NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyergapan Vila

Jumat malam, pukul 23:12 waktu Korea Selatan.

Vila megah Kelinci Perak di bukit kecil Busan tiba-tiba berubah jadi medan perang tanpa peringatan. Lampu sorot polisi menyilaukan dari segala arah, sirene meraung memecah malam, puluhan mobil patroli dan van SWAT kepung vila dari bawah bukit. Cahaya merah-biru berkedip di dinding kaca, membuat vila yang biasanya elegan terlihat seperti benteng yang dikepung.

Shadiq berada di ruang bawah tanah vila saat alarm pertama berbunyi. Ia sedang memeriksa peti senjata curian bersama dua rekan tim—jari menyentuh laras AK emas-perak, memeriksa magazen, ketika lampu merah berkedip di plafon. Speaker darurat berteriak dalam bahasa Korea dan Inggris:

“이것은 부산 경찰입니다! 손을 머리 위로 올리고 나오십시오! 이 빌라는 포위되었습니다!”

“This is Busan Police! Exit with hands above your head! The villa is surrounded!”

Shadiq langsung tahu: ini akibat sabotase kontainer kuning Farhank malam itu. Farhank pasti lapor ke pihak berwenang Korea setelah log kapal menunjukkan kontainer “hilang” di Busan. Polisi maritim dan Interpol bergerak cepat—pencurian kontainer internasional, nilai ratusan miliar, melibatkan senjata ilegal. Mereka sudah tahu lokasi vila ini.

Pria kelinci perak berlari masuk ruang bawah tanah, wajah tegang, napas tersengal.

“Polisi! Mereka tahu gudang senjata! Kita harus kabur sekarang!”

Tembakan peringatan dari luar: **BANG! BANG! BANG!** Kaca lantai atas pecah, serpihan berhamburan seperti hujan tajam. Tim keamanan Kelinci Perak langsung ambil senjata—pistol laras pendek emas, shotgun, dan AK cadangan dari peti. Tapi jumlah polisi di luar puluhan: SWAT lengkap dengan perisai anti peluru, senapan otomatis, granat asap, dan helikopter di atas vila, lampu pencari menyilaukan.

Shadiq ambil satu AK dari peti, magazen klik masuk keras. Ia cek safety, tarik bolt sekali—**clack**—peluru masuk chamber.

“Gue ikut lo!”

Pria kelinci perak (kalung perak berbentuk kelinci kecil di lehernya berkilau samar di bawah lampu merah darurat) angguk cepat.

“Lewat terowongan bawah! Cepat! Jangan bawa peti! Senjata cukup satu!”

Mereka lari ke sudut ruang bawah tanah. Pria kelinci perak tekan tombol tersembunyi di dinding—panel beton bergeser, pintu besi rahasia terbuka dengan bunyi **hydraulik pelan**. Terowongan sempit menurun ke bawah bukit. Mereka masuk, pintu tertutup kembali otomatis. Di belakang, suara tembakan semakin kencang: **DAK-DAK-DAK-DAK!** Polisi SWAT masuk lantai atas, suara sepatu berat berderap, teriakan “Clear! Clear!” dalam bahasa Korea.

Terowongan gelap total, hanya diterangi senter kecil di tangan pria kelinci perak. Lantai beton licin, langit-langit rendah—Shadiq harus membungkuk sambil lari. Napas mereka tersengal, sepatu bergema di terowongan sempit. Shadiq dengar suara ledakan kecil dari atas—mungkin granat asap atau pintu utama vila dijebol paksa. Bau asap samar mulai menyusup.

Pria kelinci perak bicara sambil lari, suara terengah.

“Ini pasti Farhank. Dia lapor ke polisi Korea setelah kontainer hilang. Dia tahu kita ambil senjata. Dia ingin kita mati di sini.”

Shadiq jawab sambil lari, napas tersengal.

“Gue tahu. Gue yang bantu sabotase. Gue yang kirim foto ke dia.”

Pria kelinci perak tatap Shadiq sekilas, tapi tidak marah—malah ada senyum tipis di wajahnya.

“Lo selamatkan kita malam itu. Lo pantau, lo kasih info. Lo bagian dari kami. Jangan ragu sekarang.”

Terowongan berakhir di pintu besi kecil di pinggir hutan kecil di sisi bukit. Pria kelinci perak tekan tombol lain—pintu terbuka ke kegelapan hutan. Mereka keluar, tutup pintu kembali. Di kejauhan, sirene polisi masih meraung, lampu sorot menyapu vila. Helikopter polisi berputar di atas, lampu pencari menyilaukan, suara rotor seperti badai kecil.

Mereka lari ke perkotaan pusat Busan—lewat jalan kecil menurun bukit, melewati semak dan pohon pinus, menghindari jalan utama yang pasti dijaga polisi. Shadiq dan pria kelinci perak berpisah dari tim lain—mereka berdua saja sekarang, berlari di antara gedung-gedung tua di pusat kota, melewati gang sempit, lompat pagar rendah, dan bersembunyi di balik tong sampah ketika mobil patroli lewat.

Pukul 23:55.

Mereka berhenti di gang sempit dekat pasar malam Gwangalli yang sudah tutup. Napas tersengal, keringat bercampur embun malam. Pria kelinci perak bersandar di tembok bata tua, kalung perak berbentuk kelinci di lehernya berkilau samar di bawah lampu jalan kuning.

“Kita selamat. Tapi vila hilang. Senjata aman di gudang kedua. Kita harus sembunyi dulu.”

Shadiq napas berat, tatap ke arah pelabuhan jauh. Lampu vila masih menyala, tapi sekarang dikelilingi puluhan mobil polisi, barikade, dan tentara SWAT. Helikopter masih berputar, suara rotor terdengar samar.

“Farhank menang. Dia buat kita dikepung polisi.”

Pria kelinci perak geleng pelan, suara dingin.

“Bukan menang. Dia cuma bikin kita lari. Kita punya senjata. Kita punya jaringan. Kita akan balas.”

Shadiq tatap pria itu, dada naik turun.

“Gue capek. Gue rindu keluarga gue. Gue nggak mau mati di sini.”

Pria kelinci perak tatap Shadiq lama, kalung kelinci perak di lehernya bergoyang pelan.

“Lo sudah dalam. Tapi lo bisa pilih. Tetap bersama kami, atau pulang. Tapi kalau pulang sekarang, Farhank akan bunuh lo dan keluarga lo.”

Shadiq diam. Ia tatap langit Busan yang gelap, tanpa bintang.

*Gue selamat malam ini. Tapi gue masih terjebak. Gue masih di Busan. Gue masih bagian dari ini.*

Mereka berdua melanjutkan lari ke kegelapan kota—masuk gang yang lebih dalam, melewati pasar malam tutup, bersembunyi di antara kios-kios kosong, menghindari patroli polisi yang semakin banyak.

Penyergapan vila selesai.

Tapi perang baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!