Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 8. H e a r t b r e a k
Ambar merasa sesak di saluran pernapasannya. Semakin Ambar merasa sesak, semakin Ambar merasa seperti ada yang terasa perih dari dalam dirinya, semakin pula napas Ambar terasa pendek-pendek. Gadis itu juga merasakan bahwa matanya terasa panas dan sesuatu mendesak keluar dari pelupuk mata.
Tangan Ambar perlahan terangkat kemudian memegangi bagian lehernya sendiri. Napasnya semakin tersendat-sendat tetapi cepat dan dia juga terus bertanya-tanya. Ada apa dengan dirinya? Apa yang dia rasakan ini? Kenapa napasnya terasa tertahan dan menyakitkan?
Kemudian Ambar sadar bahwa pipinya basah. Sesuatu itu berhasil mengalir dari pelupuk matanya. Setelah menatap Damar dan Putri sekilas, segera Ambar memutar arah. Gadis itu sempat menabrak bahu seseorang saat mencoba berlari menjauh. “Am, ada apa?” tanya orang itu sebelum Ambar berlari semakin jauh. Suaranya terdengar seperti Gilang, tetapi Ambar tidak lagi peduli.
Ambar membuka salah satu pintu kamar mandi dengan kasar. Sembari bersandar pada pintu kamar mandi, Ambar dapat merasakan jika dirinya baru saja memulai tangisan yang membuat dadanya merasa semakin sesak. Tangisnya sesenggukan, bahkan dia harus menutup mulut dengan tangan untuk meredam suara.
🍒🍒🍒
Putri berjalan menghampiri Gilang yang baru selesai memimpin rapat untuk rencana pembuatan mading minggu ini. “Ambar ikut rapat?” tanya Putri.
Gilang menggelengkan kepala. “Apa dia masih belum berangkat, ya?”
“Dia udah berangkat, kok,” jawab Gilang cepat. “Tadi gue ketemu dia di depan ruangan. Dia nanyain lo, Kak. Tapi abis gue dari kamar mandi, gue lari pergi.”
Putri mengerutkan dahi. “Ke mana?” tanya Putri.
“Gue gak tau. Waktu gue tanya dia gak jawab. Habis itu gue langsung lanjutin rapat, jadi gak merhatiin … itu orangnya,” ucap Gilang ketika melihat seorang gadis yang sedang mereka bicarakan baru saja melepas sepatu di depan ruang esktra.
Putri menolehkan kepala untuk melihat kea rah pintu. Benar saja, di sana ada Ambar yang berjalan ke arahnya sembari tersenyum. Putri balas tersenyum pada Ambar sembari bernapas lega. Dia merasa lega setelah melihat Ambar sepertinya baik-baik saja. Ketua esktra yang sebentar lagi akan purna itu sempat cemas jika Ambar terguncang karena ibunya dilarikan ke rumah sakit.
“Hai, Kak,” sapa Ambar.
“Apa kabar? Gimana nyokap lo?” Ambar tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Putri. Padahal Ambar sedang sangat berharap tidak akan ditanyai kabarnya.
“Aku baik. Kalau Mama belum sadar tapi kata dokter keadaannya udah stabil. Kalau Tuhan berkehendak, tinggal nunggu sadar aja.” Putri tersenyum sekilas sembari menepuk-nepuk pundak Ambar.
“Oh, iya. Fotonya gimana? Terakhir pengumpulan minggu ini,” sebenarnya Putri merasa sedikit tidak enak harus mengingatkan hal seperti ini disaat keluarga Ambar baru saja tertimpa musibah.
Ambar menganggukkan kepala sembari menyerahkan flashdisk-nya. “Lo udah siapin judul yang bagus.” Ambar mengangguk sekali lagi, kali ini sembari tersenyum.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju salah satu komputer, sedangkan Gilang memilih untuk menghampiri adik-adik kelasnya yang masih merundingkan tema serta konsep mading untuk satu semester ke depan. Lalu Putri mengecek gambar yang telah disiapkan Ambar.
Di dalam gambar itu objek pertama yang dilihat Putri adalah seorang lelaki memakai hoodie merah dan memegang es krim yang wajahnya kabur. Sedangkan tidak jauh dari lelaki itu sekelompok orang yang sepertinya keluarga sedang berkumpul. Anak perempuan dari keluarga itu sedang memegang es krim seperti si lelaki ber-hoodie merah.
Setelah mengamati beberapa saat, Putri tersadar bahwa lelaki dalam foto itu terasa familiar. “Ini Damar?” tanya Putri sembari menatap Ambar.
“Iya,” jawab Ambar sembari tersenyum meskipun dia merasakan denyutan perih dari dalam dirinya saat mendengar nama lelaki itu.
“Keren, dan ini asli?”
“Iya, hanya menambahkan sedikit efek aja biar efek dramatisnya terasa,” jelas Ambar.
“Karya lo selalu keren kayak biasa. Jadi untuk karya keren ini, lo udah siapun judul yang cocok?”
Ambar terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Putri. “Saat senja, ditimpa sorot kasih sayang. Yang seharusnya di bawah naungan orang tua, tetapi sayang tidak semua anak bisa merasakannya. Jadi aku beri gambar ini aku beri judul Sorot Cahaya Senja, Sorot Kasih Sayang. Damar ngasih aura yang cocok sama ungkapan itu.”
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏