Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 09
Tiga hari setelah pernikahan, keluarga Wiratama mengadakan makan siang kecil.
Sinta menyebutnya acara pulang rumah pertama.
Alya menyebutnya panggung pemeriksaan.
Ia datang bersama Arga.
Itu keputusan yang membuat separuh orang di rumah Wiratama hampir menjatuhkan sendok sebelum makan dimulai. Mereka mengira Arga akan tetap berada di kamar, terlalu lemah untuk muncul. Bahkan Sinta sudah menyiapkan kalimat belas kasihan yang rapi.
Namun Arga turun dari mobil dengan tongkat tipis, wajah pucat tetapi berdiri sendiri.
Alya berjalan di sampingnya, tidak memegang lengannya. Ia hanya cukup dekat untuk menangkapnya jika jatuh.
Rafi dan Nabila sudah lebih dulu datang.
Rafi menatap Arga seperti melihat orang mati membuka pintu.
"Mas Arga," katanya setelah sadar. "Syukurlah kondisi Mas membaik."
Arga menatapnya sebentar. "Kamu terdengar terkejut."
Rafi tersenyum kaku. "Tentu tidak. Kami semua senang."
Nabila berdiri di samping Rafi. Wajahnya lebih pucat daripada tiga hari lalu. Saat melihat Arga, matanya bergerak cepat dari wajah ke tangan, dari tangan ke langkahnya.
Alya melihat semua itu.
"Nabila," katanya.
Nabila tersentak kecil. "Mbak."
Arga melirik Alya.
Alya tersenyum tipis. "Kamu tampak kurang tidur."
"Aku baik-baik saja."
"Bu Ratna membuatmu sibuk?"
Wajah Nabila berubah.
Sebelum ia menjawab, Sinta datang tergesa-gesa.
"Alya, Arga, masuk. Jangan berdiri di luar. Arga, kamu kuat berjalan?"
Arga menjawab datar, "Kalau tidak, saya tidak akan datang."
Sinta canggung. "Iya, tentu. Mama hanya khawatir."
Alya memperhatikan pilihan kata itu.
Mama.
Kepada Arga, Sinta bisa memakai kelembutan dengan cepat. Kepada Alya, kelembutan selalu datang setelah syarat.
Di ruang makan, Hadi sudah menunggu. Begitu melihat Arga, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang lebih terkendali.
"Arga. Senang kamu bisa datang."
"Terima kasih, Pak."
"Duduk. Jangan memaksakan diri."
Arga duduk di sisi Alya. Rafi dan Nabila duduk di seberang. Sinta duduk dekat Nabila, tentu saja. Hadi di kepala meja.
Awalnya makan siang berjalan sopan.
Terlalu sopan.
Sinta bertanya tentang makanan Arga. Hadi bertanya soal pemeriksaan dokter. Rafi beberapa kali mencoba terdengar perhatian. Nabila diam lebih banyak daripada biasanya.
Lalu Sinta tidak tahan.
"Alya, Mama dengar kamu memanggil dokter luar ke rumah Arga."
Alya meletakkan sendok. "Iya."
"Bukankah keluarga Pradipta sudah punya dokter?"
"Punya."
"Lalu kenapa harus memanggil dokter lain?"
"Karena dokter keluarga tidak bisa menjelaskan obat tanpa label."
Ruang makan hening.
Hadi mengangkat kepala.
Rafi mengerutkan kening. "Obat tanpa label?"
Nabila menggenggam gelas.
Alya menatap adiknya. "Kamu sudah tahu?"
"Aku?" Nabila terlihat panik. "Bagaimana mungkin aku tahu?"
"Aku hanya bertanya."
Sinta menyela, "Alya, jangan bicara seolah semua orang bersalah. Bu Ratna menelepon Mama. Dia sangat tersinggung. Kamu baru menjadi menantu, tapi sudah membuat keluarga suami merasa dituduh."
Arga tertawa pendek.
Semua orang menoleh.
"Maaf," katanya. "Saya hanya baru tahu bahwa orang yang sakit bertahun-tahun harus lebih memikirkan perasaan orang sehat."
Wajah Sinta memerah.
Alya mengambil gelas air, menahan senyum.
Hadi berkata, "Arga, apakah benar ada obat tanpa label?"
"Benar."
"Dan kamu tidak tahu isinya?"
"Saya diberi tahu itu obat tidur."
"Oleh siapa?"
"Dokter Hamzah. Melalui Bu Marni. Di bawah pengawasan Mama Ratna."
Kalimat itu rapi.
Tidak menuduh langsung.
Tapi cukup membuat ruangan berubah.
Sinta tidak bisa lagi memakai nada ibu yang menasihati anak keras kepala.
Rafi tampak gelisah. "Mungkin hanya suplemen."
Alya menatapnya. "Kamu sering minum suplemen tanpa label dari orang yang tidak mau menunjukkan resep?"
Rafi terdiam.
Nabila cepat berkata, "Mbak, Mas Rafi hanya mencoba berpikir positif."
"Berpikir positif tidak boleh menggantikan akal sehat."
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Lalu apa maksudmu?"
Nabila menunduk. "Aku hanya sedih melihat hubungan Mbak dan keluarga Pradipta tegang. Baru menikah beberapa hari, Mbak sudah seperti berperang. Kasihan Mas Arga, dia butuh ketenangan."
Arga menatap Nabila.
"Aku memang butuh ketenangan," katanya. "Karena itu obat yang membuatku tidak bisa berpikir harus dihentikan."
Nabila menggigit bibir.
Sinta memegang tangan putrinya. "Nabila hanya khawatir."
"Khawatir padaku?" tanya Arga.
Nabila segera mengangguk. "Tentu, Mas."
"Kalau begitu terima kasih."
Nada Arga terlalu datar untuk terdengar tulus.
Hadi akhirnya bicara, "Alya, apa hasil pemeriksaannya?"
"Belum keluar. Sampel obat, darah, dan rambut dikirim ke lab. Dokter Mira akan memantau. Untuk sementara obat tidak jelas dihentikan."
"Apakah Bima tahu?"
"Belum semua."
"Kenapa?"
"Karena sebelum bicara kepada Pak Bima, aku ingin data. Aku tidak ingin hanya membawa kecurigaan."
Hadi mengangguk pelan.
Itu jawaban yang ia hormati.
Sinta tidak senang melihatnya. "Tetap saja, caramu terlalu keras. Bu Ratna adalah ibu tiri Arga. Di keluarga besar, ada tata krama. Kalau kamu langsung mencurigai orang tua, bagaimana orang melihat keluarga Wiratama?"
Alya menatapnya.
"Jadi masalahnya bukan apakah Arga diberi obat tidak jelas, tapi bagaimana orang melihat keluarga Wiratama?"
"Jangan memutarbalikkan kata-kata Mama."
"Aku mengulang inti kalimat Mama."
"Alya!"
Hadi menurunkan suara. "Sinta."
Sinta menahan napas.
Nabila melihat kesempatan. Ia berkata lirih, "Mbak, aku tahu kamu pintar. Tapi kadang kepintaran perlu dibarengi kelembutan. Bu Ratna mungkin punya cara sendiri merawat Mas Arga. Kalau Mbak langsung menentang, nanti Mbak dianggap tidak menghargai keluarga suami."
Alya menatapnya.
"Itu pertanyaan pertama dari daftar Ratna?"
Warna wajah Nabila lenyap.
Rafi menoleh. "Daftar apa?"
Nabila cepat menggeleng. "Tidak ada."
Alya tersenyum. "Tidak ada?"
"Mbak, kenapa kamu selalu menuduhku?"
"Karena kamu selalu terlalu mudah dibaca."
Air mata langsung menggenang di mata Nabila. "Aku hanya ingin membantu."
Sinta marah. "Alya, cukup. Nabila sedang hamil perasaan setelah menikah, jangan kamu tekan."
"Hamil perasaan?" Arga bertanya pelan.
Rafi hampir tersedak.
Alya menoleh pada Arga. "Itu istilah baru."
Arga mengangguk. "Menarik."
Nabila memerah karena malu.
Sinta semakin marah. "Kalian berdua datang untuk menghina keluarga?"
Alya menjawab, "Aku datang karena ini acara pulang rumah pertama. Kalau Mama ingin acara berjalan tenang, jangan mulai dengan membela Bu Ratna."
"Bu Ratna orang tua."
"Orang tua bisa salah."
"Kamu tidak berubah. Kamu semakin tidak tahu diri."
Hening.
Kalimat itu akhirnya keluar.
Hadi menatap istrinya. "Sinta."
Tapi Alya mengangkat tangan kecil, menghentikannya.
"Tidak apa-apa, Pa."
Ia menatap Sinta.
"Mama benar. Aku memang tidak tahu diri dulu. Aku tidak tahu diri sampai merasa harus diam setiap kali Mama memilih Nabila. Aku tidak tahu diri sampai merasa semua keputusan keluarga harus kuterima karena aku anak angkat. Aku tidak tahu diri sampai mengira bersyukur berarti tidak boleh punya batas."
Wajah Sinta berubah.
"Alya, Mama tidak--"
"Sekarang aku tahu diri." Suara Alya tetap tenang. "Aku tahu aku istri Arga. Aku tahu aku punya hak melindungi suamiku. Aku tahu keluarga Wiratama tidak berhak memintaku menutup mata hanya agar Bu Ratna tidak tersinggung."
Tidak ada yang bicara.
Arga menatap Alya.
Di wajahnya ada sesuatu yang tidak ia sembunyikan cepat-cepat.
Kagum.
Hadi menghela napas. "Sinta, cukup."
Sinta menatap Hadi tidak percaya.
"Mas membela Alya?"
"Aku membela akal sehat."
Nabila menunduk, tetapi jarinya mencengkeram serbet.
Rafi tampak tidak nyaman. Ia mungkin baru menyadari bahwa makan siang ini tidak memberi panggung untuk dirinya sama sekali.
Alya berdiri.
"Kami pulang dulu. Arga perlu istirahat."
Sinta juga berdiri. "Makan siang belum selesai."
"Sudah."
Arga ikut berdiri pelan. Gerakannya masih berat, tetapi ia tidak meminta bantuan. Alya hanya menunggu di sisinya.
Saat melewati Nabila, Alya berhenti.
"Kalau Bu Ratna ingin tahu sesuatu, minta dia bertanya sendiri. Jangan bersembunyi di balik adikku."
Nabila mengangkat wajah. Air matanya jatuh.
"Mbak, kenapa kamu berubah sejauh ini?"
Alya menatapnya lama.
Karena aku pernah mati setelah hidup terlalu lama.
Karena aku tahu kamu mencuri jalan yang dulu kubuka.
Karena kali ini aku tidak lagi membesarkan ular dengan tanganku sendiri.
Namun yang keluar hanya satu kalimat.
"Karena aku sudah lelah menjadi orang yang mudah kamu pakai."
Ia pergi bersama Arga.
Di mobil, Arga diam cukup lama.
Baru setelah gerbang rumah Wiratama tertutup di belakang mereka, ia berkata, "Kamu tidak pernah menangis?"
Alya menatap jalan. "Pernah."
"Kapan?"
"Saat masih berguna."
Arga tidak bertanya lagi.
Namun tangannya yang lemah bergerak di atas kursi, lalu berhenti tidak jauh dari tangan Alya.
Tidak menyentuh.
Hanya cukup dekat untuk mengatakan ia ada.
Alya melihatnya.
Untuk sesaat, ia tidak menarik diri.