NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Jatuh Cinta

Sebelum Kita Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Rosealyn

"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."

Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.

Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?

Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Orang Yang Mengawasi

Malam itu, setelah mengantar Nadira pulang, Arga tidak langsung beristirahat.

Pikirannya masih dipenuhi berbagai kejadian yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Mulai dari kemunculan Bianca yang tiba-tiba menghubunginya, sedan hitam yang sempat mengikuti mobil mereka, hingga pembobolan Toko Buku Senja yang jelas-jelas bukan pencurian biasa.

Arga membuka laptop di ruang kerjanya. Ia kemudian mengambil kartu memori dari dashcam mobilnya dan mulai memutar rekaman perjalanan beberapa hari terakhir.

Layar laptop menampilkan jalanan yang mereka lewati malam itu.

Sedan hitam itu memang ada. Mobil tersebut muncul beberapa kali di belakang mereka, lalu menghilang, kemudian muncul lagi setelah melewati persimpangan berikutnya.

Arga memperbesar gambar saat mobil itu berhenti di lampu merah.

Sayangnya, cahaya lampu kendaraan di belakang memantul tepat ke arah kamera. Plat nomornya tampak buram dan tidak bisa dibaca.

Arga memutar ulang rekaman itu beberapa kali, berharap ada satu potongan gambar yang lebih jelas. Tetap saja hasilnya sama. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil mengusap pelipis.

"Kebetulan..." Arga menggeleng pelan. "Tidak mungkin semua ini cuma kebetulan."

Sedan yang mengikuti mereka. Dokumen peninggalan Hendra. Lalu toko buku yang dibobol, tetapi tidak ada uang maupun barang berharga yang hilang. Semakin dipikirkan, semuanya terasa saling berhubungan.

Arga meraih ponselnya. Untuk sesaat ia ingin menghubungi Rizky dan memintanya mencari tahu soal sedan hitam itu. Dia mematikan layar ponselnya setelah menerima balasan dari sang bodyguard.

Arga mengembuskan napas pelan sebelum melangkah keluar dari ruang kerja. Rumah sudah benar-benar sunyi. Saat melewati lorong lantai dua, langkahnya kembali terhenti di depan kamar Nadira.

Sejak hari pertama menikah, mereka memang sepakat menempati kamar yang berbeda. Rumah itu memiliki banyak kamar kosong, sehingga mereka merasa tidak perlu berpura-pura menjadi pasangan sungguhan saat tidak ada orang lain.

Lagipula, itu juga salah satu kesepakatan yang mereka buat di awal.

Tidak mencampuradukkan perasaan. Tidak memaksakan kedekatan dan saling menghargai ruang masing-masing.

Arga sempat berpikir keputusan itu adalah yang paling tepat. Sampai malam ini. Ia mengetuk pintu pelan. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Nadira sudah mengenakan piyama sederhana. Rambutnya masih sedikit basah, sepertinya baru selesai mandi.

"Mas? Belum tidur?"

Arga mengangguk singkat. "Boleh masuk sebentar?"

Nadira bergeser memberi jalan. Setelah masuk, Arga memandang map tua yang kini tersimpan di atas meja belajar.

"Aku sudah memikirkannya. Aku rasa... mulai malam ini kita jangan tidur di kamar terpisah dulu."

Nadira mengernyit. "Maksudnya?"

"Bukan karena kontrak." Arga menggeleng pelan. "Aku cuma nggak tenang." Ia mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan. "Semalam toko dibobol. Beberapa hari lalu kita diikuti mobil yang sama. Aku nggak tahu semua ini saling berhubungan atau tidak."

Tatapannya bertemu dengan mata Nadira. "Tapi kalau memang ada seseorang yang mengincar dokumen ayahmu..." Arga berhenti sejenak. "...aku nggak mau mengambil risiko."

Nadira terdiam. Ia tahu Arga bukan tipe orang yang mudah khawatir. Justru karena itu, nada suaranya malam ini terdengar jauh lebih serius.

Beberapa saat kemudian, Nadira mengangguk pelan. "Baik."

Jawaban itu membuat Arga sedikit lega.

"Tapi… jangan salah paham dulu."

Arga mengangkat sebelah alis.

"Kita tetap tidur masing-masing."

"Maksudnya?"

"Aku di sisi sana." Nadira menunjuk sofa panjang yang berada di dekat jendela. "Kamu di kasur."

Arga spontan terkekeh pelan. "Harusnya aku yang di sofa."

"Kenapa?"

"Karena aku laki-laki."

Nadira menggeleng. "Kalau besok CEO Wijaya Group masuk angin gara-gara tidur di sofa, aku yang disalahin."

Untuk pertama kalinya sejak pembobolan toko, Arga benar-benar tersenyum.

"Ternyata kamu masih bisa bercanda."

"Kalau nggak bercanda, nanti malah makin kepikiran."

Saat Arga hendak berbalik keluar untuk mengambil beberapa barang dari kamarnya untuk memindahkanya ke kamar Nadira, wanita itu  tiba-tiba memanggil.

"Mas."

Arga menoleh. "Terima kasih..."

"Untuk apa?"

"Karena selalu bikin aku merasa nggak sendirian." Kalimat sederhana itu membuat langkah Arga terhenti. Ia kembali mendekat.

Tanpa banyak kata, Arga mengangkat tangannya perlahan, lalu merangkul Nadira ke dalam pelukan hangat.

Pelukan itu lama tapi tidak ada kata-kata manis. Hanya keheningan yang terasa jauh lebih menenangkan daripada apa pun.

Nadira sempat membeku beberapa detik sebelum akhirnya membalas pelukan itu dengan ragu. Kepalanya bersandar pelan di dada Arga. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu yang berdetak tenang.

"Aku janji," bisik Arga pelan. "Aku akan menjaga kamu."

Nadira tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata sejenak, membiarkan rasa hangat itu mengusir ketakutan yang sejak tadi memenuhi pikirannya.

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa sejak saat itu, bukan hanya dokumen peninggalan Hendra yang menjadi incaran. Melainkan juga mereka berdua.

Keesokan paginya, Toko Buku Senja kembali dibuka seperti biasa. Meski bagian dalam toko sudah dirapikan, beberapa rak masih memperlihatkan bekas berantakan akibat pembobolan semalam.

Maya mengembuskan napas panjang sambil menyusun kembali buku-buku yang sempat berserakan.

"Kalau ketemu pelakunya, pengen rasanya aku suruh dia beresin toko sendiri."

Nadira tersenyum tipis.

"Mbak malah ketawa."

"Soalnya kamu ngomelnya dari tadi nggak berhenti."

"Ya kesel, Mbak." Maya memasukkan beberapa buku ke rak. "Untung aja nggak ada yang hilang banyak."

Nadira hanya mengangguk pelan.

Kalau saja semalam ia tidak berubah pikiran dan membawa pulang map itu, mungkin sekarang semua dokumen peninggalan ayahnya sudah lenyap.

Pikiran itu membuatnya tanpa sadar memeluk tas yang berada di samping meja kasir.

Sepanjang hari, Nadira merasa dirinya berubah. Setiap kali pintu toko berbunyi karena ada pelanggan masuk, ia langsung mengangkat kepala. Tatapannya mengikuti setiap orang yang berjalan di antara rak-rak buku.

Saat seorang pria berdiri terlalu lama di rak sejarah, Nadira tanpa sadar memperhatikannya dari balik meja kasir.

Namun ternyata pria itu hanya sedang memilih buku. Beberapa menit kemudian, ia membayar lalu pergi seperti pelanggan biasa.

Nadira mengembuskan napas pelan.

"Mungkin aku memang terlalu kepikiran." Aslinya, perasaan tidak tenang itu tidak benar-benar hilang.

Menjelang sore, Maya meminta izin keluar sebentar membeli minuman. "Aku sekalian beli kopi, Mbak. Mau nitip?"

Nadira menggeleng. "Aku ikut keluar sebentar saja. Sekalian beli air mineral."

Mereka berjalan keluar toko. Setelah membeli minuman di minimarket seberang jalan, Maya kembali lebih dulu karena ada pelanggan yang datang.

Sementara Nadira berjalan pelan menyusuri trotoar. Baru beberapa langkah, ia merasakan sesuatu. Seperti ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.

Nadira berhenti, menoleh ke belakang. Seorang pria paruh baya sedang duduk di halte sambil membaca koran.

Tak jauh darinya, seorang pemuda sibuk memainkan ponsel. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Nadira kembali melangkah. Namun ketika melewati etalase sebuah toko, ia menangkap bayangan seseorang di pantulan kaca. Seseorang yang berjalan beberapa meter di belakangnya. Ia langsung menoleh.

Kosong. Orang itu sudah tidak ada. Jantung Nadira berdetak sedikit lebih cepat.

"Aku kenapa, sih..." Ia mengembuskan napas pelan sambil menggeleng. "Mungkin gara-gara kejadian semalam." Nadira berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanya perasaannya.

Tak lama kemudian, mobil Arga berhenti di depan Toko Buku Senja.

Seperti biasa, Arga turun lebih dulu dan membuka pintu untuk Nadira. "Ayo pulang."

Nadira mengangguk pelan sebelum masuk ke dalam mobil. Mobil mereka perlahan meninggalkan kawasan pertokoan. Tak ada yang mereka sadari.

Sekitar lima puluh meter di belakang, sebuah sedan hitam ikut menyalakan mesin. Mobil itu bergerak perlahan, menjaga jarak agar tidak menarik perhatian.

Di dalamnya, dua orang duduk tanpa banyak bicara. Pria yang berada di kursi penumpang mengangkat kamera berukuran kecil.

Klik.

Satu foto berhasil diambil.

Foto Nadira yang sedang duduk di samping Arga. Ia mengirimkannya melalui ponsel sebelum berkata singkat,

"Target bersama Arga Wijaya." Suara dari seberang hanya terdengar beberapa detik.

"Terus awasi mereka." Sambungan telepon terputus.

Sedan hitam itu kembali melaju perlahan, membaur dengan kendaraan lain, seolah hanya mobil biasa yang sedang menikmati ramainya jalanan sore.

Padahal sejak awal, tujuan mereka hanya satu.

Mengawasi Arga dan Nadira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!