Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Selepas melaksanakan salat Isya berjamaah di mushola resort, keluarga besar memilih untuk mengadakan acara bakar ikan dan hidangan seafood segar di tepi pantai untuk makan malam. Tadinya, Fadhlan sempat menawarkan untuk memesan makanan langsung dari restoran bintang lima di resort tersebut, namun usulan itu langsung ditolak oleh Paman Andi, Haikal, dan Reyhan yang lebih memilih keseruan membakar makanan sendiri di atas bara api.
Di bawah remang lampu hias pantai, Ummi Salwa dibantu oleh Syifa, Jihan, dan Adiba sibuk menyiapkan bumbu olesan dan sambal. Sementara para lelaki, bertugas menjaga bara api dan membalikkan ikan-ikan besar di atas panggangan, kecuali Kakek Ali yang memilih duduk manis di atas tikar menanti makanan matang. Tante Dini dan Tasya sibuk menata piring, menyiapkan nasi hangat, serta menata minuman.
Fadhlan berdiri di dekat panggangan, membiarkan asap tipis sesekali menerpa wajahnya. Sepanjang hidupnya yang penuh dengan kesendirian pasca kehilangan orang tua kandungnya, momen berkumpul dengan keluarga besar yang hangat seperti inilah yang paling ia nantikan. Sederhana, duduk di atas hamparan pasir beralaskan tikar, namun kebahagiaannya tak ternilai.
Fadhlan mengalihkan pandangannya ke arah tikar, menatap Syifa yang duduk bersila di samping Ummi Salwa sembari tertawa mendengar cerita ibunya. Baginya, pemandangan malam ini terasa sangat istimewa, jauh mengalahkan kemewahan jamuan makan malam formal di restoran mahal mana pun di dunia.
Melihat canda tawa dari Kakek Ali, Abi Musthofa, Ummi Salwa, dan seluruh anggota keluarga, seulas senyum tulus yang teramat manis terukir di wajah Fadhlan. 'Kakek, Ummi, Abi... semoga kalian bahagia di surga sana melihat kehidupan Fadhlan yang sekarang. Fadhlan sudah menemukan rumah Fadhlan kembali,' bisik Fadhlan dalam hatinya penuh haru.
Di sudut lain, Syifa yang tidak sengaja menoleh ke arah panggangan mendadak terpaku. Ia melihat Fadhlan sedang tersenyum begitu tulus dan manis saat mengobrol dengan Abinya. Jantung Syifa kembali berdetak tidak karuan. 'Masyaa Allah.. Pak Fadhlan kalau senyum begitu kelihatan berlipat-lipat lebih tampan daripada saat di ruang kuliah,' batin Syifa mengagumi suaminya tanpa sadar.
......................
"Ayo semuanya, ikan bakarnya sudah matang! Silahkan merapat!" seru Paman Andi lantang.
Semua orang segera berkumpul mengelilingi tikar. Saat piring besar berisi ikan kakap bakar diletakkan di tengah, Syifa yang sudah lapar langsung mengulurkan tangannya dengan tergesa-gesa untuk mengambil bagian daging ikan.
"Aww...!" pekik Syifa pelan, refleks menarik kembali tangannya. Jari telunjuknya tidak sengaja menusuk ujung duri ikan yang tajam dan panas.
"Hati-hati. Biar saya saja," sebuah suara bariton terdengar penuh kekhawatiran dari sampingnya.
Fadhlan dengan cekatan menarik piring itu mendekat ke arahnya. Mengabaikan pandangan mata seluruh keluarga, dengan penuh ketelatenan Fadhlan memilah daging ikan dari duri-durinya, membentuk satu suapan kecil di tangannya bersama sedikit nasi hangat.
"Saya suapi saja, hm? Tanganmu nanti terluka lagi," ujar Fadhlan lembut, mengarahkan suapan itu ke depan bibir istrinya.
Wajah Syifa seketika memerah, ia melirik ke kanan dan ke kiri dengan canggung. "Saya bisa makan sendiri, Mas... malu dilihat yang lain," tolak Syifa berbisik pelan, mencoba menolak demi urat gengsinya yang tersisa.
"Halah... malu-malu kucing segala kamu, Syif! Padahal dalam hati mau banget itu disuapi suami!" ledek Paman Andi langsung menyambar sepotong cumi bakar, memicu tawa riuh.
"Aduh, pengantin baru bener-bener so sweet deh, berasa dunia milik berdua," timpal Jihan ikut memanasi suasana dengan kerlingan jahilnya.
Haikal yang duduk di sebelah Aidan menyahut tanpa filter, "Iri bilang bos! Makanya cari gandengan, jangan jomblo terus!"
"Dihh! Siapa juga yang iri? Gaje banget lu jadi cowok!" timpal Jihan ketus, langsung melotot tajam ke arah Haikal.
Merasa atmosfer makan malam mulai bising oleh adu mulut anak muda, Fadhlan menghentikan aktivitas menyuapnya sejenak. Ia memalingkan wajahnya, menatap Haikal dan Jihan bergantian dengan tatapan matanya yang mendadak dingin, tajam, dan penuh aura intimidasi khas dosen penguji skripsi.
Seketika itu juga, Haikal dan Jihan langsung bungkam seribu bahasa, menunduk menatap piring masing-masing dengan patuh.
"Mampus kalian berdua. Lagian berani-beraninya berisik di depan Bos Fadhlan yang lagi mode bucin," lirih Aidan berbisik sangat pelan di dekat telinga Haikal sembari menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya sendiri dengan tenang.
Kakek Ali yang melihat ketegangan kecil itu justru terkekeh geli. "Memang benar kata orang, kalau pengantin baru itu dunia rasanya cuma milik berdua. Kita semua yang di sini cuma dianggap ngontrak, iya kan, Mus?" goda Kakek Ali melirik Abi Musthofa. Seluruh anggota keluarga pun kembali tertawa hangat.
Fadhlan mengabaikan godaan tersebut, kembali fokus pada istrinya. "Enak tidak ikannya?" tanya Fadhlan pelan pada Syifa.
Syifa mengangguk cepat setelah menelan makanannya. "Hm, enak banget, Mas. Tapi... saya mau pakai sambal, hehe. Pasti rasanya jauh lebih mantap," pinta Syifa dengan cengiran polosnya.
Mendengar permintaan sang istri, Fadhlan tanpa membantah langsung mencocol daging ikan ke dalam mangkuk sambal, lalu kembali menyuapi Syifa dengan penuh kesabaran.
"Mas Fadhlan nggak makan juga?" tanya Syifa sedikit berbisik di dekat bahu suaminya, merasa tidak enak karena sejak tadi hanya dirinya yang mengunyah.
"Nanti saja, setelah kamu kenyang dan selesai makan," jawab Fadhlan menatapnya teduh.
Merasa tersentuh, Syifa diam-diam mengambil sedikit nasi dan potongan cumi bakar dengan jemarinya yang bersih, lalu mengarahkannya ke depan bibir Fadhlan. "Aaa... buka mulutnya, Mas."
Fadhlan tertegun sejenak melihat inisiatif istrinya. Seulas senyum tipis terbit di wajahnya sebelum ia menerima suapan manis dari Syifa. Namun, dasar Fadhlan yang memiliki sisi jahil tersembunyi, saat menyambut makanan tersebut, bibirnya dengan sengaja menggigit pelan ujung jari telunjuk Syifa yang berada di dekat bibirnya.
"Ish! Kenapa malah digigit sih, Mas?!" pekik Syifa tertahan dengan wajah memerah sempurna, buru-buru menarik tangannya kembali.
Fadhlan hanya membalas pekikan kesal istrinya dengan kerlingan mata jahil dan senyuman penuh kemenangan yang teramat tampan, membuat pertahanan hati Syifa runtuh total malam itu.
...----------------...
Selesai makan malam yang mengenyangkan, Adiba berinisiatif membantu Paman Andi dan Tante Dini membereskan sisa tempat bakaran di tepi pantai untuk memastikan tidak ada bara api tersembunyi yang bisa membahayakan pengunjung lain.
"Hati-hati, Adiba. Masih agak panas itu besinya," tutur Paman Andi sembari mengangkut sisa sampah plastik.
"Iya, jangan dikerjakan sendirian, Nduk. Minta bantuan sama teman-teman Fadhlan itu loh, si Aidan atau Haikal yang badannya besar," imbuh Tante Dini menunjuk ke arah kedua pemuda yang sedang mengobrol di dekat tikar.
Adiba tersenyum sopan. "Iya, Om, Tante. Enggak apa-apa kok, Adiba bisa sendiri. Cuma tinggal geser tempat arangnya saja."
Namun nahas bagi Adiba, saat tangannya hendak meraih pinggiran wadah tempat bakaran besi itu, jarinya tidak sengaja menyenggol bongkahan arang hitam yang ternyata masih menyimpan bara api yang sangat panas.
"Aduh, panas...!" rintih Adiba spontan, refleks menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya di udara untuk meredakan rasa perih yang menjalar di kulit jarinya.
"Dasar ceroboh," sebuah suara ketus tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Aidan entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung melangkah maju, membungkuk, dan mengangkat wadah bakaran besi yang berat dan panas itu dengan kedua tangan kekarnya tanpa kesulitan, lalu memindahkannya ke tempat yang aman.
Adiba yang sedang menahan perih langsung melotot kesal mendengarnya. "Apa sih? Bukannya ditolongin baik-baik, malah ngatain ceroboh!" ketus Adiba dengan wajah bersungut-sungut, langsung membalikkan badan melengos pergi masuk ke dalam area dapur resort.
"Ya ini buktinya saya lagi nolongin kamu, kan?" sahut Aidan menatap punggung Adiba.
Dari kejauhan, Haikal yang menyaksikan adegan itu langsung menyatukan kedua telapak tangannya di depan mulut, berteriak meledek sahabatnya. "Haha! Dikacangin nih yee! Rasain lu, Bang Aidan! Makanya kalau sama cewek jangan ketus kayak kanebo kering!"
Aidan hanya melempar tatapan tajam pada Haikal sebelum melangkah lebar menyusul Adiba ke dalam penginapan.
...****************...