NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Retakan Pertama di Dinding Beton

Napas atau apa pun yang tersisa di dalam paru-paruku rasanya seperti ditarik paksa. Lengan kiriku berkedut hebat, terbakar oleh sisa cairan nitrat perak yang disuntikkan Roy beberapa menit lalu. Kepalaku terkulai lemas ke samping, bersandar pada dinginnya sandaran besi kursi interogasi. Pandanganku buram, berbayang antara wajah puas Roy dan sorot mata mati dari balik kursi roda Tuan Baron. Aku berpikir ini adalah akhir dari segalanya. Kulitku melepuh, dan suaraku sudah habis setelah melepaskan jeritan melengking yang memanggil nama cowok bermata emas itu.

Namun, kejutan itu tidak datang dari jarum suntik kedua.

Drrrtt...

Sebuah getaran halus mendadak merayap dari lantai semen laboratorium bawah tanah. Awalnya begitu tipis, hampir mirip dengan getaran mesin genset tua yang sedang dihidupkan di ujung dermaga Sektor Utara. Tetapi dalam hitungan detik, getaran itu mengeras. Kursi besi tempat tubuhku terikat mulai bergetar hebat, membuat sambungan bautnya di lantai beton berderit nyaring.

Bzzzt... Bzzzt...

Di atas meja operator, sepasang cangkir kopi keramik milik para penjaga bergeser mandiri, berdenting berulang kali sebelum akhirnya jatuh dan pecah di lantai.

"Roy, apa yang terjadi dengan stabilizer generator?" suara Tuan Baron memecah keheningan. Nada bicaranya yang semula datar dan penuh wibawa kini naik satu oktav, menyiratkan riak kecemasan yang jarang dia tunjukkan.

Roy tidak langsung menjawab. Dia melangkah cepat menuju meja monitor pemindai biologis. Di sana, deretan layar komputer berteknologi mahal milik Baron Logistics mendadak menampilkan kegilaan. Grafik gelombang elektromagnetik melompat-lompat liar, memutus garis hijau yang biasanya tenang.

Teeet! Teeet! Teeet!

Suara sirine peringatan mendadak pecah, melengking memekakkan telinga dari sudut langit-langit ruangan. Lampu indikator pada panel utama melompat ekstrem melewati batas aman, terkunci di zona merah tua yang berkedip-kedip cepat.

"Tuan, ada lonjakan energi aneh dari arah luar!" teriak salah satu operator komputer, jemarinya bergerak panik di atas papan ketik yang ikut bergetar. "Ini... ini bukan gangguan listrik biasa. Sesuatu yang sangat besar sedang bergerak menuju kemari dengan kecepatan tinggi!"

"Sumbat mulutnya! Matikan sistem pelacak kalau itu memicu korsleting!" bentak Roy, wajahnya yang semula penuh kemenangan kini mendadak tegang. Dia menatapku dengan pandangan penuh selidik, seolah menduga aku menyembunyikan remote kontrol darurat di balik baju kurirku yang kuyu.

Aku hanya bisa tersenyum tipis dengan bibir yang pecah-pecah. Rasa sakit di pergelangan tanganku mendadak diredam oleh rasa hangat yang akrab.

Jangkar darah itu berdenyut kuat, mengirimkan pesan tak tertulis yang membuat jantungku berdesir: Dia datang.

Sementara itu, tepat di atas langit-langit laboratorium, di dunia permukaan tanah yang dihuni oleh hiruk-pikuk Pelabuhan Tanjungbalai, alam sedang mempertontonkan kengerian yang belum pernah dilihat oleh para kuli angkut kapal.

Air muara yang biasanya keruh dan mengalir tenang ke arah Selat Malaka mendadak mandek.

Di bawah sisa kabut subuh yang tebal, permukaan air itu bergolak liar seperti minyak panas di atas wajan, menciptakan pusaran-pusaran air hitam yang menelan sampah plastik dan potongan kayu dermaga. Bau lumut basah yang sangat pekat dan aroma udara pegunungan yang menusuk hidung tiba-tiba menyebar, mengusir bau amis tongkol yang biasanya merajai pelabuhan.

Lalu, dingin itu menyengat.

Hanya dalam hitungan detik, gelombang es tipis merambat cepat dari arah hutan bakau terlarang.

Suara berkerit dari air yang membeku terdengar bersahut-sahutan mengerikan. Lapisan es tebal, sekeras balok-balok es di dalam truk distributor, mengunci seluruh permukaan muara. Tiang-tiang pancang dermaga yang terbuat dari besi dan beton mengeluarkan bunyi derak patah saat uap beku melilit dasarnya. Perahu-perahu nelayan yang bersandar di tepi jembatan layang terperangkap, lambung kayunya terjepit oleh kristal es yang terus menebal dalam sekejap mata.

Orang-orang di pasar ikan berteriak panik, berlarian meninggalkan keranjang mereka saat menyadari suhu udara turun drastis hingga membuat napas mereka mengeluarkan asap putih. Alam Tanjungbalai sedang dipaksa tunduk oleh amarah seekor mahluk yang rumahnya baru saja diusik.

Kembali ke dalam perut bumi, di dalam bunker steril milik Baron.

Kepanikan telah berubah menjadi teror fisik.

Dinding beton setebal setengah meter yang dirancang untuk menahan ledakan gudang logistik itu mulai memperlihatkan kelemahannya. Tepat di sudut atas ruang interogasi, sebuah retakan pertama muncul. Suaranya terdengar seperti patahan rantai jangkar kapal yang bergaung keras.

Krrraakkk!

Retakan itu menjalar cepat seperti jaring laba-laba, merayap turun membelah lapisan semen dan cat putih laboratorium. Debu-debu semen abu-abu mulai berjatuhan, mengotori meja komputer dan jubah sutra yang dikenakan Tuan Baron.

"Roy! Amankan dokumen dan bawa aku ke lift atas!" perintah Tuan Baron. Tangannya yang keriput mencengkeram tuas kendali kursi roda elektroniknya, mencoba memutar arah, namun roda kursinya slip karena lantai semen sudah mulai tertutup lapisan tipis embun es yang licin.

"Sialan! Ambil senjata kalian! Jaga pintu masuk utama!" teriak Roy kepada empat penjaga berbadan besar yang berdiri di dekat pintu besi.

Lampu-lampu neon kebiruan di langit-langit berkedip-kedip mati-nyala, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding yang terus retak. Ruangan yang semula terasa hangat oleh hawa mesin kini berubah menjadi sedingin lemari pembeku. Setiap kali orang-orang di dalam ruangan itu membuang napas, uap putih tebal keluar dari mulut mereka.

Aku menggigil, namun bukan karena takut. Ikatan di pergelangan tanganku terasa melonggar karena nilon pengikatnya mulai membeku dan mengeras hingga rapuh. Di balik dinding kaca tebal ruang interogasi, aku bisa melihat para pekerja lab berlarian kocar-kacir, menjatuhkan botol-botol sampel kimia yang langsung pecah dan membeku di lantai.

Teknologi bernilai miliaran milik Baron, senapan otomatis yang dipegang para penjaga, dan semua dinding pengaman ini mendadak terasa seperti mainan plastik di hadapan kekuatan mentah yang sedang menuntut balas dari atas permukaan tanah. Mereka pikir mereka bisa mengurung petir di dalam botol kaca; kini mereka harus bersiap menghadapi badainya.

Getaran di lantai berganti menjadi guncangan hebat yang membuat tubuhku terayun ke depan dan ke belakang di atas kursi besi. Retakan di dinding beton makin melebar, menjatuhkan bongkahan-bongkahan semen kecil yang hancur menjadi bubuk saat menghantam lantai.

BOOM!

Sebuah dentuman berat bergaung dari arah lorong lift di atas. Suaranya begitu keras, getarannya sampai membuat lampu neon tepat di atas kepalaku pecah, menyemburkan bunga api kecil sebelum padam sepenuhnya, menyisakan ruangan dalam kondisi remang-remang berselimut cahaya merah dari sirine darurat.

Itu bukan suara ledakan bom atau hantaman alat berat. Itu adalah suara gerang besi utama di bagian atas yang dihantam hancur dengan sekali pukul. Langkah kaki yang berat, berirama, dan penuh tekanan magis kini mulai terdengar menuruni tangga darurat, mendekat ke arah tempatku disekap.

Roy mencabut pistol dari pinggangnya, tangannya yang tertutup sarung kulit bergetar hebat saat mengarahkan moncong senjata ke arah pintu besi laboratorium yang mulai melengkung ke dalam.

"Dia... dia sudah di sini," bisik operator komputer dengan wajah sepucat mayat sebelum melarikan diri ke pintu belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!