NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Pahlawan Sekolah

Senin pagi, SMA Garuda Cendekia tidak lagi melihat Arya dengan mata yang sama.

Begitu ia turun dari motor ayahnya, bisik-bisik bergerak dari gerbang ke koridor seperti api kecil. Anak kelas sepuluh menunjuknya, lalu pura-pura melihat ponsel saat Arya menoleh. Kakak kelas yang dulu menertawakan soal Kelas Inovasi tiba-tiba memberi jalan. Satpam yang biasanya hanya mengangguk kini berdiri lebih tegak dan berkata, "Pagi, Mas Arya."

Rizky muncul dari belakang tiang, membawa dua kotak susu. "Selamat datang, pahlawan nasional tingkat kantin."

Arya mengambil satu kotak. "Nasionalnya terlalu cepat. Kantinnya juga belum buka."

"Justru itu. Kamu harus mulai dari pasar lokal."

Putri berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya tenang, tetapi matanya memeriksa Arya dari kepala sampai kaki. "Kamu baik-baik saja?"

"Iya."

"Jawabanmu pendek sekali untuk orang yang fotonya ada di daftar target penculik."

Rizky tersedak susu. "Tunggu, fotonya apa? Target apa? Kenapa aku baru tahu bagian yang membuat rambutku ingin pindah sekolah?"

Arya menatap Putri. Putri menatap balik tanpa menyesal. Ia sengaja menyebut itu karena ia tidak mau Arya menyimpan semua bahaya sendirian. Di dunia Arya yang lama, mungkin orang jenius terbiasa bergerak sendirian. Di dunia ini, setidaknya ada dua orang yang akan ribut jika ia mencoba.

"Kamu juga ada di daftar," kata Arya kepada Rizky.

Rizky diam tiga detik. "Aku ingin protes, tapi entah kenapa merasa tersanjung sedikit."

"Jangan tersanjung karena hampir diculik. Itu standar harga diri yang buruk," kata Putri.

Bel masuk menyelamatkan Rizky dari jawaban yang lebih bodoh.

Di aula sekolah, seluruh siswa dikumpulkan. Pak Surya berdiri di panggung bersama Komisaris Sari, Kapten Wira, dan tiga kursi kosong untuk keluarga korban yang belum siap hadir. Media lokal menunggu di belakang, kamera diarahkan ke panggung. Guru-guru tampak gugup. Sebagian masih tidak tahu bagaimana menyusun wajah ketika anak yang pernah mereka nilai mustahil lulus kelas biasa sekarang duduk di barisan depan.

Pak Surya mengetuk mikrofon. Suaranya pecah sekali sebelum stabil. "Anak-anak, kasus yang membuat sekolah kita takut selama beberapa hari terakhir telah menemukan titik terang. Tiga teman kalian ditemukan hidup. Mereka sedang dirawat dan keluarga mereka meminta doa dari kita semua."

Aula meledak oleh napas lega. Ada yang menangis. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang menunduk karena malu pernah menyebarkan rumor buruk.

Pak Surya mengangkat tangan. "Saya juga harus menyampaikan sesuatu yang penting. Proses penyelamatan ini tidak hanya hasil kerja polisi. Ada seorang siswa yang membantu membaca pola, menunjukkan jalur lama sekolah, dan memberi informasi krusial hingga korban ditemukan."

Kamera bergerak.

Arya langsung tahu arah berikutnya dan ingin mundur. Rizky mendorong bahunya dari samping. "Nikmati neraka sosialmu."

"Terima kasih atas dukungannya."

"Sama-sama."

Pak Surya berkata, "Arya Wijaya."

Nama itu terdengar di aula seperti pintu yang dibuka keras. Semua kepala menoleh. Anak yang pernah disebut bodoh oleh sistem lama berdiri pelan. Tepuk tangan pertama datang dari Putri. Kedua dari Rizky. Lalu dari satu kelas. Lalu dari seluruh aula. Suaranya naik sampai dinding bergetar.

Arya berjalan ke panggung. Ia tidak melambai. Ia tidak tersenyum besar. Justru karena ia tidak berusaha terlihat hebat, orang-orang semakin sulit mengabaikan apa yang telah ia lakukan.

Komisaris Sari mengambil mikrofon. "Sebagai polisi, saya harus jujur. Awalnya saya meremehkan laporan Arya. Saya pikir ia hanya siswa pintar yang terlalu percaya diri. Saya salah. Data yang ia berikan membantu kami menyusun operasi penyelamatan. Untuk itu, saya berterima kasih."

Di barisan guru, beberapa wajah memerah. Polisi memuji Arya, lalu seorang pejabat publik mengakui kesalahan di depan satu sekolah. Bagi Arya, itu lebih berharga daripada tepuk tangan. Orang yang bisa mengakui salah punya kemungkinan belajar.

Seorang wartawan mengangkat tangan. "Arya, bagaimana kamu bisa melihat pola yang tidak dilihat orang dewasa?"

Arya memegang mikrofon. Aula menunggu jawaban panjang. Ia memberi jawaban pendek. "Saya membaca data yang sudah ada. Bedanya, saya percaya data lebih dulu daripada asumsi."

Kalimat itu langsung dicatat wartawan. Di belakang, Bu Ratih menunduk. Ia ingat hari ketika ia menyebut Arya tidak cocok di kelasnya. Pak Damar, guru matematika yang dulu kesal karena dikoreksi, kini menatap panggung dengan ekspresi rumit. Dalam beberapa hari, Arya telah melakukan hal yang tidak bisa dilakukan nilai ujian biasa: memaksa mereka menilai ulang diri sendiri.

Setelah acara, lorong berubah menjadi pasar ucapan selamat. Siswa meminta foto. Guru meminta maaf dengan berbagai tingkat kejujuran. Seorang adik kelas memberi Arya permen jeruk sebagai terima kasih untuk Naila. Arya menerima semuanya dengan canggung. Ia jauh lebih nyaman menghadapi peta kasus daripada serbuan terima kasih.

Putri menyelamatkannya dengan menariknya ke perpustakaan. "Kamu terlihat seperti mau kabur lewat jendela."

"Jendelanya terlalu kecil."

"Kamu sudah mengukur?"

"Tentu."

Putri tertawa pelan, lalu wajahnya menjadi serius. "Bayangan. Nama itu nyata?"

Arya menatap rak buku. "Terlalu cepat untuk memastikan. Tapi penculik tidak bekerja hanya karena dendam pribadi. Ada ide di belakangnya. Ide yang membenci orang cerdas sebelum mereka tumbuh."

"Berarti kamu dalam bahaya."

"Saya sudah dalam bahaya sejak lahir di dunia ini. Bedanya sekarang saya tahu sebagian namanya."

Putri ingin membantah, tetapi tidak jadi. Di luar perpustakaan, siswa masih meneriakkan nama Arya. Di tempat lain, jauh dari sekolah, seseorang membuka rekaman berita lokal di layar laptop. Wajah Arya muncul, datar, muda, dan terlalu tenang.

Pria itu menekan pause, lalu mengirim pesan ke nomor tanpa nama.

Sore harinya, nama Arya mulai muncul di forum lokal dan grup orang tua. Ada yang memujinya sebagai anak ajaib. Ada yang menuduh sekolah sengaja menutupi kemampuan Arya sebelumnya. Ada pula yang bertanya kenapa polisi perlu dibantu siswa untuk menemukan korban. Pak Surya membaca semuanya dengan kepala berdenyut.

Ia memanggil guru-guru inti dan memberi perintah singkat: tidak ada lagi komentar merendahkan siswa berdasarkan catatan lama, tidak ada wawancara tanpa izin, dan semua dokumen Arya dipindahkan ke lemari kepala sekolah. Bu Ratih ingin membantah, tetapi sorot mata Pak Surya membuatnya menelan kata-kata.

"Kita hampir kehilangan tiga anak," kata Pak Surya. "Kalau setelah ini kalian masih sibuk menjaga ego, silakan ajukan pindah."

Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada memo resmi. Para guru akhirnya mengerti bahwa posisi Arya bukan lagi kasus administrasi. Ia sudah menjadi pusat gravitasi baru di sekolah.

Rizky kemudian membuat grup kecil bernama Tim Anti Diculik, memasukkan Arya dan Putri, lalu langsung mengganti foto grup menjadi gambar kunci gembok. Putri memarahinya selama dua menit. Arya hanya menulis satu pesan: Nama grup buruk, fungsi grup berguna. Sejak saat itu, setiap pulang sekolah mereka saling mengirim lokasi.

Awasi dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!