Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.
...~•Happy Reading•~...
Tolly heran mendengar yang dikatakan Jarem kepada Rafael dan balasan Rafael padanya. "Awasi terus pacarmu. Jangan sampai dia penyuka sesa.." Ucapan Rafael menggantung, sebab dia hampir tertawa melihat mata Tolly membesar dan mendelik padanya.
"Anda tidak tahu dia berpacaran dengan pacarmu itu berapa lama? Apa itu tidak menunjukan dia pria normal?" Tolly jadi tersinggung.
"Kalau begitu, bilang pacar anda jangan ngintil saya. Atau anda kurang menarik baginya?" Tanya Rafael dengan wajah serius, tapi hatinya sangat senang.
"Saya mau menikmati party ini. Kalau kalian tidak bisa menikmati, bikin party sendiri." Ucap Rafael lagi lalu mengeloyor pergi sambil tersenyum dalam hati.
'Kadang orang di kota besar yang berduit dan punya jabatan, lucu-lucu.' Rafael membatin dan hampir tertawa ingat wajah marah Jarem yang mau membalasnya, tapi dipelototin Tolly.
"Ada apa dengan wajahmu?" Laras bertanya setelah mendekatinya.
"Ada apa di wajah saya? Saya belum makan, hanya minum." Ucap Rafael sambil mengusap bibirnya. Dia mengira yang dimaksud Laras, ada sesuatu yang menempel di mulutnya.
"Bukan itu. Kau terlihat sangat happy." Ucap Laras sambil menarik tangan Rafael yang sedang memegang mulutnya.
"Oh, itu. Saya ikut happy melihat prestasimu. Apa tidak boleh?" Rafael tidak menceritakan yang dia lakukan kepada Jarem dan Tolly.
"Awasi pacarmu itu. Mulutnya..." Ucap Tolly yang melewati mereka, tapi menggantung sebab melihat Laras memelototi dia.
"Kenapa harus mengawasi? Kau mau merampoknya?" Ucap Laras, emosi.
"Mengapa tidak? Yang begitu saja kurampok, apa lagi yang begini." Ucap Tolly sambil menunjuk Jarem dan Rafael dengan menggerakan kepala. Dia sengaja mengatakan demikian untuk memancing emosi Laras. Tapi tidak berpikir sedang membandingkan Jarem dengan Rafael.
"Anda harus punya kemampuan ekstra untuk merampok mantan dirampok." Jawab Rafael asal untuk menurunkan tensi emosi Laras yang sudah tinggi dan mau membalas Tolly. Rafael tidak mau mengatakan lebih dari itu, karena menjaga perasaan Tolly sebagai wanita.
Tetapi Tolly yang tidak mengerti maksud Rafael, menatap heran pada Laras yang hampir tertawa sambil memukul lengan Rafael. "Kalian meledek saya?"
"Tidak meledek. Tapi happy dengan lawakan anda. Anda kira saya barang, jadi bisa dirampok?" Ucap Rafael dengan mata jenaka untuk mencairkan suasana. Dia tidak mau kedua wanita di depannya beradu emosi dan argumentasi untuk sesuatu yang tidak perlu.
"Oh, ya, Laras. Kau harus bersyukur dia sudah jadi mantanmu." Rafael menggerakan kepala ke arah Jarem yang sedang menahan marah.
Laras melihat Rafael dengan alis bertaut, sebab tidak mengerti maksudnya. "Ternyata mantanmu hanya benda mati, jadi bisa dirampok olehnya." Ucap Rafael lagi, hingga membuat Jarem menarik tangan Tolly agar menjauh.
Laras jadi menunduk untuk menahan tawa sambil memegang perut. Dia tidak menyangka pemikiran Rafael bisa mengusik dan membuat Jarem dan Tolly kepanasan.
Rafael bernafas lega melihat Jarem dan Tolly berlalu. Baginya, yang penting mereka sudah pergi menjauh, agar tidak mengusiknya lagi.
"Laras, saya mau makan sesuatu. Energiku habis layani kedua orang itu, yang usil dengan kehidupan orang lain."
"Bukannya perhatikan acara di depan untuk memotivasi kinerja, tapi mengusik sesuatu yang tidak bermanfaat buat karier mereka." Ucap Rafael sambil menuju meja prasmanan. Dia heran melihat sikap Jarem dan Tolly, seakan tidak ada di acara penghargaan kantor.
"Saya boleh pilih sendiri menunya?" Tanya Rafael saat melihat Laras mengambil menu buatnya. "Perut lagi tidak enak. Tidak semua menu bisa masuk." Rafael menambahkan, agar Laras tidak tersinggung. Laras mengangguk dan berikan piring kosong padanya.
Selesai makan, Laras mengajak Rafael untuk bersalaman dengan team dan pimpinannya sebelum pamit pulang. "Laras, apa ini harus? Kau saja yang pamit dengan mereka." Rafael mulai tidak nyaman, sebab dia merasa sering diperhatikan.
"Tidak harus, sih. Cuma mau pulang, jadi sekalian pamit." Laras memberikan alasan yang bisa diterima Rafael, karena melihat keengganannya.
Dengan berat hati Rafael mengikuti Laras. "Oh, ini orangnya. Jangan lama-lama diresmikan." Ucap beberapa pejabat yang menyalami Laras dan Rafael. Laras hanya tersenyum, lalu pamit. Sedangkan Rafael heran, tapi tidak mengatakan apa pun.
~••
Ketika sudah dalam perjalanan pulang, Rafael dan Laras kembali diam dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Tidak membahas yang terjadi di lobby kantor Laras.
Rafael juga tidak mau bertanya sesuatu yang berhubungan dengan pembicaraan selama Laras dan dia berpamitan, agar tidak mengganggu konsentrasi Laras.
"Rafa, apa ini bisa berlanjut?" Laras tiba-tiba bertanya memecah kebisuan dan jalanan mulai lengang.
"Maksudmu, mau ada acara kantor lagi?" Rafael bertanya sambil melihat Laras yang menatap jalanan di depan.
"Bukan itu. Semua orang kantor sudah tahu kita berpacaran..."
"Laras, sebentar." Rafael mencegah Laras meneruskan yang mau dikatakan, sebab dia mengerti maksudnya untuk melanjutkan. "Tadi kau minum alkohol?"
"Kau kira aku sedang mabuk?"
"Kalau tidak mabuk, mengapa berpikiran seperti itu?"
"Apa kita tidak boleh berpacaran? Kita tidak sedarah." Laras jadi kesal mendengar pertanyaan Rafael.
"Tidak sedarah, tapi saya tinggal dalam rumah orang tuamu. Kau kira itu pantas?"
"Mengapa tidak pantas?" Laras makin ngotot mendengar penolakan Rafael. Apa yang dikatakan Tolly dan respon Jarem juga rekan-rekannya terhadap Rafael menyadarkannya. Agar tidak kehilangan kesempatan mendapatkan Rafael.
Sehingga dia menekan rasa malu dan memberanikan diri bertanya kepada Rafael, walau dia tahu itu tidak pantas sebagai wanita.
"Menepi di depan. Tidak baik bicara hal seperti ini sambil mengemudi." Rafael menunjuk pinggir jalan yang bisa menepi setelah tahu Laras serius dengan permintannya.
"Sekarang dengar. Pantas dan tidak pantas, orang lain yang menilai. Tapi kalau kau mau mengusir saya dari rumah, tidak perlu memakai cara seperti ini. Cukup kau bilang, saya akan keluar."
"Rafa, mengapa kau berpikir sejauh itu? Aku cuma minta pacaran, karna sudah terlanjur diketahui..." Laras tidak mengatakan yang terpikirkan, sebab tidak menyangka respon Rafael berbeda dengan bayangannya.
"Laras, pacaran itu bukan urusan orang sudah terlanjur tahu atau tidak. Tapi itu urusan hati. Kau pernah pacaran, seharusnya tahu dan mengerti ini." Rafael serius mengatakan, sebab dia tidak mau Laras manjadikan dia sebagai senjata hadapi Jarem atau lainnya.
"Apa kau sudah punya pacar di kampung?" Tanya Laras seakan tidak mendengar yang dikatakan Rafael.
"Laras, berikan kesempatan buat hatimu untuk menyebuhkan luka akibat tindakan Jaret." Rafael menurunkan nada suara setelah menyadari Laras serius dan tidak terima penolakan.
"Justru aku mau menyembuhkan luka dan kau obatnya." Ucap Laras dengan nada frustasi.
Rafael menarik nafas panjang. "Laras, saya tidak tahu kau tidak terluka atau sedang menyembunyikan luka. Atau hubunganmu dengan Jarem tidak sampai pada tahap melukai?"
"Apa maksudmu? Kau mau bilang hubunganku dengan Jarem hanya pacar-pacaran?" Laras menatap marah.
Rafael kembali menarik nafas panjang. "Justru itu, kalau hubungan kalian serius, pikirkan lagi. Apa yang membuat kalian berpisah, sebelum memulai yang baru dengan orang lain." Rafael makin menurunkan nada suara.
...~•••~...
...~•○♡○•~...