NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Istri Kontrak Favorit Brams Ravendra

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romantis / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Komedi / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sibewok

Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.

Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.

Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.

Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.

Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?

Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Terlalu Sensitif

Langit malam memayungi jalanan ibu kota.

Lampu-lampu kendaraan membentuk garis panjang di sepanjang jalan bebas hambatan.

Di dalam kabin mobil...

Tidak ada suara selain dengungan mesin.

Brams menyetir dengan satu tangan. Tatapannya lurus ke depan.

Sesekali matanya melirik ke arah Ranum yang duduk tenang disampingnya.

Perban putih masih menutupi kedua mata perempuan itu. Kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan.

Namun... Saat ini, sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia tersenyum.

Bukan senyum lebar. Melainkan senyum kecil yang begitu damai.

Brams mengernyit. Beberapa menit berlalu. Ranum masih tersenyum sendiri.

Brams akhirnya membuka suara. "Kau kenapa?"

Ranum sedikit memiringkan kepalanya. "Hm?"

"Sejak tadi kau senyum-senyum sendiri."

Ranum terkekeh pelan. "Aku sedang berpikir."

"Tentang apa?"

Ranum mengusap pelan perban yang menutupi kedua matanya. "Tentang takdir."

Brams melirik sekilas. "Terdengar aneh."

Ranum tersenyum lagi. "Aku sedang belajar memahami takdirku."

Mobil tetap melaju.

Suara Ranum terdengar begitu tenang.

"Dulu... Aku sering mengeluh, kalau pamanku memberikan aku pekerjaan terlalu banyak."

"Capek."

"Panas."

"Sampai aku kurang tidur."

"Padahal..."

"...aku masih bisa melihat langit." Ranum berhenti sejenak.

Menarik napas panjang.

"Sekarang Allah mengambil sedikit saja nikmat itu."

"Aku baru sadar..."

"...ternyata melihat adalah nikmat yang luar biasa."

Brams tetap diam.

Ranum kembali berbicara.

"Kadang manusia baru tahu berharganya sesuatu..."

"...setelah Allah mengambilnya."

"Padahal sebelumnya kita merasa itu hal yang biasa."

Suasana kembali hening.

"Makanya..."

"...aku tidak ingin mengeluh."

"Mungkin Allah hanya sedang mengajarkanku bersyukur."

"Supaya nanti saat bisa melihat lagi..."

"...aku lebih menghargai semuanya."

Brams tidak langsung menjawab. Tangannya tetap menggenggam kemudi Tatapannya lurus ke depan.

Untuk beberapa saat... Ia benar-benar terdiam.

Lalu...

Brams mengembuskan napas pelan.

"Kau..."

"...terlalu mendramatisir."

Ranum langsung menoleh ke arah suara itu.

"Maksudmu?"

Brams menghela nafasnya.

"Namanya juga kecelakaan. Nanti juga sembuh."

"Dokter sudah bilang begitu. Jadi tidak perlu menganggap seolah dunia akan berakhir."

Nada suaranya kembali datar. Seperti Brams yang biasanya.

Ranum justru tersenyum semakin lebar. "Aku tidak bilang duniaku berakhir."

"Lalu?"

"Aku hanya sedang diingatkan." Jawab Ranum.

Brams mengangkat sebelah alis. "Diingatkan?"

"Iya."

"Kan semua yang kita miliki..."

"...sebenarnya hanya titipan."

"Penglihatan."

"Kesehatan."

"Harta."

"Bahkan orang-orang yang kita sayangi."

"Semuanya bisa Allah ambil kapan saja."

Brams kembali terdiam. Ranum melanjutkan dengan suara pelan.

"Jadi..."

"Selama masih diberi kesempatan..."

"...bukankah sebaiknya kita lebih banyak bersyukur dari pada mengeluh?"

Mobil kembali dipenuhi keheningan.

Brams tidak menjawab.

Namun untuk pertama kalinya malam itu...

Tangannya yang menggenggam kemudi terasa sedikit mengendur.

Entah mengapa... Ucapan Ranum terus berputar di kepalanya.

Perempuan ini memang sederhana. Dan malam ini, ucapannya tidak sesederhana yang ia kira.

Ada sesuatu yang tanpa sadar tertinggal di pikirannya.

Beberapa detik kemudian...

Brams berdeham pelan.

"Kalau begitu..."

"Apa sekarang kau juga bersyukur karena menikah denganku?"

Ranum langsung mematung. Lalu mendengus pelan. "Kau merusak suasana."

Brams menyeringai tipis. "Akhirnya kau kembali seperti biasa."

Ranum menggeleng kecil. "Dasar...."

"Apa?"

"Tidak jadi." Gumam Ranum.

Brams terkekeh pelan.

Suara tawanya yang rendah kembali membuat kabin mobil dipenuhi keheningan.

Ranum perlahan mengangkat tangannya.

Jemarinya kembali menyentuh perban yang membalut kedua matanya.

Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Brams.

Tatapan pria itu hanya sekilas. Lalu kembali fokus pada jalan.

Sedangkan di balik senyum tipis Ranum... Isi kepalanya jauh lebih berisik.

Ya Allah...

Cobaan yang Kau berikan kali ini terasa begitu berat.

Aku sedang berharap mendapatkan haid di bulan ini.

Di sisi lain... aku juga ingin membantu Brams sembuh.

Ingin membuktikan bahwa hasil pemeriksaan lamanya belum tentu benar.

Namun semuanya justru berbalik menjadi bumerang untukku sendiri.

Ranum menarik napas panjang.

Kini...

Ia bahkan tidak tahu sampai kapan kedua matanya harus tertutup seperti ini.

Namun beberapa detik kemudian...

Senyum kecil kembali menghiasi bibirnya.

Tidak apa-apa...

Setidaknya Engkau masih mengizinkanku merasakan dunia lewat sentuhan.

Lewat aroma.

Aku masih bisa mengenali daun-daun herbal.

Masih bisa meracik teh untuk Kakek...

Dan untuk Brams.

Bahkan masih bisa menggunakan kedua tangannya untuk memijat.

Pikiran itu sedikit menenangkan hatinya.

Namun tiba-tiba...

Bayangan tiga ekor kucing yang mereka selamatkan sore tadi muncul di kepalanya.

Apakah induknya sudah bisa berdiri?

Apakah anak-anaknya sudah menyusu?

Belum sempat ia berpikir lebih jauh...

Mobil perlahan melambat. Kemudian berhenti.

Ranum sedikit mengangkat kepalanya. "Apa kita sudah sampai?"

"Iya." Jawaban Brams singkat.

Belum sempat pintu dibuka...

Ranum kembali bertanya dengan nada khawatir. "K-kucing betina itu..."

"Bagaimana kabarnya sekarang?"

Brams yang hendak melepas sabuk pengamannya menghentikan gerakannya.

Ia menoleh ke arah Ranum. "Kau..."

"...masih memikirkan hal lain?"

"Padahal dirimu sendiri sedang terluka."

Ranum mengulurkan tangannya. Telapak tangannya menyentuh pelan dashboard di depannya. Lalu wajahnya yang tertutup perban mengarah ke sumber suara Brams.

"Kalau begitu... Bagaimana dengan kau?"

Brams mengernyit. "Maksudmu?"

"Apa kau tidak memikirkan nasib induk kucing yang kau tabrak?"

"Apa kau tidak memikirkan anak-anaknya?"

Pertanyaan itu membuat Brams terdiam.

Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban.

Perlahan...

Ia mengangkat sebelah tangannya. Jdmarinya mengapit dagu Ranum dengan lembut.

Memastikan wajah perempuan itu menghadap kepadanya.

"Kau ini..."

"...terlalu sensitif." Bisiknya pelan.

Ranum mengerucutkan bibirnya. "Itu bukan jawaban."

Brams mengembuskan napas pelan. "Aku memang tidak tahu bagaimana kondisi kucing itu sekarang."

"Karena sejak tadi..."

"...aku lebih banyak berada di dekatmu daripada di dekat induk kucing itu."

Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa Brams sadari.

Ranum mendadak terdiam. Bibirnya masih mengerucut kecil.

Namun kali ini tidak lagi membalas. Entah kenapa...

Jawaban itu membuat dadanya terasa sedikit hangat.

Brams melepaskan pelan dagu istrinya. Lalu membuka pintu mobil.

"Dari pada terus menebak-nebak..."

"...lebih baik kita lihat sendiri." Ia turun lebih dulu.

Kemudian berjalan memutar menuju sisi penumpang. Pintu dibukanya perlahan.

Brams mengulurkan tangan. "Ayo."

"Kita masuk."

"Dan kita lihat bersama bagaimana keadaan keluarga kecil yang sejak tadi memenuhi isi kepalamu itu."

Ranum menghela napas pelan. Lalu Brams meraih tangan Ranum.

Ia menggenggam tangan Ranum dengan hati-hati.

"Pelan-pelan."

"Iya." Ranum mengikuti langkah suaminya.

Begitu kaki mereka memasuki teras utama...

Terdengar suara kecil dari dalam rumah.

"Meow..."

"Miw..."

Sudut bibir Ranum langsung terangkat.

"Itu suara mereka..." Gumamnya pelan.

Brams membuka pintu rumah.

Klik.

Pintu terbuka perlahan.

Namun langkahnya langsung terhenti.

Di ruang tengah...

Seorang perempuan sedang duduk di sofa sambil memangku salah satu anak kucing.

Gaun hitam yang dikenakannya masih sama seperti saat menghadiri acara amal.

Rambut panjangnya tergerai rapi.

Perempuan itu segera berdiri ketika melihat mereka. "Brams."

Suara itu membuat Ranum ikut menghentikan langkah. "Siapa...?"

Brams menjawab singkat. "Gracia."

"Oh..." Ranum pu tersenyum kecil. "Ternyata Kak Gracia."

Gracia berjalan mendekat. Tatapannya langsung tertuju pada perban putih yang menutupi kedua mata Ranum.

Sorot matanya tampak menyiratkan rasa iba. "Aku pulang lebih dulu."

"Acara tinggal sekitar setengah jam lagi."

"Aku tidak tenang memikirkan keadaanmu."

Ranum tersenyum tulus.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

Gracia mengangguk pelan.

"Lagipula..."

"Kakek Barra menitipkan sesuatu."

Ia mengambil sebuah kalung dari dalam tasnya.

"Ini milikmu, kan?" Gracia menekan liontin berbentuk oval pada telapak tangan Ranum.

Ranum terdiam.

Tangannya spontan meraba lehernya sendiri.

Kosong.

"Astaga... Rupanya terjatuh."

Gracia mengangguk. "Kakek menemukannya di dekat ruang kejadian."

"Beliau menyuruhku mengantarkannya."

Ranum menerima liontin itu dengan kedua tangan. "Terima kasih. Aku benar-benar tidak sadar kalau liontin ini hilang."

"Sama-sama." Gracia tersenyum tipis.

Namun beberapa detik kemudian...

Tatapannya jatuh pada liontin yang masih berada di tangan Ranum.

"Ranum..." Panggil Gracia pelan.

"Hm?" Jawab Ranum.

"Maaf... Aku tidak sengaja melihat isi foto di dalam liontinmu."

Ranum hanya tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."

Gracia memiringkan kepalanya. "ria di foto itu... tampan sekali."

Suasana mendadak sunyi.

Brams yang sejak tadi berdiri di samping pintu perlahan mengangkat pandangannya.

Tatapan hitamnya beralih kepada liontin kecil yang berada di tangan Ranum.

Sedangkan Gracia melanjutkan kalimatnya dengan nada yang terdengar polos.

"Kenapa..."

"...kau masih menyimpan foto mantan pacarmu di dalam liontin itu?"

Deg.

Jemari Ranum yang memegang liontin langsung membeku.

Sedangkan Brams.

Pria itu tidak mengatakan apa pun.

Namun tatapannya kini tertuju lurus pada liontin di tangan istrinya.

Bersambung...

1
partini
wow
partini
betul ke cucumu Dammmm stupid
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
partini
waduh buta ga yah,,aihhh Kunti bogel beraksi
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu
Meow: buta sementara kak, biar Brams di buat repot dulu sebelum di tinggal Ranum 🤭
total 1 replies
한스 |HANSEN|Author DarkRomance
bantu kakak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!