menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jangan menghalangi jalan ku
Angin berdesir pelan di antara pepohonan.
Di tengah hutan itu, seorang murid tahun kedua berdiri kaku, wajahnya tegang saat melihat sosok di depannya—
Lucyfer Iglesias.
Tanpa ragu sedikit pun, Lucyfer mengangkat tangannya…
lalu sebuah tongkat sihir Lucyfer ia keluarkan di mana Lucyfer menodongkan tongkat sihir nya dengan wajah dingin dan datar.
dan Lucyfer menurunkan satu tangan nya dan tiba tiba keluar sebuah daging dan beregenerasi dan membentuk seseseorang.
Namun dalam hitungan detik—
Satu bertubuh kokoh,dengan rambut dan mata berwarna cokelat dan mata kosong seperti patung hidup dan di punggung tangan nya tertulis tanah.
Satu lagi samar, berlapis kabut tipis, wujudnya berambut biru muda dan mata biru muda dan di punggung tangan nya tertulis kabut.
Lucyfer memiringkan kepala nya dan mulai tersenyum miring.
“Yoo, senior,” katanya santai, nyaris mengejek.
“Kini kita taruhan.”
“Kau mau, kan?”
Senior itu langsung menggeleng panik.
“A-aku tidak—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya—
Golem tanah bangkit dari tanah dengan suara retakan keras.
Tangannya memanjang dan mencengkeram tubuh senior itu, mengangkatnya sedikit dari tanah.
Sementara itu, kloning kabut bergerak perlahan.
Kabut menyebar, menyelimuti kepala senior tersebut.
Matanya melebar.
Napasnya memburu.
Ilusi kabut itu bekerja—
membuat siapa pun yang terperangkap melihat halusinasi paling buruk, ketakutan terdalam yang kejam dan tak terampuni.
Lucyfer melangkah mendekat.
“Senior,” ucapnya dingin.
“Kau murid tahun kedua.”
“Tapi kenapa kau begitu menjijikkan?”
Ia meraih koin emas dari saku senior itu.
“Seharusnya koin ini bukan milikmu.”
“Tapi milikku.”
“Karena kau lemah.”
“Dan kau tak pantas memegang nya.”
Senior itu hanya menangis, menggeleng lemah, tubuhnya masih ditahan golem tanah.
Lucyfer berbalik tanpa menoleh lagi.
Golem tanah tidak melepaskan nya.
“Lihat aku kakak sialan,”
“Aku akan menjadi kuat tanpa diri mu.”
Malam — Asrama Bangsawan
Langit malam gelap, hanya dihiasi bintang.
Lucyfer berdiri di dekat jendela asramanya, memainkan dua koin emas di jarinya.
Cahaya bulan memantul di permukaannya.
Pintu terbuka perlahan.
Elviera masuk membawa nampan.
“Tuan muda Lucyfer,” katanya lembut.
“Anda belum makan malam.”
“Aku sudah menyiapkan sup hangat dan teh.”
Lucyfer tidak menoleh.
Ia melempar dua koin ke udara kemudian ia menangkapnya lagi.
“Taruh saja,” katanya singkat.
Elviera menuruti, lalu berdiri diam di belakangnya.
Beberapa detik hening.
“Hei, Elviera,” ucap Lucyfer tiba-tiba.
“Menurutmu… apa aku kurang kuat?”
Elviera terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Bisa jadi,” katanya hati-hati.
“Tapi tuan muda memiliki sihir kloning yang luar biasa.”
“Baik dalam tempur maupun fleksibilitas.”
Lucyfer mendengus pelan.
“Aku merasa kurang.”
“Entah kenapa.”
“Setelah menindas dan menghancurkan senior itu…”
“Aku ingin lebih.”
“Lebih dan lebih.”
Elviera menunduk.
Ia tahu.
Apa yang dilakukan Lucyfer itu salah dan hanya membuat Lucyfer tak akan di bantu oleh orang lain.
Namun ia hanyalah pelayan.
Tangan kanan.
Bukan orang tua Lucyfer.
Bukan juga hakim.
Lucyfer menatap langit malam.
“Aku akan mengalahkan kakakku,” ucapnya pelan.
“Dan menjadi penyihir yang setara dengannya.”
Angin malam berhembus kencang, membuat tirai bergoyang.
Pagi — Asrama Rakyat Biasa
Klee, Toma, dan Alven berjalan menuju kelas.
Seragam mereka rapi.
Namun langkah mereka terhenti saat melihat kerumunan murid di depan.
“Waaah,” kata Toma.
“Apa itu ya?”
Ia melangkah mendekat.
Dan di tengah kerumunan—
Seorang murid dari kelas 10(2), kelas rakyat biasa, terduduk lemah.
Di depannya berdiri Lucyfer.
Aura dingin menyelimuti area itu.
Toma membeku.
“Lu—”
“Lucyfer, apa yang—”
Tangannya tiba-tiba ditarik kuat ke belakang.
Alven menggeleng keras.
“Oii, Toma.”
“Jangan cari gara-gara.”
“Kau tahu sendiri Lucyfer itu seperti apa.”
Alven menelan ludah.
“Dia bangsawan.”
“Pangeran kerajaan.”
“Kita cuma rakyat biasa.”
Ia melirik sekeliling.
“Syukur masih ada Klee.”
“Dia kaya.”
“Dan kebetulan satu asrama dengan kita.”
Klee ikut berbicara, wajahnya khawatir.
“Toma,” katanya pelan.
“Sebaiknya kita ke kelas.”
“Lucyfer… orang yang sangat berkuasa.”
Namun Toma menatap murid yang ditindas itu.
Toma tak tahan ingin menolong nya.
Wajahnya pucat.
Matanya memohon.
“Tapi, Klee…”
“Alven…”
“Kita nggak boleh begini.”
Ia mengepalkan tangan.
“Dia kelihatan mau minta tolong.”
Klee menggeleng tegas.
“Ini bukan saatnya.”
“Pikirkan diri kita dulu.”
Ia menarik Toma masuk ke kelas.
Toma tak melawan.
Namun sebelum pintu tertutup—
Ia menoleh sekali lagi.
Mata mereka bertemu.
Dan tanpa suara—
Murid itu seolah berkata:
“Tolong aku.”