NovelToon NovelToon
Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Status: tamat
Genre:Kaya Raya / Beda Usia / Selingkuh / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Rizal kini sudah berada di depan meja kerjanya. Ia menoleh ke arah Hayu yang sudah duduk nyaman di sofa sudut ruangan, tempat yang strategis dan tidak mengganggu pekerjaannya.

“Sayang, aku harus ke lantai delapan untuk memimpin rapat. Ini rapat direksi dan komisaris, tidak bisa lama-lama,” kata Rizal, merapikan dasinya.

Rizal meminta istrinya untuk menunggunya di ruang kerja itu. Ruangan tersebut dilengkapi jendela besar dengan pemandangan kota dan satu set sofa yang nyaman, tempat yang aman bagi Hayu untuk beristirahat.

Ia menuju ke lantai delapan untuk meeting penting itu.

Sebelum benar-benar pergi, Rizal kembali menghampiri Hayu. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sangat protektif.

“Jangan ke mana-mana,” pinta Rizal. “Jika kamu butuh sesuatu, tekan saja tombol interkom yang tersambung ke Riska. Dia akan mengurus semuanya. Aku akan segera kembali setelah rapat selesai.”

Meskipun merasa diperlakukan seperti anak kecil, Hayu tahu ini adalah bentuk cinta dan trauma Rizal terhadap insiden sebelumnya.

Hayu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menenangkan. “Siap, Mas. Aku janji, aku akan diam di sini. Sukses rapatnya ya.”

Rizal menghela napas lega, mencium kening Hayu sekali lagi, lalu bergegas keluar ruangan menuju lift, meninggalkan Hayu sendirian di ruang kerjanya yang mewah dan sunyi.

Riska, yang tadi dipanggil Rizal untuk menerima perintah larangan parfum, kini masuk ke ruangan Hayu.

“Bu Hayu, saya ke atas sebentar menemani Pak Rizal,” ujar Riska dengan sopan. “Saya harus menyiapkan beberapa dokumen untuk rapat direksi. Saya janji tidak akan lama. Jika ada apa-apa, Ibu panggil saya saja.”

Hayu menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Iya, Riska. Terima kasih.”

Riska pun menutup pintu ruangan itu dengan rapat, meninggalkan Hayu sendirian di tengah kemewahan ruang kerja Rizal.

Hayu bersandar di sofa, menikmati ketenangan sambil melihat pemandangan kota.

Di saat sedang menunggu, pintu ruangan kembali terbuka. Hayu menduga itu Riska, atau mungkin Rizal yang kembali karena mual.

Namun, Hayu membelalakkan matanya saat melihat Tiyas ada di sini.

Tiyas berdiri di ambang pintu, tampak kusut namun matanya memancarkan amarah dan kebencian yang mendalam. Wajahnya yang tegang menunjukkan dia sudah merencanakan sesuatu.

“Aku tahu kau ada di sini,” desis Tiyas, berjalan perlahan mendekati Hayu. “Rizal sudah membawamu kembali ke tempat ini.”

Hayu mencoba bangkit, rasa takut tiba-tiba mencengkeramnya.

“Pergi, Tiyas! Jangan buat masalah di sini!” seru Hayu, suaranya bergetar.

Tiyas mengabaikannya dan terus mendekat, tatapannya tajam menusuk.

“Apakah kamu bahagia dengan Rizal?” tanya Tiyas, suaranya dipenuhi iri hati.

“Iya, aku bahagia, Tiyas,” jawab Hayu tegas, meskipun ia gemetar. “Sangat bahagia. Kami akan punya anak. Dan kau tidak punya tempat lagi di sini.”

Mendengar kata-kata 'bahagia' dan 'anak', emosi Tiyas mendorong tubuh Hayu dengan kekuatan penuh. Tiyas tidak peduli lagi dengan pengamanan atau CCTV, yang ia inginkan hanyalah menghilangkan kebahagiaan Hayu.

Tubuh Hayu terhuyung dan tidak sempat menyeimbangkan diri. Perut Hayu menabrak meja kerja suaminya dengan keras dan suara benturan yang cukup memekakkan.

Hayu menjerit tertahan, rasa sakit yang menusuk menjalar dari perutnya.

Melihat Hayu memegang perutnya dan meringis kesakitan, Tiyas yang ketakutan langsung berlari pergi tanpa menoleh ke belakang. Ia panik menyadari perbuatannya bisa berakibat fatal, apalagi setelah Hayu menyebut soal kehamilan.

Hayu tergeletak di lantai, air mata mengalir dari matanya. Ia merintih kesakitan, tangannya memegangi perutnya yang kini terasa nyeri luar biasa.

Ia memanggil nama suaminya dengan suara tercekat dan lemah.

“M-mas...”

Beberapa saat setelah Hayu ambruk, suara benturan keras dari dalam ruang kerja Rizal terdengar samar-samar di lorong.

Seorang karyawan lain seorang karyawan yang baru saja mengantar dokumen ke lantai eksekutif merasa curiga dan mencoba membuka pintu.

Karyawan itu membuka pintu dan terkejut melihat Hayu pingsan di lantai, meringkuk memegangi perutnya di samping meja kerja.

Wajah Hayu sangat pucat dan ada rintihan lirih yang keluar dari bibirnya.

Panik, karyawan itu segera berlari ke meja depan dan menghidupkan interkom yang tersambung di ruang rapat direksi di lantai delapan.

Suara interkom yang tiba-tiba berdering di tengah rapat membuat semua orang terkejut, termasuk Rizal.

“Tuan Rizal, istri Anda pingsan dan...” Suara karyawan itu terdengar panik dan terputus-putus.

Rizal yang mendengar nama Hayu dan kata 'pingsan' seketika memucat.

Semua perhatiannya teralihkan dari rapat. Ia tidak menunggu karyawan itu menyelesaikan kalimatnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi kepada para direksi, Rizal langsung berlari menuju ke ruangan kerjanya

Wajahnya diselimuti ketakutan yang mencekik, mengabaikan sopan santun rapat dan pandangan terkejut para petinggi perusahaan.

Yang ada di pikirannya hanyalah Hayu dan calon anak mereka.

Rizal berlari secepat kilat. Ia menekan tombol lift berulang kali, lalu lari menuruni tangga darurat dari lantai delapan karena tidak sabar menunggu lift.

Sesampainya di ruang kerjanya, pemandangan yang menyambutnya adalah Hayu yang tergeletak tak berdaya di lantai, dipeluk dan ditenangkan oleh karyawan yang tadi memanggilnya.

“Sayang! Hayu!” seru Rizal panik. Ia segera berlutut di samping istrinya.

Rizal menepuk-nepuk pipi istrinya perlahan, mencoba membangunkannya. Hayu hanya merespons dengan rintihan lemah.

Saat Rizal mengangkat tubuh Hayu, matanya terbelalak horor.

Ia melihat darah di lantai, tepat di bawah pinggul Hayu.

Kepanikan Rizal memuncak. Ia tahu ini adalah situasi gawat darurat.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, dan segera ia membawanya ke rumah sakit.

Rizal membopong Hayu keluar dari ruangan itu, berteriak meminta bantuan keamanan untuk menyiapkan mobil secepatnya.

Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti neraka bagi Rizal. Begitu tiba, Hayu langsung dilarikan ke ruang UGD.

Sesampainya di rumah sakit, Rizal mondar-mandir di depan ruang UGD dengan gelisah.

Wajahnya pucat, jasnya kusut, dan ia terlihat sangat kacau. Setiap detik yang berlalu terasa seperti jam.

Saat itulah, Riska datang dengan tergesa-gesa. Riska baru saja kembali dari kepolisian setelah melihat rekaman CCTV.

“Pak Rizal!” panggil Riska. “Saya sudah melihat rekaman CCTV di lantai eksekutif.”

Rizal menghentikan langkahnya, menatap Riska dengan mata memerah.

“Siapa yang melakukannya, Riska? Siapa yang berani menyentuh istriku?”

“Maaf, Pak. Itu Tiyas masuk lewat pintu servis dan berhasil menyelinap ke lantai eksekutif saat semua orang sibuk di meeting.”

Rizal mengepalkan tinjunya, amarahnya membuncah tak terkendali.

“Tiyas! Aku akan membunuhnya!”

“Tenang, Pak, tenang!” Riska menahan bahu Rizal.

“Ada kabar baik. Berkat rekaman CCTV yang sangat jelas dan segera saya laporkan ke polisi saat di jalan, dan karena Tiyas tidak lari jauh...”

Riska menatap mata Rizal yang penuh harapan.

“Riska mengatakan kalau polisi berhasil menangkap Tiyas dan sekarang sudah ada di penjara. Dia ditangkap karena percobaan penyerangan yang menyebabkan cedera serius dan membahayakan janin. Pengacara sudah dalam perjalanan untuk memastikan dia tidak akan keluar lagi, Pak.”

Rizal sedikit lega mendengar kabar penangkapan itu.

Setidaknya, sumber ancaman terbesar mereka kini sudah diamankan. Namun, fokusnya kembali ke pintu UGD.

“Itu bagus,” desis Rizal, suaranya tercekat.

“Tapi sekarang, aku hanya ingin tahu satu hal: bagaimana keadaan istriku, dan bagaimana keadaan anakku?”

Waktu terasa berhenti bagi Rizal saat ia menunggu di depan UGD.

Jantungnya berdebar kencang, memanjatkan doa-doa tanpa henti.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dan menuju ke Rizal.

Wajah dokter itu terlihat tenang, tetapi Rizal tidak berani menebak.

Rizal segera berdiri tegak, matanya penuh harap.

“Bagaimana keadaan istri dan anakku?” tanya Rizal, suaranya terdengar serak.

Dokter tersenyum tipis, memberikan kelegaan instan yang luar biasa pada Rizal.

“Semuanya baik-baik saja, Pak,” jawab dokter.

“Anda datang tepat waktu. Benturan itu cukup keras, menyebabkan sedikit pendarahan, tapi syukurlah janin masih kuat dan sementara pasien harus di tempat tidur sampai pulih total.”

Rizal menghela napas lega, rasa syukur membanjiri dirinya.

“Kami sudah memberikan obat penguat dan penenang. Ibu Hayu harus istirahat penuh. Pasien diijinkan turun dari tempat tidur saat ke kamar mandi saja,” tambah dokter itu, memberikan instruksi tegas. “Setelah masa kritis ini lewat, baru kita lihat perkembangannya.”

Rizal menganggukkan kepalanya dengan patuh. Ia merasakan beban berat terangkat dari pundaknya, meskipun rasa marah dan trauma masih tersisa.

Tak lama kemudian, perawat membawa istrinya ke ruang perawatan inap. Rizal segera mengikuti di belakang, tak ingin sedetik pun jauh dari Hayu.

Rizal melihat istrinya yang masih belum sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, dan dia tampak sangat lemah.

Rizal duduk di samping ranjang Hayu. Ia menggenggam tangan istrinya yang dingin, menciumnya, dan berbisik pelan.

“Maafkan aku, Sayang. Aku janji, ini yang terakhir. Aku tidak akan pernah membiarkan orang jahat menyentuhmu lagi. Aku akan jaga kamu dan anak kita dengan nyawaku.”

1
Yul Kin
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!