NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Gerbang Rumah

"Jangan terlalu dekat dengan cowok itu."

Erlyn menatap Chisen beberapa detik, memastikan ia tidak salah dengar.

Di halaman, wangi melati masih lembut. Di teras, buku sketsa Chisen tertutup di pangkuannya. Semua tampak tenang, tetapi kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah seperti kaca yang tiba-tiba retak.

"Kenapa?" tanya Erlyn.

"Karena dia cowok."

"Penjelasan Koh sangat ilmiah."

"Cukup."

"Aku juga punya teman laki-laki waktu di Belitung."

"Ini Surabaya."

"Jawaban itu lagi."

Chisen tidak terlihat terganggu. "Karena masih benar."

Erlyn meletakkan mangkuk bunga melati di anak tangga teras. "Kevin cuma tanya soal."

"Hari ini soal. Besok antar pulang."

"Koh bisa lihat masa depan sekarang?"

"Tidak. Aku lihat niat orang."

Erlyn tertawa pendek, bukan karena lucu. "Koh bahkan belum bicara dengannya."

"Tidak perlu."

"Koh tahu, untuk orang yang tidak banyak bicara, Koh sering sekali menilai orang."

Chisen menatapnya. Kali ini diamnya lebih dingin. Erlyn tahu ia mungkin sudah melangkah terlalu jauh, tetapi ia sedang terlalu kesal untuk mundur. Selama ini Chisen muncul saat ia butuh, mengajar, melindungi, memberi jaket, lalu tetap menutup semua alasan di balik wajah datar. Sekarang ia bahkan ingin mengatur dengan siapa Erlyn boleh bicara.

"Aku masuk," katanya akhirnya, mengambil mangkuk melati.

Chisen tidak menahan.

Namun saat Erlyn melewati pintu, suaranya terdengar lagi.

"Aku tidak melarang kamu berteman."

Erlyn berhenti.

"Aku hanya bilang jangan terlalu dekat."

Ia ingin berbalik dan bertanya apa bedanya. Tetapi Mama memanggil dari ruang makan, dan Erlyn memilih masuk sebelum percakapan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit.

Keesokan harinya, tentu saja Kevin muncul lagi.

Bukan dengan cara dramatis. Ia hanya berdiri di depan kelas saat istirahat, membawa buku fisika dan satu roti cokelat yang jelas bukan untuk Angie karena Angie sedang tidak ada.

"Angie titip upeti?" tanya Erlyn.

Kevin tersenyum. "Kali ini untuk kamu. Karena kemarin penjelasanmu menyelamatkan kelompokku."

Erlyn ragu sebentar sebelum mengambilnya. "Terima kasih."

"Aku tidak meracuni."

"Aku tidak berpikir begitu."

"Wajahmu seperti berpikir begitu."

Erlyn akhirnya tertawa. Kevin tampak lega, seolah tawa itu adalah izin untuk duduk sebentar di kursi kosong depan mejanya.

Mereka membahas soal selama sepuluh menit. Kevin bertanya dengan rapi. Ia mencatat. Tidak menyentuh barang Erlyn tanpa izin. Tidak menatapnya terlalu lama. Semua hal yang Chisen curigai tidak terjadi.

Karena itu, ketika Chisen muncul di pikirannya, Erlyn merasa semakin kesal.

Tidak semua orang punya niat buruk.

Tidak semua laki-laki harus dilihat seperti ancaman.

Namun Jumat sore, situasinya menjadi sedikit lebih rumit.

Hujan turun deras tepat saat bel pulang berbunyi. Sopir keluarga mengirim pesan bahwa mobil terjebak macet karena banjir kecil di jalan dekat sekolah. Angie sudah dijemput lebih dulu oleh ibunya karena harus ke dokter gigi. Erlyn berdiri di depan lobby sekolah, memeluk ransel, menatap halaman yang berubah menjadi tirai air.

Ponselnya bergetar.

Sopir: Non, mungkin telat tiga puluh menit.

Erlyn menghela napas.

"Belum dijemput?"

Kevin berdiri di sampingnya, memegang payung hitam besar. Di belakangnya, sebuah mobil keluarga berhenti dekat gerbang, sopirnya menunggu dengan lampu hazard menyala.

"Sopirku macet," jawab Erlyn.

"Mau ikut? Mobilku lewat daerah Kenanga."

Erlyn langsung teringat Chisen.

Hari ini soal. Besok antar pulang.

Ia hampir menolak hanya karena kalimat itu. Tetapi hujan makin deras, lobby makin kosong, dan menunggu sendirian tiga puluh menit di sekolah yang masih suka memperhatikan setiap geraknya terdengar melelahkan.

"Tidak merepotkan?"

"Tidak. Aku juga tidak nyetir sendiri. Ada sopir."

Itu membuatnya lebih mudah menerima.

Erlyn mengirim pesan pada sopir keluarga bahwa ia pulang bersama teman dan akan turun di depan rumah. Ia tidak mengirim pesan pada Chisen. Tidak ada kewajiban untuk melapor pada Chisen, katanya pada diri sendiri.

Kevin memegang payung saat mereka berjalan ke mobil. Ia menjaga jarak, memastikan bahu Erlyn tidak terkena hujan tanpa membuat gerakannya terasa berlebihan. Di dalam mobil, ia duduk di depan bersama sopir, membiarkan Erlyn duduk di belakang sendirian. Itu membuat Erlyn sedikit lebih tenang.

"Rumahmu di Jalan Kenanga yang dekat pohon flamboyan besar?" tanya Kevin dari kursi depan.

"Iya. Kamu tahu?"

"Sering lewat. Rumahnya bagus."

"Terlalu besar," kata Erlyn tanpa sadar.

Kevin menoleh sebentar, lalu tersenyum. "Rumah besar juga bisa terasa asing, ya?"

Erlyn tidak langsung menjawab.

Kalimat itu terlalu tepat untuk seseorang yang tidak mengenalnya.

"Kadang," katanya akhirnya.

Perjalanan tidak lama. Hujan membuat kaca mobil buram, lampu jalan memantul menjadi garis-garis kuning. Kevin tidak banyak bertanya. Ia hanya bercerita singkat tentang guru fisika yang ternyata dulu pernah mengajar kakaknya, lalu tentang kantin yang menjual roti cokelat lebih enak kalau datang sebelum jam sembilan.

"Belitung seperti apa?" tanya Kevin setelah jeda.

Erlyn menatap kaca jendela yang buram. "Banyak laut."

"Itu jawaban brosur wisata."

Ia tersenyum kecil. "Kalau pagi bau ikan asin dari pasar. Kalau sore anginnya bikin rambut selalu berantakan. Tetangga bisa tahu kamu sakit sebelum kamu sendiri sadar, karena kalau tidak muncul beli sarapan, pasti langsung ditanya."

Kevin mendengarkan tanpa memotong.

"Kamu kangen?"

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti basa-basi. Erlyn mengusap embun di kaca dengan ujung jari, membuat garis pendek yang langsung kembali buram.

"Iya," jawabnya. "Tapi Mama di sini."

Kevin mengangguk, seolah jawaban itu cukup dan tidak perlu dikorek lagi. Sikap itu membuat Erlyn merasa aman untuk kembali diam.

Obrolan ringan.

Aman.

Ketika mobil berhenti di depan pagar Jalan Kenanga, hujan sudah mengecil menjadi gerimis. Satpam rumah membuka pagar. Erlyn mengucapkan terima kasih dan turun.

Kevin ikut turun sebentar, memegang payung agar ia tidak basah sampai ke teras.

"Terima kasih," kata Erlyn lagi. "Besok aku bayar roti cokelatnya."

"Itu upeti. Tidak boleh dibayar."

Erlyn tersenyum. "Angie merusakmu."

"Mungkin."

Mereka tertawa kecil.

Saat itu, pintu utama rumah terbuka.

Chisen berdiri di ambang pintu.

Ia memakai kaus hitam, rambutnya sedikit basah seperti baru turun dari loteng atau baru mencuci muka. Cahaya dari dalam rumah jatuh di belakang tubuhnya, membuat wajahnya berada dalam bayangan. Matanya bergerak dari payung di tangan Kevin, ke Erlyn, lalu kembali ke Kevin.

Senyum Erlyn hilang pelan-pelan.

Kevin menunduk sopan. "Sore."

Chisen tidak menjawab.

Tidak kasar. Tidak juga ramah.

Ia hanya menatap satu detik terlalu lama, lalu mengalihkan pandangan pada Erlyn.

"Masuk. Mama cari kamu."

Suara itu datar.

Erlyn membuka mulut, ingin menjelaskan bahwa sopir macet, bahwa Kevin hanya membantu, bahwa semua ini bukan seperti yang mungkin Chisen pikirkan. Tetapi sebelum ia sempat bicara, Chisen sudah berbalik.

Ia masuk ke rumah.

Melewati ruang tengah.

Lalu naik tangga menuju loteng tanpa mengatakan apa pun lagi.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!