[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Satu bulan berlalu tanpa terasa.
Pekerjaanku yang sebelumnya banyak dan menumpuk itu sudah terselesaikan dengan baik (beserta gaji dan bonusnya).
Diluar, sisa sisa salju di beberapa tempat telah mencair, beberapa bunga awal musim semi mulai bermekaran.
Aku berada di kantorku, berdiri tepat di depan balkon, melihat kendaraan berlalu lalang.
'cepat juga ya uda sebulan. Kau kuat juga ternyata, Diana.' batinku pada diri sendiri.
Aku kembali ke mejaku, membereskan beberapa lembar syarat kontrak, bersiap untuk pergi, tanpa tau kejutan yang menghampiriku beberapa jam lagi.
Ketika aku pulang dari rapat tanda tangan kontrak, pesan dari nomor asing itu masuk ke ponselku.
Halo apakah kau Diana, wakil direktur Lion Group pusat Saat ini? Aku Hansen Axelion, Paman kedua Rylan. Bisa bicara Sebentar?
Aku membaca ulang sekali lagi. Kenapa paman CEO menghubungi aku? Apa aku harus beri tau CEO Rylan? Selagi aku berpikir, pesan kedua masuk.
Sebentar lagi ulang tahun Rylan. Aku ingin membuat kejutan untuknya. Aku butuh kerjasama denganmu.
Ulang tahun? kejutan? Baiklah, jika ini benar, aku akan membantu sebisa bisanya. Aku menatap lokasi yang dikirimkan olehnya, segera meluncur ke sana.
Ketika aku sampai di kafe kecil yang tidak mencolok itu, Seseorang telah menungguku di depan pintu masuk. dia datang menghampiriku.
"apakah kau Diana?" tanya dia.
Aku mengangguk pelan. Kami masuk kedalam kafe, duduk di pojokan.
"jadi," ucapku pelan, "apa yang mau kau bicarakan?"
Aku memperhatikan wajahnya yang serius. Sekilas, tidak kelihatan kalau dia adalah paman Rylan. tapi dilihat lebih detail, bentuk mata mereka mirip.
"kau harus berjanji untuk mendengarkan aku sampai selesai"
Aku Mengernyit, sedikit heran, tapi akhirnya mengangguk. "baiklah, aku janji."
"Sebenarnya, ini bukan soal ulang tahun Rylan. Aku ingin bahas soal beberapa hal tentang.. Rahasia perusahaan."
"apa maksudmu? tidak, aku tidak mau bahas ini!" Aku berdiri.
"tunggu sebentar nona, aku-"
"Tidak! Aku tak mau-"
"kau sudah janji tadi!" Seru nya.
Aku terdiam, benar, aku sudah janji. Ah, bodoh sekali aku, buat janji gak pikir pikir dulu. Aku kembali duduk.
"lanjutkan" ucapku kesal, ingin sekali aku memukul wajahnya yang tersenyum penuh kemenangan.
Aku mengalihkan Pandanganku. "jangan mimpi, aku tidak akan Pernah berpikir untuk mengecewakan Lion Group."
"Tidak, kau salah nona. Aku tidak memintamu melakukan hal yang membahayakan Lion Group."
Aku menatapnya. "lalu?"
"seperti yang kau tau. Aku juga pemegang saham perusahaan. Aku juga paman Rylan. Aku pasti tau semua hal soal perusahaan."
"jadi kenapa kau membutuhkan bantuanku?"
"aku jarang berada di perusahaan. Dan terkadang aku sedikit ketinggalan.. Informasi. Aku percaya padamu Diana, karena kau adalah orang yang dipilih Rylan. Kau pasti bisa membantuku."
"apa maksudmu? Apa yang bisa aku bantu?" Aku memandang wajahnya yang tampak memelas. Dan dia tampaknya.. Serius dan tidak bermaksud jahat.
"Tidak susah kok. Aku hanya ingin tau setiap informasi terbaru perusahaan, yang umum maupun tertutup."
"dan ini," dia menggeser sebuah Kartu berwarna hitam ke arahku. "anggap saja ucapan terima kasihku karena kau mau membantuku."
Mataku menatap menatap kartu itu lama. hatiku mulai ragu. Hanya memberikan informasi aku bisa mendapatkan uang? Rasanya ada yang tidak beres.
Jika aku menyetujui tawaran ini, apa yang akan terjadi? Apa perasaan tuan Rylan? Apakah aku.. Salah?
Seharusnya tak masalah. Ini hanya informasi, bukan sesuatu yang berbahaya. ini tidak salah, mungkin.
Jantungku berdegup semakin kencang. Napasku menderu. Rasa ragu memenuhi dadaku.
"kau bisa ambil kartunya dulu. Pikir
pelan pelan. Kau tau nomor kontak ku, kan? hubungi aku."
Dia berdiri, membayar pesanan kami, lalu pergi.
Aku mengambil kartu itu ragu ragu. Aku hanya memberikan informasi. Dia juga adalah paman Rylan. Harusnya tak ada yang salah. Tapi tetap saja aku bingung.
Aku menghabiskan Potongan mousse cake terakhirku, lalu kembali ke Perusahaan. CEO Rylan masih duduk Santai di sofa dekat balkon. Aku menaruh kontrak di meja kecil depannya.
"ada apa? kau tampak sedang banyak pikiran?"
Aku duduk, lalu menatapnya, dan menggeleng.
"tuan rylan, kapan hari ulang tahunmu?" tanyaku tiba tiba, mengingat percakapan tadi dengan pamannya.
"kenapa kau menanyakan itu?"
"bukan apa apa, aku hanya ingin tau."
CEO Rylan terdiam, tampak berpikir.
"sekitar 2 bulan lagi. Aku biasa jarang merayakan ulang tahunku." ucapnya datar.
"tuan Rylan, apakah kau lelah?" celetuk ku.
"lelah? tidak." dia menjawab singkat.
"hm. tuan Rylan hebat menurutku. memimpin grup yang begitu besar di usia yang masih muda, melawan para pesaing bisnis. jika itu aku, mungkin sudah tumbang Sejak awal."
Tuan Rylan menatap langit langit, terdiam lama.
"Sejujurnya aku tak Pernah menanyakan itu pada diriku Sendiri, aku hanya terbiasa menjalaninya, tapi jika aku Pikir lagi... yah... kurasa aku cukup lelah." ucapnya 2 menit kemudian.
"boleh aku pinjam bahumu?" tanya tuan Rylan, membuat aku terkejut dan refleks sedikit mengangguk.
"terima kasih." tuan Rylan bersandar pelan ke bahuku.
Aku terdiam, Sedikit canggung dan
kehabisan bahan pembicaraan. Suara waterwall menderu, mengisi keheningan. tanganku Sedikit dingin karena tegang, tapi anehnya, hatiku terasa sedikit.. hangat.
Mau bagaimana pun perasaanku, tetap saja. Ada garis yang ditarik terlalu jelas. Tuan Rylan adalah bos ku.
Tapi, apakah salah jika aku merasa nyaman?
Dan lagi, masih terngiang jelas tawaran paman Rylan tadi. Rasa ragu kembali menghampiri. Itu hanya informasi. Tapi lupakan saja untuk saat ini.
Aku tersenyum sedikit. Tuan Rylan tak bisa melihatnya. Tapi dia mungkin akan mendengar suara detak jantungku yang terlalu jelas.
Tubuhku bersandar di sofa yang empuk, tanpa sadar menikmati suasana diantara kami berdua, yang berbanding terbalik dengan dilema yang terjadi dalam pikiranku.
...----------------...
Di ruang tengah kediaman Axelion, jarum jam dinding terdengar seperti detak jantung yang melambat. Hansen masuk, tidak terburu-buru.
"Sudah?" Juan bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari jam di dinding.
Hansen duduk, membiarkan keheningan menggantung cukup lama hingga terasa menyesakkan. Ia mengeluarkan sebuah pemantik perak, menyalakannya, lalu menatap apinya sejenak sebelum mematikannya kembali.
"Dia sudah menyentuh umpannya," ucap Hansen lirih. "Tinggal menunggu racunnya bekerja."
Sierra menyesap anggurnya, matanya berkilat di balik kaca gelas. "Bagaimana kalau dia Tidak setuju?"
Hansen tersenyum tipis. "Orang yang sudah mencicipi air kita, Sierra, tidak akan bisa kembali minum dari sumur yang kering. Dia merasa punya pilihan, itu bagian yang paling lucu."
Tidak ada lagi pertanyaan. Tidak ada tawa puas. Yang ada hanya kesunyian yang berat, seolah-olah takdir seseorang di luar sana baru saja dikunci di dalam peti besi.
Para pelayan bergerak di latar belakang, sunyi dan tak berwajah, membersihkan remah-remah di lantai seolah-olah mereka baru saja membersihkan bekas TKP yang sangat bersih.
Keluarga Axelion tidak perlu merayakan apa pun. Bagi mereka, hari ini hanyalah hari yang biasa, di mana mereka kembali melakukan aktivitas yang biasa.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖