NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Gema Penolakan

Saat Ini

Rendra duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja yang mewah, namun suasana di sekelilingnya terasa pengap dan mencekam. Cahaya matahari sore yang seharusnya hangat kini terasa dingin menembus jendela kaca besar yang menghadap ke kota. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan balasan email yang baru saja diterimanya. Wajahnya menunjukkan campuran antara kekecewaan, kebingungan, dan kemarahan yang mulai membuncah.

Ia baru saja menerima penolakan resmi atas akuisisi perusahaan kosmetik di luar negeri tersebut. Penolakan yang datang begitu tiba-tiba, tanpa peringatan yang berarti. Padahal, menurut perhitungannya, tawaran yang ia ajukan sudah sangat menguntungkan bagi pihak perusahaan target.

"Mengapa?" gumam Rendra pada dirinya sendiri, matanya menyipit membaca baris demi baris email tersebut. "Mengapa mereka menolak? Tawaran kita sudah jauh di atas nilai pasar. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?"

Ia mengusap dahinya yang mulai terasa pening. Email tersebut hanya menyebutkan alasan yang samar, seperti "perbedaan visi strategis" dan "kekhawatiran terhadap keberlanjutan jangka panjang". Kata-kata yang terasa hampa dan tidak substansial baginya.

"Visi strategis? Keberlanjutan?" Rendra mendengus geli. Baginya, satu-satunya visi strategis adalah keuntungan. Dan keberlanjutan hanyalah jargon yang digunakan oleh orang-orang yang tidak berani mengambil risiko.

Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Penolakan ini terasa terlalu rapi, terlalu terstruktur. Seolah-olah ada pihak lain yang ikut campur tangan, memberikan masukan kepada perusahaan kosmetik tersebut.

Rendra meraih keyboardnya, jemarinya mulai mengetik dengan cepat. Ia memutuskan untuk mengirimkan email balasan, bukan untuk memprotes, tetapi untuk mencari tahu lebih dalam.

Rendra mengetik dengan cepat, berusaha menyembunyikan kekesalannya di balik kata-kata yang formal.

"Kepada [ Lumière Royale Pte.Ltd],"

"Subjek: Pertanyaan Lebih Lanjut Mengenai Keputusan Akuisisi"

"Dengan hormat,"

"Saya menulis surat ini sebagai tindak lanjut atas penolakan resmi yang kami terima terkait proposal akuisisi Rendra Corp terhadap perusahaan Anda. Kami sangat menghargai waktu dan pertimbangan yang telah diberikan oleh tim Anda dalam meninjau proposal kami."

Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. "Namun, terus terang kami merasa sedikit terkejut dengan keputusan ini. Mengingat tawaran yang kami ajukan telah memenuhi dan bahkan melampaui ekspektasi finansial yang kami yakini telah ditetapkan, kami ingin memahami lebih dalam mengenai alasan di balik penolakan ini."

Rendra melanjutkan, "Email yang kami terima menyebutkan adanya 'perbedaan visi strategis' dan 'kekhawatiran terhadap keberlanjutan jangka panjang'. Kami ingin meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai poin-poin tersebut. Apakah ada aspek spesifik dari strategi kami yang dianggap bertentangan dengan visi perusahaan Anda? Dan bentuk 'keberlanjutan' seperti apa yang menjadi perhatian utama Anda, yang mungkin tidak kami tangkap dalam proposal kami?"

Ia menekankan, "Kami percaya bahwa Rendra Corp memiliki kapasitas dan sumber daya yang kuat untuk mengembangkan perusahaan Anda lebih lanjut, serta memastikan pertumbuhan yang stabil di masa depan. Kami terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut dan memberikan penjelasan tambahan jika diperlukan, untuk menjembatani kesalahpahaman yang mungkin ada."

Rendra mengakhiri emailnya dengan nada yang berusaha tetap profesional, namun tersirat nada desakan untuk mendapatkan jawaban yang lebih konkret.

"Kami menantikan tanggapan Anda yang lebih rinci. Terima kasih atas perhatian Anda."

"Hormat kami,"

"Rendra"

"CEO, Rendra Corp"

Setelah mengirimkan email tersebut, Rendra menyandarkan punggungnya ke kursi.

...****************...

Lima menit yang terasa seperti lima jam bagi Rendra. Begitu ia selesai mengirimkan emailnya, matanya tak lepas dari layar tablet, menunggu balasan. Tiba-tiba, notifikasi email baru muncul. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.

Ia membuka email tersebut. Judulnya sama: "Re: Pertanyaan Lebih Lanjut Mengenai Keputusan Akuisisi". Namun, nada balasan yang tertera di dalamnya sama sekali tidak memberikan kelegaan yang ia harapkan.

"Kepada Bapak Rendra,"

"Terima kasih atas email Anda dan apresiasi Anda terhadap proses yang telah kami jalankan."

"Kami memahami rasa ingin tahu Anda mengenai keputusan kami. Namun, setelah meninjau kembali proposal Anda dan berdiskusi secara internal, kami tetap pada pendirian kami untuk menolak tawaran akuisisi dari Rendra Corp."

"Mengenai klarifikasi yang Anda minta, kami dapat menegaskan bahwa perbedaan visi strategis yang kami maksud adalah terkait dengan fokus jangka panjang perusahaan kami pada inovasi produk yang ramah lingkungan dan praktik bisnis yang etis. Kami melihat adanya potensi ketidakselarasan dengan model bisnis Rendra Corp yang cenderung mengutamakan efisiensi operasional dan pertumbuhan pasar yang cepat."

"Terkait dengan keberlanjutan, perhatian kami tertuju pada dampak lingkungan dari proses produksi dan rantai pasok, serta kesejahteraan karyawan dalam jangka panjang. Kami merasa bahwa Rendra Corp belum sepenuhnya menunjukkan komitmen yang sejalan dengan nilai-nilai inti Lumière Royale."

"Kami menghargai upaya Anda untuk berdiskusi lebih lanjut, namun kami percaya bahwa saat ini, kedua belah pihak memiliki prioritas dan filosofi bisnis yang berbeda. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan proses akuisisi ini."

"Kami berharap Anda dapat memahami keputusan kami. Kami mendoakan kesuksesan bagi Rendra Corp di masa mendatang."

"Hormat kami,"

"Manajemen Lumière Royale"

Rendra membaca email itu berulang kali. Wajahnya semakin mengeras. Kata-kata "visi strategis" dan "keberlanjutan" terasa seperti tamparan keras.

"BRAK!"

Meja kayu jati yang kokoh bergetar hebat akibat pukulan keras Rendra. Tablet yang tadinya ia pegang terlempar ke sisi, nyaris jatuh. Suara dentuman itu menggema di ruangan yang hening, memecah keheningan yang mencekam.

Mata Rendra membelalak, urat-urat di lehernya menonjol. Kemarahan yang sedari tadi ia tahan kini meledak tak terkendali. Email balasan dari Lumière Royale, dengan kata-kata yang terasa meremehkan dan alasan yang ia anggap mengada-ada, benar-benar memicunya.

"Tidak mungkin!" bentaknya, suaranya serak karena emosi. "Mereka pikir aku bodoh? 'Visi strategis'? 'Keberlanjutan'? Omong kosong!"

Ia bangkit dari kursinya, mondar-mandir di depan mejanya seperti singa yang terperangkap. Wajahnya memerah padam, napasnya memburu.

"Pasti ada yang bermain di belakangku," desisnya, matanya menyapu sekeliling ruangan seolah mencari musuh yang tak terlihat. "Pasti ada yang menyusup dan merusak rencanaku. Siapa? Siapa yang berani melakukan ini padaku?"

Ia berhenti, tangannya terkepal erat. Bayangan orang-orang yang mungkin merasa terancam oleh ekspansinya melintas di benaknya. Namun, ia tidak bisa menemukan satu nama pun yang memiliki kekuatan atau kecerdasan untuk merancang penolakan sehalus ini.

"Ini bukan sekadar penolakan biasa," gumamnya. "Ini adalah serangan yang terencana. Seseorang tahu persis bagaimana cara menyakitiku."

Rendra kembali duduk, kali ini dengan gerakan kasar. Ia meraih ponselnya, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor kontak. Ia perlu tahu. Ia harus tahu siapa dalang di balik semua ini. Dan ketika ia menemukannya, ia bersumpah akan membalasnya berkali-kali lipat.

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!