Hara, gadis perfeksionis yang lebih mengedepankan logika daripada perasaan itu baru saja mengalami putus cinta dan memutuskan bahwa dirinya tidak akan menjalin hubungan lagi, karena menurutnya itu melelahkan.
Kama, lelaki yang menganggap bahwa komitmen dalam sebuah hubungan hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh, membuatnya selalu menerapkan friendzone dengan banyak gadis. Dan bertekad tidak akan menjalin hubungan yang serius.
Mereka bertemu dan merasa saling cocok hingga memutuskan bersama dalam ikatan (boy)friendzone. Namun semuanya berubah saat Nael, mantan kekasih Hara memintanya kembali bersama.
Apakah Hara akan tetap dalam (boy)friendzone-nya dengan Kama atau memutuskan kembali pada Nael? Akankah Kama merubah prinsip yang selama ini dia pegang dan memutuskan menjalin hubungan yang serius dengan Hara?Bisakah mereka sama-sama menemukan cinta atau malah berakhir jatuh cinta bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizca Yulianah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikmat Mana Lagi Yang Kau Dustakan
"Mowning star" Suara sapaan jengah mampir ke telinga Hara yang sedang menunggu lift datang, membuatnya berjengit dan menoleh.
"Udah istirahat lama masih aja monday (slang: monster day, sebutan untuk yang tidak siap menyambut hari senin)" Hara kembali menghadap ke depan, ke arah pintu lift yang belum terbuka.
"Lo kira gue begini gara-gara siapa coba?" Sinta menutupkan punggung tangannya ke bibir, lalu menguap.
"Udah gue bantuin ya laporannya, jadi harusnya lo nggak perlu lembur" Desis Hara menyangkal.
"Siapa bilang gara-gara laporan" Sinta melipat tangannya di dada. Hara yang tidak mengerti apa maksudnya itu menatap Sinta dengan mata menyipit.
"Gossip girl" Lanjutnya kemudian seolah paham dengan maksud tatapan Hara.
Hara menghela napas lega dan menggeleng, ternyata hanya karena gosip. Dia tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu.
"Gosipnya" Sinta mendekatkan diri kepada Hara, mau tak mau Hara pun melakukan hal yang sama.
"Tim audit ada yang punya pacar" Bisik Sinta lirih.
"Ish" Decak Hara sebal. "Gue kira gosip apaan, pake bisik-bisik segala" Lalu kembali menegakkan punggungnya.
"No no no" Sinta menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"This is a hot tea (gosip yang panas)" Lanjutnya kembali dengan berbisik misterius.
Namun Hara tetap tak peduli dan menggelengkan kepalanya.
Ting
Suara pintu lift yang terbuka membuat Sinta mau tak mau memutus informasinya.
Mereka segera masuk ke dalam, berebut tempat agar kebagian atau mereka harus menunggu lift yang berikutnya.
"Yang itu?"
"Masa?"
"Ini bukan sih?"
Hara masih dapat mendengar dengan jelas semua bisikan dan tatapan mata yang mengarah padanya dan juga Sinta.
Tapi Hara cuek saja, mungkin itu karena mereka adalah bagian dari tim audit, dan yang terkena gosip adalah seseorang di tim audit.
Sinta memandangi Hara, bukankah dia terlalu santai untuk menjadi pusat gosip? Atau memang bukan gosip?
Sinta mengedikkan bahunya, tak mau ambil pusing dengan hal itu.
Ting
Suara pintu lift yang terbuka membuat Hara dan Sinta harus sedikit mengeluarkan usahanya untuk merangsek keluar.
"Permisi" Ucap Sinta.
"Permisi" Hara pun melakukan hal yang sama.
Setelah berhasil keluar Hara menghela napas lega. Padahal ada empat lift di gedung ini, tapi tetap saja, setiap pagi dan sore mereka semua penuh sesak dengan antrian yang mengular.
"Pagi bu Hara, bu Sinta" Sapa seorang petugas OB yang sedang bersih-bersih.
Sinta dan Hara sama-sama mengangguk sebagai jawaban.
"Yang itu kan?"
"Iya yang itu, katanya ganteng banget" Dapat Hara dan Sinta dengar obrolan dua OB wanita tersebut di belakangnya.
"Perasaan gue aja atau memang semua orang lagi merhatiin lo?" Hara bertanya dengan mimik serius.
"What? Seriously?" Sinta mengangkat kedua pundaknya sambil melotot mendengar pertanyaan Hara. Namun Hara malah ngeloyor pergi begitu saja masuk ke dalam ruangan tim audit.
"Lo serius Ra?" Tanya Sinta begitu dia berhasil menyusul Hara yang telah lebih dulu sampai ke mejanya.
"Serius apanya?" Hara yang masih saja clueless itu sedang sibuk sendiri dengan tasnya, mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa barang dari dalam tas untuk kemudian menaruh di lacinya, dan terakhir mengeluarkan kotak bekal makan siangnya.
"Oh my God Hara!" Sinta hilang kesabaran, dengan suara yang sedikit lebih tinggi dia menghentakkan kakinya.
Tak pelak semua mata memandang mereka saat ini. Sinta yang kesal sedang berdiri di samping Hara, dan Hara yang memasang raut wajah tanpa dosa sedang duduk menatap Sinta.
"Kita nggak berantem kok guys" Sinta buru-buru memberikan klarifikasi dan tersenyum canggung kepada semua orang.
"Kita ke pantry sekarang!" Sinta melotot kepada Hara, lalu dengan kasar membuang tasnya begitu saja di tempat duduknya.
Dengan bersungut-sungut dia mengambil kotak bekalnya juga dan langsung berlalu begitu saja.
Hara yang masih belum tau kejadian yang sebenarnya hanya bisa melolong heran melihat Sinta emosi begitu. Tapi mau tak mau dia akhirnya menyusul juga sembari membawa kotak bekalnya.
"Lo punya pacar?" Tembak Sinta ketika Hara baru saja menutup pintu kulkas.
"Punya" Jawab Hara polos, kini beralih ke dispenser untuk mengisi botol minumnya.
"Jadi seriusan gosipnya?!" Sinta memekik syok, menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Eh?" Hara terlihat berpikir, dia melirik ke atas.
"Mantan deng" Hara meralat.
"Kan udah putus" Dia menyengir.
"Si Nael?" Tebak Sinta mengerutkan alisnya.
"Hm" Hara mengangguk, kini dia sedang menutup botol minumnya.
"Yang baru?" Sinta mulai paham kenapa Hara seperti orang bodoh yang tidak peduli gosip itu.
"Nggak ada" Geleng Hara bingung, mengapa Sinta bertanya seperti itu sedangkan dia tau bagaimana kisah putusnya dengan Nael.
"Kama?" Tanya Sinta tanpa basa-basi.
"Bukan" Hara semakin bingung, kenapa nama Kama di sebut-sebut.
"Terus kenapa jadi ada gosip kalau lo udah punya pacar namanya Kama, kerjaannya polisi, orangnya romantis, penuh perhatian, manis, ganteng, bla bla bla" Jelas Sinta dalam satu tarikan napas.
Hara malah memutar matanya bingung. Kenapa bisa Sinta berpikiran seperti itu padahal dia tau cerita antara dirinya dan Kama. Oh yang tentang friendzone belum, dan Hara juga tidak berniat untuk bercerita sampai sana.
"Gosip dari mana lagi tuh?" Hara mengerutkan alisnya, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan yang namanya gosip, berkembangnya sungguh luar biasa.
"Lah ini makanya gue tanya langsung ke yang jadi pusat gosip" Sinta menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Gue nggak ada apa-apa sama Kama" Jawab Hara sabar. Memilih untuk tidak memperpanjang gosip murahan itu. Toh nanti juga reda sendiri.
"Ah tauk lah!" Sinta kesal sendiri.
"Lo tau gara-gara gosip itu, hari minggu gue di teror abis-abisan sama anak pajak, anak keuangan" Sinta mengeluh jengah. Lalu mengambil cangkir kopi miliknya.
"Semua pada nanyain" Dia menyobek bungkus kopi instan yang ada di dalam wadah kopi.
"Eh beb beneran bu Hara assmen lo udah punya cowok?" Sinta menirukan kata-kata yang menginterogasinya di akhir pekan kemarin.
"Eh say, gila bu Hara, diem-diem cowoknya ternyata berseragam coy. Anak-anak cowok keuangan pada patah hati nih" Sinta masih saja mengeluarkan keluhannya. Kali ini sedang menuangkan air dari teko listrik yang sudah mendidih.
"Belum lagi noh si Pak Sopyan, kepala administrasi ikut-ikutan, eh Sinta Hara udah punya pacar ya? Padahal mau saya kenalin ke anak saya, sebentar lagi lulus kuliah"
Hara yang sedang duduk menghadap punggung Sinta cuma mendengarkan dengan seksama, tidak berniat mengoreksi, mengklarifikasi atau memotong pembicaraan Sinta.
"Gila minggu berharga gue! Harusnya gue bisa me time!" Sinta menggeram dan berbalik, mengaduk kopi di tangannya.
"Ya udah lah biarin aja, ntar juga reda sendiri beberapa hari" Hara terlihat santai.
"Gini ya lihat cewek cakep, pintar, karir cemerlang, dan misterius, terus ujuk-ujuk kena gosip. Satu perusahaan langsung heboh" Sinta menghela napas. Menyerah heboh karena yang terkena gosip saja sepertinya sama sekali tidak terpengaruh.
...****************...
Kama bolak balik melihat ponselnya, memastikan data selularnya menyala, paket internetnya aktif, pulsanya cukup, speakernya masih berfungsi dan baterainya full.
Tapi kenapa dengan semua performa bagus ponselnya itu, apa yang di harapkan Kama tidak juga muncul.
Sebuah panggilan dari Hara, atau setidaknya notifikasi balasan, atau yang terendah, pesannya berubah centang menjadi warna biru.
"Anjir lah!" Kama menggeletakkan dengan kasar ponselnya di atas meja.
"Kenapa lo?" Tanya Rio bingung. "Dari kemarin uring-uringan terus?"
"Tauk nih cewek, jual mahal banget" Gerutunya kesal.
"Cewek mana yang jual mahal sama lo?" Rio mendekatkan diri dengan antusias. Sebuah kejadian langka melihat Kama di tolak oleh wanita.
"Tauk ah!" Dia melambaikan tangannya, mengusir Rio yang memandanginya penuh penasaran.
Gue juga bisa nyuekin lo, kalau masalah cuek, gue ahlinya.
Yakin Kama percaya diri.
Dan disinilah Kama saat ini, mengatur lalu lintas sore yang padat merayap di daerah Pahlawan.
Pikirannya sedang tidak fokus, dia hanya memandangi pada pengendara jalan yang lalu lalang memadati jalanan.
Sialan, beneran nggak di baca pesan gue
Kama terus saja merutuk dalam hati. Seharian ini suasana hatinya terus saja dongkol demi mengingat Hara yang tidak membalas pesannya dari kemarin.
Tapi egonya memaksa untuk kalah, mulai sekarang dia tidak akan mengirim pesan lagi kalau tidak Hara yang memulainya lebih dulu
...****************...
Akhir-akhir ini Hara sangat sibuk, menjelang penyerahan laporan audit tri wulan beberapa perusahaan klien yang kurang beberapa hari lagi.
Dirinya bahkan harus makan siang sembari memeriksa laporan. Sepulang kerja masih harus memberikan les untuk para anak-anak lingkungan sekitarnya. Dan harus tetap berusaha tidur tepat waktu, yang satu itu tidak ada penawaran.
Hara hanya mengecek ponselnya sekilas, memilih hanya mana pesan yang penting dan berhubungan dengan pekerjaan. Selebihnya dia tidak ingin membuang-buang waktu sedetik pun untuk hal lain.
"Kak Hara mukanya ngantuk banget sih?" Ica yang sedang duduk berhadapan dengan Hara itu mengomentari.
"Iya nih ngantuuuuk banget" Jawab Hara lelah. Dirinya sedang memeriksa pekerjaan rumah Ica. Kegiatan rutinnya setelah pulang berkerja, memberikan les gratis.
"Nih kalau gitu Ica kasih permen biar kak Hara nggak ngantuk" Ica menyodorkan sebatang lolipop rasa buah kepadanya.
"Makasih" Hara menerimanya dengan tersenyum. "Tapi jangan sering-sering makan beginian ya, gak bagus buat kesehatan gigi" Hara menyimpan permen itu di samping bukunya.
"Iya mama Ica juga bilang begitu, tapi karena itu hadiah jadi mama bolehin sekali-sekali" Jawab Ica polos.
"Wah dapet hadiah dari siapa nih?" Goda Hara. "Nggak papa nih hadiahnya di kasih ke kak Hara? Nanti yang ngasih marah loh"
"Nggak papa kok, lagian itu kan hadiah dari om yang nyariin Kak Hara waktu itu"
"Siapa?" Hara mengerutkan keningnya.
"Itu loh om-om yang bawa mobil, yang parkir di depan rumah, katanya terima kasih sudah di kasih tau jalan, gitu" Ica menirukan gaya bicara dari orang yang memberikan hadiah untuknya.
"Yang mana?" Hara semakin mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat siapa yang di maksud Hara.
"Itu loh yang ganteng" Gemas Ica karena Hara tak kunjung ingat.
"Hus kecil-kecil tau orang ganteng" Hara melotot pada Ica, tapi Ica malah terkekeh.
"Itu pacarnya kak Hara ya?" Ica kembali bertanya.
"Bukan itu temen" Hara kembali mengkoreksi PR Ica. "Kamu tuh kecil-kecil tau pacaran, gak boleh ah"
Namun Ica kembali terkekeh mendengar penuturan Hara.
Sesi mengajar les biasanya selesai pukul setengah sembilan malam, setelahnya Hara akan melakukan serangkaian night routines-nya dan langsung tertidur.
"Gila!" Sinta yang sedang menyuap makan siangnya itu melenguh kesal.
"Semingguan ini gue rasanya kayak melayang aja gitu, dari senin ke selasa ke rabu sampek sekarang gue cuma numpang tidur doang di kost" Omelnya.
"Sama" Hara yang sudah menguras seluruh tenaganya selama seminggu terakhir ini juga merasa kewalahan dengan banyaknya pekerjaan.
"Tapi herannya lo sama sekali nggak lembur, hebat! Hebat!" Sinta bertepuk tangan pelan.
"Itu kalau gue yang kerjain, udah deh gue bawa koper kesini, gue pindah" Dia menggelengkan kepalanya, salut dengan kinerja Hara.
"Terus weekend besok rencana lo apa?" Tanya Sinta kembali menyuap makan siangnya.
"Tidur seharian kayaknya" Hara mengedikkan bahunya, dia belum memutuskan akan menghabiskan weekend-nya dengan bagaimana atau dengan siapa.
"Keputusan yang bagus, gue dukung seribu persen, gue juga bakalan tidur aja seharian" Sinta mengepalkan tangannya ke atas.
Dan di penghujung hari, anak-anak yang sepulang sholat dari mushollah kembali mengerumuni Hara.
"Kak Hara" Mereka kompak memanggil, sebagian dalam balutan mukena, dan sebagian lagi dengan sarung tersampir di pundak.
"Lesnya berhenti dulu ngapa" Sungut Ridho yang memang terkenal sangat tidak suka belajar di banding teman-temannya itu.
"Iya kak Hara, capek belajar terus, besok juga libur kok" Anton juga ikut menimpali, tapi dari kubu pihak para anak perempuan mereka tidak setuju.
"Males deh kalian itu" Ica yang memang bercita-cita menjadi guru itu pun tidak setuju.
"Gak asik si Ica nih!" Ridho tak mau kalah.
"Kamu tuh yang nggak asik" Balas Ica bersungut-sungut.
"Udah udah" Hara menengahi.
"Libur sehari juga nggak papa kok Ca" Hara menasehati.
"Weeekk" Ridho menjulurkan lidahnya ke arah Ica, mengejek.
"Hush nggak boleh gitu Ridho, kamu juga jangan malas, kalau malas nanti nggak bisa jadi polisi loh. Katanya mau jadi poisi" Pungkas Hara.
Ngomong-ngomong soal polisi, sepertinya dia pernah sekilas melihat pesan dari Kama, sudah dia balas atau belum ya? Hara menerawang mengingat-ingat.
"Ya udah yuk main petak umpet aja" Ajak Anton memungkasi.
Dan yang namanya anak-anak, mereka akan mudah bertengkar tapi mudah pula berbaikan.
"Dah kak Hara" Anak-anak itu kompak melambaikan tangan pada Hara dan kemudian pergi berlarian.
Hara membuka pintu gerbangnya dan kemudian memasukkan motornya. Saat dia hendak memarkirkan motornya, tempat parkir yang biasa dia tempati sudah lebih dulu di tempati motor tipe sport berwarna merah yang dia ketahui milik Edward.
Ya, sejak insiden Kama kemarin, entah kenapa Edward memutuskan pindah ke rumah Pak Mul.
Meskipun setiap pagi mereka bertemu, dan terkadang juga sore saat pulang berkerja, Edward sama sekali tak menyapanya. Seolah mereka belum pernah saling kenal sebelumnya.
Sebenarnya Hara tak masalah tidak mendapat sapaan dari Edward mau pun pak Mul yang sekarang juga ikut-ikutan mencuekinya. Hanya saja Hara merasa tidak nyaman lagi dengan suasana kost seminggu terakhir.
Terkadang Edward akan memblokir tempat parkir motornya jika kebetulan Hara yang lebih dulu pulang berkerja. Membuatnya jadi tidak bisa mengeluarkan motor keesokan paginya dan harus menunggu si empunya motor juga pergi berkerja.
Dan saat ini, sepertinya Edward lebih dulu pulang berkerja, dan seperti yang sedang di dapati Hara. Dia memarkirkan motornya tepat di tempat Hara biasa parkir.
Kekanak-kanakan
Hara tidak suka dengan sikap yang seperti itu.
Tak ingin memperpanjang masalah, dia memarkirkan motornya jauh di pojok samping dekat tembok.
Setelahnya dia naik ke lantai atas kamar kostnya. Ingin cepat-cepat membersihkan diri dan kemudian tidur.
Setelah melaksanakan sholat maghrib, Hara kembali membuka buku jurnalnya. Memastikan apa saja goals-nya yang tercapai hari ini.
Minum air dua liter, memasak untuk sarapan dan bekal, meditasi, deadline pekerjaan yang tercapai, dan olahraga. Rupanya kolom olahraganya terlalu banyak yang kosong. Hanya berhasil sekitar dua puluh persen di setiap bulannya.
"Apa besok olahraga aja ya?" Hara meregangkan tubuhnya. Terdengar bunyi kemeretak di antara sendi-sendinya.
Selepas mereview goals-nya, dia kemudian makan malam.
Sebungkus nasi dan ayam goreng langganan yang selalu dia beli sepulang berkerja, atau lebih tepatnya setiap malam sejak dia merantau di kota ini.
Sudah enam tahun berlalu, tapi dia masih menjadi satu-satunya pelanggan yang membelinya setiap hari dan tak pernah absen sekalipun.
"Memang nggak bosen mbak Hara, udah lima tahun loh tiap malam makannya ayam melulu?" Si penjual Ayam goreng ala pulau garam itu menanyainya.
Hara hanya menggeleng, dia tidak ingin membuang-buang waktunya untuk memikirkan harus makan malam apa setiap harinya.
Dia lebih memilih kepastian, ayam goreng langganannya sudah pasti enak, sesuai seleranya, bisa di pesan lewat Wa dan yang paling utama adalah murah, selain karena diskon pelanggan abadi.
Hara sudah menyiapkan meja makan portable-nya, menyalakan laptop dan siap memutar drama korea yang sedang on going, dan juga makan malamnya.
Suasana malam yang sempurna bagi seorang introvert dan perfeksionis ala Hara yang mendambakan hidup sederhana dan damai.
Nikmat mana lagi yang kau dustakan
Sayup-sayup terdengar suara mengaji dari mushollah pertanda akan masuknya waktu sholat isya.
aku pikir othor nggak update lagi 🥹
capek banget punya cowok seperti kamu Nael😔😔😔...
setiap hari di buat ngambek terus ini pak Kama😁😁😁😁😁
Aku juga ikutan ngerik baca nya🤣....
Nisa,kamu ambil aja Neil nya Hara udah nggak butuh 😁😁
olahraga malam yang berat ini kayak nya,padahal baru habis makan enak😁😁😁
pengen aku jambak bibir nya😡
makin penasaran nih Thor, sama mereka....
harapan ku sih yang lain gigit jari lihat kama yang menang😅😅😅
penasaran sama yang ketahuan blind date😅😅😅😅
Aku kira terpuji lah apa,ada" aja si pak Kama 😁😁😁
Hari ini adem ayem pak Kama nya