Cerita di dalam novel ini, menceritakan tentang lanjutan dari "Cinta Di Dalam Perjodohan 2". Cerita tentang kisah cinta Reza dan Melda, juga tentang kebahagian keluarga Permana, dengan hadirnya buah hati Faris dan Aleta yang sudah di nanti-nantikan. Kebahagian keluarga Permana bertambah sempurna, dengan hadirnya malaikat kecil keturunan Faris.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Putra Pertama Faris.
Awan hitam membendung langit di pagi itu, yang membuat mentari tidak menampakan sinarnya. Begitupun dengan hati Melda yang di selimuti duka tiada akhir. Cobaan yang datang silih berganti dalam hidup Melda, membuatnya begitu tidak berdaya dalam melewati hari-hari yang terasa begitu sulit.
Hari kedua di Rs, Melda yang sama sekali tidak bisa turun dari tempat tidurnya, hanya bisa duduk terdiam sambil menatap ke arah jendela dengan berlinang air mata. Hidupnya terasa begitu hampa dengan semua derita yang dia alami. Kejadian yang menimpa Melda, membuat seluruh anggota keluarga Permana ikut bersedih.
Kehadiran putra pertama Faris dan Aleta yang di beri nama Alfa, semustinya dirayakan seperti yang sudah mereka rencanakan. Tapi semua itu terpaksa harus di batalkan karena kondisi Melda yang begitu menyedihkan.
Orang pertama yang membatalkan acara penyambutan Alfa adalah Faris dan Aleta, dan itu langsung di dukung penuh oleh Papa Fahri juga Mama Alira. Mereka memang sangat bahagia dengan kehadiran Alfa, tapi di balik itu, mereka juga di selimuti perasaan duka yang begitu besar, atas kejadian yang mengakibatkan meninggalnya supir pribadi Papa Fahri, juga lumpuhnya kaki Melda.
Selama dua hari di Rs, Melda sama sekali tidak ingin bersuara. Dan kebisuannya itu membuat seluruh anggota keluarganya jadi ikut khawatir, begitupun dengan orang tua Farel yang baru datang menengoknya.
"Di mana Farel?" Tanya Papa Fahri kepada orang tua Farel, di saat mereka sudah keluar dari ruangan Melda.
"Dia masih di luar kota, mungkin besok baru dia bisa datang ke sini." Jawab Mamanya Farel.
"Sedang ngapain dia di luar kota?" Tanya Faris dengan tampang dinginnya.
"Dia lagi ada urusan katanya." Jawab Papa Farel.
Faris sedikit merasa kesal mendengar jawaban orang tua Farel. Karena menurut dia, semustinya Farel adalah orang pertama yang selalu mendampingi Melda, di saat kondisinya seperti itu. Dia ingin sekali bertanya tentang urusan yang membuat Farel sampai tidak bisa datang untuk menengok Melda. Tapi di saat dia ingin bersuara, Mama Alira sudah menarik lengannya dan membawanya menuju ruang rawat Aleta, yang terletak tidak jaug dari situ.
"Kamu kenapa si Ris? Ko tatapan kamu seperti itu sih sama orang tuanya Farel?" Tanya Mama Alira setelah mereka sudah berada di dalam ruang rawat Aleta.
"Aku kesal sama tu Farel. Masa ada laki-laki yang seperti itu! Semustinya saat ini, dia yang ada di samping Melda! Tunangan macam apa dia..?" Faris berkata-kata dengan tampang penuh kekesalan.
"Sudah sayang! Mungkin dia memang lagi sibuk. Dan semua itu kan dia lakukan demi masa depan dia dan Melda." Ujar Mama Alira mencoba untuk menenangkan Faris.
"Memangnya ada apa Ma?" Tanya Aleta yang sedang berda di tempat tidurnya bersama Alfa, dengan tampang kebingungan.
"Faris kesal sama Farel karena ngga jengukin Melda." Jawab Mama Alira.
"Memangnya Farel ada di mana Ma?" Tanya Aleta lagi.
"Katanya ada urusan di luar kota!" Jawab Faris dengan tampang dinginnya sambil melangkah mendekati Aleta dan Alfa.
"Sudahlah Mas! Dia kan di luar kota kerja." Ujar Aleta sambil menatap Faris yang sudah berada di sampingnya.
"Memangnya pekerjaan dia lebih penting dari pada Melda..?" Ketus Faris dengan raut wajah yang masih sangat kesal.
"Ris,, kamu kenapa sih?" Tanya Mama Alira.
"Ada apa sih Ma?" Sambung Papa Fahri yang baru saja masuk.
"Faris tu marah karena Farel ngga datang jengukin Melda." Jawab Mama Alira.
"Di mana orang tuanya Farel Pa?" Tanya Mama Alira.
"Mereka sudah pulang." Jawab Papa Fahri.
"Ris,, Farel kerja juga kan buat masa depan adik kamu." Kata Papa Fahri.
"Pa,, apapun itu ngga bisa dia jadikan alasan untuk tidak kesini. Sebenarnya Melda itu punya arti ngga sih buat dia?" Tanya Faris dengan tatapan tajamnya.
"Sudah la Ris! kamu tu ngga usah terlalu berfikir negatif sama Farel!" Kata Papa Fahri.
"Aku cuman ngga yakin aja Pa sama dia. Dan aku ngga mau sampai dia nyakitin Melda! Kalau sampai dia lakukan itu, dia akan berhadapan sama aku!" Faris berkata-kata dengan tampang yang begitu menakutkan, dan langsung melangkah pergi dari ruang rawat Aleta.
Mendengar apa yang di katakan oleh Faris, ketiga orang yang ada di situ hanya bisa saling menatap satu sama lain, tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka merasa bingung dengan sikap Faris yang berfikir buruk terhadap Farel, karena setahu mereka Farel adalah laki-laki yang baik.
Faris merasa sangat kesal dengan Farel yang lebih mementingkan pekerjaannya lebih dari Melda calon istrinya. Dengan tampang penuh kekesalan, dia melangkah menuju kamar Melda sambil berkata-kata dalam hatinya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti adikku. Dia sudah terlalu menderita dengan semua musibah ini. Semoga saja Farel memang laki-laki yang baik buat dia." Faris berkata-kata sambil terus melangkah menuju ruang rawat Melda.
Faris sangat tidak tega melihat adik perempuannya, yang begitu menderita dengan semua musibah yang datang silih berganti dalam hidupnya. Dan dia merasa sangat marah juga kecewa dengan Farel, yang seperti tidak perduli terhadap keadaan adik perempuannya itu, sebagai calon suami.