A Mystery Thriller Novel
Hansel hanyalah biang onar di sekolah lamanya. Predikat cowok tampan yang suka menebar cinta sana-sini melekat kuat. Namun saat terpaksa pindah sekolah, semuanya berubah. Hansel dihadapkan pada perkara sulit. Tepatnya saat seorang gadis misterius dengan tatapan kosong mengatakan, "Aku bisa membuat hidupmu lebih menarik dibanding kisah dari novel thriller."
Anehnya, gadis itu benar. Kasus-kasus bunuh diri marak terjadi di SMA Gajah Mada. Yang mengherankan: kenapa si gadis misterius ikut menjadi korban?
Teror tak berhenti sampai di situ. Setelah kasus bunuh diri, dilaporkan ada seorang gadis yang menginjak mata manusia di depan gerbang.
Hansel tentu tak tinggal diam, mendadak ia berubah menjadi Detektif Holmes-Poirot. Dibantu dengan rekan sejawat, Ali dan Grisel, ia akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Namun yang tidak Hansel tahu, akan ada luka besar yang menunggunya di akhir permainan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minnie Harissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh: Hanselio Kaban
Hari itu kami mencari informasi tentang siapa-siapa saja yang pernah dekat atau bermasalah dengan Nixie dan Jay. Perihal Nixie sangat mudah didapat sebab ada Tengku yang lagi-lagi dengan gampangnya mengorek informasi dari Cynthia. Dua tukang gosip itu kalau sudah dikumpulkan pasti akan langsung membahas segala hal. Tanpa terlalu dikorek-korek pun kami dapat banyak informasi darinya. Yang menyulitkan adalah fakta bahwa terlalu banyak orang yang dekat dan punya masalah dengan Nixie.
Namun yang paling menarik perhatianku adalah kenyataan kalau Nixie dulunya adalah seorang cewek cupu, gemuk, dan sangat menyedihkan. Cynthia juga katanya cuma dengar-dengar dari orang lain saja sebab ia baru kenal Nixie dari SMA.
Katanya, sewaktu SD gadis itu punya berat badan yang melebihi rata-rata. Ia sering diejek seekor ****, dan bukan hanya siksaan verbal saja, terkadang teman-teman sekelasnya juga mengerjai gadis itu dengan melemparinya dengan sesuatu.
"Kalo si Fitri itu gimana? Dibanding teman, dia lebih cocok jadi orang yang dibuli Nixie."
"Entahlah," jawab Cynthia pada pertanyaanku. "Udah pernah kubilang kan mereka kayak dekat, tapi Nixie gak pernah ngakuin dia sebagai teman." Gadis itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Oh, iya. Bukan cuma sama Fitri aja Nixie kayak gitu. Dia juga kayaknya dekat sama Anne, tapi gak pernah nganggap anak itu temannya."
"Anne," ulangku. Merasa nama itu tidak asing.
"Itu cewek yang gantung diri tiga bulan yang lalu," sahut Tengku.
"Ah. Yang gantung diri di kamar itu!"
"Iya, Bos."
Aku kembali memandang Cynthia. "Emangnya mereka sedekat apa?"
Ia tampak berpikir. "Ya... Terkadang aku liat cewek itu ngasih minuman ke Nixie. Mereka bertiga kadang pulang bareng. Aku gak tau pasti karena mereka selalu nutup-nutupi apa yang mereka lakuin atau bicarain, tapi Nixie sering permisi sama kami terus nemuin dua cewek itu."
***
Menarik. Menarik sekali. Nixie si gadis populer terlihat dekat dengan dua orang gadis cupu di sekolah. Tapi sangat aneh kalau mereka dekat tapi tak dianggap sebagai teman. Lantas hubungan mereka apa?
Anne, si gadis yang katanya bunuh diri karena tak tahan di-bully.
Masa sih? Nixie adalah orang yang mem-bully-nya! Kalau begitu kenapa tak pernah ada yang membahas hal ini. Selama ini yang disebut-sebut hanya "Anne di-bully" (tanpa tahu siapa pelakunya), "Anne dirasuki makhluk gaib" (tanpa ada bukti pastinya).
Kini aku berdiri di depan kelas Grisel. Yang mana juga merupakan kelas Fitri. Tengku sudah balik duluan ke kelas. Perihal Grisel, sejak tadi ia pergi ke perpustakaan, makanya tak ikut kami menjumpai Cynthia.
Tanpa diduga cewek itu keluar. Ia sempat kaget saat melihatku dan berniat kabur. Tapi aku mencekal tangannya.
"Ada yang mau gue tanyain ke elo. Kalo lo menghindar, ke depannya lo bakal terus berurusan sama gue. Bahkan mungkin sama temen-temen gue."
Ia meneguk ludah dengan tampak khawatir. Sejurus kemudian, kami sudah berada di lorong yang cukup sepi.
"Lo kenal Anne?"
Ia gelagapan. Melihat sekilas padaku, kemudian cepat-cepat melihat ke arah lain dengan gelisah. "Kami kan dulu sekelas, pasti kenal lah."
Sekelas?
"Apa kalian dekat sama Nixie?"
Cewek itu tertawa getir. "Mana mungkin anak kayak kami dekat sama Nixie."
"Ada yang bilang kalian dekat. Nixie sering nemuin kalian berdua. Terkadang Anne juga bawain minuman Nixie."
"Enggak lah. Mana mungkin." Ia tetap mengelak, meski dari wajahnya jelas menyiratkan kebohongan. "Kalo tentang minuman, bisa aja kan Nixie nitip sama Anne."
"Lo tau kenapa Anne gantung diri?"
Cewek itu membeliak sejenak, sebelum menjawab dengan terbata-bata, "Ng-gak, nggak tau."
Aku mengembuskan napas. "Lo gak pinter bohong. Apa pun yang bikin lo nutup-nutupi kebenaran sekarang, itu bakal buat hidup banyak orang menderita. Padahal lo bisa bantu banyak.
"Tapi gak masalah. Gue gak akan maksa lagi. Gue pergi kalo gitu."
Dia tidak mau mengaku dekat dengan Nixie dan Anne.
Di kepalaku berseliweran banyak kemungkinan. Kalau (misalnya) Nixie adalah penyebab Anne meninggal, bisa dianggap kalau pelaku yang menghabisi Jay dan Nixie adalah orang yang tak terima Anne meninggal. Tapi jika bukan demikian, apakah artinya Anne sama-sama korban seperti Nixie dan Jay. Ketiga-tiganya sama-sama bunuh diri, kan?
***
Sincerely,
Dark Pappermint
puas juga gk apa"x dia mati😏
apa mungkin Gisel, Seno dan si mantannya Gisel arghh... bingung aku