Tegar adalah seorang ayah dari dua anak lelakinya, Anam si sulung yang berusia 10 tahun dan Zayan 6 tahun.
Mereka hidup di tengah kota tapi minim solidaritas antar sekitarnya. Hidup dengan kesederhanaan karena mereka juga bukan dari kalangan berada.
Namun, sebuah peristiwa pilu membawa Tegar terjerat masuk ke dalam masalah besar. Membuat dirinya berubah jadi seorang pesakitan! Hidup terpisah dengan kedua anaknya.
Apakah yang sebenarnya terjadi? Bisakah Anam dan Zayan melalui jalan hidup yang penuh liku ini? Jawabannya ada di 'Surat Terakhir Ayah'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memupuk dendam
Kedatangan Alin dulu, ternyata memang memunculkan masalah untuk Anam dan Zayan. Alin memaksa untuk tinggal bersama Abut, meski Abut sudah melarangnya. Tapi, Alin tetap bersikeras ingin tinggal bersama orang tuanya itu.
Alin menunggu waktu yang tepat dimana dia bisa leluasa masuk ke dalam rumah Abut tanpa mendapat larangan dari orang tuanya.
Dan sekarang, ada dua koper besar yang berada di luar rumah. Alin terlihat seperti membawa barang dalam koper yang dia bawa karena dia tidak menerima penolakan. Orang lain saja boleh tinggal di rumah ayahnya, kenapa dia tidak? Lucu sekali!
"Lihat apa kalian?! Bawa barang-barang ku masuk ke dalam, nggak usah lihat-lihat kayak gitu! Mau ku congkel mata kalian satu-satu?!" Bentak Alin melenggang masuk ke dalam rumah.
Yang dibentak tentu adalah Anam dan Zayan. Dua bocah tersebut saling tatap lalu menuruti saja perintah Alin untuk memasukkan dua koper miliknya ke dalam rumah Abut. Tentu mereka kesusahan, koper-koper itu hampir seukuran tubuh mereka. Bisa jadi lebih berat karena Alin sengaja mengisi koper-koper itu dengan batu! Iya batu, bukan baju. Sengaja dia lakukan untuk mengerjai dua bocah yang dia anggap pengganggu.
'Jangan panggil namaku Alin jika mengurus tikus kecil seperti kalian saja tidak bisa aku lakukan!' Decak Alin dalam hati.
Dengan usaha yang cukup sulit, keduanya hanya bisa membawa dua koper tadi melewati pintu saja. Dan di mana Abut? Kenapa dia tidak menolong cucu-cucu angkatnya? Itu karena Abut sedang mengurus usahanya di luar kota. Dia akan pergi tiga hari, dan Alin tahu itu. Tiga hari waktu yang cukup untuk wanita berusia tiga puluh enam tahun itu membuat kedua bocah kesayangan papanya minggat dari rumahnya.
"Aduuuh, gitu aja kok lama banget sih!! Jangan diseret bodoh!! Di angkat! Itu koper mahal!! Dasar kampungan, disuruh ngerjain hal gampang kayak gitu aja nggak bisa!! Bisanya kalian itu apa hah?? Numpang hidup di sini doang, iya?! Enak banget kalian.. bukan saudara, bukan kerabat, apalagi anak, tapi bisa asik-asikan tinggal di rumah orang tua ku kayak raja! Kalian pikir kalian siapa hah??!"
Alin melotot tak suka ke arah Anam dan Zayan bergantian.
"Ini berat Tante, kalau nggak percaya angkat saja sendiri."
Zayan yang bicara. Anam masih memasang wajah datar tanpa ekspresi berlebihan. Sebenarnya dia juga kesal, tapi mau bagaimana lagi. Nyatanya mereka di sana memang numpang hidup.
"Berani kamu nyuruh aku?? Sini kamu, sini!!!" Alin menarik tangan Zayan kencang.
Anam terkejut, dia refleks menarik tangan Zayan yang satunya.
"Aduh bang, tangan ku sakit bang.." Rintih Zayan saat tangannya dicengkeram keras oleh Alin.
"Tante apa-apaan sih?! Jangan tarik-tarik Zayan!! Tante nyakitin dia!" Kali ini Anam tak lagi menarik tangan Zayan tapi mencubit tangan Alin kencang.
Otomatis cengkraman tangan Alin terlepas, wanita itu bahkan berteriak kesakitan. Mendengar hal tersebut asisten rumah tangga di rumah Abut berlarian menghampiri suara keributan itu berasal.
Merasa mendapatkan bala bantuan, Alin berniat kembali menyeret Zayan namun yang terjadi adalah dia dicegah oleh tukang kebun yang tadi membukakan pagar agar mobilnya bisa masuk ke dalam rumah Abut.
"Maaf non Alin. Tapi, kami ditugaskan untuk menjaga den Anam dan den Zayan selama engkong pergi." Ucap lelaki yang rambutnya sudah memutih itu.
"Heh!! Siapa yang kalian sebut den?? Dia bukan majikan kalian, dan lihat ini!! bocah setan itu udah nyubit tanganku sampai biru seperti ini!! Dan kalian masih saja membela bocah setan ini?? Cih, udah gila kalian semua!" Begitu Alin memarahi para asisten rumah tangga di rumah orang tuanya.
Tanpa ada yang menjawab. Mereka membiarkan Alin pergi begitu saja dengan caci maki yang bisa didengar oleh telinga siapa saja yang ada di sana. Zayan sudah tidak secengeng dulu sehingga dia hanya menanggapi semua tindakan Alin tersebut padanya dengan diam tanpa berkata apa-apa.
"Makasih ya bi, mang.. Kalian udah baik sama kami. Makasih banyak.." Anam bahkan sampai menundukkan kepala pada ketiga asisten rumah tangga tersebut sebelum mengajak Zayan masuk ke dalam kamar mereka.
Di kamar, Anam mengusap punggung Zayan. Dia tahu adiknya itu sedang tidak baik-baik saja. Tapi Zayan hanya tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa bang, aku nggak apa-apa.." Kata Zayan terdengar sampai telinga Anam.
"Kalau mau nangis, ya nangis aja Za. Hanya ada Abang di sini, kamu nggak perlu malu."
Zayan menggeleng pelan. Dia bukan tidak ingin menangis tapi, apa dengan menangis semua perasaan rumit ini bisa hilang dari hatinya?
"Bang.." Anam duduk disamping Zayan, menoleh ketika adiknya memanggil namanya.
"Sebenarnya aku lebih suka hidup berdua dengan Abang di rumah kecil kita bang. Jujur aja, aku mulai nggak kerasan di sini. Ini bukan rumah kita bang, bukan lingkungan kita. Kita cuma numpang di sini, iya kan? Rasanya aku mau pulang aja bang.."
Zayan mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Tidak semua orang bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, meski jika dibandingkan secara kasat mata terdapat banyak perbedaan yang signifikan antara kehidupan lama mereka dan yang mereka jalani sekarang ini. Anam dan Zayan rindu figur ayah yang bisa melindungi mereka, bukan gelimangan harta yang malah membuat keduanya dimusuhi tanpa tahu letak kesalahan mereka.
"Kamu mau pulang ke rumah kita Za?" Tanya Anam serius.
"Mau bang. Di sana nggak ada yang jahatin kita kayak di sini, di sana ada bi Ria yang selalu sayang sama kita. Meski di sana aku nggak bisa sekolah lagi, tapi aku nggak keberatan. Aku bisa ikut Abang mulung, ngantar Abang pergi ke sekolah, bisa ke tempat bapak kapan aja.." Zayan tersenyum getir.
Sudah hampir dua bulan mereka tinggal di rumah Abut, dan selama mereka tinggal di sana hanya dua kali mereka mengunjungi makam Tegar. Bukan karena tidak diperbolehkan Abut, tapi kegiatan belajar mereka yang padat dari pagi hingga malam hari membuat keduanya tidak punya waktu untuk itu. Pagi mereka sekolah, siang harus les privat, sore latihan ketangkasan, dan malam harinya mengaji. Selalu berputar seperti itu terus hari-hari keduanya.
"Nanti Abang bicarain ini sama engkong ya.." Anam berusaha menghibur adiknya. Entah berpengaruh atau tidak tapi hanya itu yang dia bisa lakukan.
"Tapi Za.. Jika dipikir lagi, kenapa kita nggak gunain semua kesempatan dan fasilitas dari engkong ini untuk merubah nasib kita Za. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diri kita sendiri, itu yang terpenting. Za.. Kalau kita kembali ke rumah kita yang lama, kita akan kesulitan. Kesulitan menempuh pendidikan, kesulitan mencari uang untuk makan sehari-harinya, dan akan terus bergelut dengan kardus serta botol bekas. Hidup kita nggak akan berubah, nggak mungkin bisa maju. Sedangkan Abang punya mimpi Za, Abang punya mimpi pengen liat kamu jadi polisi.. Bapak dan ibuk pasti bangga liat kamu sukses nantinya. Apa kamu nggak pengen bikin bapak dan ibuk bangga Za?" Kata Anam panjang lebar.
"Apa Abang siap hidup tertekan setiap hari di sini?" Bantah Zayan yang mulai bisa berpikir dewasa.
"Ya! Asal Abang bisa melihat kamu mewujudkan mimpi mu. Abang siap! Abang akan lindungi kamu dari siapapun yang mengganggu kamu Za. Pegang janji Abang!" Kata Anam meyakinkan Zayan.
Padahal yang sebenarnya, Anam punya niat tersembunyi di balik semua motivasi agar adiknya mau bertahan di rumah Abut. Balas dendam! Ya.. Anam akan membalas dendam atas ketidakadilan yang bapaknya terima sebelum menjemput ajal. Anam sudah bertekad, akan membuat dirinya lebih kuat dari yang bisa dia kira.
'Bukan aku yang ingin berubah, tapi kalian yang memaksa ku merubah diriku hingga seperti ini..'
Kenapa Anam sampai memupuk dendamnya seperti itu? Karena beberapa hari yang lalu, dia tak sengaja menonton program di televisi yang menampilkan berita tentang Zambo yang dibebaskan bersyarat dengan alasan kondisi fisiknya kian memburuk karena berada di dalam lembaga pemasyarakatan.
bagus thor semangat trus berkarya
satu lagi novel yg banyak mengandung bawang selain BB🥺
sukses terus ya..
smoga sehat sllu dan diberi kelancaran buat nulis😁
di upgrade gitu lho ke spek yg lebih bagus lagi😌
salah sendiri fitnah anak yatim, kurma lgsg kontan kan dtengnya😏
smoga dg perkataanmu itu, bisa merubah hati Anam yg dipenuhi dendam agar bisa sedikit lebih ikhlas lagi