Shenina Jean atau yang akrab disapa Nina adalah seorang wanita karir sekaligus istri dari lelaki bernama Argan Dio. mereka merupakan sepasang kekasih yang menikah atas dasar saling mencintai.
karena tak kunjung mendapatkan keturunan, Shenina memutuskan untuk meninggalkan dunia kerja dan melepaskan jabatan bersama mimpi-mimpinya. Agar bisa lebih fokus pada program kehamilan yang tengah ia jalani.
Namun setelah semua usaha yang ia lakukan, ternyata Shenina mendapati suami yang sangat dicintainya justru menjalin hubungan gelap dengan wanita lain merupakan orang terdekatnya.
Kenyataan pahit atas pengkhianatan tersebut membuatnya hancur berkeping-keping. hingga ia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin. menghilang tanpa jejak, merombak dirinya secara keseluruhan lalu kembali dengan kehidupan dan identitas yang benar-benar baru.
Bagaimana kisah kelanjutannya....? apakah Shenina akan balas dendam ? Atau justru memulai cinta yang baru ? Nantikan kisahnya ya……..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewi Fortuna
Sore itu setelah selesai berbelanja Nyonya Dehan berniat mampir ke Luxe’me untuk sekedar menjenguk putranya.
Karena sudah seminggu lebih semenjak Shendra pindah ke apartemen ia belum bertemu dengan putra semata wayangnya itu.
Namun siapa sangka Nyonya Dehan justru melihat pemandangan yang mengejutkan saat beliau hendak masuk ke ruangan Shendra.
Keduanya segera bangun dan memperbaiki penampilannya masing-masing.
“Ibu tolong jangan berpikir yang aneh-aneh” ucap Shendra yang khawatir tidak ingin ibunya salah paham.
“Berpikir yang aneh-aneh bagaimana ?? Lagipula Ibu tidak melihat apa-apa” wanita paruh baya itu berdalih dengan lancarnya.
Padahal jelas-jelas matanya menyaksikan semuanya tanpa berkedip. Membuat suasana di ruangan itu semakin canggung.
Melihat gelagat ibunya, Shendra sudah bisa menebak setelah ini pasti wanita paruh baya itu akan menanyakan secara rinci siapa dan bagaimana kejadian yang barusan ia lihat.
Dan sebentar lagi penyakit suka menjodoh-jodohkannya akan kumat seperti biasanya. Hal seperti itulah yang kerap dihindari oleh Shendra.
“Shira…?? Kamu Shira kan ??” Sapa Nyonya Dehan mengenali wanita cantik yang baru saja ingin pamit keluar.
“Eehhh i..iya nyonya, anda masih ingat dengan saya ??”
“Tentu saja, kamu bekerja disini nak..???”
“Iya Bu, perkenalkan dia Genna Shira model baru di perusahaan kita”
“Dan Shira, perkenalkan ini adalah ibuku”
“Ibu mengenalnya ??” Tanya Shendra penasaran.
“Ya, kami pernah bertemu beberapa saat yang lalu di pusat perbelanjaan” sahut Nyonya Dehan yang tersenyum memperhatikan Shira dari atas ke bawah, lalu sesekali matanya melirik Shendra yang nampak acuh.
“Aahhh ya ampun jadi anda ibunya pak Shen ??” Ucap Shira seolah kaget dan tidak tahu sama sekali, padahal dalam hatinya dia ingin sekali menangis dan memeluk sang ibu.
Kali ini dia harus lebih bisa bersikap normal dan mengendalikan dirinya. Jangan sampai tiba-tiba menangis lagi seperti waktu itu.
Beberapa saat kemudian Shendra melirik Shira dan memberinya isyarat agar segera pergi dari ruangannya, sebelum wanita itu dan ibunya bicara yang aneh-aneh.
“Emm, kalau begitu saya permisi dulu” ucap Shira pamit pada Shendra dan Ibunya.
Meski sejujurnya dia enggan pergi meninggalkan mereka. Shira ingin melihat sosok wanita itu lebih lama lagi.
Namun baru saja ia hendak beranjak dari duduknya, Nyonya Dehan sudah berdiri lebih dulu dan mengajak Shira agar tetap bersamanya.
Wanita paruh baya itu mengatakan kalau dirinya hanya mampir sebentar untuk melihat putranya. Dia juga membawakan beberapa makanan kesukaan Shendra.
Shira pun nampak menelan saliva ketika melihat ibunya membuka satu persatu kitak makanan di hadapannya.
Nyonya Dehan kemudian menyuruh Shira untuk mencicipinya lebih dulu.
“Hati-hati nak yang ini agak pedas” ucapnya sembari memberikan makanannya pada Shira.
Dari samping Shendra hanya bisa terdiam melihat cara ibunya memberi makanan pada Shira. Caranya sama persis dengan yang biasa dilakukannya pada Nina.
Shendra tahu kalau orangtuanya pasti sangat merindukan putrinya. Tapi apa boleh buat, dia sendiri juga sangat merindukan Nina.
“Ohhh andai anakku masih hidup” ucapnya lirih.
Sontak Shira langsung tersedak ketika mendengar ucapan Nyonya Dehan. Lagi-lagi airmatanya perlahan mulai berlinang.
Padahal dia sudah bertahan agar tidak menangis, tapi tetap saja ujung-ujungnya tangisnya pecah sambil mengunyah makanan.
“Shira, kamu kenapa Nak ?? Ayoo minum dulu” ucap Nyonya Dehan yang menyodorkan air minum untuk Shira.
“Apa tersedak semenyakitkan itu sampai membuatnya menangis ?? Dia tidak sedang tersedak pecahan kaca kan ??” Gumam Shendra.
“Shendra…!!!” Lirik sang ibu sambil meletakkan telunjuknya didepan mulut agar putranya tidak sembarangan bicara.
“Aku sangat rindu masakan ibuku….” Ucap Shira disela-sela tangisnya.
Setelah sekian lama akhirnya dia bisa kembali merasakan masakan buatan ibunya. Sebuah rasa yang sangat amat dirindukan oleh Shira selama beberapa tahun ini.
Dan hari ini orangnya sendiri yang membawakan dan menyajikan hidangan itu padanya.
Sementara Nyonya Dehan kembali menatap Shendra dengan tatapan tajam, sambil berusaha menenangkan Shira agar wanita itu tidak bersedih lagi.
Tanpa berucap apapun, dari tatapannya saja Shendra sudah bisa memahami apa yang dikatakan oleh sang ibu.
(Sudah Ibu bilang kan jaga bicaramu, kita tidak tahu apa-apa tentangnya)
(Ini sebabnya kau masih saja belum punya pacar sampai sekarang, kau terlalu tega dan kejam pada perempuan…!!)
(Kalau kau terus-terusan bersikap seperti ini, entah sampai kapan ibu bisa punya menantu..!!)
(Kau benar-benar keterlaluan Shendra..!!)
Begitulah kira-kira maksud dari tatapan Nyonya Dehan pada Shendra.
Semakin ibunya menyipitkan mata, maka semakin banyak pula kalimat serangan bertubi-tubi yang diucapkan dalam hatinya yang kemudian disampaikan lewat sorot matanya.
Setelah suasana kembali tenang akhirnya mereka bisa kembali berbincang dengan satu sama lain, kecuali Shendra yang hanya diam dan duduk menyimak obrolan mereka.
Nyonya Dehan mengatakan pada Shira agar jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan atau apapun yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Karena kenyamanan mitra kerja merupakan tanggung jawab pihak Luxe’me selama masa kontrak yang telah ditentukan.
Mendengar kalimat itu, sontak saja Shira dan Shendra saling tatap dengan maksud yang sama.
Sorot mata Shendra semakin tajam dan membesar ketika Shita mulai menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
Dia sangat paham maksud dari senyuman licik itu. Dan Shendra juga bisa menebak kemana arah pembicaraan mereka selanjutnya.
“Ehemm, kebetulan sekali Nyonya maksud kedatangan saya menemui pak Shen adalah untuk membahas masalah tempat tinggal selama disini. Karena satu dan lain hal membuat saya kurang nyaman tinggil di hotel”
“Tapi…..” ucap Shira menggantung sambil melirik Shendra yang sejak tadi menatapnya dengan penuh ancaman.
“Tapi apa Shira…??” Tanya Nyonya Dehan penasaran.
“Ibu, sudah jam berapa ini ?? Ayah pasti sedang menunggu ibu dirumah. Ayo biar ku antar ke bawah” ucap Shendra berusaha menghentikan ibunya.
“Tidak Shen, sebentar biarkan Shira bicara dulu dengan ibu”
“Tapi ternyata pak Shen tidak menyetujuinya” ucap Shira melanjutkan kalimatnya, dengan wajah yang nampak sedih.
“Ohh ya ampun, kalau itu ibu bisa membantumu. Katakan saja kamu ingin tinggal dimana. Kebetulan kami juga punya banyak unit apartemen yang letaknya sangat dekat dari sini” ucap Nyonya Dehan dengan santainya.
Dan gedung apartemen yang dimaksud itu sudah pasti Royal Heaven Residence peninggalan mendiang kakek Shendra, tempat dimana dia tinggal saat ini.
Wanita paruh baya itu juga saling bertukar kontak dengan Shira agar bisa saling berkabar dan mengenal lebih dekat lagi.
“Nyonya, terimakasih banyak. Saking senangnya saya bingung harus menamai kontak ada sebagai apa di sini. Ibu peri atau dewi keberuntungan…???”
“Terserah kamu saja Shira, mau dinamai ibu kandung atau ibu mertua juga tidak masalah, hihi” celetuk Nyonya Dehan sambil tersenyum penuh makna.
“Ahahahaha…, Nyonya bisa saja” ucap Shira yang mulai agak takut menatap ke arah Shendra.
Pasalnya sejak Nyonya Dehan menyebutkan unit apartemen tadi, mata Shendra sudah tertuju dan terkunci ke arah Shira.
Seperti sinar laser yang membidik dan siap menembakkan senjata ke arah lawan.
Sebenarnya Shira tidak punya niatan untuk tinggal disana, karena memang rumah itu tidak pernah ia tempati selama menikah dengan Dio sebelumnya.
Namun karena hari itu dia melihat Orca tinggal bersama Shendra, maka sebisa mungkin Shira harus mencari tempat yang sangat dekat dengan kucing kesayangannya.
Dan tempat yang paling tepat itu kebetulan adalah rumah pemberian orangtua Shendra yang memang sudah lama jadi miliknya.
Masalah mendapatkan kembali hak asuh Orca itu urusan belakangan. Yang terpenting sekarang adalah, dia bisa dekat dengan target incarannya terlebih dahulu.
“Ya sudah kalau begitu ibu pulang dulu ya Shen, besok kalau ada waktu kita bisa pergi bersama melihat lokasi tempat yang sesuai dengan permintaan Shira”
“Tapi bu…”
“Eitssss tidak ada tapi tapi..!! Kau hanya punya dua pilihan. Besok pergi bersama ibu, atau pergi kencan buta bersama putri dari temannya teman ibu…???”
Mendengar pilihan itu Shendra hanya bisa menghela napas sambil memijat pelipisnya.
Kedu apilihannya sama-sama menjebak. Kalimat pamungkas dari sang ibu selalu membuatnya kehabisan kata-kata.
“Kalau begitu biar ku antar bu…”
“Tidak nak, ibu bisa pergi sendiri. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan” ucapnya tersenyum menepuk pundak Shendra.
“Shira, sampai bertemu besok ya…”
“Baik Nyonya, terimakasih banyak dan hati-hati dijalan….”
Melihat Nyonya Dehan pergi, Shira pun bergegas ingin pergi dari ruangan itu. Karena dia tahu bagaimana kesalnya Shendra saat ini akibat ulahnya barusan.
Tapi baru saja dia ingin pergi keluar, Shendra sudah lebih dulu menutup pintunya.
Lelaki itu berjalan dengan cepat ke arah Shira, membuat dia mundur sampai duduk kembali ke tempat semula.
“Kenapa kau mengatakan pada ibuku kalau aku tidak menyetujuinya..?? Padahal aku hanya menundanya sesuai dengan kesepakatan kita”
“Karena ini mulutku, jadi terserah padaku..!!”
“Kau benar-benar perempuan licik Shira…!!”
“Pak Shen juga sama, dasar laki-laki pelit..!!”
“Kau tidak tahu malu..!!”
“Pak Shen yang mulai duluan…!!”
Sangat jauh dari kata akur, akhirnya dua orang itu kembali berseteru tanpa ada yang mau mengalah lebih dulu.
Shira bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Namun setelah beberapa langkah wanita itu berbalik dan berjalan kembali ke arah Shendra.
Sambil tangan kirinya melilitkan rambut di telunjuknya, Shira mendekat dengan penuh percaya diri. Membuat yang didekati mundur beberapa senti mengerutkan keningnya.
“Aku sudah tidak perlu repot-repot melakukan ini lagi” ucap Shira mengejek dengan menggoyangkan jari kelingking, karena Shendra yang pernah menolak berjanji dengannya.
Kemudian wanita cantik itu pergi dengan anggun disertai senyum penuh kemenangan.
“Cih.. dasar perempuan gila..!! Kurasa aku tinggal menyelipkan bunga saja di telinganya, maka akan sempurna kegilaannya..!!” Ucap Shendra sambil bersandar pada sofa.
Lelaki itu kembali meraba punggungnya yang masih terasa sakit karena jatuh menolong Shira.
Sementara diluar ruangan, seseorang tengah tersenyum melirik dadanya sendiri yang telah selamat dari bahaya benturan.
“Hihi maaf ya kak Shen, punggungmu pasti nyeri…”
……………………………………………………………………………..
mendingan gk punya pacar ,dri pd bodoh
penyesalan mu bagai angin yg
gk pernah berhenti mampir..
knp sih lelaki bnyak yg bodoh. wanita baik mesti di tinggal tp wanita murahan kayak yuri gmpang bnget dpt laki.
blm dpt karma ya pelakor ini.