Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teh jahe
" ini buat sebulan kan Bu? " tanyaku
" lama banget mbak leaaa, Yo kering semua sayurnya " jawab ibu
" jadi nanti malam Abah mau buat makan malam kecil-kecilan sama anak santri dan para guru " sambung Abah
" tumben banget Abah " sambung aku heran, baru kali ini dalam sejarah sepanjang pesantren berdiri Abah membuat pesta kecil-kecilan bersama-sama.
" iya... Ini ide dari ustadz areez, dia mau ke Maroko Minggu depan jadi ini seperti selamatan kecil-kecilan sebelum dia berangkat Minggu depan " ucap ibu menjelaskan, aku melihat ke arah areez, dia sedang mengeluarkan semua sayur dan di pilah-pilahnya.
" iyakan ustadz " ucap ibu mengkonfirmasi apa yang dia katakan barusan.
" Enggeh " ucap areez tanpa menoleh
Berarti apa yang ila dengar dari obrolan ustadz-ustadz itu benar
Setelah itu Abah menyuruh kita semua bersiap untuk sholat magrib, dan masak-masakan di lakukan nanti setelah sholat isya. Aku melangkah ke kamarku untuk sholat magrib dan menunggu waktu isya. Sebenarnya aku enggan untuk masak-masakan dengan santri dan guru, bukan karna apa, terkadang aku merasa cepat sekali lelah setelah bertemu dengan banyak orang, aku juga sering pusing di keramaian padahal tensi darahku normal. Tapi kalau aku tidak bergabung dan aku tetap di rumah dengan areez yang memasakan makananku, orang-orang akan membuat gosip baru tentang kami, jadi bagaimana, sedangkan kalau masak bersama belum tentu rasanya seenak buatan areez.
waktu terus berjalan dan aku masih memikirkan, ikut masak-masakan atau tetap di dalam areez yang masak, aku memutuskan mencari ibu untuk bertanya baiknya gimana, lalu setelah tanya ibu, ibu ikut apapun kemauanku, Abah juga bilang pilih yang membuat aku nyaman, mereka tidak memaksa aku untuk mengikuti acara bersama di halaman pesantren, tapi aku masih kepikiran dengan gosip anak santri yang menyebar pesat. Aku kembali ke kamar hendak melanjutkan menyendiri dan membuat pilihan.
(what's up)...
(nomer baru) 18.42 : " jangan terlalu dipikirkan mbak... mbak leea di rumah saja, tidak perlu ikut makan bersama, biar saya yang menyiapkan nanti, jadi mbak leaa tidak usah bingung "
satu pesan dari areez merusak kesunyianku
(aku) 18.43 : " tapi aku dengar gosip aneh tentang aku dan kamu, kalau aku tidak keluar, mereka akan bergosip aneh-aneh lagi " jawabku cepat setelah membaca pesan dari areez
(nomer baru) 18.44 : " tidak perlu di anggap serius mbak... anggap saja itu hiburan untuk mereka... Selagi tidak melewati batas " balas areez fast respon
aku baca chat areez berkali-kali sampai aku membuat keputusan, * aku tidak ikut masak-masakan bersama *, oke sudah aku putuskan dan aku kembali lagi ke kamar abah dan ibu buat konfirmasi kalau aku di rumah saja.
Waktu isya pun berlalu, suara sorak-sorai santri memenuhi semua penjuru pesantren, terdengar dari kamar para ustadzah mengambil sayuran dan belanjaan tadi di dapur, sepertinya seru tapi aku tidak ingin ikut meski tau akan seru, aku mau lihat mereka memasak tapi aku tidak mau mereka melihatku, mereka masak di halaman depan pesantren dan jelas sekali itu di depan rumah ini, bagaimana mungkin tidak terlihat meski hanya mengintip sedikit. Ya sudah lah... Suara mereka mewakilkan semuanya.
Aku keluar dari kamarku, setelah tidak terdengar lagi suara seseorang di dalam rumah, Abah dan ibu juga sudah di luar sepertinya, aku hendak ke halaman belakang, hendak meneruskan ceritaku, mencari suasana selain kamarku, suasana malam yang sangat mendukung untuk terus menghayal dan mengarang, dengan backsound music suara riuh para santri dan backing vocal kecipak ikan di kolam juga dengan latar belakang malam di halaman belakang. Sempurna sekali... aku mengetik tanpa henti seakan setiap kata dan kalimat sudah ada iramanya.
Tiba-tiba saat sedang asyik menulis ada aroma lain selain sejuknya angin, enak sekali... aku menoleh ke arah pintu belakang rumah, sepertinya areez sedang masak di dalam, entah masak apa tapi wanginya menambah semangat untuk menulis, biarkan dia menyelesaikan masaknya, dan aku juga melanjutkan tulisanku.
Aku membuat cerita tanpa hambatan, sampai tidak terasa di ujung file tertulis 4850 ribu kata, aku juga tidak percaya tumben sekali secepat ini, aku melanjutkan lagi mengetik sampai 5500 kata setidaknya, aku mau menyelesaikan satu konflik di tengah cerita ini, lalu memikirkan lagi apa cerita selanjutnya. Aku kembali asyik mengetik kata per kata, sampai tidak sadar suara santri yang riuh tadi hanya terdengar seperti bisikan, aku melihat layar tab.ku, jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Aku menoleh ke pintu belakang yang terbuka, tidak ada suara memasak di dapur dan juga tidak ada suara apapun di dalam rumah, jadi aku memutuskan masuk karna aku juga sudah selesai mengetik, aku berjalan masuk ke dalam rumah melewati dapur yang ternyata sudah rapi, lalu meja makan dengan beberapa macam lauk lengkap dengan minumnya, waw...... ucapku tak sadar. Aku melangkah ke kamar mau menaruh tabku dan ke meja makan lagi untuk menyantap makanan masakan areez. mulutku sudah penuh dengan liur rasanya... Aku mengambil nasi satu centong dan memilih lauk di depanku, aku bingung mau ambil yang mana, semua terlihat enak di mataku, dadar jagung yang keemasan, oseng terong pedas yang menggiurkan, ayam goreng saus mentega yang menggoda juga ada sawi rebus sebagai pelengkapnya, benar-benar tidak bisa ditolak, aku makan perlahan menikmati setiap bumbu yang meresap sempurna di setiap lauknya, enakkk sekaliii...
" mbak leea... Ibu juga mau dong, sisain ibu juga ya " ucap ibu yang tiba-tiba datang
" enak sekali ya mbak? sampai kakinya naik satu begitu hahahaha " sambung ibu dengan tertawa, aku melihat ke arah kakiku, ternyata benar kakiku naik satu, astaghfirullah aku ga sadar sama sekali, kenapa bisa sampai naik sii...
" astaghfirullah Bu... Maaf ga sadar " ucapku langsung menurunkan kaki setelah sadar.
" engga apa-apa kali mbak leea... Pokoknya ibu sisain ya " ucap ibu sambil melangkahkan keluar rumah lagi
aku kembali menikmati makan malam ternikmat ini yang terakhir kali Karena mungkin areez tidak akan memasakkan aku lagi nanti, aku hendak menambah nasi yang ketiga kali tapi aku urungkan karena ingat ibu juga mau mencicipi masakan areez, jadi aku merapikan lagi lauk-lauknya lalu aku tutup dengan tudung saji dan mencuci piring bekasku makan. Aku sebenarnya langsung ingin ke kamar tapi tidak jadi karena aku kekenyangan, jadi aku ke ruang tamu depan, melihat dari jendela semua santri dan guru sedang makan, ada ibu dan Abah juga yang makan di tengah santri, tapi satu orang yang tidak kelihatan sama sekali, benar... Areez tidak ada di tengah-tengah mereka semua, harusnya jika ada dia yang paling menonjol dengan badannya itu, tapi dia tidak disana.
tidak mungkin dia pulang dari acara yang dia buat sendiri bukan?.
" ekhem " suara seorang yang berdeham, aku tersentak pelan, aku mencari asal suara itu dari mana. Aku jalan ke jendela satu lagi dan benar tenyata ada orang di depan teras rumahku yang tidak ikut gabung makan bersama yang lain. Benar... itu dia areez... Dia sedang duduk di teras sambil melihat para santri makan, aku melihat areez sesekali berdeham dan mengusap hidungnya pelan, sepertinya dia sedang tidak enak badan. Tiba-tiba aku berfikir untuk membuatkan teh hangat untuknya, aku segera melangkah kedapur, mencari jahe dan merebus air lalu mengambil mug dan memasukan gula di dalamnya, aku menumbuk beberapa potong jahe dan memasukkannya ke dalam rebusan air, setelah mendidih aku tuangkan air dengan potongan jahe yang sedikit hanjur ke dalam mug lalu aku mencelupkan teh instan kedalamnya. Wanginya teh Jasmin dan aroma jahe berbaur sangat enak, aku mencobanya sedikit, mungkin ini tidak terlalu enak tapi hanya ini yang bisa aku buat, anggap saja aku membalas kebaikannya selama ini.
Aku melangkah ke arah jendela itu lagi, aku mengetuknya pelan, areez menoleh ke arahku, lalu aku membuka pintu setelah areez sadar ada aku.
" emmm... Teh jahe " ucapku gugup sambil menyodorkan teh
" buat saya? " tanyanya sedikit kaget
" iyaa..." sambungku, lalu areez mengambil mug berisi teh itu dari tanganku
" terimakasih banyak mbak leea " ucapnya pelan
" saya juga terimakasih sudah membuat masakan buat saya dan merawat saya kemaren, maaf saya cuma bisa buat ini " jawabku panjang, lalu aku langsung masuk ke dalam keburu para santri sadar aku sedang berbincang dengan areez barusan, bisa-bisa nanti jadi topik hangat besok.