Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.
Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.
Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Saat bunyi shower dari kamar mandi berakhir, Nayla menantikan Davin yang keluar dari kamar mandi. Sebetulnya Nayla tidak terlalu berekspetasi macam-macam, hanya ingin memberikan hadiah kecil saja untuk suaminya.
Davin berdiri di ambang pintu kamar mandi, memastikan kakinya sudah tidak basah dan kemudian melangkah mendekat ke Arlena.
Air dari rambut Davin jatuh ke Arlena saat Davin mengambil remote AC yang berada didekat Arlena.
Arlena sendiri tentunya sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang menyenangkan.
"Mas apa ngga terlalu dingin?" Arlena protes saat melihat suhu yang di atur oleh suaminya.
"Aku akan membuatmu kepanasan." jawab Davin yang tanpa aba-aba langsung menyerang Arlena.
Pagi harinya, Davin sudah bangun lebih dulu dan masih berbaring disebelah istrinya, Davin memandang wajah cantik Arlena, Davin sangat bahagia pagi ini, istrinya benar-benar berubah dan sekarang menjadi sangat baik.
Pintu kamar diketuk dari luar, dan suara Xavier yang berteriak dari luar kamar membangunkan Arlena.
Arlena membuka mata dan telinganya masih mendengar Xavier yang teriak di luar kamar.
"Mas, itu Xavier, kok kamu diem aja sih?" kata Lena yang masih enggan membuka mata.
"Yakin mau aku buka pintu?" tanya Davin.
"Iyalah, berisik itu Xavier." jawab Lena.
Davin mendekat ke telinga Arlena dan membisikkan sesuatu, dan bisikkan dari Davin sukses membuat Lena membuka mata lebih lebar.
"Xavier, tunggu yah, mama sebentar lagi keluar, Xavier sarapan dulu." mendengar bisikan Davin langsung membuat rasa kantuk Lena hilang begitu saja.
Arlena yang panik langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Davin, melihat istrinya panik malah merasa lucu, dan kemudian Davin menyusul Arlena masuk ke kamar mandi.
"Kamu ngapain mas?" Arlena panik saat Davin ikut masuk ke kamar mandi. dan ini adalah kebodohan Arlena sendiri yang lupa mengunci pintu kamar mandi.
"Mandi lah, biar hemat waktu, kita mandi berdua saja." jawab Davin santai dan yang terjadi pada kenyatannya, mereka bukan hanya mandi, tapi juga melakukan serangan pagi.
Arlena terus mengomel sambil mengeringkan rambutnya, pasalnya, apa yang dilakukan Davin malah membuat mandi mereka lebih lama.
Tapi Arlena merasa aneh kenapa Xavier tidak memanggilnya lagi.
"Mas, Xavier kok ngga balik lagi yah?" tanya Arlena.
"Sudah berangkat sekolah." jawab Davin santai.
"Hah? Memangnya sekarang jam berapa?" Arlena membuka ponselnya dan kaget melihat jam.
"Aku kesiangan? Semua ini gara-gara kamu mas!" kata Arlena.
"Aku? Kamu yakin?" Davin mendekatkan wajahnya ke Arlena dan membuat Arlena mundur
"Bahkan bukti nyata masih ada." kata Davin sambil menunjuk lingerie merah yang tergeletak di lantai.
Arlena menutup mata, merasa malu dengan apa yang baru saja dia lihat, dan malu dengan kelakuannya sendiri.
"Karena semalam istri mas ini sudah bekerja keras, jadi biarkan hari ini, mas kasih kamu hadiah." kata Davin sambil mencolek dagu Arlena.
"Hadiah?" tanya Arlena.
"Iya, kita jalan-jalan, dan beli yang banyak pakaian seperti itu." Davin kembali menunjuk lingerie merah.
"Mas.." pipi Arlena semakin memerah. Dan dimata Davin. Itu sangat lucu.
Sesuai dengan apa yang dijanjikan Davin. Davin mengajak Arlena untuk ke butik, membeli gaun untuk dipakai acara amal nanti malam, Davin tahu pakaian Arlena sudah banyak, hanya saja Davin ingin membelikan sebuah gaun yang menurut Davin sangat cocok dipakai oleh Arlena.
Setelah sampai di butik, Arlena diminta oleh Davin untuk mencoba sebuah gaun, dan pilihan Davin tidak salah, karena sangat pas dipakai oleh Arlena.
"Sekalian kamu belikan buat bu Farida, kamu tahu kan ukurannya?" mendengar apa yang Davin katakan Arlena langsung semangat dan segera mencari baju yang cocok digunakan nanti malam.
"Sudah mas." kata Arlena dan Davin mengajak Arlena keluar dari butik.
Saat keluar, Davin baru sadar, kalau toko di sebelah menjual pakaian dinas untuk istrinya, bahkan beberapa ada yang di pajang.
"Sayang.." Panggil Davin dan memberi kode ke Arlena.
Arlena yang paham dengan kode suaminya, merasa ngeri dan menyalahkan diri sendiri yang sudah membangunkan singa tidur, "Semua gara-gara kamu si, lagian kenapa semalan kepikiran seperti itu?" Nayla merutuki dirinya sendiri.
Karena tidak mungkin menolak keinginan suaminya, akhirnya Arlena membeli tiga pakaian haram yang diinginkan suaminya, meskipun Arlena malu, tapi mau bagaimana lagi, semuanya karena ulahnya sendiri.
Nayla sungguh menyesal, tetapi berbeda dengan Davin yang merasa begitu puas.
--
Arlena melangkah masuk ke ballroom dengan anggun. Gaun yang dikenakannya jatuh sempurna di tubuhnya, warnanya serasi dengan setelan jas Davin yang menggenggam tangan Arlena dengan protektif.
Arlena dan Davin sangat terlihat sebagai pasangan ideal, harmonis, mapan, dan saling mencintai.
Di belakang mereka, Surya dan Ayu berjalan berdampingan, Ayu tidak henti-hentinya tersenyum bangga melihat menantunya malam ini. Kanaya menyusul dengan ekspresi datar, matanya tetap waspada mengamati setiap gerak Arlena, seolah mencari celah kesalahan sekecil apa pun.
Sementara itu, Farida tampak canggung. Gaun sederhana namun elegan yang dipilihkan Arlena membungkus tubuhnya dengan pantas. Riasan lembut di wajahnya membuat Farida terlihat lebih muda, lebih segar, lebih hidup. Farida beberapa kali menarik napas gugup, jarinya meremas kecil tas tangan yang baru pertama kali ia bawa ke acara semewah ini.
“Ibu cantik,” bisik Arlena sambil tersenyum menenangkan.
Farida menatap Arlena dengan mata berkaca-kaca. “Ibu seperti orang lain malam ini.”kata Farida
"Tidak, Bu." batin Nayla. "Ibu hanya kembali menjadi diri ibu yang dulu sebelum ditinggalkan."
Mereka duduk di meja yang telah disiapkan. Dari posisinya, Arlena mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, berpura-pura menikmati suasana, padahal matanya mencari satu sosok tertentu.
Dan tak lama kemudian, Arlena menemukannya.
Rama.
Pria itu berdiri tidak jauh dari panggung utama, mengenakan jas mahal, wajahnya penuh senyum percaya diri. Di sisinya berdiri Maria Sari, anggun dengan perhiasan mencolok, dan seorang gadis berusia dua puluhan yang langsung Arlena kenali sebagai anak tiri Rama.
Dada Nayla terasa nyeri.
Begitu mudahnya Rama menjalani hidup baru, seolah masa lalu tidak pernah ada. Seolah Farida dan Nayla hanyalah cerita yang layak dikubur bersama kecelakaan palsu itu.
Arlena meneguk minumannya perlahan, otaknya bekerja cepat.
"Bagaimana caranya? Supaya tidak menimbulkan kecurigaan?" Nayla mencari cara.
Jika Nayla terlalu terang-terangan, Rama akan waspada. Jika terlalu memaksa, Maria Sari pasti curiga. Nayla tidak ingin konfrontasi malam ini, atau belum. Ia hanya ingin melihat.
Melihat wajah Rama saat masa lalu yang ia kubur rapi berdiri tepat di hadapannya.
Pandangan Arlena jatuh pada meja donasi dan buku tamu yang terletak di dekat lorong samping, area yang cukup sepi, namun dilewati banyak orang. Sebuah ide mulai terbentuk.
Ia menoleh ke Davin. “Mas, aku mau ke meja donasi sebentar. Mengantar Bu Farida sekalian.”
Davin mengangguk tanpa curiga. “Aku temani?”
“Tidak usah,” jawab Arlena lembut. “Mas ngobrol saja dengan Ayah. Aku tidak lama.”
Kanaya melirik tajam, tapi Ayu lebih dulu berkata, “Biarkan mereka. Ibu juga mau lihat-lihat.”
Arlena berdiri, membantu Farida bangkit. Langkah mereka pelan, alami, tidak tergesa, tidak mencurigakan.
Di kejauhan, Rama bergerak ke arah yang sama, dipanggil oleh panitia untuk urusan donasi perusahaan.
Nayla tersenyum tipis.
"Bagus." batin Nayla. Kalau takdir belum cukup kejam, malam ini aku akan membantunya sedikit.
Jarak antara Farida dan Rama semakin dekat.
Dan Nayla tahu, beberapa langkah lagi, kebohongan yang dibangun bertahun-tahun itu akan mulai retak.