Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.
****
"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.
Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.
Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.
Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.
"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.
"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua delapan
Pagi-pagi sekali, Beni sudah bersiap-siap begitu juga dengan bi Senum. Mereka berdua berencana ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan Diana.
Beni semakin gusar karena Diana tidak kunjung bertemu sementara telepon genggamnya yang ditinggalkan direstoran begitu saja tidak dibawa Diana menambah kegusaran Beni. Entah kemana Beni harus mencari Diana, dan siapa yang harus dihubunginya.
"Diana, kemana kamu nak?" Kenapa kamu tidak hubungi papa nak, papa khawatir." Gumam Beni dengan suara yang lirih. Wajah Beni terlihat lelah karena mencari Diana kesana kemari namun tidak kunjung ditemukan.
Beni berjalan menuju kamar bi Senum.
Tok tok tok...
"Bi bi bi Senum." panggil Beni.
Ceklek, pintu dibuka dari dalam.
"Iya pak, saya sudah siap." ucap bibi Senum.
"Ya sudah, ayo kita pergi bi. Sebelumnya kita sarapan dulu di angkringan, siapa tau Diana ada disana."
"Baik pak."
Mereka berdua pun pergi menuju angkringan kemaren mengisi perut dan berharap Diana juga ada disana. Selesai makan, Beni mengedarkan pandangannya kembali sekedar meyakinkan dirinya bahwa memang Diana tidak ada disana. Setelah yakin, Beni berjalan ke kasir untuk membayar makanannya dan memberi kode pada bi Senum agar menunggunya di mobil.
Hari sudah menunjukkan pukul Delapan pagi, Beni memacu mobilnya menuju kantor polisi untuk melapor.
"Permisi pak." Ucap Beni
"Iya pak, silahkan duduk. Ada yang bisa kami bantu pak?" tanya pak polisi.
"Ini pak, saya mau melaporkan anak saya hilang pak."
"Hilang dari kapan pak?"
"kemaren sore pak, didekat restoran cepat saji."
"Kalau kemaren sore berarti belum 2 x 24 jam pak."
"Iya, belum pak, tapi anak saya sudah semalam tidak pulang pak. Apa saya harus tunggu dulu 2 x 24 jam baru laporan saya diproses," tanya Beni sedikit kesal.
"Memang seperti itu aturannya pak, orang hilang baru akan kami proses setelah 2 x 24 jam sejak hilang."
"Ah aturan konyol apa itu, bagaimana mungkin saya harus tunggu 2 x 24 jam sementara anak saya diluar sana sendirian." ucap Beni sedikit membentak.
"Maaf pak, ini sudah aturan pak. Untuk proses kehilangan memang 2 x 24 jam pak, tapi kami akan membantu bapak dengan polisi yang patroli keliling. Jadi bapak bisa berikan informasi tentang anak bapak dan kalau bisa fotonya pak."
"Oh baiklah, kalau begitu pak."
"Ya, bapak silahkan ke meja disana untuk membuat rincian data anak bapak nanti serahkan ke petugas piket beserta fotonya pak. Nanti kita akan bantu dengan polisi patroli."
"Baik pak, dan terimakasih atas bantuannya pak. Saya tunggu kabarnya pak." Ucap Beni dengan penuh harap.
"Baik pak, kami akan bantu semampu kami."
Jawab pak polisi.
Kemudian Beni meninggalkan data Diana beserta fotonya dan nomor teleponnya untuk dihubungi polisi. Setelah semuanya selesai, Beni dan bi Senum meninggalkan kantor polisi dengan harapan Diana segera ditemukan.
****
Diana yang kelelahan karena menangis sangat lama sebelumnya tertidur begitu nyenyak di sofa ruang tamu.
Adi yang sudah siap-siap berangkat ke kantornya tersenyum melihat Diana yang tertidur.
"Dasar gadis aneh, kenapa malah tidur disini. Apa rumah ini tidak memiliki kamar sehingga dia tidur disini." Gumam Adi pelan.
Adi berjalan menuju tempat Diana tidur dan menggendongnya ke kamar tamu. Diana yang tertidur pulas tidak merasakan ada tangan yang menggendongnya. Adi meletakan Diana di kasur dengan sangat hati-hati dan menyelimuti tubuh Diana.
Diam-diam Adi memperhatikan Diana dari dekat.
"Cantik, parasnya ayu dan .... Ah sudahlah, aku harus pergi dari sini. Jika lama-lama menatapnya aku bisa memakannya." Adi tertawa geli dengan pikirannya sendiri.
Adi memasuki dapur menyiapkan sarapan untuk dia dan Diana sebelum dia berangkat ke kantor.
"Sudah jam 7.15, aku harus segera ke kantor hari ini ada rapat direksi." gumam Adi.
Adi meninggalkan secarik kertas untuk Diana di atas meja makan. Setelah semua dirasa beres, Adi bergegas menuju ke kantornya.
Pukul sepuluh, Diana terbangun dari tidurnya. Disaat terbangun, dia meraba-raba tempat yang ditidurinya dan mengingat-ingat rasanya malam tadi dia tidur dengan tempat yang berbeda dan ruangan bukan ini.
Setelah yakin ini bukan ruangan semalam, Diana terperanjat dan lansung bangun.
"Astaga, apa yang terjadi denganku semalam." Diana berteriak dan meraba tubuhnya serta memperhatikan baju yang dipakainya.
"Syukurlah baju ku masih baju yang kemaren. Awas saja jika orang aneh itu macam-macam padaku." Pikir Diana.
Diana kemudian pergi ke kamar mandi sekedar berkumur-kumur dan mencuci mukanya. Dia tidak bisa membersihkan tubuhnya karena pakaian ganti tidak ada.
"Hah lumayanlah buat menyegarkan muka, badanku lengket semua. Bagaimana lagi kalau mandi, baju ganti ku tidak ada. Tidak enak rasanya habis mandi pakai ini lagi."
Kriuk kriuk kriuk.
"Ah perut ini tidak bisa kompromi apa." Gerutu Diana sambil mengelus perutnya.
Diana berjalan menuju dapur mencari apa yang bisa dimakannya.
"Wah...Wah, coba lihat ada apa di atas meja...
Sepertinya enak baunya harum lagi."
Ayo Diana, makan anggap saja rumah sendiri, Diana bicara pada dirinya sendiri ketika sepiring nasi goreng dan segelas susu sudah terhidang di meja.
Diana lansung makan dengan lahap tanpa memperhatikan secarik kertas didekat piring yang dihidangkan. Setelah melahap habis, Diana mengambil gelas susu dan meminumnya. Pada saat meminumnya, Diana baru sadar ada catatan untuknya.
Dengan segera dia meletakkan gelas susu dan mengambil secarik kertas lalu membacanya.
"Gadis Bodoh. Karena kamu bangunnya lama jadi saya tinggal. Ini sarapan sudah saya buatkan, jangan lupa habiskan dan ingat jangan buat rumah saya berantakan.
Awas jika kamu buat aneh dirumah saya.
Dan ingat jangan kemana-mana.
Dan satu lagi jangan berpikir untuk kabur karena rumah saya pakai CCTV yang terhubung pada telepon saya. Jika itu kamu lakukan, saya pastikan kamu akan menyesalinya!!!!"
Diana meremas kertas dan membuang seenaknya.
"Huh dasar orang aneh, seenaknya memanggil ku gadis bodoh, dia pikir dia pintar apa."Umpat Diana.
"Dan ini lagi, pakai ancam segala. Tapi apa dia serius dengan ancamannya ini." Diana berpikir dan bergidik ngeri memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti mengingat kemaren orang aneh itu akan memakannya hidup-hidup.
"Ah lebih baik aku tidak berurusan dengannya" pikir Diana.
Setelah selesai makan dan membereskan, Diana menuju ruang santai melihat-lihat dan dia rencananya mau bermalas-malasan sampai pria yang dianggapnya aneh itu kembali.
Sementara itu di sebuah gedung lantai 15 duduk seorang pria tampan yang sedang memeriksa berkas. Dia adalah Adi yang dianggap orang aneh oleh Diana merupakan pemilik perusahaan JJC dan memiliki banyak anak cabang diberbagai daerah. Wajah yang tampan, badan atletis dan memiliki kekayaan yang sangat banyak membuat kaum hawa berebut mencari perhatiannya, namun sayang penampilannya yang tertutup membuat kaum hawa yang mendekatinya berpikir ulang sebelum mendekatinya.
"Sudah semua berkas ini pak Han?" tanya Adi.
"Sudah pak." Jawab Han singkat.
Han adalah orang kepercayaan Adi sang pemilik perusahaan, tingkah laku Han pun hampir menyerupai Adi.
Han orangnya kaku, jutek, tidak banyak omong dan yang pasti tatapannya membunuh. Hal itulah yang membuat Adi menjadikannya sebagai orang kepercayaannya. Han sudah berkerja dengan Adi sejak Adi mulai merintis perusahaan tepatnya sepuluh tahun yang lalu. Usia Han dan Adi pun tidak bedq jauh, mereka hanya beda beberapa tahun.
Adi memulai merintis perusahaannya dari nol dengan dukungan finansial dari orang tuanya. Berkat kemampuan cemerlangnya dan tangan dingin dari seoran Han perusahaannya berkembang dengan pesat bahkan diusianya yang sangat muda.
Adi dan Han memiliki watak dan kepribadian yang hampir sama, bahkan terkadang susah menerka mana Adi dan mana Han. Hal ini malah menguntungkan bagi Adi, dimana dia tidak mau berurusan dengan klien perempuan lebih suka bertukar tempat dengan Han.
"Han, setelah ini kau pergilah ke butik dan beli 2 set pakaian lengkap wanita ukuran M. Belilah yang model anak muda tapi tetap bergaya casual dan anggun."
"Baik pak. sambil berpikir untuk apa seorang Adi membeli pakaian wanita lengkap lagi.
"Oh tidak pakaian lengkap itu artinya aku harus memilih pakaian dalam wanita." Sungut Han di dalam hati.
Karena penasaran dan tidak mau jadi bahan tertawaan di butik Han menyela perintah Adi.
"Adi, apa aku tidak salah dengar pakaian lengkap wanita? Apa kau ingin aku memilih bra, celana dalam begitu." Han bicara dengan menghilangkan kata pak sebelumnya sambil menepuk jidatnya.
"Hahahahaha, kau keberatan Han, kenapa memangnya jika aku menyuruhmu membeli pakaian lengkap wanita, ada masalah?"
"Dasar kau, seenakmu memerintahku. Em memang wanita mana yang akan kau berikan pakaian, seingat ku tidak ada wanita yang dekat denganmu."
"Kerjakan saja perintahku Han jangan banyak tanya." Suara Adi tegas memerintah.
"Oke, baiklah akan saya lakukan sesuai perintahmu pak."
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏