Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Haus... arghh," rintih Jayantaka, berusaha sekuat tenaga memeras sisa suaranya yang tertahan di tenggorokan yang kering.
Tak lama kemudian, Nyai Lodra muncul di ambang pintu dengan sebuah kendi tanah liat di tangannya. Ia mendekat dengan gerakan lembut, lalu perlahan mengalirkan air jernih ke mulut Jayantaka yang pecah-pecah.
Bagi Jayantaka, air itu terasa bagai aliran sungai dari surga yang membasuh kerongkongannya, meredakan sejenak rasa perih dan sensasi remuk yang seolah menghancurkan setiap sendi di sekujur tubuhnya.
"T-terima kasih, Nyai. Apakah aku akan mati? Rasanya... tubuhku sudah hancur," ucap Jayantaka lemah, napasnya masih tersengal.
Nyai Lodra terdiam sejenak, wajahnya menyiratkan keprihatinan yang mendalam, hingga Ki Bagaskara muncul di sampingnya diikuti oleh Gandraka yang menatap dengan pandangan sulit diartikan.
"Kami telah berusaha sekuat tenaga, Jayantaka. Namun luka-lukamu bukan sekadar luka lahir; hawa hitam itu telah merusak jalur napasmu. Tak bisa sembuh dalam sekejap, butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkannya," ujar Ki Bagaskara dengan nada rendah yang tenang.
"Arghh..." Jayantaka memejamkan mata, lalu kembali menatap langit-langit rumah yang sederhana itu.
Pikirannya menerawang liar, terjebak dalam labirin keputusasaan. Sepanjang kariernya sebagai penyidik agung, belum pernah ia memikul tugas seberat dan semengerikan ini. Lawannya bukanlah manusia dengan pedang atau siasat politik, melainkan entitas di luar nalar yang kekuatannya sanggup meremukkan jiwa.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, sang abdi kerajaan itu merasa benar-benar gagal—hancur secara fisik, dan runtuh secara mental. Ia kini hanyalah seorang pengelana yang tersesat di tanah yang dikuasai kegelapan kuno.
"Siapa yang menyerangku? Siapa sebenarnya dia?" tanya Jayantaka dengan nada yang masih menyimpan sisa ketegasan, meski suaranya bergetar.
Ki Bagaskara dan Nyai Lodra saling bertukar pandang sejenak, sebuah komunikasi bisu yang sarat akan rahasia. Akhirnya, Ki Bagaskara menghela napas dan menjawab dengan nada tenang yang dibuat-buat.
"Kami tidak tahu, Jayantaka. Kami menemukanmu sudah dalam keadaan terluka parah di penginapan itu. Ki Lurah dan warga yang ketakutan memutuskan untuk menitipkanmu di sini. Kebetulan, kami sedikit paham tentang ramuan obat-obatan," balas Ki Bagaskara datar.
Jayantaka menyeringai tipis, sebuah senyum kecut yang dipaksakan. "Jangan berbohong padaku, Bagaskara. Aku tahu kalianlah yang telah menarikku dari ambang kematian malam itu. Katakan, mengapa kalian menolongku?"
"Jayantaka, kami benar-benar tidak mengerti maksudmu. Kami ini hanyalah petani biasa yang kebetulan berada di waktu yang salah," sahut Nyai Lodra, mencoba menjaga suaranya agar tetap stabil.
"Oh, kalian sangat pintar bersandiwara," gumam Jayantaka sambil menatap langit-langit dengan tatapan tajam. "Tapi baiklah, untuk sementara aku akan mencoba mempercayai ucapan kalian. Namun ingatlah, anak kalian tidak akan bisa selamanya menutupi siapa kalian sebenarnya. Aura di matanya tidak bisa berbohong."
"Hmm... kau bicara terlalu banyak. Sebaiknya kau banyak beristirahat, Jayantaka, agar ragamu lekas pulih," pungkas Ki Bagaskara, mengisyaratkan agar pembicaraan itu diakhiri sebelum semakin jauh.
"Baiklah," jawab Jayantaka singkat.
Sejenak kemudian, Jayantaka kembali memejamkan mata. Ia mulai mengatur napas, mencoba memanggil sisa-sisa tenaga murninya untuk dialirkan ke seluruh jaringan sarafnya yang rusak.
Walau aliran energi itu terasa sangat lemah dan tersendat-sendat—bagaikan tetesan air di tanah gersang—ia bersikeras untuk pulih. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia tahu bahwa kedamaian di rumah ini hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.
Di halaman depan rumah yang masih berselimut kabut tipis, Gandraka duduk bersila di atas tanah. Jemarinya yang mungil bergerak lincah, menggoreskan ranting pohon untuk membentuk lambang-lambang aneh yang tampak hidup. Namun, lukisannya kali ini terasa jauh lebih pekat dan menekan. Ia menggambar sosok Jerangkong—tulang belulang raksasa—dengan matahari yang berkobar tepat di atas kepalanya, seolah sedang memanggang dunia.
"Jelaskan padaku, Gandraka," ucap Ki Bagaskara yang baru saja melangkah keluar sembari menyampirkan cangkul di pundaknya. Matanya menatap tajam ke arah gambar di atas tanah itu.
"Eyang Jagad Ireng akan memulai serangannya, Ayah. Aura kegelapannya sudah mulai merayap di bawah akar-akar pohon," ucap Gandraka tanpa menoleh, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari usianya. "Tapi aku tak bisa memastikan kapan tepatnya ia akan benar-benar muncul."
Nyai Lodra yang berdiri di ambang pintu tampak ragu. "Apa kita tetap harus mengurus ladang hari ini, Kakang? Perasaanku tidak enak."
"Sebentar lagi jagung kita panen, Nyai. Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jika sehari saja ditinggalkan, hama dan semak pengganggu akan menghancurkan jerih payah kita. Lagipula, tanggul yang mampat di sebelah selatan harus segera kuperbaiki agar air tetap mengalir," balas Ki Bagaskara, mencoba menenangkan istrinya meski hatinya sendiri bergejolak.
"Pergilah, Ayah. Ibu. Aku akan baik-baik saja di sini," sahut Gandraka pelan, kini matanya beralih menatap hutan yang tampak diam namun mengancam.
"Jaga dirimu. Dan jaga tamu kita di dalam," pesan Ki Bagaskara dengan nada penuh peringatan.
"Baik, Yah."
Dengan langkah yang berat namun tetap dipaksakan tenang, Ki Bagaskara dan Nyai Lodra akhirnya berangkat menuju ladang. Gandraka tetap diam, kembali menatap gambar Jerangkong di bawah kakinya, sementara di dalam rumah, Jayantaka yang masih lemah samar-samar mendengar percakapan itu—menyadari bahwa perlindungan yang ia dapatkan saat ini hanyalah ketenangan sebelum badai Jagad Ireng mengamuk.
Jauh dari batas Kadipaten Wengker, tepatnya di jantung pusat pemerintahan—ruang Kepatihan yang agung—sang Mahapatih Gajah Mada merasakan kegelisahan yang luar biasa. Udara di sekitarnya mendadak terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menekan pundaknya. Tanpa sepatah kata pun, ia beranjak, langkah kakinya yang mantap bergema di lorong sunyi saat ia menuju ruangan semadi pribadinya.
Di dalam ruangan yang hanya diterangi satu pelita kecil itu, Gajah Mada duduk bersila. Tubuhnya tegak bagai karang, kedua telapak tangannya bertumpu di atas lutut dengan penuh konsentrasi. Ia mulai mengatur napas, menutup pintu inderanya dari dunia lahiriah untuk menyelami alam batin yang lebih dalam.
Dalam keheningan semadinya, sang Mahapatih mulai melepaskan sukma untuk menangkap jejak-jejak gaib yang bertebaran di jagad kegelapan. Perlahan, penglihatan batinnya menangkap gumpalan kabut hitam yang pekat di arah timur—sebuah kekuatan purba yang bangkit kembali. Ia merasakan getaran hawa yang sangat ia kenali, sebuah ancaman besar yang bisa mengguncang stabilitas tanah Jawa.
"Wengker..." desisnya dalam hati, sementara keningnya tampak berkerut.
Di tengah lautan energi gelap itu, Gajah Mada melihat kilatan cahaya biru yang samar namun tajam, seolah sedang bertarung melawan kegelapan yang mengepungnya. Sang Mahapatih menyadari bahwa di desa terpencil itu, sesuatu yang besar sedang dipertaruhkan, dan nasib seorang utusan kerajaan kini bergantung pada kekuatan yang belum pernah ia duga sebelumnya.