Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Kejutan di Tengah Kebahagiaan
Selasa pagi, dua minggu setelah family movie night mereka, kehidupan berjalan dengan sangat damai. Terlalu damai sampai Reyhan hampir lupa kalau hidup tidak selalu berjalan mulus. Tapi untuk sekarang, ia menikmati setiap momen kebersamaan dengan keluarganya.
Kehamilan Alya memasuki minggu ke-12. Morning sickness-nya sudah hampir hilang sepenuhnya. Ia mulai bisa makan normal lagi, bahkan mulai ngidam makanan-makanan aneh. Yang paling sering muncul tengah malam.
"Rey, aku pengen mangga," kata Alya jam sebelas malam. Mereka baru saja berbaring, lampu sudah dimatikan.
Reyhan yang sudah setengah tertidur langsung membuka mata. "Sekarang? Tengah malam gini?"
"Iya. Aku nggak bisa tidur kalau nggak makan mangga." Suaranya merengek, tapi matanya berbinar lucu.
Reyhan tertawa pelan. Ia bangkit dari tempat tidur, meraih jaketnya. "Oke. Ayah dari baby kita harus nurut sama Mama. Tunggu ya, aku ke minimarket."
"Rey, serius? Kamu mau keluar tengah malam buat beli mangga?"
Reyhan mencium dahinya lembut. "Buat kamu dan baby kita? Apapun."
Lima belas menit kemudian, ia kembali dengan plastik berisi mangga muda, sambal kecap, dan sebagai antisipasi es krim cokelat. "Jaga-jaga kalau tiba-tiba pengen yang manis juga," jelasnya sambil meletakkan belanjaan di meja dapur.
Alya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Rey... kamu terlalu baik sama aku."
"Nggak ada yang namanya terlalu baik buat istri aku sendiri." Reyhan membuka bungkus mangga, mulai mengupas. "Sekarang makan. Biar baby kita senang."
Mereka duduk di dapur tengah malam. Alya makan mangga dengan lahap, sesekali mencelupkan ke sambal kecap. Reyhan menemaninya sambil minum teh hangat, sesekali tersenyum melihat ekspresi puas di wajah istrinya.
"Rey," kata Alya tiba-tiba di antara suapan, "aku berpikir... kita belum kasih tau Arka baby-nya cowok atau cewek."
"Karena kita belum tau juga." Reyhan tersenyum. "Minggu depan kan USG lagi. Nanti kita bisa tau."
"Kamu pengen cowok atau cewek?"
Reyhan berpikir sejenak. "Jujur? Aku nggak peduli. Cowok atau cewek, yang penting sehat. Dan... yang penting aku bisa jadi ayah yang baik buat dia."
Alya meletakkan mangganya, meraih tangan Reyhan. "Kamu udah jadi ayah yang baik buat Arka. Pasti kamu juga akan jadi ayah yang baik buat baby ini."
"Aku harap begitu." Reyhan menatap perut Alya yang mulai membuncit. "Aku cuma... aku takut aku nggak bisa adil. Takut aku lebih sayang Arka karena dia lebih dulu ada."
Alya menggenggam tangannya lebih erat. "Rey, cinta orang tua itu nggak terbagi. Cinta orang tua itu bertambah. Kamu akan sayang Arka dengan caramu, dan kamu akan sayang baby ini dengan caramu juga. Keduanya akan sama besarnya."
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin. Karena aku lihat cara kamu sama Arka. Kamu mencintai dia dengan sepenuh hati. Dan hati kamu cukup besar untuk mencintai satu anak lagi."
Reyhan merasakan dadanya hangat. Ia berdiri, berjalan ke sisi Alya, lalu memeluknya dari belakang. Tangannya melingkar di perut Alya dengan lembut.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih udah kasih aku keluarga ini. Terima kasih udah percaya sama aku."
"Terima kasih juga udah jadi suami dan ayah terbaik."
Rabu Siang Telepon dari Sekolah
Rabu siang, Reyhan sedang meeting dengan investor ketika ponselnya bergetar. Nama "Sekolah Arka" muncul di layar.
Jantungnya langsung berdegup cemas. Sekolah tidak pernah menelepon kecuali ada sesuatu yang penting atau masalah.
"Excuse me," katanya pada investor, lalu keluar dari ruang meeting. "Halo, ini Reyhan Mahardika."
"Pak Reyhan, ini Bu Ratna. Maaf mengganggu."
"Ada apa dengan Arka?" tanya Reyhan langsung. Suaranya tidak bisa menyembunyikan kecemasan.
"Arka baik-baik saja, Pak. Tenang. Cuma... ada sesuatu yang perlu Bapak ketahui."
"Apa, Bu?"
"Arka baru saja... bagaimana ya menjelaskannya... dia baru saja menyelesaikan tantangan coding yang seharusnya untuk anak SMP kelas 3. Dan dia menyelesaikannya dalam 20 menit. Sementara siswa SMP rata-rata butuh 2 jam."
Reyhan terdiam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Dan bukan itu saja." Bu Ratna melanjutkan dengan nada yang sulit dibaca antara kagum dan khawatir. "Arka bertanya pada saya apakah sekolah punya materi yang lebih advanced. Dia bilang... dia bosan dengan materi sekarang."
"Bosan?" ulang Reyhan pelan.
"Iya, Pak. Dan saya... saya khawatir. Anak se-genius Arka, kalau nggak diberi tantangan yang sesuai, dia bisa kehilangan minat belajar sama sekali. Atau lebih buruk lagi... dia bisa mulai merasa ada yang salah dengan dirinya karena terlalu berbeda."
Reyhan merasakan dadanya sesak. Ini yang paling ia takutkan Arka merasa terlalu berbeda sampai ia mulai menyembunyikan kecerdasannya.
"Bu, apa yang Ibu sarankan?"
"Saya sudah diskusi dengan tim psikolog dan pengajar enrichment. Kami merekomendasikan... Arka untuk mengikuti program khusus anak highly gifted. Program ini akan memberikan materi yang jauh lebih advanced, bahkan bisa setara dengan kuliah. Tapi..." Bu Ratna menghela napas. "Program ini sangat intensif. Dan saya khawatir... Arka akan kehilangan masa kecilnya."
Reyhan menarik napas panjang. "Saya akan diskusi dengan istri saya dulu, Bu. Dan yang paling penting... saya akan tanya Arka. Dia yang harus memutuskan."
"Saya sangat setuju, Pak. Keputusan ini harus melibatkan Arka. Kapan Bapak bisa datang untuk diskusi lebih lanjut?"
"Besok sore. Saya akan bawa istri saya juga."
"Baik, Pak. Sampai jumpa besok."
Setelah menutup telepon, Reyhan berdiri di koridor kantornya dengan pikiran kacau.
Arka bosan. Dia butuh tantangan lebih. Tapi aku nggak mau dia kehilangan masa kecilnya. Aku nggak mau dia jadi seperti aku dulu cerdas tapi kesepian.
Rabu Sore Diskusi dengan Alya
Setelah menjemput Arka dari sekolah, Reyhan membawa anaknya pulang dengan wajah lebih serius dari biasanya. Arka yang peka langsung menyadari.
"Ayah kenapa? Kok serius banget?" tanyanya di mobil.
Reyhan tersenyum tipis, berusaha tenang. "Nggak kenapa-kenapa kok, Nak. Ayah cuma lagi mikirin kerjaan."
Tapi Arka tidak percaya. Ia tahu ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu.
Sampai di rumah, setelah Arka bermain di kamarnya, Reyhan menceritakan semuanya pada Alya.
"Bu Ratna bilang... Arka bosan. Dia butuh materi yang lebih advanced. Mereka merekomendasikan program khusus."
Alya duduk di sofa, wajahnya pucat. "Program khusus? Maksudnya?"
"Program untuk anak highly gifted. Materinya setara kuliah. Intensif." Reyhan menghela napas. "Dan aku takut, Alya. Aku takut Arka akan kehilangan masa kecilnya. Aku takut dia akan jadi seperti aku dulu."
Alya meraih tangannya. "Rey, dengerin aku. Arka nggak akan jadi seperti kamu dulu. Karena dia punya kita. Dia punya orang tua yang peduli, yang nggak akan memaksa dia, yang akan selalu pastiin dia bahagia."
"Tapi bagaimana kalau program ini terlalu berat? Bagaimana kalau dia stress?"
"Kita monitoring ketat. Dan yang paling penting... kita tanya Arka. Dia yang harus memutuskan. Ini hidupnya."
Reyhan mengangguk perlahan. "Kamu benar. Kita harus tanya dia."
Malam Hari Percakapan Penting dengan Arka
Setelah makan malam, Reyhan dan Alya duduk bersama Arka di ruang keluarga. Suasana lebih serius dari biasanya.
"Nak," kata Reyhan sambil duduk di lantai, menyamakan tinggi dengan Arka. "Ayah dan Mama mau ngobrol sesuatu yang penting sama kamu."
Arka langsung serius. Ia tahu ini bukan percakapan biasa. "Ada apa, Yah?"
"Bu Ratna telepon Ayah tadi. Dia bilang... kamu bosan dengan pelajaran di sekolah sekarang."
Arka menunduk. Ia merasa bersalah. "Maaf, Yah. Aku nggak bermaksud"
"Kamu nggak perlu minta maaf." Reyhan memotong lembut. "Kamu nggak salah. Kamu cuma... butuh tantangan yang lebih besar. Dan itu wajar."
"Tapi... tapi aku nggak mau dikira sombong atau nggak bersyukur"
"Arka, lihat Ayah." Reyhan memegang bahunya. "Kamu nggak sombong. Kamu cuma anak yang sangat pintar dengan kebutuhan belajar yang berbeda. Dan Ayah sama Mama nggak akan marah karena itu."
Alya menambahkan lembut, "Sayang, sekolah nawarin kamu program khusus. Program yang akan kasih kamu pelajaran yang lebih susah, lebih menantang. Bahkan bisa setara kuliah."
Mata Arka berbinar. "Beneran? Ada program kayak gitu?"
"Iya. Tapi..." Reyhan menghela napas. "Program ini sangat intensif. Artinya kamu akan belajar lebih banyak, lebih sering. Dan Ayah takut... kamu nggak punya waktu main lagi."
Arka berpikir lama. Sangat lama untuk anak seusianya. Lalu ia bertanya dengan serius, "Kalau aku ikut program ini... aku masih bisa main sama Dio dan Farrel, kan?"
"Tentu. Kamu tetap bisa main sama temen-temen kamu."
"Dan aku masih bisa main robot sama Ayah?"
"Iya. Itu nggak akan berubah."
"Dan aku masih bisa baca buku cerita sama Mama sebelum tidur?"
Alya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Selalu, sayang."
Arka mengangguk perlahan. "Kalau gitu... aku mau ikut program itu. Tapi dengan satu syarat."
"Syarat apa?" tanya Reyhan penasaran.
"Kalau aku mulai nggak happy atau terlalu capek... aku boleh berhenti. Nggak ada yang akan marah."
Reyhan dan Alya saling pandang. Keduanya merasakan dada sesak karena bangga.
"Deal," kata Reyhan sambil mengulurkan tangan. "Kalau kamu nggak happy, kamu langsung bilang. Dan kita akan berhenti. Nggak ada yang akan maksa kamu."
Arka menjabat tangan ayahnya serius seperti kesepakatan bisnis. "Deal."
Lalu ia memeluk kedua orang tuanya dengan erat. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Mama. Terima kasih udah nanya pendapat aku. Temen-temen aku bilang orang tua mereka nggak pernah nanya pendapat mereka. Mereka cuma disuruh nurut."
Reyhan memeluknya lebih erat. "Kamu bukan robot yang harus nurut, Nak. Kamu manusia dengan pikiran dan perasaan sendiri. Dan Ayah sama Mama akan selalu dengerin kamu."
Kamis Sore Pertemuan dengan Tim Sekolah
Kamis sore, Reyhan dan Alya datang ke sekolah untuk diskusi detail tentang program khusus untuk Arka.
Di ruang meeting, mereka bertemu dengan Bu Ratna, Pak Budi (guru enrichment), dan Dr. Sarah (psikolog anak yang dulu menangani tes IQ Arka).
"Terima kasih sudah datang, Pak Reyhan, Bu Alya." Bu Ratna memulai. "Kami akan jelaskan detail program ini."
Dr. Sarah membuka presentasi di layar proyektor. "Program ini dirancang khusus untuk anak highly gifted dengan IQ 145 ke atas. Materinya mencakup matematika tingkat lanjut, programming advanced, fisika, dan critical thinking."
"Berapa jam per minggu?" tanya Alya.
"Enam jam per minggu, terbagi dalam tiga sesi. Selasa, Kamis, dan Sabtu. Masing-masing dua jam."
Reyhan menghitung cepat di kepalanya. "Itu... cukup banyak. Ditambah sekolah regular, Arka akan belajar hampir 40 jam per minggu."
"Kami mengerti kekhawatiran Bapak." Dr. Sarah berbicara dengan lembut. "Karena itu, kami akan monitoring ketat. Setiap dua minggu, kami akan evaluasi. Kalau Arka menunjukkan tanda-tanda stress, burnout, atau kehilangan minat... kita akan adjust atau bahkan berhenti."
"Dan yang paling penting," tambah Bu Ratna, "kami nggak akan paksa Arka buat selalu jadi yang terbaik. Kami cuma mau kasih dia lingkungan di mana dia bisa berkembang sesuai potensinya tanpa merasa aneh atau sendirian."
Alya bertanya, "Berapa anak yang ikut program ini?"
"Saat ini ada lima anak. Semua highly gifted, usia 5-8 tahun. Mereka akan jadi teman belajar Arka yang sefrekuensi."
Reyhan dan Alya saling pandang. Percakapan senyap terjadi di antara mereka.
Lalu Reyhan berkata, "Kami setuju. Tapi dengan beberapa syarat tambahan."
"Tentu, Pak. Apa saja?"
"Pertama, kalau Arka bilang dia capek atau nggak mau lanjut, program berhenti. Tanpa pertanyaan, tanpa tekanan."
"Setuju."
"Kedua, Arka tetap punya minimal satu hari dalam seminggu tanpa jadwal apapun. Dia bebas main, istirahat, jadi anak-anak."
"Setuju. Kami sarankan hari Minggu."
"Ketiga, kalau kami sebagai orang tua merasa Arka tidak bahagia, kami berhak menarik dia dari program kapan saja."
"Sangat setuju. Kebahagiaan Arka adalah prioritas utama."
Reyhan mengangguk. "Kalau begitu... kami setuju."
Sabtu Pagi Hari Pertama Program Khusus
Sabtu pagi, Arka bangun dengan semangat luar biasa. Jarang sekali terjadi di hari Sabtu yang biasanya ia gunakan untuk tidur lebih lama.
"Ayah! Mama! Ayo bangun! Aku nggak mau telat hari pertama!" teriaknya sambil melompat-lompat di ranjang orang tuanya.
Reyhan yang masih setengah tidur tertawa. "Nak, sekolahnya jam sembilan. Sekarang baru jam enam."
"Tapi aku excited! Aku pengen cepet-cepet ketemu temen-temen baru!"
Alya yang juga terbangun karena lompatan Arka tersenyum. "Oke, oke. Mama siapin sarapan. Kamu mandi dulu."
Arka langsung melompat turun dan berlari ke kamar mandi. Antusiasmenya membuat Reyhan dan Alya tersenyum, sekaligus sedikit khawatir.
"Rey," bisik Alya. "Kamu lihat dia seexcited itu?"
"Iya. Mudah-mudahan... mudah-mudahan ini keputusan yang tepat."
"Aku yakin ini tepat. Lihat matanya. Dia benar-benar senang."
Di mobil menuju sekolah, Arka tidak berhenti ngomong. Ia bertanya tentang apa yang akan dipelajari, siapa teman-temannya, seperti apa gurunya.
Ketika sampai di ruang khusus program highly gifted, mereka disambut oleh Bu Nina guru muda dengan senyum hangat dan mata yang penuh pengertian.
"Selamat pagi! Kamu pasti Arka!" sapanya dengan semangat.
Arka mengangguk dengan senyum lebar. "Iya, Bu!"
"Ayo masuk! Temen-temen kamu udah pada nunggu!"
Di dalam ruangan, ada empat anak lain—dua perempuan dan dua laki-laki. Semua dengan mata berbinar dan antusiasme yang sama dengan Arka.
"Arka, ini temen-temen kamu. Ini Kara, ini Bima, ini Luna, dan ini Adit. Anak-anak, ini Arka temen baru kalian!"
"Halo, Arka!" sapa mereka bersamaan.
Arka langsung merasa nyaman. Untuk pertama kalinya, ia berada di ruangan dengan anak-anak yang benar-benar seperti dia.
Reyhan dan Alya berdiri di pintu, menatap Arka yang sudah sibuk ngobrol dengan teman-teman barunya tentang coding dan robot.
"Bu Nina," panggil Reyhan pelan. "Tolong... tolong jaga dia. Pastikan dia nggak overwhelmed."
Bu Nina tersenyum dengan pengertian. "Pak Reyhan, saya mengerti kekhawatiran Bapak. Saya juga dulu anak gifted yang dipaksa orang tua sampai burnout. Saya nggak akan biarkan itu terjadi pada Arka. Janji."
Reyhan merasa sedikit lega. "Terima kasih, Bu."
Sabtu Sore Setelah Kelas Pertama
Dua jam kemudian, ketika Reyhan dan Alya datang menjemput, mereka menemukan Arka duduk di lantai bersama teman-teman barunya. Masih asyik ngobrol meski kelas sudah selesai.
"Arka, waktunya pulang," panggil Alya.
"Sebentar, Ma! Aku lagi jelasin ke Luna tentang binary search tree!"
Luna, gadis kecil berkacamata tebal dengan rambut dikuncir dua, mengangguk-angguk serius mendengar penjelasan Arka.
Lima menit kemudian, setelah berpamitan dengan teman-temannya, Arka berlari ke arah orang tuanya. Wajahnya berseri-seri.
"AYAH! MAMA! ITU KEREN BANGET!" teriaknya sambil melompat-lompat.
"Keren gimana?" tanya Reyhan sambil tersenyum lebar. Senang melihat anaknya sebahagia ini.
"Tadi kami belajar tentang algoritma sorting advanced! Terus kami diskusi tentang complexity analysis! Dan temen-temen aku... mereka ngerti! Mereka beneran ngerti! Nggak kayak di kelas biasa yang pada bingung kalau aku ngomong!"
Alya memeluknya dengan hati terharu. "Mama seneng kamu senang, sayang."
"Dan Bu Nina... Bu Nina guru yang paling keren! Dia jelasinnya gampang dimengerti, tapi nggak nganggep kita bodoh! Dia ngerti kita bisa mikir!"
Di mobil, Arka tidak berhenti bercerita. Tentang Kara yang suka matematika, Bima yang jenius fisika, Luna yang master coding, dan Adit yang hafal semua teori Einstein.
"Akhirnya aku punya temen yang kayak aku, Yah!" katanya dengan mata berbinar. "Aku nggak sendirian lagi!"
Reyhan merasakan tenggorokannya menyesak. Ia melirik Alya lewat kaca spion istrinya juga menangis dalam diam.
Ini... ini yang kami inginkan. Melihat dia bahagia. Melihat dia nggak merasa sendirian lagi.
Minggu Pagi Kejutan Tak Terduga
Minggu pagi, Alya terbangun dengan perasaan aneh di perutnya. Bukan mual, tapi seperti... gerakan?
Ia berbaring diam, fokus pada sensasi itu.
Lalu ia merasakannya lagi. Gerakan kecil, seperti kupu-kupu di perutnya.
Ini... ini baby bergerak?
Air matanya langsung jatuh. Ia mengguncang Reyhan yang masih tidur di sampingnya.
"Rey! Rey! Bangun!"
Reyhan terbangun dengan panik. "Ada apa? Kamu kenapa? Sakit?"
"Baby... baby bergerak! Aku merasakan dia bergerak!"
Reyhan langsung duduk, matanya lebar. "Serius? Di mana?"
Alya mengambil tangan Reyhan, meletakkannya di perutnya. "Tunggu... mungkin dia akan gerak lagi..."
Mereka berdua diam menunggu dengan napas tertahan.
Lalu...
"AKU MERASAKAN!" teriak Reyhan dengan suara bergetar. "Alya, baby kita gerak!"
Mereka berpelukan sambil menangis. Tangisan bahagia yang penuh syukur.
Suara di pintu membuat mereka menoleh. Arka berdiri dengan wajah setengah mengantuk.
"Kenapa kalian teriak-teriak? Aku lagi tidur enak," keluhnya sambil mengucek mata.
"Arka! Ayo sini! Adik kamu gerak!" seru Alya dengan semangat.
Arka langsung lari dan melompat ke ranjang. "BENERAN?!"
Alya mengambil tangan Arka, meletakkannya di perutnya. "Tunggu... mungkin dia gerak lagi..."
Mereka bertiga duduk dalam keheningan, menunggu.
Lalu... ada gerakan kecil di bawah tangan Arka.
Mata Arka melebar. "AKU MERASAKAN! MAMA! AYAH! ADIK AKU GERAK!"
Ia langsung membungkuk, berbicara pada perut ibunya. "Halo, adik! Ini kakak, Arka! Seneng banget kamu udah mulai gerak! Nanti kalau kamu udah lahir, kakak ajarin kamu banyak hal ya! Main robot, coding, baca buku... semua hal yang seru!"
Reyhan dan Alya menatap Arka dengan mata berkaca-kaca. Melihat anak pertama mereka berbicara dengan penuh cinta pada adiknya yang belum lahir.
"Adik," lanjut Arka sambil mengusap perut ibunya dengan lembut. "Kamu beruntung banget punya Ayah sama Mama yang paling baik. Dan kamu juga punya kakak yang akan selalu jaga kamu. Aku janji."
Alya tidak bisa menahan tangisannya lagi. Ia memeluk Arka dengan erat.
"Mama kenapa nangis?" tanya Arka bingung.
"Mama nangis karena bahagia, sayang. Bahagia punya kamu sebagai kakak dari adik kamu."
Reyhan ikut memeluk mereka berdua. Pelukan bertiga yang hangat dan penuh cinta.
Pagi itu, di kamar mereka dengan matahari pagi yang hangat menerangi ruangan, mereka merasakan sesuatu yang sangat berharga.
Kehidupan baru yang tumbuh di dalam rahim Alya.
Cinta yang bertambah, tidak terbagi justru semakin besar.
Keluarga yang semakin lengkap.
Dan kebahagiaan yang semakin dalam setiap harinya.
[Bersambung]