Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 14 (Badai dan Runtuhnya Batas)
Ketegangan akibat percakapan di tepi pantai tadi pagi masih menyisakan hawa canggung yang tebal di dalam vila. Hingga petang menjelang, Adrian mengurung diri di meja kerja luar dengan laptopnya, sementara Arini memilih menyibukkan diri membaca buku di sudut lain. Mereka saling melempar diam, mempertahankan ego masing-masing yang enggan mengalah.
Namun, alam seolah punya cara sendiri untuk mencairkan kebekuan di antara mereka.
Tepat pukul sembilan malam, cuaca di sekitar pulau pribadi Raja Ampat berubah drastis. Angin laut mendadak berembus sangat kencang, mengguncang dedaunan pohon kelapa di luar dengan suara menderu yang menakutkan. Langit malam yang gulita seketika robek oleh sambaran petir yang menggelegar dahsyat, disusul oleh hujan lebat yang langsung menghantam dinding-dinding kaca vila dengan brutal.
Cesss!
Tanpa peringatan, seluruh lampu di dalam vila padam total. Aliran listrik mati akibat badai yang melanda gardu utama pulau. Suasana seketika menjadi gelap gulita, hanya menyisakan kilatan petir yang sesekali menerangi ruangan secara dramatis.
Arini refleks memekik pelan, menjatuhkan bukunya ke lantai. Sejak kecil, ia selalu menyembunyikan ketakutan terbesarnya terhadap suara guntur dan kegelapan yang mencekam. Tubuhnya seketika bergetar, dan ia memeluk lututnya sendiri di atas kursi beludru, berusaha mengatur napasnya yang mendadak memburu.
Duar!
Satu dentuman petir yang sangat keras kembali menggelegar, seolah membelah langit tepat di atas atap vila. Arini memejamkan mata erat-erat, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut sembari menahan isak tangis ketakutan.
"Arini?"
Di tengah kegelapan, sebuah suara bariton yang berat terdengar memanggil namanya. Sesaat kemudian, Arini bisa merasakan embusan aroma kayu cendana yang familier mendekat. Adrian sudah berlutut di hadapan kursinya, memegang sebuah lampu darurat kecil yang memancarkan cahaya kekuningan yang temaram. Di bawah sorot lampu itu, wajah Adrian tidak lagi menampilkan keangkuhan dingin, melainkan gurat kecemasan yang nyata.
"Kamu tidak apa-apa? Tubuhmu gemetar," ucap Adrian pelan.
Sebelum Adrian sempat berdiri, sebuah kilatan petir kembali menyambar disertai suara gemuruh yang memekakkan telinga. Rasa takut yang teramat sangat membuat logika Arini runtuh seketika. Tanpa memikirkan pasal kontrak ataupun gengsi, Arini langsung menghamburkan tubuhnya maju, memeluk erat leher Adrian.
Adrian sempat tersentak kaku. Tubuh bidangnya membeku selama beberapa detik saat merasakan tubuh ramping Arini yang gemetar hebat bersandar sepenuhnya pada dadanya. Namun, saat mendengar isak tangis pelan Arini di ceruk lehernya, benteng es di dalam diri Adrian runtuh total.
Tangan kekar Adrian bergerak naik, melingkari pinggang ramping Arini dan mendekapnya dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan tubuhnya untuk mengusir rasa dingin dan ketakutan yang mendera istrinya. Tangan satunya mengusap lembut rambut panjang Arini yang halus dengan gerakan menenangkan.
"Tenanglah, aku di sini. Badainya tidak akan bisa masuk," bisik Adrian rendah, suaranya terdengar begitu dalam, hangat, dan sarat akan proteksi di dekat telinga Arini.
Mereka bertahan dalam posisi intim itu selama beberapa menit hingga tangisan Arini mereda dan tubuhnya tidak lagi gemetar. Saat Arini menyadari apa yang baru saja ia lakukan, ia perlahan melonggarkan pelukannya dengan wajah yang mendadak terasa sangat panas karena malu.
"Maaf... saya refleks," bisik Arini gugup, berusaha menarik diri ke belakang.
Namun, Adrian tidak melepaskan cengkeramannya di pinggang Arini. Mata elangnya menatap dalam ke manik mata Arini di bawah temaram lampu darurat. Jarak wajah mereka hanya tersisa hitungan sentimeter. Napas mereka yang memburu saling berkejaran di udara, menciptakan atmosfer yang mendadak terasa begitu panas dan menyesakkan di tengah dinginnya badai luar.
Adrian menundukkan kepalanya sedikit, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga Arini bisa merasakan kehangatan napas pria itu menerpa bibirnya. "Jangan pergi," gumam Adrian serak, suaranya dipenuhi intensitas emosi yang tidak mampu lagi ia sembunyikan di balik alasan kontrak bisnis. "Malam ini... tidurlah di dekatku. Tanpa batas guling itu."
Jantung Arini berdentum begitu keras hingga rasanya mau melompat keluar dari rongga dadanya. Di bawah gemuruh badai malam itu, sekat kepalsuan di antara sang konglomerat dan mantan pelayannya resmi hancur, menyisakan ketertarikan magnetis yang siap membawa hubungan mereka ke tingkat yang jauh lebih mendalam.