NovelToon NovelToon
Rempah Sang Waktu

Rempah Sang Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author:

Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.

Season 3 Warisan Darah Majapahit : 01. Teman yang Tak Terlihat

Pukul 21.00 WIB. Restoran “Dapur Sang Waktu”, Kota Tua.

Suara denting sendok garpu dan tawa pelanggan perlahan mereda. Restoran yang menempati bangunan kolonial itu sedang bersiap tutup.

Arya Baskara—kini lebih matang dengan sedikit uban di pelipisnya—sedang mengelap meja bar. Ia mengenakan apron denim di atas kemeja hitamnya. Tidak ada lagi setelan jas kaku. Ia terlihat lebih santai, namun aura ketegasannya tidak pernah hilang.

“Bumi mana, Na?” Tanya Arya pada Kirana yang sedang menghitung omzet di kasir.

Kirana mendongak, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Cincin merah delima dan cincin kawin berlian berkilau di jarinya.

“Tadi main di pojok baca sama Dimas. Coba cek, jangan sampai dia ketiduran di sana lagi,” jawab Kirana sambil tersenyum.

Arya berjalan menuju sudut ruang yang disulap menjadi perpustakaan mini.

Di sana, Dimas (yang kini sudah jadi Profesor Sejarah muda) sedang tertidur pulas di bean bag dengan buku menutupi wajahnya. Sementara itu, seorang bocah laki-laki berusia 4 tahun sedang duduk bersila di lantai, sibuk mencoret-coret kertas dengan krayon merah.

Bumi Baskara. Putra mereka. Rambutnya hitam legam seperti Arya, tapi matanya bulat berbinar seperti Kirana.

“Jagoan Ayah,” panggil Arya pelan, berjongkok di samping anaknya. “Lagi gambar apa? Kok om Dimas gak diajak main?”

Bumi tidak menoleh. Tangannya terus menggoreskan krayon merah itu dengan gerakan kaku dan cepat. Sreeeet…Sreeeet…

“Om Dimas capek, Yah. Habis cerita soal perang,” jawab Bumi tanpa mengalihkan pandangan.

Arya mengintip gambar Bumi. Keningnya berkerut.

Biasanya anak umur 4 tahun menggambar gunung, matahari, atau mobil. Tapi gambar Bumi…

Kertas itu penuh dengan coretan merah yang ruwet. Namun, jika diperhatikan, bentuknya menyerupai tumpukan orang-orang tanpa kepala. Dan di tengahnya, ada gambar sebuah keris berlekuk 13 yang digambar sangat detail untuk ukuran anak balita.

“Bumi…” suara Arya merendah. “Ini gambar apa, Nak?”

Bumi akhirnya berhenti. Ia menoleh, menatap ayahnya dengan tatapan polos namun kosong.

“Temen-temennya Om yang di pojok sana, Yah,” Bumi menunjuk ke sudut ruangan yang gelap di dekat gudang belakang. “Kasihan. Lehernya sakit semua.”

Bulu kuduk Arya meremang. Ia menoleh ke sudut yang ditunjuk Bumi. Kosong. Hanya ada bayangan lemari tua.

“Nggak ada siapa-siapa disana, Bumi,” kata Arya tegas, mencoba menepis rasa tidak enak di hatinya. “Ayo pulang. Bunda sudah nunggu.”

Arya menggendong Bumi. Saat ia mengangkat tubuh kecil itu, Arya merasakan hawa dingin yang menusuk tulang menjalar dari kulit anaknya. Dingin seperti es.

Dan di saku celana Arya, kunci brankas tempat ia menyimpan Keris Kyai Sengkelat…terasa panas.

Pukul 02.00 WIB Dini Hari. Rumah Arya dan Kirana.

Rumah mereka adalah sebuah rumah tropis modern yang asri di Pinggiran Jakarta Selatan. Malam itu hujan gerimis turun, membuat suasana semakin sunyi.

Arya terbangun karena haus. Ia melihat Kirana tertidur pulas di sampingnya. Ia turun dari ranjang, berjalan ke dapur untuk mengambil air minum.

Saat melewati kamar Bumi, langkah Arya terhenti.

Pintu kamar anaknya sedikit terbuka. Dari celah pintu, cahaya lampu tidur yang remang-remang menerobos keluar.

Terdengar suara gumaman.

Arya mendekatkan telinganya ke pintu.

“Inggih…mboten pareng…nggih, Eyang…”

Jantung Arya berdegup kencang. Itu Bahasa Jawa Krama Inggil (Jawa Halus). Bumi lahir dan besar di Jakarta. Arya dan Kirana jarang menggunakan Bahasa Jawa di rumah, apalagi tingkatan halus seperti itu. Siapa yang mengajarainya?

Dengan perlahan, Arya mendorong pintu kamar.

Bumi tidak sedang tidur. Bocah itu berdiri di tengah kamar, menghadap ke arah jendela yang gorden nya terbuka. Ia berdiri tegak, kedua tangannya terkatup di depan dada seperti sedang memberi hormat (sembah) pada seorang Raja.

Di luar jendela, hanya ada kegelapan malam dan ranting pohon kamboja yang bergoyang tertiup angin.

“Bumi?” Panggil Arya pelan.

Bumi tidak bergeming. Ia masih menunduk hormat pada jendela kosong itu.

Arya melangkah masuk, menyalakan lampu utama kamar. KLIK.

Cahaya terang membanjiri ruangan.

Bumi perlahan menurunkan tangannya. Ia berbalik badan menghadap Ayahnya. Wajah bocah itu datar, tanpa ekspresi kantuk sekalipun.

“Kamu lagi ngapain, Nak? Kok belum tidur?” Tanya Arya, berusaha menyembunyikan getar ketakutan dalam suaranya.

“Ada tamu, Yah,” jawab Bumi santai, seolah hal itu wajar. “Eyang putri datang. Dia cantik banget. Pake baju ijo, baunya wangi bunga melati.”

Arya membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir.

Baju hijau. Melati.

Deskripsi itu… mengingatkan pada Dyah Ayu (Dyandra). Tapi Dyandra masih di penjara.

“Eyang putri bilang apa?” Tanya Arya, mendekat dan berlutut di depan anaknya, memegang bahu kecil itu.

Bumi tersenyum lebar. Senyum yang sedikit terlalu lebar untuk wajah kecilnya.

“Dia bilang…dia mau minta darah Bumi sedikit. Buat obat awet muda.”

DEG.

Arya langsung menarik Bumi ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat seolah melindunginya dari serangan panik.

“Nggak boleh!” Bentak Arya pada ruang kosong itu. Matanya nyalang menatap sekeliling kamar. “Pergi! Jangan ganggu anakku! Urusanmu sama aku, bukan sama dia!”

Tiba-tiba, lampu kamar berkedip-kedip. Bzzzt…bzztt…

Boneka beruang di atas lemari Bumi terjatuh sendiri. BRUK.

Lalu hening.

Bumi melepaskan pelukan ayahnya. Ia menatap Arya dengan bingung, seolah baru sadar dari trans. Ia mengucek matanya.

“Ayah? Kok lampunya nyala? Bumi ngantuk…” rengek Bumi dengan suara anak kecil yang normal, manja dan serak bangun tidur. Sisi ‘aneh’ tadi hilang seketika.

Arya menatap putranya yang kini kembali normal. Ia menggendong Bumi kembali ke kasur, menyelimutinya.

“Tidur lagi ya, Nak. Ayah jagain disini,” bisik Arya.

Bumi memejamkan mata dan langsung tertidur pulas dalam hitungan detik.

Arya duduk di kursi kecil di samping ranjang. Ia tidak akan tidur lagi malam ini. Ia meraba pinggangnya, merasakan hampa karena tidak ada senjata.

Malam itu, Arya menyadari satu hal mengerikan:

Reinkarnasi mereka tidak hanya membawa cinta, tapi juga mewariskan luka yang menganga. Musuh-musuh lama mulai mencium bau darah segar dari keturunan Majapahit.

Arya mengambil ponselnya, mengirim pesan singkat pada Dimas di jam 3 pagi:

“Datang ke rumah besok pagi. Bawa semua buku referensi soal ‘Wadah Sukma’. Sesuatu mengincar anakku.”

1
Roro
yeee ketemu lagi arya sama kirana
Roro
keren sumpah
NP
Makasih banyak ya kak 🥰🔥
Roro
wahhh ternyata nanti berjodoh di masa depan 😍😍😍
NP: 🤣🤣 tadinya mau stay di masa lampau kirana nya galau 🤭
total 1 replies
Gedang Raja
tambah semangat lagi ya Thor hehehe semangat semangat semangat
Roro
akan kah kirana tinggal
Roro
ayo thor aky tungu update nya
Roro
gimana yah jadinya, apa kita akan bakal pulang atau bertahan di era masa lalu.
NP: Hayoo tebak, kira kira Kirana pilih tinggal di masa lalu atau masa depan?
total 1 replies
Roro
Arya so sweet
Roro
panglima dingin.. mancair yah
NP
Ditunggu ya kak hehehe.. makasih udah suka cerita nya😍
Roro
aku suka banget ceritanya nya Thor, aku tunggu lanjutan nya
Roro
lanjut thor
Roro
kok aku suka yah sama karakter Kirana ini
Roro
ahhhsetuju Kirana
Roro
bagus ceritanya aku suka
Roro
keren thor
Roro
keren jadi semngat aku bacanya, kayak nya tertular semangat nya Kirana deh
NP: Makasih banyak kak Roro😍🙏
total 1 replies
Roro
fix Kirana berada di abad ke 14
Roro
jangan jangan Kirana sampai ke abad 14
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!