NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

POV: Devandra

Sore akhirnya tiba, aku dan Nara berjalan berdampingan menuju hutan belakang rumah. Cuaca sore ini terasa begitu sempurna. Matahari perlahan turun, menggantung rendah di ufuk, membiarkan langit berubah menjadi perpaduan biru lembut dan jingga hangat. Cahaya senja menyelinap masuk di antara celah pepohonan, membentuk garis-garis emas di tanah.

Angin berhembus pelan, rambut panjang Nara yang tergerai ikut menari tertiup udara sore. Aku berjalan beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan perempuan itu diam-diam. Sejak tadi dia terlihat begitu gembira. Sesekali dia melompat kecil saat berjalan, berhenti untuk melihat sesuatu, lalu kembali melangkah dengan ekspresi antusias seperti anak kecil yang sedang masuk taman bermain pertama kalinya, menggemaskan. Dan anehnya melihatnya sebahagia ini membuat suasana hatiku ikut terasa ringan.

Tanganku meraih kamera yang sengaja kubawa sejak tadi. Awalnya aku berniat memotret berbagai objek di hutan. Cahaya senja, pepohonan, atau mungkin pemandangan langit sore. Tapi sekarang mataku justru lebih tertarik pada satu objek di depanku—Nara. Berdiri di bawah sorot cahaya senja, rambutnya bergerak pelan tertiup angin, siluet tubuhnya terkena cahaya keemasan dari sela pepohonan. Tanpa sadar, sudut bibirku sedikit terangkat, cantik. Aku mengangkat kamera perlahan.

Klik.

Satu jepretan sempurna tertangkap. Cahaya alami dari senja jatuh dengan pas di wajahnya, membuat momen itu terasa terlalu indah untuk dilewatkan. Dan untuk sesaat, aku tahu satu hal dengan pasti. Ada beberapa hal di hidup ini yang terlalu sayang untuk tidak diabadikan.

Dan Nara mungkin salah satunya.

"Kurrr... kurr..."

Perempuan itu tiba-tiba mengeluarkan suara aneh begitu memasuki area tempat unggas-unggas miliknya berkeliaran. Aku langsung mengernyit pelan. Serius? Dia benar-benar berbicara dengan mereka? Nara berjalan beberapa langkah ke depan, lalu jongkok di atas tanah. Tangannya menyebarkan biji-bijian ke beberapa sudut, gerakannya terlihat begitu santai seolah ini rutinitas yang sudah sering ia lakukan sejak kecil.

Tidak butuh waktu lama, dari berbagai arah, makhluk-makhluk kecil itu mulai bermunculan. Berlarian kecil mendekat, berkumpul di sekelilingnya. Dan anehnya mereka benar-benar mendatanginya. Seolah Nara adalah ibu peri penjaga hutan atau semacam pemimpin sekte unggas yang diam-diam punya pengikut fanatik.

Dia tertawa kecil saat beberapa di antaranya bergerombol di dekat kaki. Sesekali kembali mengeluarkan suara aneh yang entah bagaimana terdengar seperti sedang benar-benar mengobrol dengan mereka. Aku hanya berdiri beberapa langkah di belakang. Memperhatikannya diam-diam. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat sendiri tersenyum. Ternyata sesederhana melihat perempuan aneh bermain bersama unggas di tengah hutan saja sudah cukup membuat suasana hatiku membaik.

Ini pertama kalinya aku melihat perempuan seperti dirinya. Perempuan yang lebih memilih bermain di alam bebas bersama makhluk berkaki dua daripada menghabiskan waktu di mal atau kafe mahal seperti kebanyakan orang. Dan mungkin itu yang membuat Nara terasa berbeda. Karena di saat perempuan lain mungkin meminta tas baru, istriku malah mengubah hutan pribadi menjadi peternakan kecil. Hebat, benar-benar di luar prediksi manusia normal.

"Aku mau kenalin kalian sama pemilik hutan ini." Dia mulai berbicara pada ayam-ayam itu lagi.

"Itu, Devandra." Tangannya menunjuk ke arahku. "Dia adalah—" kalimatnya terhenti.

"Apa?" Refleks aku langsung membuka suara.

"Dia adalah suamiku, dan pemilik hutan ini. Jadi, kalian harus bersikap baik padanya, oke?"

Seolah dengan dia mengatakan itu, ayam-ayam itu akan mengerti dan memberi hormat padaku, konyol sekali.

Nara bangun dari jongkoknya dan berjalan ke arahku, "mana kejutannya?"

"Follow me!" kataku sambil berjalan lebih dulu.

Aku membawanya sedikit masuk, dan di sanalah. Matanya membulat, kedua telapak tangannya ditempelkan di kedua pipinya.

"Waaahhh..." Nara berlari mendekatinya, menyentuh setiap detail bentuknya. "Aku boleh naik?"

"Sure." Aku menahan kedua tali di sisi kiri dan kanan.

Nara merasa begitu senang, ku dorong perlahan, tubuhnya terayun pelan. Sesekali kepalanya menengadah ke atas, membuat rambutnya berantakan diterpa angin sore.

"Kamu suka?" tanyaku.

"Aku suka banget." wajahnya terlihat gembira.

"Sama aku atau ayunannya?"

Tiba-tiba tubuhnya berhenti berayun, dia menolehku ke belakang.

...***...

POV: Nara

"Kamu suka?" tanya Dev.

"Aku suka banget." Tubuhku berayun dengan tenang.

"Suka sama aku atau ayunannya?"

Aku menghentikan ayunan itu, membiarkannya bergoyang pelan sebelum akhirnya diam. Saat menoleh ke belakang, pria itu masih berdiri di sana, menungguku dengan sabar.

Aku hanya memberinya senyum tipis. Dia mendekat tanpa banyak bicara, berhenti tepat di depanku. Kedua tangannya memegang tali ayunan, membuat jarak di antara kami terasa lebih sempit dari sebelumnya. Wajahnya sedikit menunduk, dan entah kenapa, tatapan itu terasa seperti sedang meminta jawaban lebih dulu daripada kata-kataku.

“Kenapa untuk sekadar mengatakan perasaanmu ke aku terasa sesulit itu?” katanya lirih. Aroma mint dari napasnya samar menyentuh wajahku.

Aku terdiam. Berusaha memahami isi kepalaku sendiri. Bagaimana sebenarnya perasaanku terhadapnya? Jujur saja, bahkan aku tak benar-benar tahu apakah ini cinta atau hanya rasa nyaman yang terlalu besar untuk diabaikan.

Aku mengangguk pelan. “Aku suka kamu.”

“Bohong.” Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris seperti senyum yang tak benar-benar senang.

“Kalau memang suka… sebesar apa perasaanmu buat aku?”

"Selama aku masih berada di rumah ini, selama itu pula aku masih mencintaimu."

Napas kami saling beradu, terlalu dekat hingga bibirnya nyaris menyentuhku. Aku refleks memejam, membiarkan jantungku berdetak tak karuan. Namun alih-alih di bibir, sebuah kecupan singkat justru mendarat di keningku. Perlahan aku membuka mata, menatapnya bingung.

"Aku memilikimu seutuhnya, tapi entah kenapa, rasanya kamu terlalu jauh," lanjutnya lagi.

Dia berjongkok di depanku, kedua tangannya menggenggam erat jemariku, seolah takut aku akan menarik diri kapan saja. Di sekitar kami, suara burung saling bersahutan, bercampur dengan desir angin sore yang memainkan rambutnya pelan.

Namun entah kenapa, suasana yang seharusnya terasa hangat justru berubah asing. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendadak terasa rapuh.

Aku menangkup wajahnya perlahan, memaksanya menatapku. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang membuat dadaku terasa aneh. Ada kesedihan tipis di matanya. Kesedihan yang tak pernah kubayangkan bisa dimiliki seorang Devandra.

"Apa yang kurang, Dev? Kita sudah menikah, aku masih di sini membersamaimu, dan semua itu masih kurang?"

"Aku hanya takut, kamu berhenti mencintaiku." suaranya lirih bergetar, seolah ada tangis yang dia tahan.

"Jika seandainya aku berhenti mencintaimu, maka kamu juga harus berhenti mencintaiku."

Dia menggeleng dengan cepat, tangannya menyentuh tanganku yang masih berada di pipinya.

"Aku bahkan nggak sanggup membayangkan itu." Dia tertawa kecil di sudut bibirnya.

"Kalau begitu, berhenti bersikap posesif!"

Setelah itu, semuanya mendadak sunyi. Kami hanya saling menatap. Di antara kami, hanya terdengar suara-suara hutan. Bahkan aku sendiri tak mengerti kenapa bisa mengatakan itu. Kalimat itu keluar begitu saja, terlalu cepat untuk kutahan. Seolah selama ini ia hanya berdiam di sudut pikiranku, menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya terucap.

"Posesif?" katanya kemudian, " itu bukan posesif, Nara."

"Lalu apa?"

"Aku hanya takut kehilanganmu, dan itu hanya bentuk caraku menjagamu." Wajahnya berubah serius.

"Tapi kenapa harus ada kekerasan, Dev?" suaraku begitu lirih, seolah aku tidak ingin benar-benar mengatakannya, atau lebih tepatnya aku terlalu takut mengucapkan kenyataan.

"Kenapa harus ada tamparan? Kurungan? Batasan? Aturan-aturan yang nggak pernah kumengerti."

Dia terdiam.

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!