amber-emasnya yang kini berkilat penuh antisipasi pembunuhan murni.
"Kau menagih hutang pada orang yang salah, Jenderal," ucap Qixuan, suaranya sedingin bilah pedang es, menembus jarak spasial hingga menusuk gendang telinga Huangpu Ye.
"Di rumahku, jika pelayananku sudah menghabisi lalat-lalat pengganggu, giliran sang majikan yang memotong kepala si pemilik peternakan. Sekarang, turunlah ke bumi, dan biarkan aku mengajarimu nilai sebenarnya dari seorang manusia Benua Tengah di pasar loakku."
Pertarungan satu lawan satu antara Jenderal Domain Bumi dari surga ortodoks melawan Sang Tuan Muda Penguasa Kegelapan tidak bisa dihindari lagi. Langit senja Jinling bersiap menjadi panggung eksekusi di mana kesombongan Benua Tengah akan ditebas menggunakan bilah kapitalisme yang sesungguhnya.