"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 | Jejak Yang Disembunyikan
Langkah Arsen terdengar tergesa menyusuri lorong Mahendra Group. Tatapan dinginnya membuat setiap karyawan yang berpapasan langsung menyingkir tanpa berani menyapa.
Pintu ruang kerja Ayla terbuka tanpa ketukan.
Brak!
Ayla yang sedang merapikan beberapa berkas sontak terkejut.
"Pak Arsen?"
Arsen berdiri di ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu. Sorot matanya langsung menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada orang lain di sana.
"Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan itu keluar begitu cepat hingga Ayla sempat terdiam.
"A-aku baik, Pak."
"Yakin?"
"Iya."
Arsen menghela napas pelan. Baru kali itu Ayla melihat raut wajah pria itu dipenuhi kecemasan yang berusaha disembunyikan.
"Kamu menerima kiriman dari seseorang?"
Jantung Ayla langsung berdegup lebih cepat.
Berita itu ternyata sudah sampai ke telinga Arsen.
Ia menggenggam tasnya sedikit lebih erat. Foto yang diterimanya sore tadi masih tersimpan rapi di dalam sana.
"Hanya salah kirim."
Jawabnya pelan.
Tatapan Arsen berubah tajam.
"Ayla."
Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan.
"Jangan bohong padaku."
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa detik berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.
Ayla akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Ada seseorang yang menitipkan amplop lewat anak kecil."
"Lalu?"
"Isinya cuma sebuah foto."
"Foto apa?"
Ayla menundukkan kepala.
"Aku... belum mengerti."
Ia tidak benar-benar berbohong. Sampai sekarang ia memang belum memahami maksud foto itu.
Arsen mengulurkan tangan.
"Boleh kulihat?"
Ayla ragu.
Tangannya perlahan masuk ke dalam tas, tetapi tepat sebelum amplop itu dikeluarkan...
Ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Layar ponsel menampilkan satu pesan singkat.
Jangan tunjukkan foto itu kepada siapa pun. Kalau tidak, orang pertama yang akan menyesal adalah Arsen.
Wajah Ayla langsung memucat.
"Ayla?"
"Aku..."
Dengan cepat ia mematikan layar ponselnya.
"Nggak ada apa-apa."
Arsen jelas menangkap perubahan ekspresi itu.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Raka masuk dengan wajah serius.
"Maaf mengganggu, Pak."
"Ada perkembangan."
Arsen menoleh.
"Temukan aku di ruang rapat lima menit lagi."
"Baik."
Sebelum keluar, Arsen kembali menatap Ayla.
"Kalau ada apa pun..."
"...jangan mencoba menghadapinya sendirian."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun entah mengapa membuat hati Ayla terasa hangat.
_________________________________________
Di ruang rapat.
Suasana jauh berbeda.
Layar besar menampilkan data seseorang yang menjadi target penyelidikan.
"Pak Arsen."
"Nama teknisi vendor itu ternyata palsu."
Raka menekan remote.
Foto identitas di layar berganti.
"Sidik jarinya juga tidak terdaftar."
Arsen menyipitkan mata.
"Artinya?"
"Dia sengaja menghapus semua jejak."
Belum selesai Raka menjelaskan, seorang anggota tim keamanan masuk dengan napas terburu-buru.
"Pak!"
"Kami menemukan sesuatu."
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Ada rekaman CCTV lain yang sebelumnya tidak tersimpan di server utama."
"Putar."
Ruangan kembali gelap.
Video mulai berjalan.
Terlihat seorang pria mengenakan jaket hitam berjalan di koridor belakang gedung Mahendra Group.
Wajahnya tertutup topi dan masker.
Namun ketika pria itu melewati sebuah kaca...
Bayangannya memantulkan sesuatu yang membuat Arsen membeku.
Sebuah cincin.
Cincin berukir lambang burung garuda.
Arsen mengepalkan tangannya.
"Lambang itu..."
Raka ikut menatap layar.
"Pak, Bapak mengenalnya?"
Arsen tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih terpaku pada layar yang kini telah berhenti.
"Sudah lama sekali..."
"...aku tidak melihat simbol itu."
__________________________________________
Di tempat lain.
Pria bertopeng duduk santai di dalam ruangan remang-remang.
Di depannya, beberapa monitor menampilkan aktivitas Mahendra Group secara langsung.
Senyuman tipis terukir di balik topengnya.
"Dia menemukannya."
Seseorang berdiri di belakangnya.
"Tuan..."
"Apakah kita perlu menghentikan penyelidikan mereka?"
Pria bertopeng menggeleng pelan.
"Justru sebaliknya."
"Biarkan Arsen mengikuti semua jejak yang kita tinggalkan."
"Bukankah itu berbahaya?"
"Tidak."
Ia berdiri, lalu berjalan mendekati salah satu monitor yang menampilkan wajah Ayla.
"Karena semua jalan..."
"...akan membawanya ke tempat yang sama."
Ia mengangkat sebuah foto lama.
Foto yang sama persis seperti milik Ayla.
Namun kali ini, sebagian sudut foto yang tertutup bayangan terlihat jelas.
Di sana...
Berdiri seorang pria yang wajahnya selama ini sengaja disobek dari foto asli.
Pria bertopeng tersenyum tipis.
"Sebentar lagi..."
"...kalian akan saling mengenali."
Bersambung...