NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Makin Hilang Akal

Di atas panggung yang berantakan, Devina terengah-engah. Oksigen seolah baru kembali masuk ke paru-parunya setelah menit-menit yang menyesakkan. Namun, matanya segera mencari sosok wanita yang paling berarti baginya.

"Mama! Mama!"

Bu Ines, dengan bantuan seorang kru, mulai bangkit berdiri. Wajahnya pucat, ada noda memar yang mulai membiru di pelipisnya, namun matanya hanya tertuju pada putrinya. Begitu melihat Devina aman dalam dekapan Gavin, kekuatan seorang ibu seolah kembali secara ajaib.

Bu Ines menghambur, langkahnya yang masih agak pincang tidak menghalanginya untuk mencapai Devina.

"Anakku... Devina!"

Keduanya bertabrakan dalam sebuah pelukan yang penuh dengan isak tangis. Bu Ines mendekap kepala Devina, menciumi rambutnya dengan derai air mata yang membasahi kebaya ringkihnya. Devina terisak di bahu ibunya, melepaskan semua ketakutan, amarah, dan rasa malu yang selama ini ia pendam sendiri.

"Maafkan Devina, Ma... Maafkan aku sudah membawa pria itu ke dalam hidup kita," rintih Devina di sela tangisnya.

"Ssssh, bukan salahmu, Sayang. Bukan salahmu," bisik Bu Ines sambil membelai wajah putrinya dengan tangan yang masih gemetar. "Dia itu iblis. Syukurlah kamu selamat. Syukurlah Allah masih melindungi kita."

Gavin berdiri satu langkah di belakang mereka, memberikan ruang bagi momen sakral ibu dan anak itu. Ia mengusap wajahnya yang lelah, namun matanya tetap waspada, menatap ke arah koridor tempat Aris menghilang.

****

Di luar studio, pengejaran berubah menjadi aksi dramatis. Aris berhasil melompati pagar pembatas studio dan lari menuju ke sebuah permukiman padat penduduk yang terletak tepat di belakang kawasan industri tersebut.

Lampu senter dari pihak kepolisian membelah kegelapan gang-gang sempit yang becek. Suara gonggongan anjing dan teriakan warga yang kaget menambah kegaduhan malam itu.

Aris berlari seperti orang kesurupan. Ia tidak peduli saat kakinya menginjak genangan air kotor atau saat bahunya menghantam dinding semen yang kasar. Ia terus merangsek masuk ke dalam labirin gang yang berliku, di mana jemuran warga bergelantungan rendah dan cahaya lampu jalan hanya berpendar redup.

"Ke sana! Dia lari ke arah gang buntu itu!" teriak seorang petugas.

Namun Aris, dengan kelicikan yang didorong oleh insting bertahan hidup, memanjat sebuah tumpukan kayu tua dan melompat ke atas atap salah satu rumah semi-permanen. Suara seng yang berderit keras menandai langkahnya. Dari atas sana, ia melihat polisi mulai menyisir gang di bawahnya.

"Kalian tidak akan pernah menangkapku semudah itu," gumam Aris, matanya berkilat penuh kebencian.

Ia terus merayap di atas atap-atap rumah yang saling berdempetan, menghilang ke dalam kegelapan yang lebih pekat di tengah pemukiman yang padat. Polisi terus melakukan pengepungan, namun luasnya area dan banyaknya celah di permukiman itu membuat sosok Aris seolah ditelan bumi.

****

Kembali di studio, tim medis mulai menangani luka-luka ringan pada Bu Ines dan Devina. Gavin duduk di samping Devina, menggenggam tangannya yang masih terasa dingin.

"Dia melarikan diri, Gavin," bisik Devina, matanya menatap kosong ke lantai. "Selama dia masih bebas, kita tidak akan pernah aman."

Gavin mengeratkan genggamannya. "Aku tidak akan membiarkan dia mendekatimu lagi, Dev. Aku sudah memperketat keamanan di rumahmu, apartemenmu, dan untuk Bu Imroh. Kita akan terus bekerja sama dengan polisi sampai dia ditemukan."

Devina menatap Gavin, ada rasa terima kasih yang mendalam di matanya, namun ketakutan itu masih ada di sana, mengendap di dasar jiwanya. Ia tahu Aris bukan pria yang mudah menyerah. Sumpah Aris sebelum pergi tadi terus terngiang seperti kutukan.

Di sebuah gang gelap yang jauh dari jangkauan polisi, Aris Wicaksana duduk bersandar di balik tembok gudang tua yang tak terpakai. Ia mengatur napasnya yang memburu, menyeka noda putih adonan tepung yang mengering di wajahnya.

"Nikmatilah waktu kalian selagi bisa, Gavin... Devina..." desisnya ke arah langit malam.

Dendam itu kini telah menjadi satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup. Ia telah kehilangan segalanya, dan bagi pria yang sudah tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan, ia adalah senjata yang paling berbahaya.

****

Malam di kawasan apartemen mewah tempat Devina tinggal biasanya diselimuti kesunyian yang elegan, namun di balik bayang-bayang pohon palem yang berjajar di taman belakang, kegelapan yang jauh lebih pekat sedang mengintai. Aris Wicaksana berdiri mematung di balik pilar beton, napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara. Wajahnya yang kini tampak lebih tirus dan kuyu tertutup oleh bayangan topi hitam yang ditarik rendah.

Matanya yang memerah tidak pernah lepas dari balkon lantai bawah, di mana Devina sedang duduk bersama Bu Ines.

Di bawah cahaya lampu taman yang temaram, Devina tampak sedang menyisir rambut ibunya—sebuah momen kedekatan yang seharusnya menyentuh hati. Namun bagi Aris, pemandangan itu adalah penghinaan. Di matanya, Bu Ines bukan sekadar ibu yang melindungi anaknya; Bu Ines adalah tembok tinggi yang menghancurkan seluruh rencana indahnya. Bu Ines adalah suara yang selalu meneriakinya "penipu", dan Bu Ines pulalah yang membuat Devina berpaling darinya.

"Harusnya kamu tidak ada di sana, Ines," bisik Aris, suaranya parau dan penuh kebencian.

Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah senjata api jenis pistol rakitan yang ia dapatkan dari pasar gelap selama masa pelariannya. Logam dingin itu terasa pas di tangannya—sebuah alat yang ia yakini akan mengakhiri semua penghalangnya. Rencananya kali ini sangat sederhana namun mematikan: hilangkan sang penghalang, culik sang aset. Tanpa Bu Ines, Devina akan hancur secara mental, dan saat itulah Aris akan datang sebagai "penyelamat" yang memaksanya kembali.

****

Aris mengangkat senjatanya. Ia menyipitkan satu matanya, membidik tepat ke arah dada Bu Ines yang sedang tertawa kecil menanggapi ucapan Devina. Jari telunjuknya sudah menempel pada pelatuk. Dingin, keras, dan menentukan.

Satu tarikan, dan semua gangguan ini akan lenyap selamanya, pikir Aris.

"Satu... dua..."

"Siapa di sana?!"

Sebuah senter berkekuatan tinggi tiba-tiba menyambar wajah Aris dari arah samping. Itu adalah Pak Jaka, satpam senior yang sedang melakukan patroli rutin di area taman belakang. Cahaya itu membutakan pandangan Aris seketika.

"Woi! Berhenti!" teriak Pak Jaka sambil berlari mendekat.

Terkejut dan panik, bidikan Aris meleset. Alih-alih mengenai Bu Ines, ia justru menarik pelatuk karena refleks yang salah. DAR! Peluru itu menghantam pot bunga besar di dekat kaki Bu Ines, meledakkannya menjadi kepingan keramik yang beterbangan.

****

"MAMAAA!" jerit Devina. Ia langsung merangkul tubuh ibunya dan menjatuhkan diri ke lantai balkon.

Bu Ines terperangah, matanya membelalak menatap potongan bunga lili yang hancur berantakan. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak saat menyadari bahwa maut baru saja lewat hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya.

Aris menggeram marah. Kegagalannya membunuh Bu Ines membuat otaknya mendidih. Ia melihat Pak Jaka mulai meniup peluit tanda bahaya. Dengan kegilaan yang memuncak, Aris tidak langsung melarikan diri. Ia mengarahkan moncong pistolnya ke atas, ke arah unit sirine darurat yang terpasang di dinding luar gedung.

DAR! DAR!

Dua tembakan menghancurkan modul elektronik sirine tersebut, namun bukan untuk mematikannya. Kerusakan itu justru memicu arus pendek yang membuat sirine darurat seluruh gedung meraung-raung dalam nada yang tidak beraturan, memekakkan telinga, dan menciptakan kepanikan massal seketika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!