NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 26 - AYAH

...Tidak semua perisai terbuat dari baja....

...Beberapa berdetak dan siap hancur demi satu nama, anaknya....

...⚙⚙⚙...

Kembali ke gerbang desa...

“Itu... tidak mungkin“ suara Rogan pecah dari puncak menara.

​Bram berlutut. Napasnya tersengal parah. Jemarinya bergetar hebat saat mencengkeram gagang tombak yang mulai licin oleh keringat. “Serangan barusan...“ ia menelan ludah, “...tidak cukup...“

​Liora membeku. Otot wajahnya kaku, matanya terpaku pada sosok di depannya. “Dia... bukan sesuatu yang bisa kita bunuh...“

​Man-Slayer mengangkat kepala. Matanya menyala, memancarkan cahaya merah yang lebih pekat dan berdenyut seolah memiliki detak jantung sendiri. Kaki raksasanya menghentak bumi. Gelombang kejut melingkar melesat keluar, menghantam sisa-sisa tembok, menerbangkan debu, dan memadamkan api di sekitarnya dalam sekejap. Bram terseret mundur. Liora terhuyung, hampir terjungkal ke belakang. Menara batu di sisi mereka berderit keras, fondasinya retak seribu.

​Man-Slayer merendahkan kuda-kudanya. Tangannya yang besar merogoh reruntuhan, mencengkeram bongkahan beton seukuran rumah kecil. Otot lengannya menegang, lalu ia mengayunkan seluruh tubuhnya.

​“ROGAN!!“ teriak Bram.

​WOOOOSH...

​Batu raksasa itu membelah udara, menciptakan suara denging yang menyakitkan telinga. Mata Rogan melebar sempurna. ​“-Sial!“

​BRAAAKKK...

​Batu itu menghantam bagian tengah menara. Kayu penyangga hancur menjadi serpihan, batu-batu penyusun dinding meledak berhamburan. Seluruh struktur itu miring, lalu ambruk tegak lurus ke bawah.

​“GHAA-!“

​Tubuh Rogan terlempar di antara jatuhnya balok-balok berat. Ia menghilang di bawah tumpukan puing yang jatuh berdentum-dentum. Debu membubung tinggi, menelan lokasi menara itu dalam kesunyian.

​“...Rogan...?“ suara Liora bergetar. Tidak ada jawaban.

​Di bawah, Man-Slayer kembali menggeser kakinya. Bram mendongak, matanya merah karena amarah dan debu. ​

“Aku... belum selesai...“ ​Ia memaksakan diri berdiri. Lututnya berderak, namun ia menghentak tanah. ​“Kalau aku berhenti di sini... semuanya berakhir!!“

​Bram melesat. Ujung tombaknya mengarah lurus, membelah kabut debu di depannya. Kecepatan larinya meninggalkan jejak tanah. Ia berada tepat di depan Man-Slayer, lalu menumpu pada kakinya untuk melompat tinggi. Tubuhnya melayang di udara, dua ujung tombak siap menghujam dari atas.

​Namun, Man-Slayer menghilang.

​Bram tertegun di udara. “Apa...?“

​Ledakan udara terjadi tepat di samping rusuknya. Man-Slayer sudah berpindah posisi, tubuh raksasanya bergerak lebih cepat dari kedipan mata. Tanpa memberi ruang, kepalan tangan raksasa itu mengayun horizontal.

​DUUUK...

​Pukulan itu telak menghantam pinggang Bram. Suara retakan itu tidak hanya terdengar, itu terasa. Seolah tulangnya diperas dari dalam. Paru-parunya mendadak kosong, seluruh sirkulasi udaranya terhenti seketika.

​“-GHAA!“

​Bram terpental seperti peluru meriam. ​Tubuhnya menghantam tanah datar, meledakkan permukaan hingga membentuk lubang sedalam satu meter. Tanah, akar pohon, dan bebatuan terlempar ke udara. Retakan tanah menjalar cepat dari pusat benturan. ​Debu tebal perlahan menelan lubang tersebut.

​Man-Slayer berdiri tegak di bibir kawah. Matanya yang menyala menatap dingin ke dalam lubang, tanpa ada perubahan napas sedikit pun. Serangan mematikan tadi dilakukan tanpa usaha berarti. ​Ia berbalik, melangkahkan kaki beratnya menuju Liora.

Liora menerjang maju, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya. “Bram!“ teriaknya parau. “Berhenti...! Hentikan!!“

​Ia mencengkeram gagang Valkyra dengan kedua tangan. Senjata itu bergetar hebat, mengeluarkan bunyi berdengung. Liora memejamkan mata, memeras sisa energi dari senjatanya. Cahaya biru pucat mulai merambat dari telapak tangannya, menyulut bilah senjata itu hingga berpijar tidak stabil.

​“Kalau tidak sekarang... semuanya benar-benar selesai...!“

​Ia menghentakkan kaki, memacu tubuhnya yang sudah di ambang batas. Ujung senjatanya yang membara meninggalkan garis cahaya di udara saat ia mengayunkannya dengan sapuan horizontal, mengincar leher Man-Slayer yang mulai berbalik ke arahnya.

​SRAAAK...

​Man-Slayer tidak menghindar. Ia hanya mengangkat lengan bawahnya yang kokoh untuk menangkis. ​Benturan energi dengan kulit keras raksasa itu menciptakan percikan listrik statis yang meledak ke segala arah. Man-Slayer sedikit pun tidak bergeser.

Liora mencoba menyerang kembali dengan sisa tenaganya, namun Man-Slayer kini jauh lebih cepat. Satu sapuan tangan monster itu menghantam senjatanya dengan kekuatan penghancur. Valkyra terlepas dari genggaman Liora, bilah anginnya padam seketika sebelum berputar jatuh ke tanah berbatu.

Liora terhempas keras, punggungnya menghantam tanah dan memaksa seluruh udara keluar dari paru-parunya. Saat ia mencoba merangkak, bayangan raksasa Man-Slayer telah menutupinya, menelan cahaya api desa ke dalam kegelapan yang pekat. Mata merah sang monster menyempit, menikmati ketakutan yang muncul di mata Liora. Cakar hitamnya terangkat perlahan, gerakan seorang jagal yang tidak ingin terburu-buru.

Cakar itu mulai turun untuk mengakhiri nyawa Liora.

THUUS...

Sesosok siluet besar tiba-tiba membelah ruang di antara mereka. Tubuh lebar yang sangat dikenal Liora berdiri kokoh layaknya dinding benteng yang mustahil ditembus.

Garrick, ayahnya.

Benturan keras terjadi saat cakar Man-Slayer menghujam tubuh Garrick. Tubuh besar kepala desa itu tersentak hebat. Cakar itu menembus tubuhnya dari belakang hingga ke perut. Darah merembes melalui celah zirahnya, namun ia tetap berdiri tegak, menjadi perisai terakhir bagi putrinya.

“Ayaaah...!!“ Jeritan Liora pecah oleh panik dan kehancuran hati.

Garrick tidak mundur. Tubuhnya gemetar hebat menahan beban kekuatan sang monster, namun tatapannya tetap lurus menantang maut. Perlahan, tangan besarnya yang kasar dan hangat turun, menyentuh kepala Liora dengan kelembutan yang sangat familiar, sebuah janji diam bahwa selama ia masih bernapas, putrinya akan selalu aman.

Dahulu, setiap kali badai mengoyak langit di atas lembah Valtheria dan petir membuat Liora kecil menggigil, ayahnya selalu hadir dengan keheningan yang menenangkan. Tangan besar yang kasar namun hangat itu akan bertumpu di atas kepalanya, sebuah jangkar di tengah badai yang seolah membisikkan janji bahwa dunia tidak akan runtuh selama ia ada di sana.

Kini, di tengah kiamat kecil yang melahap Brakenford, sensasi familiar itu kembali. Di tengah kobaran api yang melalap gubuk-gubuk kayu dan bau anyir darah monster, Garrick berdiri sebagai perisai terakhir.

Suaranya berat, serak oleh debu dan rasa sakit yang menghujam tubuhnya, namun tatapannya tetap setajam elang.

“Liora...“ bisiknya, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya yang pecah. “...ayah masih di sini.“

Liora terisak, jemarinya mencengkeram zirah tambang ayahnya yang kini bersimbah darah.

“Tidak... jangan...“

Garrick tidak berpaling dari bayangan raksasa Man-Slayer yang menjulang tinggi di hadapan mereka.

Dengan sisa kewibawaannya, ia berkata, “Seorang ayah tidak akan membiarkan putrinya berdiri sendirian di medan perang.“

Man-Slayer menggeram rendah, suaranya seperti batu gunung yang bergesekan. Cahaya api desa tertelan sepenuhnya oleh siluet makhluk itu. Dengan gerakan predator yang menikmati detik-detik akhir mangsanya, Man-Slayer menarik cakarnya yang menyerupai pedang hitam. Rahangnya terbuka lebar, memamerkan deretan gigi hitam tajam di balik topeng tulangnya, siap untuk meremukkan tengkorak sang kepala desa.

Tiba-tiba, detak jantung bumi berhenti.

DUUUM...

Getaran itu begitu dahsyat hingga lampu minyak di reruntuhan rumah pecah dan air di ember-ember kayu meledak menjadi riak liar. Man-Slayer membeku di tengah gerakannya.

Detuman kedua menyusul dari arah tambang utara, lebih dalam, lebih purba.

DUUUM...

Dari kegelapan tambang yang pekat, seberkas cahaya biru meledak keluar, berdenyut selaras dengan getaran tanah. Itu bukan cahaya biasa, itu adalah napas pertama dari sebuah legenda yang tertidur disana.

Seketika, kengerian menyebar di antara kawanan monster. Nightclaw Stalker yang biasanya haus darah kini merangkak mundur dengan geraman gelisah. Stonefang Ravager menundukkan kepala mereka ke tanah, insting predator mereka lumpuh oleh kehadiran sesuatu yang jauh lebih dominan. Bahkan Bonebreaker Brute pun berbalik badan seolah dia takut dengan apa yang ada disana.

Namun Man-Slayer tidak melarikan diri. Matanya yang merah membara menatap lurus ke arah mulut tambang, seolah mengenali musuh bebuyutannya dari masa lalu. Dari celah tenggorokannya yang panas, keluar sebuah bisikan yang bergetar penuh kebencian.

“...Ti...tan.“

Ia melepaskan Garrick begitu saja, melupakan mangsa manusianya. Dengan hentakan kaki yang meretakkan batu jalanan desa, Man-Slayer melangkah menuju tambang. Ia mengejar cahaya itu, menuju jalan yang sama di mana Arven kini sedang berlari mati-matian menuju rumah kecil di ujung desa.

Liora berlutut di tanah. Kedua tangannya memegang tubuh ayahnya. Garrick terbaring di pangkuannya. Baju zirah tambangnya robek. Darah mengalir dari luka besar di dadanya tempat cakar Man-Slayer menembus tubuhnya sebelumnya.

“Ayah...“ Suara Liora gemetar. Ia mencoba menahan darah dengan tangannya, namun darah itu terus merembes di sela-sela jarinya.

Di samping mereka, seorang penjaga berlutut sambil menekan luka Garrick dengan potongan kain tebal. “Tekan di sini!“ katanya dengan suara tegang. Tangannya yang besar bergetar saat mencoba menghentikan pendarahan. Namun matanya tidak berani menatap luka itu terlalu lama. Ia tahu luka seperti ini. Dan ia tahu, luka seperti ini jarang bisa diselamatkan.

Di sisi gerbang yang runtuh, seorang penambang tua melompat turun dan berlari mendekat. Busurnya masih tergantung di punggungnya. Ia segera membuka kantong kecil di pinggangnya.

“Obat pembeku darah!“

^^^*gambar buatan AI^^^

Ia menuangkan bubuk obat ke luka Garrick. Tubuh Garrick sedikit tersentak.

Liora menggenggam tangannya. “Ayah... ayah dengar aku?“

Kelopak mata Garrick bergerak perlahan. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat berat. Namun ketika ia melihat wajah putrinya, senyum kecil muncul di bibirnya.

“...Liora.“ Suaranya serak. Seolah setiap kata membutuhkan tenaga besar untuk keluar.

Liora menggigit bibirnya, menahan air mata. “Jangan bicara! Kami akan menghentikan pendarahannya!“

Pria penjaga tetap menekan luka itu kuat-kuat. “Tahan, Pak Kepala Desa!“

Namun Garrick hanya menghela napas pelan. Matanya menatap langit malam yang gelap di atas desa. Api yang menyala memantulkan cahaya merah di wajahnya.

Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, Garrick mengangkat tangannya dengan susah payah. Tangannya gemetar saat menyentuh kepala Liora. Sentuhan itu lembut, namun terasa berat, sama seperti ketika Liora masih kecil, ketika ia pulang dari latihan memanah dengan mata merah karena menangis. Anak panah pertamanya meleset jauh dari target. Ia merasa dirinya gagal. Kenangan itu melintas seperti kilat di benak Liora.

...---⚙---...

Saat itu Garrick berlutut di depannya, mengambil anak panah yang jatuh di tanah, lalu berkata dengan suara tenang. “Pemanah hebat tidak belajar dari panah yang tepat sasaran.“

Ia menyerahkan kembali anak panah itu ke tangan Liora kecil.

“Tetapi dari panah yang meleset.“

“Karena setiap panah yang gagal... mengajarkanmu bagaimana membidik lebih baik.“

...---⚙---...

Dan sekarang, tangan yang sama yang dulu menenangkannya, terasa semakin dingin. “Liora...“

Liora segera menunduk lebih dekat. “Ayah, jangan bicara dulu.“

Namun Garrick menggeleng pelan. Napasnya berat. Setiap kata keluar dengan susah payah. “Dengarkan aku...“

Liora menahan tangisnya. “Ayah...“

Mata Garrick bergerak perlahan ke arah ujung desa. Ke arah jalan yang menuju tambang tua Brakenford. “Monster itu...“ Suaranya hampir seperti bisikan. “Ia mengatakan sesuatu...“

Liora menatap ayahnya dengan bingung. “Apa maksud ayah?“

Garrick menutup matanya sebentar, seolah mengingat kembali momen sebelum ia tertusuk cakar Man-Slayer.

“Titan...“ Ia membuka matanya lagi, “...ia menyebut Titan.“

Mata Liora melebar. ​“Titan...“ bisiknya lirih.​

“Raksasa tambang...“

​Napas Liora tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup tidak beraturan.

​“Astraeus...“

​Nama itu terasa dingin dan berat saat terucap dari lidahnya. Namun, di tengah kengerian itu, sebuah kesadaran menghantam pikirannya dengan keras.

​Arven.

​Liora memutar kepalanya. Matanya menyapu setiap sudut gerbang desa yang kini hancur lebur. Ia mencari di balik tiang yang tumbang, di antara kobaran api yang melahap rumah-rumah kayu, dan di balik pekatnya debu reruntuhan.

​Kosong. Arven tidak ada di sana.

​Wajah Liora memucat seketika. Darah seolah berhenti mengalir ke ujung jarinya. Memorinya berputar mundur ke saat Man-Slayer pertama kali menerjang masuk, kekacauan, jeritan, dan saat mereka terpisah satu sama lain.

​​Bibirnya bergerak tanpa suara, sebelum akhirnya satu nama keluar dengan sisa tenaganya. ​“Arven?”

Garrick menggenggam tangan putrinya lebih erat. “Monster itu menuju ke arah tambang...“ Napasnya tersendat. “Pergi ke sana...“

Liora membeku. “Ayah...?“

Namun Garrick hanya menatapnya dengan mata yang mulai redup. “Lindungi apapun yang ada di sana... dan jangan biarkan monster itu mendapatkannya.“

Tangannya yang berat perlahan turun dari kepala Liora. Namun sebelum tangannya benar-benar jatuh, ia sempat mengusap rambut putrinya sekali lagi. Seperti seorang ayah yang menenangkan anaknya sebelum berpisah.

“Pergilah... Liora...“ Suaranya sangat pelan sekarang, “...sebelum terlambat.“

Air mata Liora akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.

Para penduduk menatap mereka berdua dengan rahang mengeras. “Kau tidak boleh mati sekarang, Pak Kepala Desa.“ Sahut mereka pelan.

Namun suaranya terdengar lebih seperti harapan yang putus asa.

Di tengah keheningan itu, Liora tiba-tiba mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke arah tambang Brakenford. Alisnya mengerut. “Kalian merasakan itu?“

“Apa?“ Tanya salah satu pemuda.

Tanah di bawah kaki mereka bergetar sangat pelan. Begitu halus hingga hampir terasa seperti ilusi. Debu jatuh dari balok kayu gerbang desa yang retak.

Liora menatap ke arah kegelapan desa. Matanya menyipit. “Sesuatu... sedang terjadi di tambang.“

Tanpa seorang pun di halaman desa itu menyadarinya. Jauh di tengah tambang tua Brakenford, di antara rel kereta tambang yang berkarat dan mesin-mesin yang mati, terdengar bunyi logam yang sangat pelan seperti roda gigi tua yang mulai bergerak kembali. Lalu sebuah cahaya biru redup perlahan menyala di dalam gelapnya malam.

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
pujakesuma
seru bangettt💪
Mystic Novel
banyak bagian fiksi ilmiah yang sangat ditonjolkan, mantap sig
Raihan
bagus cerita kak


bantu support juga ya Novel ku baca 😄😄
Alia Chans
lanjut👈
Almeera
hadir kak 🌹🌹
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!