NovelToon NovelToon
Shower Of Blood

Shower Of Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: ShAdOwFaNg

"Ugh..
aku harus..."

Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.

tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 13 : Monster Laut

"Hoahmm, rasanya ngantuk ya?" Theo menguap, lalu kemudian tertidur.

Seketika itu, Lucy dan Silas merasa matanya sangat berat dan mengantuk.

"Hoahmm... Sepertinya... Theo benar... Hoahmm."

Baik Lucy maupun Silas kemudian terlelap.

Di saat mereka bertiga sedang tertidur, ada sebuah bayangan besar mendekati mereka di laut.

Swush

Swush

Blup

Seekor ikan besar mendekat, di kepalanya ada lampu berwarna biru keunguan.

Bruak!

Ikan itu muncul, memakan dan menelan sepertiga bagian kapal yang dinaiki oleh mereka bertiga.

"Hei! Bangun, semuanya." Theo segera bangun setelah merasakan guncangan besar di sekitarnya.

"Leviathan?" Lucy dan Silas kaget, sontak berteriak.

Ikan itu berhenti dan berbalik, lalu ikan itu segera berenang ke arah kapal itu.

Grasak!

Terdengar suara gesekan antara ombak dengan badan ikan yang berenang sangat cepat itu. Kemudian, ikan itu membuka mulutnya, bersiap menerkam kapal itu lagi.

"Bahaya!"

"Kakak! Bahaya, ikan gila itu akan memakan kita. Aaaaaa!" White berteriak, kemudian White segera menjulurkan lidahnya dan menciptakan jarum berwarna hijau keemasan.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini White membuat banyak jarum di ujung lidahnya.

"White! Jangan memaksakan diri!" Theo mengingatkan White dengan rasa khawatir. Sebab, ia tahu kalau White hanya bisa mengeluarkan bisa itu seminggu sekali, sedangkan saat itu hanya berjarak beberapa hari dari kejadian sebelumnya.

"Theo!" Silas berteriak ketika ia melihat ikan itu mulai menghadap Theo dan hendak menerkamnya.

Syut syut syut

Jleb jleb jleb

Terdengar bunyi menancap yang sangat kencang di daerah itu. Lalu, ikan itu perlahan tumbang.

"Akhirnya! Memang kamu hebat ya." Silas berteriak, bangga akan pencapaian Theo.

"Kakak, aku... Mau... Tidur." White segera meringkuk dalam kondisi masih terlilit di leher Theo.

Deg!

Theo dapat merasakan kalau detak jantung White melambat. Perlahan-lahan, semakin pelan dan menghilang.

"White!" Theo segera memeluk White, tangannya segera mencari jantung White.

Zwushh!

Tiba-tiba angin menjadi kencang bergemuruh, seakan mengamuk di lautan. Sedikit demi sedikit, daerah di sekitar Theo berubah menjadi hitam. Seakan ada karat yang menyebar di lautan itu.

Gelap...

Semua terasa gelap, seakan tidak ada sedikitpun cahaya dan kehidupan.

Secercah cahaya...

Theo melihat secercah cahaya di depannya. Tak lama, ia menggapai cahaya itu dan terbangun di sebuah ruangan di dalam air.

"Kau! Kau telah membunuhku!"

Seorang wanita seketika menyerang Theo.

Theo yang belum siap, akhirnya menerima beberapa pukulan, tendangan dan cakaran.

"Haah, Hei ikan kecil. Bukankah kau punya pesan? Diamlah dasar ikan brengsek." Snow muncul dan langsung memukul kepala wanita itu.

"Hehehehe, Ok." Wanita itu segera melepas Theo dan kembali.

"Aku adalah... Leviathan yang kamu bunuh itu. Umm, bukan kamu, tapi ular yang ada di lehermu. Tolong, memang mungkin aku mau makan kamu, tapi... Tolong setidaknya anakku di selamatkan."

Wanita itu segera memohon, air mata menetes keluar dari matanya. Membuat Theo menjadi kasihan, dan merasa bersalah.

"Maaf..." Theo hanya mengucapkan kata maaf, dan terdiam seribu bahasa sambil menunduk, menghindari kontak mata dengan wanita itu.

"Nanti, saat kamu membelah tubuhku, di bagian perutku akan ada seekor ikan kecil. Tolong rawat dia, tanpa seseorang dia akan mati dan dimakan ikan lain. Tolong..."

Kembali wanita itu memohon sambil menangis, tapi Theo hanya bisa terdiam.

"Jadi, kamu minta aku ngerawat anakmu?"

"Iya, hehehe" Wanita itu sontak tersenyum usil.

"Wah, wah, wah. Memang dasar ikan brengsek. Inilah kenapa aku memanggilnya begitu. Dia terlalu mudah membuat seseorang menangis."

"Ya, aku setuju denganmu," ucap Theo datar.

Seluruh rasa iba, kasihan, dan sesak seketika itu keluar dan meninggalkan tubuh Theo.

"Kau tau, aku ini sudah kesusahan merawat seekor ular. Aku nggak mau nambah beban lagi." Theo menggeleng menolak tawaran dari wanita itu.

"Kamu pikir... Aku... bakal minta gratisan? Ara...'' tiba-tiba, wajah wanita itu berubah.

Mukanya merah, nafasnya pendek dan menampilkan sosok wanita cantik yang sangat menggoda.

"Dasar brengsek."

Snow segera berlari, lalu menendang wanita itu.

Buak!

"Cih, sialan. Dasar ular nggak punya otak." wanita itu segera menatap Snow dengan muka masam.

"Ara... Tuan... cowok mana sih, yang nggak tertarik sama aku? Aha..." Wanita itu melanjutkan aksinya menggoda Theo, tapi sayangnya Theo sudah tidak mempan dengan seluruh godaan itu.

"Hentikan, atau aku akan pergi," ucap Theo dengan tangan mengepal.

"Ahh... Tuan, kalo gitu aku bakal pake jurus terakhir."

Mata wanita itu tiba-tiba berubah menjadi emas, lalu lidahnya keluar menggila.

"Tuan boleh ambil inti sihirku deh, gimana? kan mahal tuan. Pasti tuan mau deh, yakan yakan?" ucap wanita itu dengan nada seorang pedagang gila yang sedang menawarkan barang.

"Yah yah, terserah yang penting kau segera pulangkan aku."

'Setidaknya aku bisa mencoba menyelamatkan White.'

"Yah, kau nggak perlu takut dengan kondisi White. Dia masih selamat, cuma lagi tidur aja." Snow mengatakan mengenai kondisi White kepadanya, menenangkan hati Theo yang dilanda kegelisahan.

Zwushh!

Lagi-lagi angin bergemuruh, dan perlahan seluruh dunia Theo kembali menghitam.

Theo kemudian terbangun di atas kasur, masih dalam kondisi lemas tidak bisa bergerak.

Tercium aroma wewangian, dan aroma herbal yang begitu megah, menangkan hati dan jiwa.

"Dia terbangun!" terdengar suara berat seseorang yang tidak Theo kenal. Tidak lama sampai Theo kembali mengenal suara yang di kenalnya.

"Theo! Akhirnya..." Silas segera mendekap Theo, dilanjut dengan Lucy yang ikut mendekapnya.

"Kalian... Selamat?"

"Ya, kita di serang Leviathan. Kemudian kamu mengalahkannya, beruntung kita sudah dekat daerah kuil. Jadi, kami membawamu ke kuil dan mencoba menyelamatkan mu." Silas menjelaskan kenapa mereka bisa sampai di situ.

"Oh iya, Perkenalkan, dia. Robertus salah satu dari petinggi di biara ini. Dia mau berbicara dengan kamu."

"Petinggi? Biara?"

"Yah anggaplah kuil ini mau ngomong sama kamu." Ucapan santai Silas sontak mengundang tatapan maut dari Lucy.

'Kita harus berbicara sopan dengan tetua.'

"Halo, namaku Robertus. Senang bertemu denganmu. Sebelumnya, boleh aku minta kerahasiaan diantara kita?" Robertus mengenalkan dirinya dan menengok kanan dan kiri.

Segera Lucy dan Silas segera keluar dari ruangan itu.

Pria itu terlihat santai, dia menggunakan baju khas biarawan, sebuah mantel putih bersih. Simbol emas di dada kirinya, dan simbol sayap perak di belakangnya. Persis seperti yang Theo kira.

Robertus menepuk tangannya,

Plak!

Sontak, tercipta selubung emas di sekeliling ruangan itu.

"Tenang saja, ini hanya mukjizat untuk menyembunyikan seluruh percakapan kita. Jujur, aku juga beberapa bulan terakhir meneliti penyakit ini." Robertus segera mengeluarkan sebuah kantung dengan sisik hitam dan daging tumbuh yang terlihat jelas.

"Aku tau, kamu pasti mengetahui setidaknya beberapa hal tentang penyakit ini. Tidak perlu takut dengan kekuatan sihir ruangmu. Aku pun juga punya. Oh, setidaknya aku harus menunjukannya."

...****************...

End Ch. 13 : Monster Laut

Makasih semuanya udah mau Dateng ke novelku.

Jangan lupa like, comment, dan favorit ya. Makasih semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!