" KARENA MANUSIA SELALU MENGINGINKAN YANG TERBAIK TAPI LUPA MENJADI BAIK DAN BERBUAT BAIK"
Mengisahkan Perjalanan hijrah seorang gadis bernama Gendis.
Masa lalu yang penuh dosa pun membuat Gendis mengalami trauma.
Iqbal seorang pria yang baik namun salah pergaulan menjadikan Iqbal sebagai pribadi yang keras, playboy dan liar.
Mereka dipertemukan pada saat mereka sama sama tidak baik dan bertobat untuk berhijrah.
Perjuangan menuju Jannah yang selalu diimpikan pun harus dilalui dengan kisah yang Tragis, Miris dan Derai Air Mata.
Berhijrah itu mudah tapi untuk Istiqomah itu sulit.
GENDIS.... IQBAL .... JADIKAN SEMUA KISAHMU MENJADI PELAJARAN YANG BERHARGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AIR CUCI KAKI BUNDA
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Setelah selesai makan siang dan sholat berjamaah dirumah Iqbal. Umi berpamitan untuk kembali ke Ponpes, karena Abah tidak ada jadi semua tanggung jawab ada pada Umi. Berat untuk meninggalkan Gendis, karena amanah Abah untuk tidak meninggalkan Gendis sendiri. Tapi umi juga tidak tega melihat Iqbal yang tampak bersemangat melihat kedatangan Gendis.
"Bunda, Iqbal, Gendis, umi pulang dulu, Gendis jangan lupa kembali ke Ponpes, biar nanti umi suruh satpam menjemputmu Nak, umi tidak tega pada Iqbal bila harus mengantarkanmu. Lebih baik Nak Iqbal istirahat, akan ada waktunya kalian bersama sama lagi. Ini soal waktu, umi harap Iqbal bisa menunggu ya Nak? Doakan terus untuk abah, Umi dan Gendis. Bunda terimakasih makan siangnya sungguh luar biasa pepes mujairnya. Nikmat sekali, lain waktu, umi kesini lagi ya bunda. Iqbal jaga bundaku, karena ridho bundamu, surga untukmu, Assalamualaikum." ucap umi menasehati dan mengucapkan salam untuk berpamitan.
"Waalaikumsalam, umi" ucap Gendis dan iqbal, sambil mencium punggung tangan umi bergantian.
Bunda, Iqbal dan Gendis mengantarkan umi sampai depan pagar. Sudah ada becak yang menunggu umi untuk diantarkan pulang.
"Bunda, mas Iqbal Gendis ke warung sebentar, mau membeli bahan bahan untuk masak buka puasa nanti." ucap Gendis pelan.
"Mas antar ya?" ucap Iqbal.
"Mas gak malu anter Gendis ke warung?" ucap Gendis malu.
"Gak sayang ayok, bunda Iqbal antar Gendis dulu." ucap Iqbal kepada bundanya.
"Iya sayang, hati hati." ucap bunda pelan.
Gendis dan Iqbal menuju warung yang menjual sayuran, dan mulai memilih milih bahan yang dibutuhkan serta membeli bahan bahan kue, rencana Gendis akan membuat kue kesukaan anak anaknya.
Setelah selesai mereka berdua pun pulang.
"Gendis apa yang kamu rasakan sekarang?" ucap Iqbal menyelidik.
"Maksudmu apa mas Iqbal?" ucap Gendis tidak mengerti.
Sudah pasti jelas Gendis senang dan bahagia karena bertemu suaminya, bundanya sebentar lagi bertemu anak anaknya. Hal yang sangat sulit untuk diungkapkan tapi mudah untuk dirasakan.
"Apa kamu merindukanku hingga kamu ingin main kemari?" ucap Iqbal pelan.
"Mas Iqbal, hal seperti itu tidak perlu aku jawab. Kamu harusnya bisa merasakan bagaimana perasanku tadi dalam perjalanan menuju kesini. Aku senang dan bahagia, walau itu sesaat dan nanti aku harus kembali lagi ke Ponpes. Aku mau menikmati hari ini di istana kecil kita." ucap Gendis lirih.
"Maafkan aku Gendis." ucap Iqbal tak kalah lirih. Merekapun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dalam diam.
Gendis mulai dengan aktivitasnya didapur. Mulai memotong bahandan meracik bumbu, dan kalau sudah beres nanti tinggal dimasak saja. Gendis pun keluar dari dapur melihat bunda dan mas Iqbal sedang asyik dalam suatu obrolan.
Gendis pun menghampiri bunda dan mas Iqbal. Gendis langsung bersimpuh dikaki bunda, mulai meminta maaf atas segala kesalahan yang Gendis lakukan.
Iqbal dan bunda hanya saling berpandangan terkejut dengan apa yang dilakukan Gendis.
"Bunda maafkan Gendis, Gendis bukan menantu yang baik, bukan perempuan yang terhormat, Gendis bukan perempuan yang bisa dibanggakan oleh bunda. Gendis selama ini hanya bisa menyusahkan bunda, membuat kesal bunda, membuat kecewa bunda dengan masa lalu Gendis yang buruk. Gendis mohon ridho bunda memaafkan Gendis secara ikhlas atas semua kesalahan Gendis. Jangan bandingkan Gendis dengan menantu teman teman bunda, Gendis tidak apa apanya dibanding mereka bunda. Gendis belum bisa membahagiakan bunda." ucap Gendis terbata bata. Air matanya sudah deras membasahi kaki bundanya. Tubuhnya sudah bergetar hebat menahan sesak di dadanya.
"Gendis sayang, jangan seperti ini, bunda tidak pernah membandingkanmu Nak, Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan, itu mutlak pemberian dari Allah SWT. Bunda sayang padamu Gendis, bunda tulus mengasihimu seperti anak bunda sendiri. Bunda pernah marah padamu Nak? atau bunda pernah membentakmu? atau bunda pernah menyakitimu? Bunda tidak sampai tega melakukan itu padamu Nak. Itu karena bunda sangat mencintaimu, sama seperti Iqbal mencintaimu. Bunda harap kamu jangan berfikir yang tidak tidak Nak Gendis. Kamu tahu dengan adanya kamu, Iqbal berubah menjadi lebih baik. Keluarga ini menjadi hangat lagi dan hidup lagi semenjak ada kamu Gendis. Bunda akan selalu menyayangimu sampai akhir hayat bunda. Jaga terus sholat 5 waktumu, sholat sunnahmu, puasamu, iman Islammu, tetap menjadi menantu bunda yang baik, kuat, ikhlas dan sabar. Bunda bangga punya menantu yang tangguh dan mandiri seperti kamu. Jaga selalu kehormatanmu dan harga dirimu sebagai wanita. Selalu bersikap lembut dan halus. Jaga suamimu, layani dia, hormati dan hargai suamimu. Kamu hanya perlu taat pada suamimu, tentu kamu tahu Gendis, jaminanmu Surga Nak. Sabar dalam mendidik anak anak, jaga emosi, dan nafsu amarahmu jangan sampai itu terlihat. Perbanyak istighfar dan sholawat. Ingat selalu pesan bunda. Bunda kan tidak selamanya ada bersama Gendis, suatu saat bunda pasti dipanggil Allah SWT. Bunda tidak bisa meninggalkan banyak harta Gendis, bunda hanya bisa memberikan ilmu dan nasihat, Insya Allah bermanfaat untukmu dimasa yang akan datang." ucap bunda dengan terisak.
"Bunda ngomong apa, jangan tinggalkan Gendis bunda, Gendis ingin merawat bunda dan membuat bunda bahagia. Bunda....... bunda....." ucap Gendis dengan mencium punggung kaki bundanya bergantian. Air matanya sudah tak terbendung lagi, deras sekali.
"Mas Iqbal tolong ambilkan air dibaskom dan handuk kecil." ucap Gendis memohon
Air bersih didalam baskom diletakkan didepan Gendis dan handuk kecil yang diminta Gendis.
"Apa yang akan kamu lakukan Nak Gendis?" ucap bunda merasa heran.
"Gendis ingin mencuci kaki ibu, ingin mengelap dengan handuk ini bunda, ijinkan Gendis melakukannya." ucap Gendis pelan.
Satu per satu kaki bunda dimasukkan ke baskom itu, kaki yang selalu lelah untuk mencari nafkah, kaki yang lelah untuk mengurus rumah dan anak, kaki yang lelah untuk mencari pahala dengan berjalan ke masjid ataupun kajian. Kaki yang lelah menopang tubuhnya sendiri yang mungkin sedang sakit. Setelah dicuci kemudian diletakkan kaki bunda dipangkuan Gendis, kemudian dilap pelan pelan hingga bersih dan kering. Entah apa saja yang akan diceritakan oleh sang kaki nantinya saat ditanya oleh malaikat tentang apa yang telah perbuat kaki selama di dunia
Setelah selesai semua, dicium kembali kedua punggung kaki itu secara bergantian. Gendis pun mengambil baskom bekas air cuci kaki ibu mertuanya, kemudian Gendis pakai untuk mencuci wajahnya dan sebagian lagi Gendis ambil dengan tangannya untuk diminumnya, ketika akan Gendis minum ,Iqbal pun berteriak
"Cukup Gendis jangan kamu lakukan itu, bunda sudh memaafkanmu, cukup Gendis jangan membuatku sedih Gendis, aku suamimu aku bisa merasakan apa yang sedang kamu alami Gendis. Cukup gendis.." ucap Iqbal tegas dan merebut baskom itu dari tangan Gendis.
"Mas Iqbal biar Gendis lakukan mas Iqbal, biar hati Gendis tenang mas Iqbal, biarkan Gendis minum air cuci kaki ibu mas, ini tidak sebanding dengan dosa dosa kita mas, aku melihat kedua anak kita yang kita bunuh mas, mereka bisa menyeretku ke neraka mas, biarkan aku meminum air cuci kaki ibu mas, tolong mas berikan baskom itu padaku mas, Gendis mohon, kembalika mas.." ucap Gendis memohon.
Hati Iqbal pun tersentak mengingat dua janin tidak berdosa itu meninggal tanpa dosa, janin yang tidak diharapkan oleh si pembuat maksiat tetapi sebenarnya butuh kehidupan.
Iqbal pun mengembalikan baskom itu kepada Gendis, dan gendis pun menerima baskom itu kemudian meminumnya.
Ada rasa perih dan pedih melihat perjuangan seorang ibu, tapi aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak anakku.
Gendis terduduk kembali dengan wajah ditutupi dengan kedua tangannya, Gendis menangis hebat, disertai teriakan teriakan kecil, terdengar menyayat hati.
Bunda dan Iqbal memeluk Gendis.
"Sayang sudah jangan lakukan bila ujung ujungnya kamu seperti ini, mas tidak tega melihatmu seperti ini, sayang ayo bangun, istirahatlah dikamar, mungkin kamu lelah sayang." ucap Iqbal lembut.
"Bunda, mas Iqbal maafin Gendis ya, tolong ikhlaskan permintaan Gendis. Gendis benar benar menyesal." ucap Gendis dengan memeluk bundanya.
"Gendis....."
-----------------------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA
JAZAKALLAH KHAIRAN
SEGINI DULU PART INI
SAYA NULISNYA JUGA MENANGIS
😭😭😭😭😭
💚💚💚💚💚
subhanalloh.....
wanita surga " Sayyidah Fatima Az-Zahra "
❤️❤️❤️
NEXT
bisa mampir lagi
apa kabar ?
alhamdulillah baru sempat mampir lagi 😊😊🤗🤗
mohon dukungan
My lovely Gea
Istriku dokter Cintaku