Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Pagi setelah operasi bawah tanah, Nana bangun dengan telinga masih terasa ditempeli suara Irwan.
Earpiece kecil itu diletakkan di meja samping, di atas saputangan bersih yang Stella paksa ia pakai untuk membungkus pergelangan. Lengannya masih nyeri saat digerakkan. Di bawah kulit, ada memar samar tempat penyusup semalam mencengkeramnya.
Namun yang paling sulit hilang bukan sakitnya.
Yang paling sulit hilang adalah suara Steven di ruang arsip bawah.
Simpan utuh. Semua. Termasuk bagian yang membuatku terlihat buruk.
Nana mengulang kalimat itu dalam kepala sampai sarapan hampir dingin.
Stella duduk di depannya, memotong roti terlalu kecil-kecil. "Kau tidak makan."
"Aku makan."
"Kau mengaduk bubur."
Nana melihat mangkuknya. Benar. Buburnya sudah menjadi lingkaran pucat.
Stella menaruh pisau roti. "Semalam aku ingin menguncimu di kamar."
"Aku tahu."
"Aku masih ingin."
"Aku tahu juga."
Stella menghela napas, lalu mendorong gelas susu ke dekat Nana. "Tapi Irwan bilang mulai hari ini kau ikut briefing pendek."
Kata itu membuat Nana menegakkan punggung. "Briefing?"
"Jangan terlihat senang. Ini mengerikan."
Nana tidak senang. Tidak sepenuhnya. Tapi ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa pintu yang kemarin ia buka tidak langsung ditutup lagi.
Briefing dilakukan di ruang bawah garasi, bukan ruang arsip semalam. Irwan berdiri di depan papan kaca. Ada peta jaringan sederhana, daftar perangkat yang terkena pelacak, dan satu kolom bertuliskan kanal lama.
Steven datang paling terakhir.
Lengan kirinya sudah diperban tipis. Wajahnya terlihat seperti orang yang tidur hanya dengan menutup mata, bukan benar-benar beristirahat. William tidak hadir. Tamara mengirim catatan. Stella tidak diizinkan turun. Hanya Irwan, dua anggota Tim Lilin, Steven, dan Nana.
Irwan membuka briefing tanpa basa-basi.
"File semalam dibuat untuk dua tujuan. Pertama, merusak posisi Tuan Steven di keluarga dan jaringan bisnis. Kedua, menandai perangkat yang panik membuka file. Tujuan kedua gagal sebagian karena kita cepat memutus koneksi, tapi cukup banyak kerusakan sudah terjadi."
Nana mengangkat tangan sedikit.
Irwan menatapnya. "Bicara."
"Kanal lama itu apa?"
Ruangan hening sesaat.
Steven bersandar di dinding. "Nomor yang kau tanyakan semalam."
Nana menoleh kepadanya. "Nomor Victoria Wan?"
"Nomor orang yang bekerja untuk jalur Victoria Wan. Pernah dipakai orang lain. Pernah kupakai untuk mendengar lebih banyak daripada yang mereka kira kuberi."
Itu hampir jawaban. Hampir.
"Jadi kau memang berhubungan dengan mereka."
"Ya."
Satu kata itu jatuh tanpa pembungkus.
Nana merasakan dada Stella dalam ingatannya: Kau percaya Koko Steven?
Irwan mengambil alih sebelum ruangan berubah terlalu tegang. "Ada kanal yang sengaja dibiarkan hidup. Lawan harus percaya bahwa Tuan Steven bisa didekati. Kalau kanal ditutup total, kita kehilangan sumber pergerakan mereka."
"Siapa saja yang tahu?" tanya Nana.
Steven menjawab, "Tidak cukup banyak."
"Itu bukan jawaban."
"Jawaban lengkapnya belum untukmu."
Nana menggenggam ujung kursi. Kemarin ia mungkin akan marah. Hari ini ia memaksa diri mengingat Pak Shen: jangan jawab dengan takut, jangan percaya versi paling rapi.
"Lalu kenapa keluargamu tidak tahu?"
Steven menatap papan kaca. "Karena orang yang tidak tahu tidak bisa membocorkan dengan ekspresi wajah."
Nana tidak suka jawaban itu.
Namun ia teringat ruang kerja, Lusia yang panik, Stella yang pecah, William yang marah. Ia membenci betapa masuk akalnya kalimat itu.
Ponsel khusus di meja Irwan bergetar.
Semua orang diam.
Irwan melihat layar. "Kanal lama aktif."
Steven berdiri tegak. Wajah lelahnya seperti ditutup dari dalam. Dalam satu tarikan napas, orang yang berdiri di depan Nana berubah.
Bukan Steven yang memberi jaket.
Bukan Steven yang menyimpan log buruknya sendiri.
Yang muncul adalah laki-laki dengan senyum malas, dingin, dan sedikit menghina, seperti dunia selalu terlambat menghiburnya.
Irwan menyalakan pengeras suara, tapi hanya setelah Steven mengangguk.
Suara laki-laki terdengar dari ponsel. "Rumahmu ramai semalam."
Steven tersenyum tipis. "Kau harus pilih orang yang tidak mudah tertangkap."
Nana hampir tidak mengenali suaranya. Ringan. Bosan. Seolah dua penyusup dan file yang menghancurkan nama baiknya hanya gangguan kecil.
"Kau masih berani bicara seperti itu setelah file keluar?"
"Justru karena file keluar. Keluargaku sekarang sibuk saling curiga. Kau pikir aku rugi?"
Perut Nana mengeras.
Irwan tidak bergerak. Dua anggota Tim Lilin menunduk ke tablet masing-masing, melacak sesuatu.
Suara di telepon tertawa. "Victoria bilang kau lebih dingin dari rumor."
Nama itu membuat ruangan terasa turun suhunya.
Steven menjawab, "Victoria Wan terlalu suka rumor. Bilang padanya kalau dia mau jadwal asli, dia berhenti memakai Hasan untuk menakuti anak kecil. Aku tidak suka aset kecilku rusak sebelum berguna."
Aset kecil.
Nana tahu itu sandiwara. Harusnya tahu. Namun mendengar dirinya disebut seperti barang dari mulut Steven tetap membuat kulitnya panas.
"Anak itu asetmu?"
"Dia bisa masuk tempat yang orang dewasa lupa hitung."
"Atau dia kelemahanmu."
Steven tertawa pendek. "Kalau aku punya kelemahan, aku tidak akan menyimpannya di rumah yang semua orang bisa lihat."
Nana menahan napas.
Irwan memberi isyarat dua jari. Masih kurang.
Steven melanjutkan, "Aku sudah beri ritme lama. Kalau Victoria ingin lebih, dia beri sesuatu dulu."
"Apa?"
"Nama orang yang memasukkan file semalam ke grup asosiasi."
Suara di telepon diam.
Steven tetap tersenyum. "Jangan diam. Diam membuatmu terdengar murah."
Panggilan terputus.
Ruangan tidak langsung bergerak.
Irwan menunduk ke tablet. "Cukup. Lokasi pantulan masuk dari dua titik. Satu Surabaya timur, satu server luar. Kita dapat pola suara juga."
Steven tidak menjawab. Senyumnya hilang begitu cepat sampai Nana merasa baru saja melihat seseorang melepas topeng dari kulit sendiri.
Ia duduk kembali, lalu menekan dua jari ke pangkal hidung. Lengan kirinya yang diperban sedikit gemetar.
Tidak ada yang menyebutnya.
Nana masih mendengar kata itu.
Aset kecil.
Steven membuka mata. "Kalau kau mau marah, marah sekarang. Nanti kita butuh kepalamu dingin."
Nana berdiri. Dua anggota Tim Lilin pura-pura sangat sibuk dengan tablet.
"Kau terdengar seperti mereka."
"Memang harus."
"Kau menyebutku aset."
"Aku tahu."
"Kau tertawa saat dia bilang aku kelemahanmu."
"Aku tahu."
"Apa semua yang keluar dari mulutmu tadi bohong?"
Steven menatapnya lama. "Tidak."
Jawaban itu menusuk lebih dalam daripada jika ia berkata iya.
Nana menelan ludah. "Bagian mana yang benar?"
"Bahwa kau bisa masuk tempat yang orang dewasa lupa hitung."
Ia tidak menambahkan bahwa Nana bukan aset. Tidak meminta maaf. Tidak memberi kalimat yang mudah dibawa tidur.
Namun saat Nana berbalik hendak keluar, Steven berkata lebih pelan, hanya cukup untuknya.
"Dan kalau mereka benar soal kelemahanku, mereka akan membunuhmu."
Nana berhenti.
Di balik semua kebohongan yang baru ia dengar, kalimat itu adalah satu-satunya yang tidak memakai topeng. Bukan manis. Bukan aman. Tapi benar dalam cara yang membuat dada Nana terasa sesak.
Ia tidak menoleh.
"Kalau begitu ajari aku cara tidak mudah dibunuh," katanya.
Irwan mengangkat kepala.
Steven diam beberapa detik.
"Besok pagi," katanya akhirnya. "Latihan pertama."
Nana keluar dari ruang bawah garasi dengan langkah yang belum stabil. Di tangannya, earpiece kecil terasa lebih berat daripada semalam.
Ia mulai mengerti.
Menjadi dua wajah bukan berarti Steven berbohong lalu pulang menjadi jujur.
Kadang ia harus membawa sebagian kebenaran ke dalam kebohongan, lalu pulang dengan mulut penuh rasa pahit yang tidak bisa ia ludahkan.