Benar kata orang, tidak ada hal yang lebih menyakitkan kecuali tumbuh tanpa sosok ibu. Risa Ayunina atau kerap disapa Risa tumbuh tanpa sosok ibu membuatnya menjadi pribadi yang keras.
Awalnya hidup Risa baik baik saja meskipun tidak ada sosok ibu di sampingnya. Karena Wijaya—bapak Risa mampu memberikan kasih sayang penuh terhadapnya. Namun, di usianya yang menginjak 5 tahun sikap bapak berubah drastis. Bapak yang awalnya selalu berbicara lembut kini berubah menjadi sosok yang keras, berbicara kasar pada Risa dan bahkan melakukan kekerasan fisik.
“Bapak benci sama kamu, Risa.”
Risa yang belum terlalu mengerti kenapa bapaknya tiba tiba berubah, hanya bisa berdiam diri dan bersabar. Berharap, bapak akan kembali seperti dulu.
“Risa sayang bapak.”
Apakah Bapak akan berubah? Apa yang menyebabkan bapak menjadi seperti itu pada Risa? Ikuti terus kisah Risa dan jangan lupa untuk memberikan feedback positif jika kalian membaca cerita ini. Thank you, all💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hyeon', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 28
Pagi ini Risa sedikit memberikan tingkah manis kepada bapak. Ia rela bangun pagi pagi untuk memasakkan makanan untuknya dan bapak. Risa merasa, ia perlahan harus mencoba terbuka dengan bapak.
Bapak saja sudah mulai berusaha kembali seperti dulu. Risa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini semua. Perlahan ia harus mengikis jarak antara dia dan bapak.
“Oke, gue akan coba.”
Risa menoleh kala mendengar suara langkah kaki bapak. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya. Bapak pun sempat mengernyit heran.
“Kamu yang masak, nak?” Tanya bapak dengan sedikit heran. Namun, bapak tak bohong jika saat ini bapak merasa senang.
“Iya, Risa yang masak.” Jawab singkat Risa. Ia pun mendudukkan tubuhnya pada kursi sebelah kiri bapak.
“Harusnya kamu nggak perlu masak, biar bapak aja yang masak.”
“Risa nggak mau ngerepotin bapak.” Mendengar jawaban Risa yang tak mau merepotkan membuat bapak tersenyum kecut. Ternyata benar, belum sepenuhnya Risa menerimanya kembali.
“Maksud Risa nggak gitu, bapak kan udah masak kemarin jadi sekarang gantian Risa.” Jelas Risa kala menyadari ucapannya barusan. Ia tak mau bapak berpikiran buruk tentangnya.
“Iya, bapak paham. Memang nggak mudah untuk memulai sesuatu yang baru. Bapak tahu ini semua berasal dari bapak.”
Mulut Risa terasa kelu. Apakah ia salah bicara? Ia memaki dirinya sendiri dalam batin. Kenapa susah sekali mengontrol lisannya. Melihat Risa yang terus menunduk, membuat bapak meraih tangan putri kesayangannya.
“Kamu nggak salah, nak. Jika hati kamu belum siap untuk memulai semuanya kembali, jangan paksa hati kamu. Bapak tidak mau kamu merasa terbebani, sayang.”
Risa semakin dibuat diam. Hatinya menghangat kala bapak mau mengerti dan paham akan perasaan hatinya. Hampir saja air matanya menetes. Namun, dengan cepat ia menyekanya.
“Sekarang kamu sarapan terus berangkat sekolah. Jangan terus memikirkan hal yang membuat hatimu sakit.” Risa mengangguk dan mulai menyantap sarapannya.
*****
“Bang, besok temenin Dio ya.” Jeff yang semula fokus pada ponselnya beralih menatap adiknya.
“Ke mana?”
“Ke mall, Dio mau beli sesuatu.” Jeff yang tak mau ambil pusing pun menurut saja. Ia segera menghabiskan sarapannya lalu bergegas menuju sekolah.
“Bun, Yah, Jeff berangkat dulu.” Ucap Jeff yang beranjak berdiri dan menyalami kedua orang tuanya.
Di jalan Jeff mengendarai motornya dengan pelan. Matanya memicing kala melihat Risa yang mengayuh sepedanya di depannya. Jeff semakin memelankan motornya agar ia bisa mengikuti Risa dari belakang.
Sesampainya di sekolah, Risa memarkirkan sepedanya di tempat biasa. Disusul oleh Jeff yang juga memarkirkan motornya di samping sepeda Risa. Mata Jeff melirik singkat Risa yang melihatnya dengan sinis.
“Sinis banget nih orang.” Cibir Jeff dalam batinnya. Risa melenggang pergi begitu saja tanpa menghiraukan Jeff.
“Buset, orang se–ganteng gue dianggurin?” Diam diam Jeff mengikuti Risa dari belakang. Senyumnya terus ia sunggingkan seraya melihat Risa yang berjalan dengan wajah juteknya.
“Kayak ada yang ngikutin gue.” Gumamnya dalam batin yang merasa seperti ada yang mengikutinya. Ia pun curiga Jeff telah mengikutinya diam diam. Pasti, Risa yakin Jeff yang mengikutinya.
Ia pun mendadak menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. Tak disangka tubuhnya menabrak dada bidang Jeff. Karena terkejut, tubuhnya hampir saja jatuh, untung ada Jeff yang sigap menangkap tangannya.
Sekarang, posisi keduanya begitu dekat. Jeff membawa Risa ke dalam dekapannya. Jarak mereka mungkin hanya 5 cm? Sungguh, begitu dekat. Sampai Risa bisa mencium aroma napas Jeff yang begitu wangi.
Oh tanya keadaan Jeff sekarang. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Selama beberapa menit, Risa seakan tersihir. Matanya seolah tersihir akan mata Jeff yang indah.
“Jeff.” Panggil seseorang yang membuat keduanya tersadar. Risa lantas melepas pelukan Jeff dan memutus kontak matanya dari mata Jeff.
“Kalian ngapain?” Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Rea. Sadar akan orang orang yang sedari tadi memperhatikannya membuat Risa meninggalkan tempat itu.
Tersisa Jeff dan Rea sekarang. Ingin rasanya Jeff memaki maki Rea karena merusak suasana. Tapi, Jeff berterima kasih kepada Rea yang telah menyelamatkan jantungnya. Bisa bisa Jeff pingsan di tempat karena terlalu gila akan Risa.
“Kalian tadi pelukan?”
“Nggak sengaja.” Rea menatap Risa yang melenggang pergi. Ia yakin pasti Risa sengaja mencari perhatian Jeff.
“Dia pasti sengaja caper ke kamu, emang ya tuh cewek gatel. Kamu jangan–” Jeff memutar bola matanya malas. Ia pun meninggalkan Rea yang terus mengoceh tak jelas.
Di kelas, Risa duduk dengan lamunannya. Pikirannya melayang pada kejadian tadi pagi. Apa itu? Tangannya memegangi dadanya yang berdegup kencang.
“Apa ini? Kenapa jantung gue rasanya mau copot?” Tidak, rasa ini tidak boleh terlalu dalam. Secepatnya, secepatnya ia harus menyingkirkan rasa yang Risa sendiri belum paham.
Risa memilih untuk membaca buku guna melupakan kejadian tadi pagi. Tapi, semakin ia gunakan untuk fokus pada bukunya. Pikirannya malah terus tertuju pada insiden itu. Risa semakin susah untuk melupakan kejadian yang begitu memalukan.
“Argh.” Mendengar erangan Risa sontak membuat semuanya menoleh ke arahnya. Risa terkesiap kala semua mata tertuju padanya. Ia berusaha menutupi rasa malunya.
“Lo kenapa, Ris?”
“Gue nggak papa, aman kok.” Aduh, Risa. Betapa malunya ia saat ini. Untung di kelas tidak ada Lala dan kawan kawannya. Bisa bisa di ejek habis habisan dia.
*****
“Alex, kau bisa bantu aku?” Alex menatap penuh tanya pada bapak. Tumben sekali bapak meminta bantuannya.
“Kau butuh bantuan apa?”
“Dua hari lagi Risa ulang tahun. Dan aku ingin merayakannya, tidak usah mewah mewah, sederhana saja.”
“Oh ya, aku hampir melupakannya. Bagaimana jika kita membuat pesta kecil-kecilan.” Bapak tampak berpikir keras. Boleh juga ide sahabatnya itu.
“Boleh juga, aku setuju. Menurutmu hadiah apa yang cocok untuk Risa?”
“Hm, sepertinya Risa tidak butuh hadiah mewah mewah. Cukup kau rayakan dia dengan ketulusan dan kau kasih dia hadiah yang membekas.”
“Aku pernah merusak salah satu boneka kesayangannya, besok kau temani aku untuk mencari boneka yang sama dengan bonekanya dulu.”
Alex mengangguk sebagai jawaban. Ia senang sahabatnya benar benar mulai berubah. Kembali memperbaiki hal yang sudah ia rusak. Jika Nina ada di sini, pasti ia begitu bahagia. Dan mungkin Risa tidak akan pernah mendapatkan luka sebesar itu.
“Tapi aku percaya Risa sama sepertimu Nina. Ia memiliki hati yang luas, sama sepertimu.”
“Ya sudah, aku pamit pulang dulu.” Celetuk bapak yang membuat Alex tersadar dari lamunannya. Bapak pun melenggang pergi dengan hati yang gembira. Alex hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya.
Suara telpon mengejutkan Alex. Ia meraih ponselnya yang ia taruh di meja kerjanya. Keningnya mengerut kala melihat siapa yang meneleponnya. Wajahnya yang semula tenang berubah datar.
“Halo, ada apa?” Tanyanya dengan suara dinginnya.
“Nona Elle ingin anda pulang, Tuan.” Raut wajah Alex mendadak kembali tenang setelah mendengar jawaban dari seseorang itu. Bahkan, ia menyunggingkan senyumnya.
“Bilang kepadanya, aku akan segera pulang, tunggu sepekan lagi.” Titah Alex yang dijawab patuh oleh orang itu.
Setelah percakapan singkat itu, Alex mematikan sambungan teleponnya. Ia taruh kembali ponselnya di meja kerjanya.
“Aku rasa sudah saatnya aku pulang. Masalah di sini pun mulai membaik.” Gumam Alex yang merasa sedikit tenang karena masalah di sini mulai membaik. Ia yakin, sahabatnya itu bisa segera menyelesaikan semua masalahnya.
*****
HAPPY READING👀✨