" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
" Tidurlah,aku akan menjagamu di sini" perintah Rafael tegas.
" Kakak pulang aja,aku akan di temani Cecilia" lagi-lagi Meera mengusirnya.
Mendengar Meera yang mengusirnya untuk kedua kalinya,dengan cepat Rafael bergerak menaiki ranjang dan menarik Meera dalam dekapan nya" tidur atau aku akan buat kau tak akan tidur sampai pagi" ancam Rafael lagi ambigu.
Walaupun merasa sangat penasaran dengan maksud ucapan Rafael yang bisa membuatnya tak akan tidur sampai pagi,namun Meera memilih patuh,ia menyusupkan wajahnya di dada bidang Rafael seraya memejamkan matanya, menghirup aroma maskulin khas dari pria pujaan nya tersebut.
Rafael terus mengusap lembut punggung Meera ,untung gadis itu tak memakai dress tidur yang terbuka seperti yang penah- pernah ia lihat, mungkin karena memang Meera sudah merasa demam sejak awal, makanya gadis itu terlihat mengenakan dress tidur yang cukup tertutup,Rafael menarik selimut menutupi tubuh mereka,namun terlihat Meera yang merasa risih dan menendangnya dengan kakinya.
Hingga beberapa saat kemudian, Rafael bisa mendengar dan merasakan nafas teratur Meera,gadis itu sudah terlelap,antara takut padanya atau efek obat yang ia minum, walaupun Meera sudah tertidur Rafael merasa enggan meninggalkan gadis manja itu,ia justru ikut merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya,ia benar-benar merasa cukup lelah,tak peduli apa yang akan terjadi besok pagi, yang ia inginkan saat ini adalah meyakinkan dirinya bahwa Meera baik-baik saja.

" Pangeran...." Cecilia hampir menjatuhkan gelas di tangan nya saat melihat Rafael keluar dari kamar Meera,ia sampai berulang kali mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia tak salah melihat.
Saat ini tepat pukul lima pagi,ia terbangun,ingin mengembalikan gelas air putihnya ke dapur dan berniat akan menjenguk keadaan Meera,semalam ia benar-benar ketiduran,dan baru terbangun subuh tadi.
" Pa-pangeran" Cecilia menyapa seraya menunduk hormat,ia benar-benar sangat gugup jika berinteraksi dengan calon orang nomor satu di negara nya tinggal itu.
" Ingatkan Meera meminum obat nya dan harus sarapan" Rafael terlihat biasa saja saat terpergok dengan nya baru keluar dari kamar Meera di saat pagi,itu artinya pria itu berada di kamar Meera sepanjang malam.
" Apakah mereka tidur bersama? ya Tuhan..." Cecilia menelan kasar Saliva nya saat membayangkan sahabatnya tidur bersama pria idola hampir seluruh wanita di negara tersebut.
wajah Cecilia sampai memerah dengan mata yang terpejam sesaat, pikiran nya berkelana membayangkan dua insan itu berada di ranjang yang sama.
" Ba-baik pangeran, apakah Meera sudah bangun? " Cecilia menjawab dengan nada yang begitu gugup,ia bahkan tak sedikit pun berani mengangkat wajahnya.
" Belum" jawab Rafael singkat dan ia kembali melanjutkan langkahnya menuju tangga,menuruni tangga meninggalkan Cecilia yang serasa berkeringat seluruh tubuhnya.
" Huf...." hembusan nafas panjang dan berat akhirnya Cecilia keluarkan,ia baru berani mengangkat wajahnya setelah tak mendengar lagi suara langkah kaki Rafael.
"Menengangkan banget sih,orang kok kayak kulkas dua belas pintu,kanebo kering aja kalah kakunya" omel Cecilia yang merasa bertemu dengan Rafael memang benar-benar meresahkan dan mendebarkan.
" Bik...." sapa Cecilia saat melihat kedatangan bik Munah,setelah kepergian Rafael.
" Itu bukan pertama kali non,dulu pangeran Rafael memang sering datang ke rumah ini saat tuan dan nyonya besar pergi ke luar negeri,pangeran tau kalau non Meera susah tidur kalau tidak ada yang mengusap punggungnya atau menemani nya, terlebih saat sedang sakit seperti semalam" ucap bik munah,.
Wanita paruh baya itu justru terlihat biasa saja dan tak menunjukkan respon berlebihan,membuat Cecilia mengangguk kaku.
Ia memang pernah beberapa kali menginap di rumah sahabatnya itu,tapi sebelumnya tak pernah ia melihat keberadaan pangeran Rafael di rumah itu.
" Tapi bik biasanya" tanya nya penasaran.
Bik Munah mengagguk mengerti apa yang Cecilia maksudkan" ya sejak non Meera masuk SMP,hal itu terus berkurang,atau lebih tepatnya sejak non Meera mulai kedatangan tamu bulanan nya,pangeran mulai terlihat memberi jarak,dan lebih terlihat sejak pangeran mulai ikut mengelola bisnis kerajaan " bik Munah sedikit menjelaskan.
" tapi non Cecil tolong rahasiakan semua ini ya,hanya keluarga ini yang tau tentang semua itu,bahkan raja dan ratu pun tidak terlalu tau, mungkin mereka mengira bahwa pangeran bermalam di kediaman pribadinya yang terdapat di luar istana" pinta bik Munah.
Dengan cepat Cecilia mengagguk mengerti " mana berani bik aku berurusan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pangeran Rafael,liat mukanya aja aku serasa jantungan bik, apalagi kalau sampai terlibat suatu masalah dengan nya,cuma Meera yang paling berani padanya" jawab Cecilia cepat.
Bik Munah mengangguk percaya,wanita paruh baya itu tau tentang latar belakang sahabat putri majikan nya itu,dari keluarga yang juga terpandang dan berlatar belakang cukup baik,bukan dari latar belakang yang tak jelas atau sembarangan.
" Ya sudah,non lanjutin lagi aja tidur nya,biar bibik yang jenguk non Meera,kata pangeran tadi suhu tubuh non Meera udah stabil" .
" Ga bik,aku ga akan bisa tidur lagi kalau udah kebangun kayak gini,semalam aku beneran ketiduran, sampai ga balik lagi ke kamar Meera,tapi untung juga aku ga balik ke kamar Meera,kalau sampai balik ga tau bakal gimana bik" jawab Meera jujur .
Bik Munah tertawa kecil seraya memukul pelan lengan sahabat nona mudanya itu" ga akan terjadi apa-apa non di antara mereka,pangeran ga pernah nyentuh non Meera lebih dari memeluknya,bibik sering ngintip kok" jujur bik Munah seraya terkikik kecil, membayangkan kelakuan beliau sendiri yang terasa begitu konyol.
Sedangkan Cecilia menganga menatap tak percaya pada wanita paruh baya itu" bibik ngintip mereka? Kok bisa?" heran Cecilia.
Dengan cepat bik Munah mengagguk pasti" kan pintu kamar nya ga pernah di kunci,kalau tidur non Meera ga pernah mengunci pintu kamar nya sejak kecil" jawab bik Munah santai.
" Masuk akal juga sih bik,kan pangeran menanggap Meera itu seperti adiknya bukan kekasih,ga ada yang perlu di khawatirkan sih" jawab Cecilia.
Bik Munah mengagguk mengiyakan apa yang Cecilia katakan,hal itu juga yang membuat beliau tidak merasa keberatan saat pangeran datang ke kamar nona mudanya, selain karena tak berani melarang mengingat latar belakang pria bernama Rafael itu,beliau juga bisa melihat tatapan penuh sayang pangeran ke Meera.
eeh katanya tidak cintaa
tpi koq cemburuuu🤣🤣🤭🤭🤭
dia hanya rubah yang licik
apakah kamu penggemar rahasia
sebab Iya ingin anaknya masuk dalam kawasan keluarga istana
bukan sekedar pelayan, yang di anggap rendahan🤭😔
kira kira siapa si dia
bikin penasaran aja
ngelunjak ya
minta di geprek kau
dan ternyata Dai si penghianat kerajaan
ada disampingmu Rafael
ular kadut
apakah dia termasuk anak bangsawan
sampai dgn percaya dirinya
selalu mengincar pangeran
ternyata ada pria lain yang Akan melindungi meera
dan Rafael seolah menerima perjodohan itu
hanya karena ingin menutupi bhubungannya dgn camel🤭🤭
ish is tak patut
tak patut
Baru juga lihat Meera ketawa ketiwi sama kaka2 OSIS, udah kebakaran jenggot aja. Gimana kl Gio atau cwo lain bisa deketin Meera ?
ah elah EL EL...gemes pengen cubit ginjalmu EL 😂😂