Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : AIR MATA ISTRI BUDI
Seminggu sudah Budi ditahan di ruang tahanan sementara kantor polisi. Sidang pertama belum digelar, tapi nama Budi sudah terlanjur tercoreng di seluruh gedung perusahaan. Kabar sabotase itu menyebar cepat seperti api di musim kemarau. Karyawan berbisik. Direksi mengangguk-angguk seolah sudah menemukan kambing hitam. Hanya Arga dan Kirana yang masih yakin ada sesuatu yang janggal.
Ruang kerja Arga malam ini sepi. Hanya suara hujan gerimis yang mengetuk kaca. Arga duduk di kursi dengan jas masih melekat di tubuh. Di depannya ada map coklat berisi data keluarga Budi. Alamat kontrakan. Nama istri. Usia anak.
"Seminggu, Pak Surya. Kita sudah tunggu seminggu dan Budi masih diam," ucap Arga pelan sambil menutup map itu.
Pak Surya yang berdiri di depan meja mengangguk. "Iya Tuan. Saya sudah coba kunjungi lagi tadi sore. Tapi dia hanya bilang dia yang salah. Tidak ada yang lain."
Arga menghela napas panjang. Matanya menatap foto anak Budi yang berusia dua tahun di dalam map. Anak perempuan kecil dengan pipi tembam dan rambut ikal. Dia belum tahu ayahnya sedang berada di dalam penjara.
"Besok kita temui istrinya," kata Arga tiba-tiba.
Pak Surya terkejut. "Tuan? Bukankah itu... tidak etis? Kita ini pihak yang membuat suaminya ditahan."
Arga mengangkat wajah. Sorot matanya serius. "Justru karena itu, Pak Surya. Kalau kita salah, kita harus berani menanggung akibatnya. Saya ingin tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga Budi sekarang. Dan saya ingin tahu dengan siapa Budi sering bertemu sebelum semua ini terjadi."
Pak Surya terdiam. Akhirnya dia mengangguk pelan. "Baik, Tuan. Saya akan atur waktunya."
Arga tidak bilang pada Kirana malam itu. Tapi pagi harinya, saat Kirana baru saja turun dari lift, Arga sudah berdiri di depan pintu utama dengan jas hitam dan payung di tangan.
"Kita pergi sekarang," ucap Arga singkat.
Kirana mengernyit. "Pergi ke mana?"
"Ke kontrakan Budi."
Kirana membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang. Selama seminggu ini dia juga tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, dia teringat wajah Budi yang gemetar di ruang server. Wajah yang penuh ketakutan, bukan penyesalan.
"Kenapa sekarang?" tanya Kirana pelan.
"Karena kita berutang penjelasan pada keluarganya, Kirana," jawab Arga. "Dan kita juga butuh tahu siapa yang pernah mendatangi Budi sebelum dia ditangkap."
Kirana tidak menolak. Dia hanya mengangguk pelan lalu berjalan mengikuti langkah Arga menuju mobil.
Kontrakan Budi terletak di pinggiran Jakarta. Gangnya sempit. Jalanannya becek karena semalam hujan. Dinding-dinding rumah di kiri kanan sudah kusam dan beberapa catnya mengelupas. Anak-anak kecil bermain di depan rumah dengan sandal jepit yang sudah sobek.
Mobil hitam Arga berhenti di ujung gang. Tidak bisa masuk lebih dalam karena jalannya terlalu kecil.
"Kita jalan kaki dari sini," ucap Arga sambil membuka payung hitam.
Kirana mengangguk. Dia memegang jas di tangan. Hari ini dia memakai kemeja putih sederhana dan celana kain hitam. Tanpa riasan. Tanpa perhiasan. Hanya wajah yang pucat karena kurang tidur.
Mereka berjalan pelan. Beberapa warga menoleh dengan tatapan curiga melihat dua orang berpakaian rapi di gang sempit ini.
"Kontrakan nomor 7, Tuan," bisik Pak Surya yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Arga berhenti di depan pintu kayu berwarna coklat yang sudah mengelupas. Pintunya tidak dikunci. Hanya ditutup rapat.
Arga menghela napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu itu pelan. Tiga kali.
"Tok. Tok. Tok."
Tidak ada jawaban.
Arga hendak mengetuk lagi ketika pintu itu terbuka perlahan. Seorang perempuan dengan wajah pucat dan mata bengkak muncul di ambang pintu. Rambutnya diikat asal. Pakaian nya sederhana. Namanya Tiara. Dia istrinya Budi.
Di gendongannya ada seorang anak kecil yang sedang tidur dengan boneka kelinci lusuh di tangan.
Perempuan itu menatap Arga dan Kirana dengan bingung.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" suaranya pelan dan sedikit bergetar.
Arga menundukkan kepala sedikit. "Maaf mengganggu, Mbak. Saya Arga. Ini Nona Kirana. Kami... kami dari kantor suami Mbak."
Wajah perempuan itu langsung berubah. Matanya melebar. Tubuhnya sedikit mundur ke belakang.
"Pak Budi... kenapa? Apa ada kabar buruk tentang suami saya?" suaranya bergetar semakin kuat.
Kirana cepat melangkah maju. Dia meletakkan tangan di bahu perempuan itu. "Tidak, Mbak. Tenang dulu. Kami hanya ingin bicara sebentar. Boleh kami masuk?"
Perempuan itu terdiam beberapa detik. Lalu dia mengangguk pelan dan membuka pintu lebih lebar.
"Silakan masuk. Tapi maaf rumahnya berantakan," ucapnya sambil menyingkir.
Ruangan di dalam kontrakan itu sangat kecil. Hanya ada satu kasur tipis di sudut ruangan. Satu meja plastik dengan piring kotor yang belum dicuci. Satu kipas angin tua yang berisik. Dan satu kompor gas kecil di sudut dapur.
Arga dan Kirana duduk di lantai beralaskan tikar plastik. Pak Surya memilih berdiri di dekat pintu.
Anak kecil di gendongan perempuan itu terbangun. Dia mengucek mata lalu menatap Kirana dengan tatapan polos.
"Anak saya, Bu. Umurnya dua tahun," ucap perempuan itu sambil mengelus punggung anaknya. "Namanya Sari."
Kirana tersenyum tipis. Dia mengulurkan jari dan Sari langsung memegangnya.
"Namanya bagus, Mbak," ucap Kirana pelan.
Perempuan itu hanya mengangguk. Lalu dia menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pak Arga... saya tidak percaya suami saya tega melakukan itu," ucapnya tiba-tiba. "Saya tidak percaya Budi berani mencuri data perusahaan. Dia itu suami yang baik. Dia rajin sholat. Dia tidak pernah telat kasih uang belanja untuk saya dan anak saya."
Arga menunduk. Rasanya ada beban berat yang menekan dadanya.
"Saya tahu, Mbak," ucap Arga pelan. "Saya juga tidak percaya Budi melakukannya sendirian."
Tiara menggeleng. Air matanya mulai jatuh. "Seminggu ini saya hampir tiap malam pergi ke kantor polisi. Saya bawa Sari. Saya ingin suami saya tahu kalau kami baik-baik saja. Tapi setiap kali saya lihat dia di balik jeruji besi... hati saya hancur, Pak."
Kirana menahan napas. Dadanya terasa sesak.
"mbak.... boleh saya tanya sesuatu?" ucap Kirana pelan.
Perempuan itu mengangguk. "Silakan, Bu."
"Sebelum Budi ditangkap... apakah ada yang aneh dengan perilakunya? Apakah dia pernah pulang dengan wajah cemas? Atau pernah cerita kalau ada orang yang datang menemuinya?" tanya Kirana hati-hati.
Istri Budi terdiam. Dia memeluk Sari lebih erat.
"Ada," jawabnya pelan. "Dua minggu lalu, Budi pulang kerja jam sebelas malam. Wajahnya pucat. Matanya merah seperti habis menangis. Saya tanya kenapa, tapi dia hanya bilang dia lelah."
Arga langsung mengangkat kepala. "Dia menangis, Mbak?"
Tiara mengangguk. "Iya, Pak. Saya tanya lagi, tapi dia diam. Dia hanya bilang kalau semua akan baik-baik saja. Tapi sejak malam itu... dia jadi sering gelisah. Tidurnya tidak nyenyak. Kadang tengah malam dia bangun dan duduk di luar sambil merokok. Padahal Budi tidak pernah merokok sebelumnya."
Kirana dan Arga saling pandang.
"Apakah ada orang yang pernah datang ke sini mencari Budi?" tanya Arga lagi.
Tiara menggeleng. "Tidak ada, Pak. Budi berangkat kerja pagi dan pulang malam. Saya tidak pernah lihat ada orang yang datang ke sini. Tapi..."
"Tapi apa, Mbak?" tanya Kirana cepat.
"Tapi dua hari sebelum Budi ditangkap, ada seorang laki-laki yang menelpon saya. Suaranya berat. Dia bilang dia teman kerja Budi. Dia minta alamat rumah kami katanya mau antar dokumen penting."
Arga mengepalkan tangan. "Lalu?"
"Saya kasih alamatnya. Tapi sampai sekarang laki-laki itu tidak pernah datang ke sini," jawab Tiara . "Saya pikir itu hanya penipuan telepon."
Arga menatap Kirana. Tatapannya tajam.
"Ini dia. Orang itu sudah mulai mendekati keluarga Budi sebelum Budi ditangkap," batin Arga.
Kirana juga menyadari hal yang sama. Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung jasnya.
"Apakah Budi pernah bilang siapa nama teman kerjanya yang dekat dengannya?" tanya Kirana lagi.
Tiara berpikir sejenak. "Dia pernah bilang ada satu teman baru di kantor. Namanya... saya lupa. Tapi Budi bilang orang itu baik. Sering bantu Budi kalau ada masalah komputer."
Arga mengepalkan rahangnya. "Teman baru. 1.5 bulan kerja. Akses ke sistem."
"Semuanya mengarah ke Budi. Tapi Budi bukan dalangnya. Budi hanya pion." Dada Arga terasa bergemuruh.
"Apakah Budi pernah cerita kalau dia sedang terancam?" tanya Arga pelan.
Tiara menggeleng lagi. "Tidak, Pak. Budi tidak pernah cerita apa-apa. Tapi saya tahu dia sedang ada masalah. Karena beberapa hari sebelum ditangkap, dia pulang dengan tangan gemetar. Dan dia ngasih Uang di amplop coklat jumlahnya bahkan lebih besar dari gaji dia . Padahal gaji belum turun."
"Ada yang menyuapnya." Arga sudah menduganya. "menyuapnya tapi mengancam keluarga nya. Orang ini jauh lebih berbahaya dari dugaanku" Arga sedikit mengepalkan tangan nya.
"Terima kasih, Mbak. Terima kasih sudah mau bercerita," ucap Kirana pelan sambil berdiri.
Arga juga ikut berdiri. Dia mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja plastik.
"Ini sedikit bantuan untuk Mbak dan Sari," ucap Arga pelan. "Jangan ditolak. Anggap saja ini dari perusahaan."
Tiara langsung mundur selangkah. "Tidak, Pak. Saya tidak bisa terima uang ini. Saya tidak mau suami saya dituduh menerima suap lagi."
Arga menghela napas. "Ini bukan suap, Mbak. Ini bantuan. Untuk anak Mbak. Untuk Sari."
Istri Budi menatap amplop itu dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak mengambilnya.
Kirana berjalan mendekat dan berjongkok di depan istri Budi.
"Mbak... saya janji. Saya dan Pak Arga akan membuktikan kalau suami Mbak tidak bersalah," ucap Kirana dengan suara yang bergetar. "Kami akan menemukan orang yang sebenarnya melakukan ini."
Tiara menatap Kirana dengan mata yang penuh harap. "Benarkah, Bu? Benarkah kalian akan membantu suami saya?"
Kirana mengangguk. "Benar, Mbak. Saya janji."
Tiara tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu.Sari yang berada di gendongannya juga ikut terbangun dan menangis karena melihat ibunya menangis.
Suasana di dalam kontrakan itu tiba-tiba menjadi sesak.Arga hanya bisa diam. Dia melihat pemandangan itu dengan dada yang terasa seperti ditusuk jarum.
"Ini salahku," batin Arga. " Andai saja aku tak gegabah, harusnya aku selidiki dulu. Kalau saja aku tak langsung menangkap Budi minggu lalu... mungkin keluarganya tidak akan seperti ini." Arga diliputi rasa sesal yang memenuhi dadanya.
Kirana juga merasakan hal yang sama. Dia berdiri dan memeluk istri Budi pelan.
"Sabar ya, Mbak. Sabar," bisik Kirana.
Tiara hanya mengangguk sambil menangis di bahu Kirana.
Mereka tidak tinggal lama di kontrakan itu. Setelah sekitar tiga puluh menit, Arga dan Kirana pamit pulang.
Di luar, hujan sudah semakin deras.
Arga membuka payung dan melangkah di depan Kirana. Pak Surya berjalan beberapa langkah di belakang mereka.Sepanjang jalan pulang, tidak ada yang berbicara. Hanya suara hujan yang menemani langkah mereka.
Sampai mereka tiba di mobil.
Arga membuka pintu mobil untuk Kirana. Kirana masuk dan duduk di kursi penumpang. Wajahnya pucat. Matanya merah. Arga masuk ke sisi pengemudi dan menyalakan mesin mobil. Tapi dia tidak langsung menjalankan mobil.
Dia menatap Kirana yang sedang menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.
"Kirana," panggil Arga pelan. Kirana tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil.
"kamu baik-baik saja?" tanya Arga hati-hati.
Kirana menoleh. Air matanya tiba-tiba jatuh tanpa peringatan.
Hiks.. hiks..
"Arga... aku merasa bersalah," ucap Kirana dengan suara bergetar. "Kalau Budi benar-benar tidak bersalah... berarti kita yang sudah menghancurkan hidup keluarganya. Kita yang sudah membuat istri dan anaknya menderita."
Arga terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia juga merasakan hal yang sama.Arga menghentikan mobil di pinggir jalan. Dia mematikan mesin dan menoleh ke arah Kirana.
"Kirana, dengarkan aku," ucap Arga pelan.
Kirana menoleh. Matanya merah dan basah.
"Kita tidak akan membiarkan ini terus berlanjut," lanjut Arga. "Kita akan menemukan dalang sebenarnya. Kita akan membuktikan Budi tidak bersalah. Dan kita akan mengembalikan nama baiknya."
Kirana mengangguk pelan. Tapi air matanya tetap jatuh. "Aku... aku tidak sanggup melihat anak kecil itu menangis karena ayahnya ditahan, Arga," ucap Kirana dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Anak itu belum tahu apa-apa. Anak itu belum mengerti kenapa ayahnya tidak pulang-pulang."
Arga merasakan dadanya sesak. Dia tidak tahan melihat Kirana menangis seperti itu. Tanpa pikir panjang, Arga mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Kirana.
Kirana terkejut. Dia menoleh dan menatap Arga dengan mata yang melebar. Arga tidak melepaskan genggaman itu. Dia hanya menatap Kirana dengan tatapan yang serius.
"Kita akan selesaikan ini bersama, Kirana," ucap Arga pelan. "Aku janji."
Kirana terdiam. Hatinya berdebar kencang. Ini pertama kalinya Arga menggenggam tangannya tanpa ada alasan pekerjaan. Tanpa ada tekanan. Hanya karena dia ingin Kirana merasa tenang.
Kirana tidak melepaskan genggaman itu. Dia hanya mengangguk pelan.
"Arga... aku percaya kamu," batin Kirana. "Aku percaya kita bisa menyelesaikan ini bersama."
Arga melihat Kirana yang sudah mulai tenang. Dia menghela napas panjang dan melepaskan genggaman itu perlahan.
"Maaf," ucap Arga pelan. "Aku tidak bermaksud..."
Kirana menggeleng. "Tidak apa-apa, Arga. Aku... aku tidak keberatan."
Arga tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya.
"Terima kasih, Kirana," ucap Arga pelan.
Kirana hanya mengangguk. Dia tidak tahu harus menjawab apa.Mobil kembali melaju di tengah hujan yang semakin deras.
Di dalam mobil, suasana menjadi lebih tenang. Tapi di hati mereka berdua, ada tekad yang semakin kuat.
Mereka harus segera menemukan dalang sebenarnya. Sebelum terlambat. Sebelum keluarga Budi hancur sepenuhnya.
Pagi hari
Jam sudah menunjukan pukul 7.30 pagi Arga dan Kirana baru saja selesai sarapan bersama pak Harsono. Tiba-tiba HP Arga berbunyi layar menampilkan nama Pak Surya IT.
"Hallo Pak Arga, maaf mengganggu. Ada kabar buruk. Saya baru dapat telfon dari kepolisian Budi dikabarkan meninggal karena overdosis obat. "
JDERR...
Arga mematung HP nya jatuh ke lantai. Kirana dan Pak Harsono Kaget. Keduanya menoleh ke Arga.
[BERSAMBUNG.. ]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"