NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07

Maya tidak berani tidur di tengah ranjang.

Ranjang Raka terlalu besar. Spreinya putih bersih, selimutnya tebal, bantalnya lebih banyak daripada seluruh bantal di rumah Maya. Ia duduk di sisi paling pinggir, punggung tegak, seolah kalau bergerak sedikit saja sesuatu akan rusak.

Di luar kamar, suara langkah Raka terdengar sesekali. Pria itu menerima telepon di ruang kerja. Suaranya rendah dan tegas, membicarakan rapat, audit internal hotel, nama Pak Rudi, dan kontrak yang harus dibekukan.

Maya tahu sebagian dari semua itu berhubungan dengannya.

Rasa bersalah kembali datang.

Ia baru satu hari menjadi istri Raka, tapi masalahnya sudah masuk ke perusahaan laki-laki itu.

Pintu diketuk.

“Bu Maya?”

Seorang perempuan paruh baya masuk membawa nampan. Ia memakai seragam rapi, rambutnya disanggul sederhana.

“Saya Wati, Bu. Mulai hari ini saya bantu di sini. Pak Raka minta Ibu makan dulu sebelum dokter datang.”

Maya buru-buru berdiri. “Mbak Wati, tidak perlu repot. Saya bisa ambil sendiri.”

Wati tampak panik. “Jangan, Bu. Kalau Pak Raka lihat saya membiarkan Ibu jalan sendiri, saya bisa kena tegur.”

“Saya cuma hamil, bukan lumpuh.”

Wati tersenyum kikuk. “Kata Pak Raka, untuk sementara Ibu lebih penting dari semua rapatnya.”

Maya terdiam.

Di nampan ada sup ayam bening, nasi lembut, telur kukus, buah potong, dan segelas air hangat. Tidak ada sambal, tidak ada gorengan, tidak ada kopi.

“Ini semua untuk saya?”

“Iya, Bu. Dokter kirim daftar makanan yang disarankan.”

Maya duduk kembali.

Wati menata makanan di meja kecil.

“Pak Raka jarang makan di rumah,” kata Wati tiba-tiba. “Biasanya kopi saja, lalu pergi. Baru kali ini dapur ramai sejak pagi.”

Maya tidak tahu harus menjawab apa.

Ia mengambil sendok, mencicipi sup. Rasanya ringan, tapi hangat turun ke perutnya. Baru beberapa suap, rasa mual datang. Ia meletakkan sendok cepat.

Wati khawatir. “Bu?”

“Tidak apa-apa. Saya cuma…”

Maya menutup mulut.

Raka masuk tepat saat ia berusaha menahan muntah.

Wajahnya langsung berubah.

“Kenapa?”

Maya menggeleng, tapi tubuhnya sudah berdiri mencari kamar mandi. Raka bergerak lebih cepat. Ia menuntunnya ke wastafel, satu tangan menahan bahunya, tangan lain memegang rambutnya agar tidak jatuh ke depan.

Maya muntah sedikit. Tidak banyak, tapi cukup membuat matanya berair.

“Maaf,” katanya dengan suara serak.

“Untuk apa?”

“Menjijikkan.”

Raka mengambil tisu basah dari Wati, membersihkan sudut bibirnya tanpa ekspresi.

“Yang menjijikkan itu orang yang memaksa ibunya menikah demi proyek. Ini hanya muntah.”

Wati langsung menunduk, pura-pura tidak mendengar.

Maya ingin tertawa, tapi perutnya masih tidak nyaman.

Raka membawanya kembali ke ranjang.

“Kalau tidak bisa sup, makan buah dulu.”

“Saya tidak mau merepotkan.”

Raka menatapnya. “Kata-kata itu dilarang di rumah ini.”

“Apa?”

“Mulai sekarang, setiap kali kamu bilang merepotkan, aku akan menambah satu jadwal pemeriksaan dokter.”

Maya membelalak. “Mas Raka, itu tidak adil.”

“Makan.”

Ia menusuk potongan pepaya dengan garpu, lalu menyodorkannya.

Maya menatap garpu itu.

“Saya bisa sendiri.”

“Tanganmu gemetar.”

Maya ingin membantah, tapi benar. Tangannya masih gemetar setelah muntah.

Ia membuka mulut kecil.

Raka memasukkan pepaya itu. Gerakannya kaku, terlalu hati-hati, seperti memberi makan sesuatu yang mudah pecah. Maya mengunyah pelan, wajahnya panas.

Wati tersenyum diam-diam.

Raka melihatnya.

“Mbak Wati.”

“Iya, Pak.”

“Tidak ada yang lucu.”

“Tidak, Pak.”

Tapi senyum Wati belum hilang ketika ia keluar membawa nampan.

Dokter datang pukul dua siang. Namanya dr. Laila, dokter kandungan yang sama dari rumah sakit. Ia memeriksa tekanan darah Maya, menanyakan riwayat kesehatan, pola menstruasi, obat yang pernah diminum, dan kondisi mentalnya.

Maya menjawab sejujur mungkin, meski malu ketika harus mengatakan usianya dan kejadian malam di hotel.

Raka tetap di ruangan.

Awalnya Maya ingin memintanya keluar. Tapi dokter menjelaskan banyak hal yang harus diketahui suami: risiko perdarahan, tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, nutrisi, jadwal kontrol, batas aktivitas, serta tanda bahaya.

Raka mendengarkan seperti mengikuti rapat direksi.

Ia mencatat di tablet.

Maya meliriknya beberapa kali.

“Pak Raka,” kata dr. Laila, “yang paling penting, Bu Maya tidak boleh stres berlebihan.”

Raka mengangkat mata. “Definisikan berlebihan.”

Dokter tersenyum sabar. “Kalau bisa, hindari konflik keluarga, tekanan emosional, dan aktivitas fisik berat. Usia Bu Maya membuat kehamilan ini perlu dijaga lebih ketat.”

“Konflik keluarga bisa saya urus.”

Maya langsung menoleh. “Mas Raka.”

“Apa?”

“Jangan membuat masalah dengan Dimas.”

“Dia yang membuat masalah.”

Dr. Laila batuk pelan. “Berdebat di depan pasien juga termasuk tekanan emosional.”

Raka diam.

Maya menunduk menahan senyum.

Setelah dokter pergi, Raka langsung memerintahkan Bima membuat daftar: makanan, obat, jadwal kontrol, nomor darurat, pengamanan rumah lama Maya, dan pemeriksaan hukum terhadap Pak Rudi.

Maya duduk di sofa, mendengarkan semua itu dengan kepala pening.

“Mas Raka.”

Ia berhenti bicara.

“Apakah semua ini tidak terlalu berlebihan?”

“Tidak.”

“Saya hanya satu orang.”

“Dua.”

Maya menyentuh perutnya.

Raka melihat gerakan itu. Wajahnya melembut sebentar.

“Kamu dan anakku.”

Kata anakku terdengar berat, seperti ia sudah menempatkan kehidupan kecil itu di tengah dunianya.

Sore harinya, barang-barang Maya datang. Tidak banyak. Dua koper, satu kardus dokumen, beberapa pot tanaman kecil, dan foto keluarganya.

Wati membantu menata baju di lemari.

Maya malu melihat pakaiannya yang lusuh tergantung di antara ruang kosong yang terlalu mewah.

“Bu, mau saya minta orang belikan baju baru?” tanya Wati.

“Jangan. Ini masih bisa dipakai.”

Raka yang kebetulan lewat mendengar.

“Bima.”

Bima muncul dari ruang kerja. “Ya, Pak.”

“Besok panggil stylist dan tailor.”

Maya langsung berdiri. “Tidak perlu!”

Raka menatapnya. “Kamu tidak mungkin memakai seragam cleaning service di rumah.”

“Saya punya baju rumah.”

“Kamu punya dua.”

Maya terkejut. “Mas Raka menghitung?”

“Kopermu terbuka.”

“Tetap tidak perlu. Saya tidak mau menghamburkan uang.”

Raka tampak seperti baru mendengar kalimat yang tidak masuk akal.

“Uangku tidak akan habis karena membeli baju hamil.”

“Tapi saya belum terbiasa memakai uang orang.”

“Aku suamimu.”

“Tetap saja.”

Raka menatapnya lama. Lalu ia berkata kepada Bima, “Batalkan stylist. Panggil penjahit perempuan yang bisa datang tanpa membuatnya merasa sedang dibeli.”

Bima mengangguk cepat. “Baik, Pak.”

Maya terdiam.

Ia tahu Raka tetap mendapatkan keinginannya. Tapi anehnya, ia tidak merasa diinjak. Pria itu menyesuaikan cara, bukan memaksanya menelan rasa malu.

Malam turun.

Maya berdiri di depan jendela ruang tamu, melihat lampu kota. Dari ketinggian itu, Jakarta tidak terlihat kasar. Tidak ada gang sempit, tidak ada tetangga bergosip, tidak ada Dimas mengetuk pintu meminta uang.

Hanya cahaya.

Raka keluar dari ruang kerja.

“Kenapa belum tidur?”

“Saya belum mengantuk.”

“Kamu perlu tidur.”

“Mas Raka selalu memberi perintah?”

“Ya.”

Jawaban itu terlalu jujur sampai Maya menoleh.

Raka mendekat, berdiri di sampingnya.

Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.

“Saya takut,” kata Maya tiba-tiba.

Raka tidak menatapnya. “Takut padaku?”

“Sedikit.”

“Bagus.”

Maya menoleh cepat.

“Orang yang tidak takut apa pun biasanya ceroboh,” lanjutnya.

Maya menghela napas. “Saya takut terbiasa.”

Raka kali ini menatapnya.

“Terbiasa apa?”

Maya melihat lampu kota lagi.

“Terbiasa ada yang bertanya saya sudah makan atau belum. Terbiasa ada dokter datang. Terbiasa ada orang yang berdiri di depan saya ketika orang lain menghina.”

Raka tidak langsung menjawab.

Ketika ia bicara, suaranya lebih rendah.

“Kalau sesuatu memang akan menjadi hidupmu, kamu tidak perlu takut terbiasa.”

Maya menertawakan dirinya sendiri. “Kita menikah baru beberapa jam.”

“Dan kamu sudah muntah di depanku dua kali.”

Maya menutup wajah. “Mas Raka!”

Untuk pertama kalinya, ia mendengar Raka tertawa kecil.

Sangat singkat.

Hampir hilang sebelum ia yakin.

Tapi cukup membuat dada Maya hangat.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Nama sekolah cucunya muncul. Maya mengerutkan kening. Ia mengangkat.

“Halo?”

Suara guru terdengar panik. “Bu Maya, maaf mengganggu. Rafi demam tinggi. Kami sudah menghubungi orang tuanya, tapi belum ada yang datang. Dia terus memanggil nenek.”

Wajah Maya langsung berubah.

“Saya ke sana sekarang.”

Raka menatapnya.

“Siapa?”

Maya sudah mengambil tas. “Rafi. Cucu saya demam.”

Raka menghalangi langkahnya.

“Kamu tidak pergi sendiri.”

“Saya harus cepat.”

“Aku antar.”

“Mas Raka ada rapat.”

Raka mengambil jasnya dari kursi.

“Rapat bisa menunggu. Anak sakit tidak.”

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!