NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Triliuner

Bayangan Sang Triliuner

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: EPI

Fandi Dirgantara dikenal sebagai pewaris muda triliunan rupiah — CEO muda yang selalu tampil tenang dan elegan di hadapan dunia bisnis. Namun, di balik senyum dinginnya, tersimpan amarah masa lalu yang tak pernah padam. Ketika malam tiba, Fandi menjelma menjadi sosok misterius yang diburu dunia bawah tanah: “Specter”, pemburu mafia yang menebar ketakutan di setiap langkahnya. Ia tidak sendiri — dua sahabatnya, Kei, seorang ahli teknologi yang santai tapi tajam, dan Alfin, mantan anggota pasukan khusus yang dingin dan loyal, selalu berada di sisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EPI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amukan fandi

Ponsel Fandi berdering.

Ia menatap layar sekilas sebelum mengangkatnya.

“Halo, Ayah.”

“Kamu di mana, Fandi?” suara Atha Dirgantara terdengar dingin, penuh tekanan.

“Aku di suatu tempat, Ayah,” jawab Fandi tenang. “Sedang mengawasi seseorang. Ada apa?”

“Lihat berita. Sekarang,” perintah Atha tegas, tanpa basa-basi.

Fandi mengernyit.

“Baik, Ayah.”

Suara di seberang terdiam sejenak, lalu kembali terdengar—lebih rendah, lebih tajam.

“Kalau berita itu benar… aku tak peduli caranya. Proses lewat hukum—atau bunuh saja orangnya.”

“Baik, Ayah,” jawab Fandi datar.

Tut—

Sambungan terputus sepihak.

Kei langsung menoleh.

“Ada apa?”

“Entahlah,” jawab Fandi singkat. “Ayah suruh lihat berita.”

Mereka bertiga serempak membuka ponsel masing-masing.

Dan di sana—

BREAKING NEWS

Fandi Dirgantara, pewaris tunggal Dirgantara Group, diduga memiliki wanita simpanan yang tinggal bersamanya. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh tunangannya sendiri, Sila. Wanita tersebut diketahui bernama Epi.

Terpampang jelas foto Fandi dan Sila berdampingan.

Di bawahnya—komentar-komentar brutal membanjiri layar.

Pelacur!

Kasihan Sila!

Wanita murahan!

Perusak rumah tangga!

Kei mengepalkan tangan.

“Sialan si Sila itu. Harusnya dulu kau bunuh saja.”

“Percuma menyangkal,” ujar Alfin dingin. “Tak ada yang percaya. Apalagi kau kelihatan jelas membela Epi.”

Kei menoleh tajam ke Fandi.

“Fan, sudahlah. Bunuh saja wanita itu. Semakin kau biarkan hidup, semakin banyak ulahnya.”

Fandi tak langsung menjawab.

Tatapannya kosong—terlalu tenang untuk disebut normal.

“Kei,” katanya akhirnya, “kamu bisa tetap di sini.”

Kei mengernyit.

“Maksudmu?”

“Aku jemput nanti.”

Tanpa menunggu jawaban, Fandi menginjak pedal gas.

“Pergilah,” kata Kei cepat. “Aku yang pantau di sini.”

Pintu mobil terbuka. Kei turun.

Mobil langsung melesat meninggalkan tempat itu.

Alfin refleks menahan napas. Tubuhnya terdorong ke jok saat mobil dipacu brutal.

Kei menatap punggung mobil yang menjauh, lalu tersenyum miring.

“Mampus kau, Alfin. Untung aku cuma disuruh mantau. Satu mobil sama Fandi waktu dia marah? Bisa mati aku.”

Ia melirik sekitar.

Sebuah warung kopi kecil tak jauh dari kontrakan.

Kei berjalan ke sana, duduk di sudut yang cukup tersembunyi namun tetap bisa memantau.

“Kopi hitam satu,” pesannya.

Di jalan lain, mobil Fandi melaju seperti peluru.

Hingga—

Sebuah motor melintas dari arah berlawanan.

“Gila! Siapa sih yang bawa mobil kayak dia aja yang punya jalan!” gerutu Rora.

“Iya,” Rami menyipitkan mata. “Tapi mobilnya… kok kayak pernah aku lihat.”

“Ah, banyak kali mobil model gitu,” balas Rora.

Mereka tak tahu—

Mobil itu baru saja meninggalkan neraka kecil.

Sesampainya di kontrakan, mereka masuk.

Epi membuka pintu dari dalam.

Tak lama kemudian, Rami mulai bekerja.

Tangannya bergerak cekatan, menyambung kabel, memasang alat.

Pengaman bertegangan rendah mengelilingi pagar dan tembok.

Beberapa jam berlalu.

“Sudah,” kata Rami akhirnya.

Ia mencuci tangan, lalu mereka bertiga makan bersama. Lahap. Hening.

Tak ada yang tahu—bahaya kini mengintai dari dua arah.

Sementara itu—

Cyyyyiiittt!

Mobil Fandi berhenti mendadak di depan sebuah rumah mewah.

Sila sedang duduk santai di teras.

Fandi keluar dari mobil.

Wajahnya datar. Tak bisa ditebak—apakah ia marah… atau sudah melewati batas marah.

Plaaak!

Tamparan keras menghantam pipi Sila.

Tubuh wanita itu terhuyung.

Fandi mencengkeram dagunya, memaksa wajahnya mendongak.

“Berani sekali kau membuat berita palsu,” ucapnya pelan namun mematikan. “Sialan.”

Tatapan Fandi gelap.

Dingin. Tanpa emosi.

Sila gemetar. Kata-kata tak mampu keluar.

“Sejak kapan,” lanjut Fandi lirih, “kau jadi tunanganku?”

Plaaak!

Tamparan kedua.

Darah mengalir dari sudut bibir Sila.

Ia terdiam. Tak sanggup menangis. Tak sanggup berteriak.

Sriiing…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!