LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Hard Drive Hidup & Konfrontasi Rio
Sebelum Sabiru bisa memproses guncangan terbesar dalam hidupnya—bahwa darah di tubuhnya bukan milik Aldo dan Rania, melainkan warisan genetika dari Arisendra Naverlla dan Malia—lampu di ruangan berkedip merah menyala-nyala. Sirene alarm melolong nyaring, membelah keheningan yang baru saja tercipta setelah pengakuan identitas itu.
> INTRUSION DETECTED. SECTOR MAIN CONTROL.
> USER: RIO_PRATAMA [ADMIN OVERRIDE]
Suara hidrolik mendesing keras saat pintu masuk utama terbuka paksa. Asap tipis mengepul dari engselnya. Masuklah Rio Pratama, didampingi empat pengawal bersenjata lengkap dengan rompi taktis hitam. Rio tersenyum licik, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia mengenakan setelan jas mahal berwarna abu-abu gelap yang kontras tajam dengan kekacauan industri di sekitarnya. Di tangannya, ia memegang tablet kontrol.
"Wah, wah, wah," kata Rio sambil bertepuk tangan pelan, irama langkah kakinya mengetuk lantai logam dengan sombong. "Reuni keluarga yang menyentuh. Air mata, pengakuan dosa, pelukan... Tapi sayang, pesta harus dihentikan. Waktu istirahat sudah habis."
Aldo Sky segera bergerak. Dengan sisa-sisa keahlian militernya, ia menarik pistol dan berdiri di depan Sabiru dan Allbiru, membentuk tameng manusia.
"Rio! Jangan dekati mereka!" geram Aldo, suaranya berat dan penuh amarah tertahan.
Rio tertawa dingin. "Aldo, kawan lamaku. Masih setia pada janji bodohmu? Ingat ancamanku? Jika kau tidak menyerahkan 'Kunci Genetik', aku akan membunuh Rania. Dan lihat... kau gagal. Aku menemukan backdoor yang kau tinggalkan karena panik saat menyadari istri sahmu dalam bahaya. Kau memilih menyelamatkan Rania, tapi mengorbankan putri tirimu. Ironis, bukan?"
Wajah Aldo memucat. Rahasianya terbongkar. Rasa bersalah menghantam dadanya; ia diperas menggunakan nyawa Rania—ibu kandung Allbiru dan istrinya sendiri.
Sabiru bangkit perlahan. Kakinya gemetar, bukan karena takut, tapi karena beban informasi: Aku bukan anak Aldo. Aku bukan saudara Allbiru. Tatapannya bertemu dengan Allbiru. Ketakutan akan incest lenyap, digantikan kelegaan aneh sekaligus kesedihan. Namun, kini bukan waktunya meratapi masa lalu.
Sakit menusuk di tengkuknya berubah menjadi energi fokus. Dia menatap Rio, lalu Arisendra di balik kaca pemisah.
"Ayah," kata Sabiru tegas, air matanya masih mengalir. Kata itu terasa asing, ditujukan pada pria tua yang ia kira musuh, bukan orang tuanya sendiri. "Bagaimana cara menghentikannya? Apa yang dia inginkan?"
Arisendra, tangannya tremor di atas konsol holografik, menatap putrinya dengan penyesalan. Layar besar menyala, menampilkan struktur DNA dan kode biner: PROJECT RAMBUTAN - CORE ARCHIVE.
"Rio menginginkan keabadian, Sabiru," jelas Arisendra lewat speaker, suaranya serak. "Dia ingin mentransfer kesadarannya ke jaringan digital. Tapi tubuh biologisnya menolak data asing. Hanya darah Naverlla—darahmu—yang memiliki Neural Link bawaan. Mutasi genetik yang aku tanamkan sejak kau dalam kandungan, bekerja sama dengan ibumu, Malia. Otakmu dirancang menjadi jembatan antara daging dan data. Kau bukan sekadar hacker, Nak. Kau adalah Hard Drive Hidup. Otakmu dapat menyimpan kesadaran manusia tanpa degradasi."
Rio melangkah maju, matanya berkilat lapar. "Benar sekali. Serahkan dirimu. Biarkan aku mengambil alih tubuh dan pikiranmu. Aku akan hidup selamanya sebagai dewa digital. Sebagai imbalannya, aku biarkan keluarga palsumu hidup mewah."
Allbiru menggertakkan gigi, loyalitasnya tak goyah meski tahu hubungannya dengan Sabiru ternyata aman secara biologis.
"Tidak," jawab Sabiru dingin.
Dia menutup mata, menerima rasa sakit di tengkuknya. Dia membiarkan Neural Link-nya terhubung penuh dengan konsol utama. Kabel-kabel neural di kursi eksekusi bergerak sendiri, mencari port di belakang leher Sabiru.
Clik. Koneksi terbentuk.
> NEURAL SYNC: 100%
> ACCESSING ROOT PRIVILEGES...
Lampu ruangan berubah dari merah menjadi biru elektrik. Kabel di sekitar Sabiru berpendar cahaya biru muda, menjalar hingga ke ujung jarinya. Udara terasa statis.
Rio mengerutkan kening, senyum liciknya pudar. "Apa yang kau lakukan? Menyerahkah kau?"
Sabiru membuka mata. Pupilnya berpendar cahaya biru digital. Untuk pertama kalinya, Rio merasa ketakutan primal.
"Aku bukan kunci yang bisa kau pakai, Rio," kata Sabiru. Suaranya bergema aneh, seolah berasal dari banyak sumber sekaligus—suara aslinya ditambah gema digital dari server Genesis Core. "Kau pikir aku wadah kosong? Kau salah."
Sabiru mengangkat tangan. Cahaya biru menjalar ke lengan bajunya.
"Aku adalah virus."
Tanpa peringatan, Sabiru menekan tombol virtual di udara. Gelombang kejut data meledak dari tubuhnya, menembus dinding kaca, dan menyerang sistem keamanan Rio. Lampu helm para pengawal padam satu per satu. Senjata pintar mereka terkunci.
Dan di dalam pikiran Sabiru, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.