Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.
Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.
Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 — Hujan dan Perasaan Aneh
Hujan masih turun pelan membasahi jalanan malam.
Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning redup di genangan air.
Dan Naresha masih berdiri diam setelah ucapan Arven barusan.
“Kalau lo ga datang ke hidup gue… mungkin gue masih sendirian sampai sekarang.”
Kalimat itu terus terulang di kepalanya.
Membuat jantungnya berdetak aneh.
Cepat.
Tidak teratur.
Naresha buru-buru memalingkan wajah.
“Lo tiba-tiba ngomong mellow gitu kenapa sih…”
Arven mengangkat sebelah alisnya kecil.
“Gue serius.”
“NAH ITU MASALAHNYA!”
Cowok itu malah tertawa pelan.
Naresha langsung makin salah tingkah.
Pipinya terasa panas.
Untung suasana malam dan hujan membuatnya tidak terlalu terlihat jelas.
Mereka kembali berjalan pelan di trotoar yang sepi.
Suara hujan menjadi satu-satunya yang terdengar beberapa saat.
Naresha mencuri pandang ke arah Arven.
Cowok itu terlihat jauh lebih ringan sekarang.
Tidak sesuram biasanya.
Dan entah kenapa…
Melihat Arven seperti itu membuat hati Naresha ikut tenang.
“Ven.”
“Hm?”
“Lo sekarang masih bisa lihat mereka ga?”
Langkah Arven sedikit melambat.
Tatapannya turun sebentar sebelum akhirnya menggeleng kecil.
“Ga tahu.”
“Hah?”
“Sejak Penjaga hilang…” Arven mengusap tengkuknya pelan. “Semuanya jadi sunyi.”
Naresha langsung menatapnya.
“Sunyi?”
“Iya.”
Cowok itu tersenyum tipis.
“Ga ada bisikan.”
“Ga ada bayangan.”
“Ga ada suara aneh lagi.”
Deg.
Untuk sesaat Naresha tidak tahu kenapa dadanya terasa hangat mendengar itu.
Mungkin karena akhirnya Arven bisa hidup normal.
Tanpa dihantui ketakutan setiap hari.
“Itu bagus dong.”
Arven mengangguk kecil.
“Harusnya iya.”
“Harusnya?”
Cowok itu diam sebentar.
Lalu tertawa kecil.
“Aneh aja.”
Naresha memiringkan kepala bingung.
“Aneh gimana?”
“Gue udah terbiasa hidup rame.”
Naresha langsung menatap Arven tidak percaya.
“Rame sama hantu maksud lo?”
“Ya gimana ya…”
“Jangan dibiasain WOI.”
Arven terkekeh kecil lagi.
Dan Naresha baru sadar sesuatu.
Ia jadi sering melihat Arven tertawa malam ini.
Jauh lebih sering dibanding sejak mereka kenal.
Perasaan hangat kembali muncul di dadanya.
Mereka akhirnya sampai di depan rumah Naresha.
Rumah itu gelap.
Semua orang sudah tidur.
Naresha berdiri di depan pagar sambil memainkan ujung hoodie-nya pelan.
Entah kenapa…
Ia tidak ingin percakapan malam itu selesai.
“Jadi…” gumamnya pelan. “Besok sekolah?”
Arven menghela napas panjang.
“Malas.”
“Aku juga.”
Mereka sama-sama diam beberapa detik.
Lalu tiba-tiba Naresha tertawa kecil sendiri.
Arven menatapnya bingung.
“Apaan?”
“Aneh aja.”
“Apa lagi sekarang?”
“Kita habis hampir mati terus sekarang ngomongin sekolah.”
Cowok itu ikut tertawa pelan.
“Iya juga.”
Hening nyaman kembali muncul di antara mereka.
Dan anehnya…
Naresha suka suasana itu.
Tidak perlu bicara banyak.
Tetap terasa nyaman.
Arven akhirnya melangkah mundur sedikit.
“Udah masuk sana.”
Naresha mengangguk kecil.
Namun sebelum membuka pagar…
Ia kembali menoleh ke Arven.
“Ven.”
“Hm?”
“Makasih ya.”
Tatapan Arven langsung tertuju padanya.
Naresha menggigit bibir bawahnya pelan sebelum melanjutkan,
“Karena udah nyelametin aku.”
Cowok itu diam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Kan gue bilang…”
Suaranya pelan.
“Gue ga bakal biarin lo kenapa-kenapa.”
Deg.
Jantung Naresha langsung kembali tidak normal.
Pipinya panas lagi.
“Udah sana pulang!” katanya cepat sambil buru-buru membuka pagar.
Arven malah terlihat menahan tawa.
“Iya cerewet.”
Naresha langsung masuk ke halaman rumah tanpa berani melihat Arven lagi.
Namun sebelum menutup pagar…
Ia sempat melirik sedikit.
Dan mendapati Arven masih berdiri di sana sambil memperhatikannya.
Tatapan mereka bertemu sebentar.
Lalu cowok itu mengangkat tangan kecil.
“Good night, Sha.”
Deg.
Naresha langsung buru-buru menutup pagar.
Jantungnya hampir copot.
Ia bersandar di balik pagar sambil memegang dadanya sendiri.
“Astaga…”
Pipinya benar-benar panas sekarang.
Dan untuk pertama kalinya setelah semua kejadian mengerikan itu…
Naresha tersenyum sendiri seperti orang aneh.