Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Muncul Lagi
Selagi Zoe sibuk dengan blusukannya, Shena di ujung sana mengernyit heran setelah membaca pesan singkat dari suaminya itu.
"Sayang, aku udah sampe. Tapi malah dikerjain sama ibu-ibu gang sempit!"
"Maksudnya apa, sih?" gumam Shena pada diri sendiri. Ia tahu kepergian suaminya kali ini bertujuan untuk mengungkap identitas seseorang atas tantangan yang diberikan Papa Ruly.
Akan tetapi, Shena hanya mengetahui sebatas itu saja. Tidak tahu detail permasalahannya. Entah ke mana pula tujuan Zoe sebenarnya.
Beberapa saat setelah Zoe pergi, ia langsung berkutat dengan ponsel barunya yang dibelikan oleh Zoe.
Tiga tahun lamanya hanya ia lalui tanpa bisa menjalaninya dengan normal. Tentu Shena ingin mengetahui perkembangan zaman yang ada, banyak hal telah ia lewatkan dan Shena tak ingin menjadi orang yang tertinggal ketika sudah siap berbaur nanti.
"Maafkan aku ..., Harry," bisik Shena lirih. Apa yang dilakukannya barusan jadi mengingatkannya pada sosok Harry. Ia masih tak percaya laki-laki baik hati itu pergi begitu cepat.
"Ini semua karenaku ..., maaf," katanya lagi. Shena mulai menangis, perasaan bersalah yang selama ini menghantui pikiran, rasanya tak sanggup lagi ia sembunyikan.
Hatinya begitu sakit jika mengingat semua yang terjadi di masa lalu. Bersandiwara seperti ini pun menjadi beban tersendiri untuknya, tetapi ia tidak ingin sampai Zoe tahu apa yang dirasakannya.
Menyadari posisinya saat ini, pastilah laki-laki itu juga mengalami kesulitan yang tidak mudah.
Jadi, untuk saat ini ia putuskan akan mengikuti keinginan Zoe.
Saat Shena hanyut dengan pikirannya, sayup-sayup ia mendengar kegaduhan di luar sana, dan langsung tahu ada seseorang datang ke sini.
Shena jadi gelagapan, inilah saatnya ia beraksi. Menjalankan sandiwara seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Shena bukanlah orang yang pandai berakting, tetapi sebisa mungkin ia akan mengelabui siapa pun yang coba datang menghampiri.
Sementara di luar sana, tepatnya di depan pintu kamar Zoe, Dokter Andrew tengah mencegat langkah Erlita.
"Berhenti, Sus, Pak Zoe berpesan agar tidak ada yang memasuki kamar ini jika dia sedang tidak ada. Termasuk dirimu!"
Mata Erlita mendelik, tak terima dicegah seperti ini. "Apa maksudmu, Dokter Andrew? Aku dibayar untuk merawat Nona Shena. Bagaimana mungkin beliau tidak mengizinkanku memasuki kamar ini?"
"Tapi memang seperti itu permintaan beliau. Jadi, sekarang kamu pergilah! Biar aku sendiri yang menanganinya!" jelas Dokter Andrew lagi.
Dia tidak sepenuhnya berbohong. Memang inilah yang diperintahkan sang bos. Memintanya agar sebisa mungkin mencegah Erlita mendekati istrinya. Bahkan setiap kata yang meluncur dari Zoe masih tertanam jelas di ingatannya.
Siapa pun boleh menjenguk istriku, kecuali Erlita!
"Jangan mengarang cerita, Dok! Menyingkirlah!" kukuh Erlita, ia menyikut dada sang dokter dengan tangan yang membawa nampan berisi obat-obatan dan jarum suntik.
"Tidak, Suster Erli, mengertilah!" Keduanya menggunakan sapaan formal jika sedang di tengah jam kerja seperti ini. Namun, lain lagi kalau sedang berdua saja.
Perdebatan keduanya ternyata disaksikan oleh Mama Amelia, ia sedang membuat kue bolu kesukannya di dapur, tetapi malah mendengar kegaduhan di lantai dua.
"Apa yang kalian ributkan?" tanyanya penuh keheranan.
Dokter Andrew cepat-cepat menunduk, memberi salam hormat pada sang nyonya. Sementara Erlita malah menunjukkan sikap manja, lalu mengadu atas ulah sang dokter padanya.
"Kenapa begitu saja jadi masalah? Biarkan saja Dokter Andrew menjalankan tugasnya, lebih baik kamu temani Mama di dapur. Ayo!"
Karena Mama Amelia yang meminta, Erlita jadi tidak bisa berkutik. Ia lantas menyerahkan nampan obat tersebut kepada Dokter Andrew secara kasar.
"Nih! Puas!" ucapnya begitu ketus.
Dokter Andrew hanya geleng-geleng kepala melihat kelakukan susternya. Ia jadi semakin sadar karena sudah membiarkan gadis itu berulah terlampau jauh.
Harusnya, ia menegur Erlita sedari awal. Bukan malah ikut melindungi sesuatu yang salah yang jelas-jelas akan merugikan semua orang.
Masalah kini semakin rumit, apalagi jika cinta sudah turut campur di dalamnya. Namun, ia tak ingin dibutakan karenanya. Dokter Andrew bertekad mulai saat ini ia akan mengedepankan logikanya.
"Suster Erli sudah pergi, keadaan sudah aman dan Mbak Shena boleh membuka mata," ujar Dokter Andrew memberitahu.
Mata Shena yang bulat seketika terbuka lebar, sejak tadi berusaha menahan napas karena takut tiba-tiba Erlita atau Mama Amelia menerobos masuk ke kamar. Jantungnya saja masih berdegup kencang, tapi ia coba bersikap tenang.
"Ehm! Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu saya permisi. Mau mengambil pesanan untuk Mbak makan siang nanti."
Mereka memang sudah sepakat untuk selalu memesan makanan dari resto ternama tanpa sepengetahuan siapa pun, tentunya Zoe telah lebih dulu berkonsultasi dengan pakar ahli gizi mengenai asupan yang harus dikonsumsi sang istri pascakoma.
Laki-laki itu tidak ingin main-main jika sudah menyangkut sang istri.
Di sisi lain, Zoe sedang berhadapan dengan orang tua Lily. Hanya ada ibunya saja karena setahu Zoe, ayah Lily telah tiada ketika gadis itu berusia lima tahun.
"Lily memang jadi lebih sering pulang kemari, Nak Zoe. Ibu juga sempat heran, tapi setiap kali diatanya, jawabnya selalu tidak terjadi apa pun. Dia hanya sedang rindu dan ingin tinggal di sini untuk sementara waktu."
Tujuan kedatangan Zoe ke sini adalah untuk menemui Lily, ingin meminta kejelasan langsung atas kecurigaannya mengenai gosip yang beredar, tetapi sayangnya wanita berwajah oriental itu sedang tidak ada di rumah.
Tidak ada yang tahu di mana Lily, ibunya pun malah sedang kebingungan karena belum mendapat kabar.
Entah mendapat keyakinan dari mana, Zoe yakin bahwa orang yang ada di dalam video tak lain dan tak bukan ialah kaki tangannya sendiri, Kriss Max.
Hanya Kriss yang berpotensi bermain api seperti itu, satu-satunya kandidat berinisial K yang berani berbuat demikian.
"Saya akan coba bantu cari keberadaan Lily, kalau sudah ada perkembangan informasi, akan segera saya sampaikan pada Ibu."
"Terima kasih banyak, Nak Zoe! Keluarga kami sudah terlalu banyak merepotkan keluarga Nak Zoe," ungkap ibunya Lily dengan suara yang bergetar. Sorot matanya begitu tulus dan sendu.
Keluarga Mafarulls dikenal cukup dermawan, ia dan sang putri menjadi saksi betapa mudahnya keluarga konglomerat itu pernah membantu mereka melunasi biaya rumah sakit yang tak sedikit. Dulu, almarhum ayahnya Lily menderita penyakit jantung kronis.
"Lily sudah kuanggap seperti adikku sendiri, Bu. Begitupun dengan Ibu yang sudah kuanggap seperti bagian dari keluarga kami. Jadi, jangan sungkan untuk meminta bantuan!"
Hati ibunya Lily kian terenyuh, ia yang kini hidup sendiri seakan memiliki tumpuan.
Selesai berbincang dan karena Lily tak kunjung datang, Zoe akhirnya pamit pulang. Dari pembicaraan mereka pun ia mengetahui kebenaran dari ibu-ibu berdaster kuning yang mengelabuinya tadi.
"Dia memang memiliki penyakit mental dan sedang diberi izin dari rumah sakit jiwa untuk pulang sejenak, tapi tenang saja, dia itu baik, kok, Nak. Gak bahaya!" ungkap ibunya Lily.
Zoe tak langsung menanggapi, ia hanya mengangguk sembari bergidik ngeri. Bukan tidak bersimpati, hanya terkejut dan tak menyangka ia akan berurusan dengan seseorang yang tidak normal.
Sebelum benar-benar pergi ia berbalik badan dengan wajah yang sedikit panik.
"Ada apa, Nak Zoe? Apa ada yang ketinggalan?" tanya ibunya Lily karena merasa heran. Ia khawatir jika ada barang mewah milik Zoe tertinggal di dalam rumahnya yang teramat sederhana.
"Tidak, Bu."
"Lalu?"
"Itu ..., ibu-ibu aneh yang tadi muncul lagi."
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih