NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 18 : Tertipu

"Bagaimana kalo aku menjual wine ini dengan harga satu koin emas setiap tong nya. Namun, ada satu syarat yang harus kamu lakukan."

"Syarat apa?" Paul membalas Theo dengan alis agak terangkat.

"Satu tong ini kira-kira bisa dibuat menjadi 40 sampai 50 botol, bagaimana kalau setiap botol aku mendapatkan satu koin perak?"

"Hahahaha, memang kau pebisnis yang licik. Baiklah, aku setuju denganmu."

Paul segera membalas jabatan tangan dari Theo.

"Aku berikan tong ini sebagai bonus." Theo menaruh tong di bar itu.

Setelah mencapai kesepakatan, masing-masing dari mereka kembali ke kamarnya.

"Aku harus bertambah kuat," ujar Theo ketika ia sedang mandi.

Keesokan harinya, Theo diberikan sebotol endapan wine oleh Paul.

"Ini, koin emas dan endapan wine yang kamu buat. Lain kali aku tidak akan memberi endapannya, jadi kamu harus mengambilnya sendiri." Paul mengulurkan satu koin emas dan memberikan sebotol cairan.

"Makasih, oiya ada serikat petualang di sekitar sini nggak ya?"

"Serikat petualang? Mmm... Kayanya kalo di ibukota Kekaisaran Barat ada, tapi di kota suci ini nggak ada serikat petualang. Mungkin, kamu bisa mencoba menghubungi Silas dan Lucy."

"Baik." Theo keluar dari tavern, lalu ia berjalan ke arah kuil.

Di jalan menuju kuil, Theo melihat ada sebuah toko dengan banyak senjata di luar.

"Sepertinya aku harus membeli belati."

Theo masuk ke dalam toko, terlihat di dalam belati dan pedang berjejer di pajang di atas etalase.

Perhatian Theo tertuju kepada sebuah belati. Belati berwarna putih, dengan gagang kayu dan bentuk mirip kukri.

"Wah, sepetinya ini belati yang bagus."

"Selamat datang Tuan, mau beli apa? Wah sepetinya Tuan punya mata yang baik ya."

Seorang pelayan datang, dan membawa belati yang di beli oleh Theo.

"Ini namanya kukri Tuan, sebuah belati yang dibawa oleh orang-orang di pegunungan Utara Kerajaan Barat. Sangat cocok untuk berburu, bertarung, maupun untuk kebutuhan sehari-hari." pelayan itu membawa pisau yang menarik perhatian Theo.

"Hmm, berapa harganya?" Theo bertanya kepada pelayan itu.

"Ahh... Pas sekali, sekarang sedang ada promo spesial. Tuan bisa membeli kukri ini dengan harga satu koin emas."

"Ah begitu ya? Kebetulan aku menyukai kukri ini. Baiklah, ini."

Theo segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sekeping koin emas.

"Baiklah Tuan, akan saya beri bonus sarung belati dan sabuk belati. Terima kasih sudah berbelanja Tuan."

Theo melangkahkan kaki keluar dari toko, "Rasanya agak sayang sih, tapi belati itu sangat menarik. Jadi, nggak papa lah."

"Theo! Kok kamu bisa di sini?" Silas dan Lucy melambai ke arah Theo, menyambut Theo di pelataran kuil.

"Kebetulan ada kalian, aku mau nanya informasi tentang serikat petualang."

"Ooh, di kota suci ini, nggak ada serikat petualang. Memang kenapa?"

Theo menggaruk kepalanya, "Aku mau dapat duit, hehehe."

"Hm... Sebenernya ada sih, kaya serikat petualangan gitu. Tapi... Itu hanya khusus biarawan dan biarawati kuil. Atau, kamu bisa kok kita masukin kelompok kita."

"Hmm... Boleh deh." Theo segera pergi mengikuti Silas dan Lucy.

"Ngomong-ngomong, kamu beli apa tuh?"

Lucy yang sedari tadi melihat di pinggang Theo ada ikat pinggang yang asing tidak kuat menahan rasa ingin tahunya.

"Ah, ini? Aku tadi baru beli kukri. Agak mahal sih, tapi ini sangat bagus pengerjaannya." Theo mengeluarkan kukri di pinggangnya dan memberikannya kepada Silas dan Lucy.

"Apa? Mahal? Memang kamu beli berapa?" Lucy segera melirik Theo dengan mata terbelalak.

"Emm... Satu koin emas." Theo yang bingung dengan kondisi hanya bisa menggaruk kepalanya.

"Apa? Haish. Kukira kamu seorang yang tau nilai barang." Lucy menepuk jidatnya, dilanjutkan dengan Silas yang menahan tawanya.

Pfft...

"Emang kenapa?" Theo penasaran dengan keadaannya.

"Ayo sini, lihat." Silas segera membawa Theo ke dalam kuil.

Di dalam, terlihat sebuah dinding dengan banyak senjata terpasang.

"Ini adalah senjata gratis yang diberikan oleh kuil, kepada setiap warga yang hendak membuat serikat dengan anggota kuil. Lihat!"

Silas menunjukkan belati yang sama, gagang yang sama, bahkan ikat pinggang yang sama.

"Kamu bisa memilih banyak senjata di sini. Haish, anggaplah satu koin itu biaya belajar untuk nggak ditipu lagi." Lucy menggelengkan kepalanya.

Diam... Theo hanya bisa diam, tidak mampu memproses segala informasi yang ada.

"Sial! Dasar penipu sialan!" Theo ambruk seketika dan berteriak.

Di sisi lain, Lucy segera mendaftarkan Theo ke resepsionis kuil.

"Silahkan pilih salah satu senjata." Wanita resepsionis mengantar Theo ke dinding tadi.

"Hmm..." Theo meneliti setiap sudut dinding, kukri, tombak, naginata, bahkan ada senjata yang dia belum pernah lihat.

"Aku pilih ini." Theo mengambil sebuah tongkat dengan panjang kurang lebih empat kaki.

"Wah, pilihan yang unik." Silas menepuk pundak Theo.

"Aku merasa lebih baik memilih benda tumpul sebagai senjata. Lagian, lihat ini." Theo mengangkat kukri yang terpasang di tembok.

"Belati ini jauh lebih ringan dari yang aku beli. Hahahah, jadi aku nggak ketipu."

"Nggak, ini dua belati yang sama. Liat nih, ada simbol kuil ordo cahaya." Lucy menunjukan sebuah simbol yang langsung menggoyahkan Theo.

"Hahaha, aku ketipu, hahahaha."

Theo akhirnya di bawa untuk mengerjakan misi.

"Sebuah desa di Utara kota diserang oleh sekelompok teroris, tolong basmi mereka."

Seorang wanita menjelaskan misi yang harus dijalani oleh Theo.

"Ayo!" Silas dan Lucy segera menarik Theo menuju kandang kuda dan menaikinya.

Di dalam perjalanan

"Hei pelan! Pelan!" Theo meminta Silas dan Lucy untuk memperlambat kuda mereka.

"Nggak, kita harus lebih cepat. Hiya!" Silas segera menarik tali kekang kuda yang dia naiki bersama Theo.

"Aaa!" Theo merasa kuda itu begitu cepat.

Mereka bertiga melewati jalan di hutan, di kota, dan bahkan jalan setapak diantara sawah gandum.

"Hei, memang sejauh apa sih desa ini? Kita udah naik kuda selama satu jam loh."

"Sampai!"

Lucy segera lompat dari kudanya, dilanjutkan dengan Silas yang lompat dari kudanya.

"Hei! Aku jangan ditinggal! Ha! Kuda ini akan jatuh!" Theo berteriak ketika kuda yang ia tunggangi sedikit bergoyang.

"Turun saja Theo," ucap Lucy kepada Theo yang masih memegang erat pegangan di sadel kudanya.

"Turun? Tolong aku! Aku tidak... Ha! kudanya bergerak!."

Silas segera naik, lalu ia mengangkat Theo dan melemparnya ke tanah.

"Ha! Dasar sialan!"

Bruk

Theo terjatuh dan berguling di tanah.

"Huh... Dasar lebay."

Lucy dan Silas kemudian menertawakan Theo.

"Sial, kok kalian nggak takut naik kuda?"

"Kenapa kamu kaya baru pertama kali naik kuda?" Lucy bertanya dengan heran, sebab di sekitarnya tidak ada orang yang Idak pernah naik kuda.

"Memang, aku kan nggak pernah naik kuda."

"Hei, hei, sudah. Kita harus ingat tujuan kita ke sini." Silas memisahkan Lucy dan Theo yang agak berdebat.

"Ok" Lucy dan Theo menjawab dengan serempak.

Mereka menjelajahi desa itu, sepi, sunyi, tidak ada sedikitpun orang di situ.

"Tunggu, ada sesuatu yang aneh."

...****************...

End Ch. 18 : Tertipu

Makasih semuanya sudah membaca karyaku, jangan lupa like, comment, dan favorit ya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!