Aku adalah gadis minang, tapi tak banyak yang ku ketahui tentang ranah minang dan adat istiadatnya. Aku di lahirkan di perantauan dan menghabiskan waktu berpindah pindah daerah pulau sumatra.
Aku adalah asisten pengacara, tentu sudah banyak kasus yang aku selesaikan bersama sang pengacara yang tak lain adalah teman ku saat kami kuliah di salah universitas swasta di Jakarta.
Saat ini usia ku sudah 27 tahun, keluarga besar semua khawatir aku menjadi perawan tua. Aku sih enjoy aja toh yang penting aku kerja dan jalan jalan ke daerah mana saja yang objek kasus yang harus di tangani oleh tim pengacara tempat aku kerja.
Sampai suatu ketika aku kaget mendengar keputusan paman dari adik sepupu ibu ku di Padang. Beliau menjodohkan ku dengan seorang duda yang memiliki usaha perniagaan yang cukup berkembang pesat dengan pundi pundi yang fantastis.
aku tak menerima perjodohan itu dan menolaknya, paman marah besar dan berkata dengan sangat kasar pada ayah ku, aku yg tak terima dengan keputusan paman berasumsi apa hak nya paman dengan sampai marah besar karena aku menolak keinginannya?????. Pasti ada maksud terselubung, ayah ku hanya diam saja beliau tidak mau komentar apapun. Tapi aku melihat air mata ayah mengalir perlahan.
Tanpa berpikir panjang aku langsung mengajak nikah seorang pria yang baru aku kenal, pemuda itu seorang guru SMU di Serang Banten.
Apakah keputusan ku ini menikahi nya yang terbaik????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rais Caniago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 28 Hamil???...
Ceklek....
"Nad...mau kemana sayang?", melihat istrinya membuka pintu kamar.
"hmmm...mau ke dapur pingin ngambil buah...", jawab Nada.
Ridho mengikuti istrinya ke dapur. Ia melihat istrinya mem buka kulkas dan mengambil buah apel...kemudian mencucinya, dan memotong beberapa bagian, dan mengambil piring sebagai wadah.
"Mas...kok ngikutin sih!", menatap suaminya dengan tatapan tak suka.
"Emang ngak boleh ngikutin...kenapa sekarang jutek banget...hmmm...", memeluk istrinya dari belakang dan menempelkan kepalanya dipundak istrinya.
"Mas...", memegang tangan suaminya yang melingkari pinggangnya..."Pingin gendong?", memutar badannya menghadap suaminya.
"Habisin dulu apelnya...ntar mas gendong ya", cup...mencium sekilas bibir ranum sang istri yang membuatnya candu ingin mencium dan mencium lagi dan lagi tak pernah ada puasnya. Dasar penganten baru...pernikahan Ridho dan Nada sudah berjalan 4 bulan.
Ridho menarik tangan istrinya untuk duduk...ia menyuapi buah apel ke mulut Nada...memandang istrinya yang sedang asyik memakan potongan potongan apel hingga habis.
"Mas...pingin...", menatap suaminya dengan tatapan yang menggoda.
"Mau apa???",...karena tak mau tertipu lagi...beberapa waktu lalu istrinyanya bilang seperti itu...ia mengira istrinya pingin bermain di ranjang...ternyata pingin makan martabak Kubang.
"Mau...gendong dulu ke kamar...ntar di bilangin...", tapi sekarang tangannya sudah memainkan leher jenjang suami...menciumnya dan menyesapnya...membuat Ridho terbakar birahinya. Ridho menikmati semua yang dilakukan istrinya...merasa heran istrinya sekarang sangat agresif untuk bercumbu dan bercinta.
Ridho yang sudah merasakan libidonya, segera menggendong istrinya kekamar. Membaringkan istrinya di kasur yang empuk. Ridho segera melepaskan semua pakaiannya...sementara Nada yang hanya memakai lingerie hanya dalam sekejab saja Ridho telah melepaskannya...Ridho yang terbakar gairah terus mencumbu istrinya...mencium dan menyesap setiap inci permukaan halus kulit istrinya...perlahan ia membuka celana dalam istrinya...dan ia pun mulai penyatuan...merasakan sensasi gairah yang menjadi kenikmatan bagi suami istri yang sedang kasmaran.
\=\=\=\=\=
Ridho dan Nada duduk di sofa...mengeringkan rambut Nada...dan menyisirinya. Seperti biasa setiap habis bercinta mereka langsung mandi junub...selain bersih dari hadast besar dan memberikan pengaruh yang sangat besar bagi kesehatan.
"Mas...pingin....", menggigit bibir bawahnya membuat Ridho gregetan.
"Ngomong aja ngapa???", bersiap siap dengan segala permintaan yang terkadang bikin pusing.
"Ngak jadi....", berjalan ke kasur dan membaringkan badannya meraih bantal guling meleluk erat dan membelakangi suaminya.
Ridho menyusul istrinya kekasur...ikut berbaring...dan memeluk, melingkarkan tanganya di pinggang istrinya berbisik dengan mesra.
"Nada...dosa ya...membelakangi suami...", mencium tengkuk leher istrinya yang masih tercium harumnya wangi sampo dan sabun mandi aroma jeruk.
"Bodo...amat...",...
"Sensi amat sih...Nada mau apa?", membalikkan badan istrinya agar menghadapnya...menatap mata indah dengan bola mata berwarna coklat.
"Jangan ngambek dong...sayang", membujuk istrinya jangan sampai uring uringan...kacau ntar kalau Nada dalam mode bad mood, entahlah...semakin hari perasaan sayang dan cinta pada istrinya semakin bertambah...meski terkadang ngeselin...akhir akhir ini Nada sangat malas masak...mencium bau aroma masakan...apalagi ketika menanak nasi...Nada selalu merasa pusing...mual dan akhirnya muntah.
Nada bangun dari tidurnya...ia duduk bersandar di bahu suaminya...karena suaminya duluan bangun dan duduk.
Nada mengambil ponsel nya yang ia letakkan di atas nakas. Jemarinya dengan lincah berselancar di hape canggihnya. Ia baru ingat...belum haid bulan ini. Seketika ia berdiri dan berjalan mendekati meja riasnya. Segera membuka salah satu laci di meja rias dan tidak menemukan pembalut satu pun.
"Nada...nyari apa sih?", heran dengan raut wajah istri yang tak bisa di baca...apa yang di pikirinnya.
"Mas...Nada ingat bulan ini belum haid...".
"Trusss...maksudnya apa?", bertanya balik.
"Mas senangkan ngak puasa...ngak perlu menahannyakan????",...menatap suaminya
memberikan guratan wajah yang menyiratkan sesuatu.
Blush...wajah Ridho memerah menahan malu...istrinya tersenyum mengejek.
"Masih jam 10 malam...mas ke Royal yuk...mau jajan kue pancong", mencium bibir suaminya berniat membujuk dan merayu agar mau memenuhi keinginannya itu.
"Iya...yuukkk", menarik lengan istrinya, membuka lemari mencari jaket yang tebal tuk di pakai oleh mereka...karena pasti dingin udara di luar apalagi mengendarai motor.
Setelah mengunci pintu, mereka pun berangkat.
"Mas kok berhenti di sini...", merasa heran karena suaminya berhenti di depan sebuah apotek.
" Ayo...masuk", ajak suaminya.
"Mas mau beli obat???",....
"Bukan...".
"Trussss...".
"Kita beli tespack", membisikkan di telingga istrinya yang terhalang oleh jilbab instan yang di kenakan istri.
"hahhhh...", merasa kaget luar biasa...kok bisa suaminya berpikir kalau ia sekarang hamil.
"Mas...yakin...", merasa ragu...karena ia memang sering telat haid semasa gadisnya bahkan beberapa bulan bisa tidak dapat haid.
"Kita coba ya sayang...apapun hasilnya semua atas kuasa Allah...", mengenggam tangan istrinya dan kemudian berjalan beriringan sembari merangkul mesra sang istri masuk ke dalam apotek.
"Ada yang bisa di bantu?", sapa khas seorang petugas apoteker yang berseragam.
"Mau tespacknya 2 ya mbak yang paling bagus", ucap Nada.
Sambil menunggu petugas apoteker...Nada terlihat khawatir.
"Ini Pak...Bu...tespack dengan hasil akurasi yang akurat", petugas apoteker menjelaskan cara penggunaan dan waktu yang baik tuk tes.
"Emang harus pagi ya mbak?", tanya Nada.
"Iya...lebih bagus pagi dan lebih akurat hasilnya Bu...", ucapnya dengan tersenyum karena melihat Ridho tetap merangkul mesra istrinya....jadi iri dech...ucap si apoteker dalam hati.
"Besok kita tes ya...in syaa Allah benar...mas udah ngak sabar menjadi seorang ayah...", ucapnya dengan mata yang berbinar.
"Mas...bayar dulu...", ucap Nada.
"Maaf mbak hampir lupa...saking bahagianya kalau istri ku ini hamil...", mengambil dompet dan menyerahkan satu lembar uang merah.
"Ambil saja kembaliannya mbak..'.sedekah dari istri saya...mengambil paper bag...mengajak istrinya keluar dari apotek.
"Mesraaanya...pingin dech punya suami yang super super perhatian...lembut...", ucap petugas apoteker tadi.
"Jadi iri...kapan ya aku di lamar?",...ucap petugas apoteker yang lain.
"Emang punya pacar?",..
"Menikah kan itu ngak musti punya pacar...siapa tau ketemu langsung di lamar...kan lebih indah pacaran setelah nikah...halal...mau ngapa ngapain...".
"Sholat hajat yuuk",....ajak temanya.
\=\=\=\=\=
Nada dan Ridho sedang menikmati kue pancong...Ridho menatap istrinya yang dengan lahap memakan kue pancong hingga habis.
"Mas...bayar ya!", titahnya pada suami.
"Iya nyonya...", tersenyum, kebiasaan...minta ini itu ngak lihat waktu...makan dengan lahap...suami juga yang harus bayar...kewajiban dong...kan harus ngasih nafkah lahir dan batin.
"Maaf Pak...ngak ada kembaliannya...dari tadi pelanggan saya membayar dengan uang seratusan ribu...saya udah kehabisan uang receh", ucap si ibu penjual kue pancong yang kira kira berumur 60 tahun...Ridho tau betul si ibu berjualan setiap malam di kawasan Royal Kota Serang, tapi ia belum pernah sekalipun membelinya, ini baru pertama kalinya...karena keinginan istrinya.
"Kembaliannya buat ibu aja...", kemudian berjalan beriringan dengan istrinya bergandengan tangan.
Raut bahagia terpancar di wajah ibu penjual pancong...ia bersyukur sekali dapat rezeki yang tak di duga...sejak suaminya meninggal ia yang meneruskan usaha ini karena ia hanya tinggal berdua dengan cucunya yang sekarang sedang kuliah. Ia hanya bertugas membuat kue pancong...semua persiapan bahan...mengaduk adonan...mendorong gerobak...memasang tenda menyusun kursi dan meja semua tugas cucu laki lakinya. Cucunya yatim piatu sejak berumur 15 tahun...anak laki lakinya dan menantu yang sangat ia sayangi meninggal karena kecelakaan.