NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: SECANGKIR TAWA

Di Bawah Langit Sore dan Pertanyaan Mematikan

Angin sore berhembus malas, membawa serta debu jalanan. Di dalam bus, Gian duduk dengan wajah yang suram. Di sebelahnya, Reo—berperan sempurna sebagai badut yang terus saja mencolek, berbisik, dan melempar lelucon receh yang membuat telinga Gian terasa seperti dikerubungi kawanan lebah.

Mereka akhirnya turun di halte pemberhentian. Begitu terburu-burunya Gian ingin lepas dari siksaan Reo, ia melangkah turun dengan cepat, mengabaikan fakta bahwa mereka hampir saja lupa membayar ongkos jika sopir bus tidak menatap mereka dengan tatapan tajam, mereka mungkin tidak membayar dan pergi begitu saja.

Mereka kini jalan meninggal bus dan menyusuri trotoar, tiba sampai di persimpangan jalan di mana itu menuju ke arah rumah Gretta.

"Hei, Gian. Aku ingin bertanya padamu," ujar Reo tiba-tiba. Suaranya merendah, diiringi lirik matanya yang menyipit curiga, persis seperti detektif.

"Tanya apa?" jawab Gian malas. Langkah kakinya dipercepat.

"Apakah kamu menyukai Gretta?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Langkah Gian terhenti seketika. Ia tersentak, menoleh ke arah Reo dengan mata melebar. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Dalam sepersekian detik, mengubah wajah sang pemuda sedingin es itu menjadi kepiting rebus yang baru saja diangkat dari panci mendidih.

"T-tidak! Siapa juga yang menyukainya?!" Gian gelagapan. Suaranya bergetar, sebuah dusta yang diucapkan dengan sangat amatiran. Tangannya mengibas di udara seolah sedang mengusir rasa malu.

"Benarkah?" ejek Reo. Senyum jahil dibibirnya kini terlihat.

"Benar! Aku… aku hanya ingin menebus kesalahanku kemarin! Karena Insiden bola voli yang mengenai kepalanya itu…!" Gian meracau, memberikan alasan absurd sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Reo.

Reo hanya terkekeh pelan. Sebuah tawa kemenangan yang menggema di jalanan sore. Ia memasukkan tangan ke dalam saku celananya, lalu berjalan santai menyusul sang sahabat.

Aroma Menggoda di Surga Gula

Tidak butuh waktu lama hingga kaki mereka berpijak di depan sebuah bangunan manis dengan jendela kaca besar. Toko kue milik keluarga Gretta. Bangunan itu berdiri bak oase di tengah gersangnya kota, memancarkan kehangatan dan menebarkan aroma vanila serta mentega cair yang mampu meruntuhkan kesedihan siapa pun yang menghirupnya.

Reo, dengan rasa ingin tahu yang tak pernah bisa dijinakkan, langsung menempelkan wajahnya ke kaca etalase. "Jadi ini tokoh kue milik mamanya Gretta?" gumamnya takjub, napasnya meninggalkan embun konyol di kaca.

Tak ingin menanggung malu lebih lama, Gian mencengkeram kerah belakang baju Reo dan menyeretnya masuk layaknya menyeret karung beras. Di balik meja kasir, lautan pelanggan sedang antre dengan tertib. Disana mamanya Gretta, Tante Lesa sedang melayani pelanggan.

"Permisi, Tante..." sapa Gian dengan nada sesopan mungkin, sangat kontras dengan tangannya yang masih sibuk menahan Reo agar tidak mencomot kue di etalase.

Tante Lesa menoleh, senyum lelah namun hangat mengembang di wajah keibuannya. "Eh, ada Gian. Tante sedang sibuk sekali di sini. Kalau mau bertemu dengan Alesia, langsung saja naik ke lantai dua, ya. Dia sedang bersantai di ruang tamu."

"Baik, Tante. Terima kasih," ujar Gian membungkuk hormat, lalu kembali menyeret Reo menuju tangga kayu yang berderit pelan menyambut langkah mereka.

Invasi Sang Barbar dan Patung Penjaga Pintu

Sesampainya di depan pintu lantai dua, langkah Gian kembali terhenti. Jantungnya berdebar dengan ritme yang tidak karuan. Ia berdiri mematung, menatap daun pintu seolah itu adalah gerbang menuju dimensi lain. Ada sebersit ketakutan berbalut rindu di matanya.

"Ada apa, Gian? Kenapa kau berhenti seperti patung penjaga candi?" tegur Reo keheranan.

Tanpa basa-basi, Reo langsung meraih kenop pintu, membukanya lebar-lebar, dan berteriak sekuat tenaga, "GRETTTA! APA KAU DI SANA?!"

Di ujung ruangan, di atas karpet berbulu yang hangat, Gretta sedang duduk manis. Namun, pemandangan itu jauh dari kata anggun. Mulut gadis itu menggembung penuh oleh sekepal sushi, matanya melotot kaget menatap ke arah pintu layaknya seekor hamster yang tertangkap basah sedang mencuri biji bunga matahari.

"Kalian?!" pekik Gretta dengan susah payah, pipinya masih menonjol lucu.

Reo yang memang tak pernah dibekali urat malu sejak lahir, langsung melepaskan sepatunya asal-asalan dan berlari menghampiri Gretta. Ia duduk bersila di samping gadis itu, meninggalkan Gian yang masih membeku di ambang pintu.

"Wah, Gree! Sepertinya itu enak sekali! Kau sedang makan apa?" tanya Reo dengan mata berbinar-binar menatap piring di atas meja.

"Aku sedang makan sushi. Tadi aku mencoba membuatnya sendiri," jawab Gretta. Dengan senyum manis, ia menyodorkan satu potong sushi ke arah Mulut Reo.

Reo menyambutnya dengan mulut terbuka lebar. Matanya seketika terpejam. "Astaga, Gree! Ini enak sekali! Apa aku boleh menghabiskan setengahnya?!"

Gretta tertawa kecil dan mengangguk pelan. Di ambang pintu, hati Gian serasa diiris tipis-tipis. Ia mengutuk Reo dalam hatinya. Bisa-bisanya manusia barbar itu menikmati masakan Gretta tanpa rasa malu sementara aku berdiri di sini seperti pajangan kuno, batin Gian.

Gretta akhirnya menyadari kehadiran sosok yang tertinggal. Ia menoleh, menatap Gian dengan sorot mata yang teduh.

"Gian, kemarilah. Jangan hanya berdiri di sana seperti orang asing. Sini, kita makan bersama. Kau pasti lelah dan belum makan setelah pulang sekolah," seru Gretta. Suaranya mengalun lembut.

"Iya, Gian! Jangan malu-malu! Sushi buatan Gretta ini rasanya seperti masakan bintang lima!" tambah Reo dengan mulut yang masih penuh nasi.

Gian menelan ludah. "I-iya... aku ke sana," suaranya nyaris tak terdengar. Dengan langkah kaku dan gemetar, ia melangkah masuk, menutup pintu perlahan, tak lupa melepaskan sepatunya dan meletakkan dengan rapi di depan pintu, ia kini melangkah lalu duduk di sebelah kiri Gretta dengan jarak yang sangat diperhitungkan—tidak terlalu jauh.

Simfoni Rasa dan Tragedi Tersedak

Gretta menyodorkan sepiring kecil berisi beberapa potong sushi ke hadapan Gian. "Ayo, Gian, dimakan. Aku kebetulan membuat cukup banyak hari ini."

"Terima kasih," jawab Gian kaku. Jemarinya dengan canggung meraih sumpit. Ia menatap potongan sushi itu.

"Ayo dicoba, Gian," dorong Gretta, menatap pemuda itu dengan penuh harap.

"Iya, Gree."

Dengan perlahan, Gian memasukkan satu potong sushi ke dalam mulutnya. Dan saat itu juga, waktu seakan berhenti. Karena sushi buatan gretta sangat enak membuat Gian makan satu kali lagi.

"Bagaimana rasanya, Gian?" tanya Gretta, kedua tangannya bertumpu di meja, menunggu dengan cemas.

"Iya, Gian, bagaimana rasanya?" timpal Reo menuntut.

Gian menunduk, wajahnya kembali dihiasi rona merah tipis. "Enak," jawabnya sangat pelan, suaranya teredam oleh rasa malu yang memuncak.

Mendengar satu kata itu, seulas senyum tipis yang teramat manis terukir di bibir Gretta. Hatinya lega.

Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Reo, sang perusak suasana, mencibir. "Nah! Begitu dong kalau menilai masakan orang! Bukan dengan jawaban singkat yang angkuh begitu. Kasih pujian yang meriah biar yang masak tambah semangat!"

Ledekan Reo membuat Gian tersentak kaget di tengah kunyahannya. Nasi sushi yang lembut mendadak salah jalur masuk ke tenggorokannya.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Gian terbatuk hebat, wajahnya memerah, kali ini murni karena kekurangan oksigen, matanya berair menahan siksaan di kerongkongan.

Kepanikan seketika melanda. Gretta buru-buru mengambilkan segelas air putih. "Astaga! Gian, minum dulu! Minum!" Gadis itu menyodorkan gelas ke bibir Gian dengan tangan gemetar penuh kekhawatiran.

Di sisi lain, Reo justru memegangi perutnya, tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan sahabatnya. Brak! Sebuah pukulan mendarat mulus di pundak Reo. Gretta memelototinya.

"Reo! Kalau orang sedang makan jangan diajak bicara apalagi diejek!" omel Gretta, meski tangannya tetap lembut menepuk-nepuk punggung Gian.

Reo hanya meringis sambil memamerkan cengiran jahilnya, tak sedikit pun merasa bersalah.

Hangatnya Sebuah Kebersamaan

"Gian, kau tidak apa-apa?" tanya Gretta cemas, menatap wajah Gian, Mata gadis itu memancarkan ketulusan yang murni, membuat hati Gian yang tadinya tersedak, kini meleleh.

Gian mengusap sisa air di sudut bibirnya. Ia melirik tajam ke arah Reo yang kini sudah diam namun masih berusaha menahan tawa. "Tidak apa-apa, Gree. Santai saja," jawab Gian, suaranya sedikit parau namun hatinya menghangat oleh sentuhan perhatian sekecil itu.

"Syukurlah. Baiklah, ayo kita lanjutkan makannya. Film kartunnya sudah mau mulai!" seru Gretta riang, menunjuk ke arah layar televisi yang mulai menampilkan karakter-karakter lucu dengan warna-warna cerah.

Sore itu, di ruang tamu sederhana di atas toko kue yang harum, tiga remaja itu duduk bersisian. Diiringi tawa renyah akibat adegan konyol di televisi, mereka menghabiskan sisa sushi dengan hati yang gembira.

Bagi Gian, meski mulutnya tak banyak bicara dan wajahnya kerap kali ditekuk karena keusilan Reo, momen ini adalah momen indah.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!