Kisah ini lanjutan dari KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS seasons 1
Banyak adegan kasar dan umpatan di dalam novel ini.
Cerita akan di mulai dengan Cassia, si Antagonis yang mendapatkan kesempatan terlahir kembali, di sini semua rahasia akan di ungkap, intrik, ancaman, musuh dalam selimut dan konflik besar, kisah lebih seru dan menegangkan.
Jangan lupa baca novel KEMBALI-NYA SANG ANTAGONIS season 1 agar makin nyambung ceritanya. Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Cassia menatap Dax sejenak, keheningan menyelimuti keduanya, dalam diam. Dax dan Cassia saling tatap, mencari harapan baru di mata masing-masing.
"Cas, bagaimana?" tanya Dax lagi, seolah apa yang ia tanyakan membutuhkan jawaban tanpa mau menunggu.
Cassia masih bungkam, kebungkaman dan keterdiaman Cassia membuat Dax khawatir, pria itu terus menatap tanpa mau berpaling, seolah jika ia lengah Cassia mungkin saja akan hilang dari pandangannya.
Cassia menatap Dax, dia seolah memutar waktu, dari pikirannya tentang Dax di masalalu, semua berputar bagaikan kaset yang di setel ulang agar ia ingat semua cerita dari awal hingga akhir.
Waktu di antara mereka seperti benteng, membungkam harapan yang Dax miliki setipis kulit bawang, ia takut lagi-lagi Cassia menolak dan tak memberikan harapan walau sedikit.
Cassia tersenyum tipis, senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapapun, senyum yang hanya ia ulas hangat pada orang yang ia inginkan.
"Dax, kau yakin ingin melamar aku sebagai tunangan? Apa kau tidak akan menyesal?" Cassia mempertanyakan hal yang tak seharusnya ia tanyakan.
Dax menarik napas pelan, dia gusar akan pertanyaan Cassia tadi, semua terasa menyesakkan untuknya kali ini, Cassia meragukan, seolah apa yang ia lakukan sekarang hanya sebuah lelucon tak berguna.
"Cas," panggil Dax lirih.
Sedangkan Cassia hanya bisa senyum, senyuman yang memiliki banyak arti saat melihat wajah lesu Dax, "Aku hanya bercanda, Dax!" ungkap Cassia.
Dax memandang Cassia, senyumnya belum terbit sebab hingga kini Cassia masih terus berputar seolah gadis itu mengulur waktu.
"Jadi? Apa kamu mau?" Dax kembali bertanya.
"Dax, aku mau menerima kamu!" jawaban tak terduga dan begitu Dax harapkan akhirnya terucap.
Dax bangun, matanya menyala menatap tajam Cassia dengan cinta yang tak terhingga. Tanpa kata dan ucapan apapun, Dax menarik Cassia dan keduanya berpelukan erat seolah meresapi setiap momen yang tak ingin cepat berakhir.
Momen hangat, antara Cassia dan Dax terjalin, keduanya menikmati setiap sentuhan yang di berikan satu sama lain.
Setelah jawaban Cassia tadi, Dax seolah tak ingin berpisah, padahal malam sudah semakin larut dan Cassia harus pulang apalagi belum ada makanan yang masuk kedalam perut Cassia sejak pulang dari Waterpark tadi.
"Ayo antar aku pulang!" minta Cassia.
"Sebentar lagi ya?" kata Dax seperti anak kecil.
"Dax, aku harus pulang, kau tahu kan ini sudah pukul delapan malam," tunjuk Cassia pada jam tangannya.
"Cas," Dax menatap Cassia dengan penuh permohonan.
"Sekarang, Dax! Besok kita akan bertemu lagi, karena aku masih cukup lama sebelum kembali ke London nanti," bujuk Cassia, dia menangkup wajah tampan Dax.
Dax akhirnya mengalah, dia mengangguk setuju untuk mengantarkan Cassia kembali ke rumah, sebab gadis cantik itu menolak makan malam di rumah karena orang tuanya dan Kakaknya sudah menunggu untuk makan malam bersama.
...****************...
Tak terasa, mobil mereka berhenti di depan gerbang megah mansion Gray. Gerbang itu perlahan terbuka oleh satpam, seperti gerbang menuju dunia lain yang penuh rahasia dan janji yang belum terucap.
Dax menginjak gas sedikit lebih dalam, melaju masuk ke halaman luas itu. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama, tanpa ragu, Dax langsung membuka pintu mobilnya dan melangkah cepat menuju pintu samping tempat Cassia berada.
Tangannya meraih gagang pintu dengan hati-hati, perlahan ia membukakan untuk Cassia, lalu menyodorkan tangan penuh kelembutan, sebuah jembatan di antara kesunyian yang merayap.
Cassia menatap mata Dax, senyumnya merekah, seperti seberkas harapan yang tumbuh di tengah malam yang pekat. Dengan penuh keyakinan, ia menerima uluran tangan itu dan melangkah keluar, langkahnya lembut tapi berarti.
“Terima kasih, Dax,” ucap Cassia, senyumnya tak hanya manis tapi mengandung kehangatan yang menggetarkan jiwa.
Dax mengusap pucuk kepala Cassia dengan lembut, sentuhannya begitu penuh kasih, seolah ingin menanamkan rasa aman di hati wanita yang dicintainya. “Sama-sama, sayang,” jawabnya, suaranya mengalun penuh kehangatan, membungkus mereka berdua dalam dunia kecil yang hanya milik mereka.
Kehangatan seketika pecah saat suara dehem Vladimir memasuki indera pendengaran mereka.
"Ehemmm... Ehemmm..." Suaranya penuh tajam, menusuk telinga.
Vladimir menatap tajam pada adik dan sahabatnya, seolah menyelidik semua gerak-gerik mereka. "Kenapa jam segini baru pulang? Pasti ulah kamu kan, Dax?" Tanyanya dengan nada penuh curiga.
Cassia melangkah mendekat, matanya berputar malas seolah menolak drama yang tengah dibangun kakaknya. "Ih, Kak, itu urusan kami baru saja selesai, jadi baru bisa pulang sekarang," jawabnya singkat.
Namun Vladimir tak percaya begitu saja. Tatapannya semakin menusuk, menuntut jawaban yang jujur dari keduanya. Mereka hanya bisa mengangguk.
"Baiklah, masuk ke dalam. Papi dan Mami sudah menunggu di meja makan," Vladimir memerintah dengan suara yang setengah lega, setengah penuh peringatan.
Cassia menoleh ke arah Dax, "Aku masuk dulu, ya. Kamu mau mampir makan malam bareng?"
Dax menggeleng, suaranya penuh tanggung jawab sekaligus keengganan. "Lain kali saja. Daddy dan Mommy juga sudah nunggu aku di rumah."
Malam itu membekas dalam ingatan Dax dan Cassia bukan sekadar waktu, tapi detik-detik penuh gairah di mana mereka membuka semua topeng hati.
Di bawah remang rembulan, kata-kata tak lagi tersimpan, meluncur deras dari bibir mereka, mengikat janji dan harapan yang mengguncang jiwa.
Sebuah awal baru yang menyala, menuntut keberanian untuk memperjuangkan rasa yang selama ini terpendam dalam diam.
...****************...
Di ruang makan keluarga Gray, Cassia melangkah masuk dengan langkah berat, bibirnya tergigit menahan rasa bersalah yang menggerogoti jiwa.
"Maaf... sudah membuat kalian menunggu lama," suaranya lirih, penuh penyesalan yang nyaris pecah menjadi air mata.
Margaretha mengusap lembut tangan Cassia, senyumannya hangat seperti pelukan yang menenangkan badai. "Tak apa, sayang. Kami juga tak terlalu lapar," katanya dengan suara yang meneduhkan.
Thomas menambahkan, "Iya, Nak. Kami juga baru saja duduk."
Namun, di sudut ruang, Vladimir hanya memutar bola matanya dengan malas, sebuah ekspresi yang berbicara lebih dari kata-kata ketidaksabaran yang tersimpan dalam diam.
Padahal, sebenarnya mereka sudah duduk di meja makan cukup lama, menanti yang tak kunjung tiba.
Sejenak suasana itu terasa sunyi, lalu perlahan makan malam pun dimulai, menyusul drama kecil yang baru saja berlalu.
...****************...
Sementara itu, di rumah keluarga Yazeed, meja makan juga penuh dengan kehangatan. Setelah Dax mengantar Cassia pulang, mereka pun berkumpul, menyulam kebersamaan di antara hiruk-pikuk kehidupan yang tak pernah berhenti.
"Bagaimana pembicaraanmu dengan Cassia, Nak?" tanya Crystal dengan mata yang berbinar, duduk di ruang keluarga setelah santapan malam yang hangat itu.
Dax menatap ibunya, senyum tulus mengembang di bibirnya sosok yang jarang terlihat oleh orang luar, tapi begitu menghangatkan hati keluarganya.
selalu d berikan kesehatan 😃