Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28:Keberuntungan Dibalik Masalah
Kabut tipis di perbatasan Desa Dahe perlahan memudar, berganti dengan bentangan padang rumput liar yang gersang dan barisan bukit berbatu yang menandai ujung terluar dari wilayah Kekaisaran Shenhuang.
Di bawah sinar matahari yang mulai meninggi, Chen Lin berjalan dengan kecepatan yang konstan. Setiap beberapa langkah, tubuhnya tampak mengabur dan tiba-tiba muncul beberapa meter di depan, meninggalkan jejak debu tipis yang langsung buyar disapu angin.
Teknik pergerakan ringan ini, Langkah Bintang Pengembara, adalah salah satu teknik dasar yang ia ingat dari sekte lamanya.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam tanpa henti melewati jalur berpasir yang sunyi, Chen Lin menghentikan langkahnya di bawah naungan sebuah tebing batu yang menjorok.
Tempat itu cukup tersembunyi dari pandangan mata, terhindar dari terik matahari yang mulai menyengat. Ia menurunkan buntalan kain kecil dari punggungnya, menduduki sebuah batu datar yang agak bersih, lalu membukanya dengan perlahan. Di dalam buntalan itu, terdapat bungkusan daun pisang yang diberikan oleh Xiao Yu sebelum ia melangkah pergi dari halaman rumah kayu Kakek Gu.
Ketika Chen Lin membuka lipatan daun pisang tersebut, aroma harum dari kue beras yang masih menyisakan sedikit kehangatan langsung tercium, membangkitkan rasa lapar yang murni berasal dari tubuh fisik fananya. Ia mengambil sepotong kue beras itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Ketika ia menggigit kue tersebut, rasa manis yang sederhana dan tekstur lembutnya menyebar di lidahnya, menghadirkan secercah kehangatan yang luar biasa di dalam hatinya. Kehangatan ini terasa sangat kontras dengan hawa dingin dari energi astral yang selalu mengalir dan berputar di dalam meridian serta dantian miliknya.
Sambil menikmati makanan sederhana tersebut, Chen Lin membuka peta usang yang ia rampas dari pemimpin Geng Serigala Hitam semalam. Peta itu dibuat dengan sangat kasar, digambar di atas selembar kulit binatang yang sudah tua, kering, dan mulai mengelupas di beberapa sudutnya.
Pola garis yang tertera di sana sangat kusam, namun bagi seseorang dengan ketajaman mental seperti Chen Lin, informasi yang ada di dalamnya sudah lebih dari cukup untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai wilayah geografi di sekitarnya.
Desa Dahe ternyata berada di ujung paling terpencil, sebuah sudut mati dari Prefektur Awan Merah. Wilayah ini dikenal sebagai daerah perbatasan yang miskin akan esensi spiritual, tempat di mana hukum kekaisaran Shenhuang hampir tidak tersentuh dan kekuasaan sepenuhnya dikuasai oleh beberapa klan kultivasi kecil serta sekte-sekte kelas tiga yang saling berebut pengaruh.
Berdasarkan skala pada peta tersebut, tempat terdekat yang memiliki peradaban kultivator yang mapan adalah Kota Batu Hitam. Kota tersebut merupakan kota transit perdagangan yang cukup besar, berjarak sekitar dua hari perjalanan kaki normal dari posisinya saat ini.
"Kota Batu Hitam," gumam Chen Lin dengan suara rendah, matanya yang tajam terpaku pada simbol menara kecil berwarna hitam yang digambar di tengah peta.
Chen Lin melipat kembali peta kulit binatang itu dengan gerakan yang tenang, lalu memasukkannya kembali ke dalam buntalan. Ia tahu betul bagaimana hukum rimba di dunia kultivasi bekerja tanpa ampun. Sekelompok bandit berkekuatan rendah seperti Geng Serigala Hitam tidak akan pernah berani bertindak begitu berani dan menindas desa-desa perbatasan secara terang-terangan tanpa adanya perlindungan di balik layar, atau setidaknya pasokan informasi dari seseorang yang memiliki pengaruh kuat di kota terdekat.
Terlebih lagi, upeti berupa batu spiritual bukanlah sesuatu yang biasa dikumpulkan oleh bandit biasa untuk konsumsi pribadi, mereka tidak memiliki teknik untuk menyerapnya. Batu-batu itu pasti dikumpulkan untuk diserahkan kepada seorang kultivator yang lebih kuat yang menjadi pelindung mereka.
"Jika mereka ingin membalas dendam atau mengirim pasukan untuk mencari tahu siapa yang telah berani melukai pemimpin mereka, mereka pasti akan mengirim mata-mata ke Desa Dahe," batin Chen Lin, sementara seulas senyum dingin yang penuh cemoohan kembali menghiasi wajahnya.
"Tapi mereka tidak akan pernah menduga, bahkan dalam mimpi terburuk mereka sekalipun, bahwa aku justru berjalan lurus menuju sarang mereka tanpa ada niat untuk bersembunyi."
Chen Lin kembali mengemas buntalannya dengan rapi dan mengikatkannya ke punggung. Namun, sebelum melanjutkan langkah kaki, ia memutuskan untuk duduk bersila sejenak di atas tanah yang kering.
Ia menutup matanya, menarik napas dalam-dalam melalui hidung, dan mulai memfokuskan kesadarannya ke dalam tubuh untuk memeriksa kondisi dantian-nya secara menyeluruh.
Lima batu spiritual kualitas rendah yang ia serap habis di puncak bukit semalam kini telah benar-benar hancur menjadi abu putih tanpa sisa. Namun, fondasi yang ditinggalkannya sangat solid, sisa-sisa energi astral perak yang murni masih berputar di dalam pusat energinya, memperkuat dinding dantian yang dulunya dipenuhi retakan parah akibat badai spasial.
Di tempat yang miskin energi spiritual seperti pinggiran Kekaisaran Shenhuang ini, mencari energi alami di alam bebas adalah hal yang sia-sia dan membuang waktu.
Satu-satunya cara tercepat untuk mendapatkan sumber daya kultivasi tersebut adalah melalui jalur perdagangan resmi di kota besar, atau dengan cara merebutnya secara paksa dari tangan orang-orang yang tidak layak memilikinya. Bagi Chen Lin, pilihan kedua selalu terdengar lebih efisien dan praktis jika situasi mendesak.
Chen Lin membuka matanya kembali, berdiri dengan perlahan, lalu menepuk-nepuk debu-debu kering yang menempel pada celana kain kasarnya. Aura pemuda desa yang penurut, canggung, dan penuh kepasrahan kini telah menguap sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.
Pandangan matanya lurus menatap jalan setapak berbatu yang membelah perbukitan gersang di depannya, tajam dan dingin bagaikan sebilah pedang pusaka yang baru saja ditarik dari dalam tungku penempaan dewa.
Ia kembali melesat maju, meningkatkan kecepatan Langkah Bintang Pengembara miliknya. Kali ini, ia sengaja mengambil jalur alternatif yang memotong perbukitan curam dan melompati jurang-jurang dangkal untuk mempersingkat waktu perjalanan agar bisa tiba di sekitar Kota Batu Hitam sebelum malam tiba di keesokan harinya.
Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke arah barat dan langit berubah warna menjadi jingga kemerahan yang pekat, indra keenam Chen Lin yang luar biasa tajam tiba-tiba menangkap sebuah sinyal bahaya.
Bau karat yang sangat akrab di hidungnya tercium dari balik bukit batu di depan, ini adalah bau darah segar manusia yang belum lama tumpah ke atas tanah.
Bersamaan dengan hembusan angin sore yang kering, terdengar suara dentingan nyaring dari senjata tajam yang saling beradu dengan keras, diikuti oleh teriakan kemarahan penuh keputusasaan serta gelak tawa licik yang memecah keheningan lembah sunyi tersebut.
Chen Lin seketika memperlambat gerakannya secara drastis. Ia merendahkan tubuhnya, menyelinap di antara celah-celah batu besar yang menghitam, bergerak maju tanpa menimbulkan suara sedikit pun seolah-olah tubuhnya adalah bagian dari tebing itu sendiri.
Gerakannya begitu halus hingga tidak ada sebutir pasir pun yang bergeser dari tempatnya. Ketika ia sampai di tepi tebing yang curam dan mengintip ke bawah lembah, sebuah pemandangan pertempuran yang berdarah dan tidak seimbang terlihat dengan sangat jelas di depan matanya.
Sebuah kereta kuda mewah yang dindingnya terbuat dari kayu cendana hitam berukir indah tampak terpojok di dinding tebing berbatu. Kondisi kereta itu sudah cukup mengenaskan, dua ekor kuda penariknya yang bertubuh kekar telah mati terkapar di atas tanah dengan leher tergorok lebar, menumpahkan genangan darah segar yang membasahi tanah kering di sekitar tempat kejadian.
Di sekitar kereta tersebut, tiga orang pengawal pria yang mengenakan jubah biru panjang dengan lambang klan berbentuk awan perak yang sudah robek-robek sedang bersusah payah menahan gempuran brutal dari belasan orang yang mengepung mereka. Para penyerang itu mengenakan pakaian kulit yang kumuh, compang-camping, dan dipenuhi noda darah lama.
"Geng Serigala Hitam," bisik Chen Lin dengan nada datar saat matanya menangkap lambang kepala serigala hitam yang terajut kasar di lengan baju para penyerang tersebut. Rupanya, pengaruh geng bandit ini memang cukup luas di wilayah perbatasan ini.
Namun, perhatian Chen Lin sama sekali tidak tertuju pada para bandit rendahan yang hanya memiliki kemampuan Tingkat 9 Blood Purification tersebut. Fokus matanya langsung terkunci pada sosok pria yang memimpin penyerangan di garda terdepan.
Pria itu memiliki postur tubuh yang cukup besar, mengenakan jubah abu-abu longgar yang berkibar ditiup angin lembah, dan memegang sebilah pedang panjang berwarna perunggu yang memancarkan pendaran cahaya spiritual berwarna kuning redup di sepanjang mata pedangnya.
Dari fluktuasi energi yang memancar dari tubuhnya, Chen Lin bisa langsung mengenali dengan pasti bahwa orang ini telah berhasil melompati batas manusia fana dan berada di Tingkat 6 Marrow Purification, seorang kultivator sejati.
"Serahkan Kotak Giok Astral itu sekarang juga, Pelayan Liu! Jika kamu bekerja sama, maka aku, Feng Biao, Wakil Ketua Geng Serigala Hitam, berjanji akan memberikan kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit bagi kalian semua!" teriak pria berjubah abu-abu itu dengan suara yang menggelegar penuh arogansi.
Ia mengayunkan pedang perunggunya ke udara, melepaskan sekelebat tebasan angin spiritual yang tajam. Serangan itu meluncur cepat dan langsung merobek dada salah satu pengawal jubah biru yang mencoba menahannya, membuat pengawal tersebut terkapar tak bernyawa di atas tanah berpasir.
Pengawal yang dipanggil Pelayan Liu, seorang pria paruh baya dengan rambut yang telah memutih di bagian pelipisnya, terhuyung mundur beberapa langkah sambil batuk memuntahkan darah segar yang kental. Ia berdiri dengan kaki yang gemetar di depan pintu kereta kuda, memegang sebilah pedang besi yang sudah dipenuhi retakan rambut di permukaannya.
Meskipun napasnya terengah-engah dan basis kultivasinya yang berada di Tingkat 5 Marrow Purification telah mencapai batasnya, ia tetap mencoba melindungi siapa pun yang berada di dalam kereta tersebut dengan sisa-sisa kekuatan terakhirnya.
"Jangan pernah bermimpi, Feng Biao! Kotak ini adalah barang pusaka milik Nona Muda Klan Xu! Jika kalian dari Geng Serigala Hitam berani menyentuhnya atau melukai Nona Muda, Leluhur Klan Xu dari Kota Batu Hitam tidak akan pernah melepaskan kalian semua hingga ke ujung dunia!" ancam Pelayan Liu dengan suara yang disertai batuk darah dan dipenuhi amarah yang terlihat dari raut wajahnya.
"Hahaha! Leluhur Klan Xu? Orang tua bangka itu saat ini sedang sekarat di atas tempat tidurnya karena racun, dan kalian masih berharap dia bisa terbang ke sini untuk menyelamatkan nyawa kalian?" Feng Biao tertawa terbahak-bahak, suara tawanya terdengar sangat memekakkan telinga di dalam lembah itu.Matanya berkilat penuh dengan kekejaman yang mendalam.
"Serang semuanya! Habisi orang tua ini secepatnya dan seret jalang kecil yang bersembunyi di dalam kereta itu keluar untuk bersenang-senang dengan kita!"
Mendengar perintah dari wakil ketua mereka, belasan bandit Hitam berteriak riuh penuh gairah yang menjijikkan. Mereka kembali mengayunkan golok dan pedang mereka, melangkah maju dengan formasi yang rapat, mempersempit lingkaran kepungan terhadap dua pengawal yang tersisa dan Pelayan Liu yang sudah terluka parah.
Di atas tebing yang tinggi, Chen Lin menyaksikan seluruh rangkaian kejadian berdarah itu dengan tatapan mata yang sangat datar, sedingin es abadi. Secara prinsip, ia tidak memiliki kewajiban moral, ikatan emosional, ataupun ketertarikan pribadi untuk bertindak sebagai pahlawan penyelamat bagi orang-orang asing yang tidak ia kenal.
Dunia kultivasi mengajarkan kepadanya selama ratusan tahun bahwa mencampuri urusan orang lain sering kali hanya membawa masalah yang tidak perlu. Namun, ketika kata-kata 'Kotak Giok Astral' keluar dari mulut Feng Biao, kedua telinga Chen Lin mendadak berdenging kecil.
Giok Astral adalah sejenis bahan spiritual alami yang sangat unik. Batu giok ini tidak terbentuk dari esensi bumi biasa, melainkan dari akumulasi cahaya bintang-bintang di langit yang jatuh dan terserap ke dalam batuan gunung selama ribuan tahun di tempat-tempat tinggi yang sunyi.
Bagi sebagian besar kultivator biasa di wilayah pinggiran Kekaisaran Shenhuang, benda tersebut mungkin hanya dianggap sebagai batu perhiasan berharga tinggi yang bisa meningkatkan sedikit konsentrasi spiritual yang alami. Namun bagi Chen Lin, yang memiliki fisik khusus Universe Star Body dan mengoperasikan teknik kultivasi tertinggi Universe Star Sutra, Giok Astral adalah suplemen terbaik yang tidak ada duanya di dunia. Energi bintang yang tersimpan di dalam batu tersebut bisa langsung diserap oleh sumsum tulangnya tanpa perlu melalui proses penyaringan yang rumit, menjadikannya bahan murni yang sempurna untuk mendobrak kemacetan kultivasinya dalam waktu singkat.
"Kotak Giok Astral..." Chen Lin menyipitkan sepasang matanya yang hitam, mengunci pandangannya pada sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang berwarna hijau daun kekuningan yang didekap dengan sangat erat oleh Pelayan Liu di dada kirinya.
Dari jarak sejauh ini, dengan kemampuan indra keenamnya yang tajam, Chen Lin bisa merasakan fluktuasi energi bintang yang sangat halus namun murni merembes keluar dari sela-sela penutup kotak tersebut.
"Tampaknya keberuntunganku hari ini setelah meninggalkan desa jauh lebih baik daripada yang kubayangkan. Barang itu... adalah hal yang sangat kubutuhkan saat ini. Dan karena aku yang melihatnya pertama kali di jalur ini, maka barang itu adalah milikku."
Dengan gerakan tubuh yang sangat halus dan, Chen Lin melompat turun dari tepi tebing batu yang curam setinggi belasan meter tersebut.