Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun bagaimana jika seseorang di tuntut untuk selalu sempurna?
Arkabian Selat Muara. Ketua besar dari ALTARES Gang. Laki-laki yang memiliki paras hampir sempurna di SMANBA. Hal yang paling tidak ia sukai adalah, ada orang yang mengusik kehidupannya.
**
"Menurut lo cinta itu apa?"
"Cinta itu luka, cinta itu sakit. Dunia itu jahat Lun, kita dipertemukan oleh semesta tapi tidak ditakdirkan bersama."
Akankah kehadiran seseorang mampu membuat Arka berubah? Yuk baca dan pergi ke dunia Arka»
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ejubestie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Mendung Buat Arka
"Makasih, ya, lo udah mau ngajarin gue."
"Ngebantu orang kan emang kewajiban kita sebagai sesama manusia," jawab Luna.
Selepas pulang sekolah Luna janjian bertemu seseorang di cafe story. Tentang Arka, cowok itu nampak kecewa dan marah pada gadis itu. Bahkan selepas pulang sekolah cowok itu diam saja saat berpapasan dengan Luna di parkiran.
Sebenarnya itu bagus buat Luna. Ia tidak usah susah payah cari cara agar Arka menjauhinya.
"Gue benar-benar salut sama lo, Lun. Lo baik banget sama gue setelah apa yang pernah gue lakuin sama lo.''
Luna menyeruput jus jeruknya, "Setiap manusia berhak atas kesempatan kedua, Bayu.'' jawab Luna.
Cowok itu meminum kopinya, "Berkat bantuan lo, gue lulus dengan nilai yang baik."
"Lo emang udah pintar, Bayu. Gue cuman bantu buat mengasah kemampuan lo aja," kata Luna pada Bayu. Bayu adalah ketua dari geng Dragon, orang yang pernah menculik Luna waktu itu.
"Arka tau kalau lo berhubungan sama gue?" tanya Bayu pada Luna.
Luna menganggukkan kepalanya. "Tau."
"Terus gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, gue sama Arka kan nggak ada hubungan, lagi." ujar Luna malas. Luna hanya tidak mau membahas cowok itu sekarang.
Hening. Tidak ada percakapan lagi, Luna dengan pikirannya dan juga sebaliknya. Sebenarnya Luna masih sedikit takut sama Bayu, ia takut jika cowok itu berbuat macam-macam padanya.
"Lo punya masalah apa sama Arka?" tanya Luna mendadak kepo.
Bayu yang sedang minum tiba-tiba tersedak, "Itu cuman masalah biasa." jawabnya.
"Masalah biasa? Gue nggak yakin," ucap Luna. Jika masalah biasa kenapa tidak diselesaikan secara baik-baik? Bahkan mereka berkelahi sampai Karlo masuk kerumah sakit tempo hari.
"Gue nggak berhak buat cerita," kata Bayu menundukkan kepalanya.
"Oke."
Luna juga tidak berhak dan tidak mau ikut campur dalam masalah mereka. Tapi Luna hanya ingin kedua geng motor itu berdamai, ia sempat diceritakan oleh Nisa, bahwa mereka berdua adalah teman baik dulu. Lalu sekarang kenapa mereka menjadi bermusuhan?
"Tawaran itu masih berlaku?" tanya Luna.
"Masih," jawab Bayu.
Luna meletakan uang di bawah gelasnya, "Besok datang ke rumah gue dengan pakaian rapi, untuk jamnya nanti gue kabarin?"
Luna berjalan ke arah motornya dan memakai helm." Gue duluan."
"Hati-hati dijalan," teriak Bayu masih di tempatnya.
Setelah Luna pergi, ada seseorang perempuan mendekati meja Bayu.
"Gimana bang?"
"Semua aman princess," kata Bayu.
"Lo beneran suka sama dia?" tanya Lolly.
Bayu nampak diam sejenak. Ia sempat memikirkan Luna, gadis itu memiliki hati yang baik, wajahnya cantik. Siapapun yang berhasil mendapatkan nya pasti ia orang yang paling beruntung.
"Gue emang suka, tapi nggak tau kalau Luna."
"Kalau lo mau, gue bisa bantu lo bang." kata Lolly menawarkan diri.
Bayu berdiri dari tempatnya. "Gue nggak mau kalau lo nyakitin dia. Urusan lo sama Arka, Lolly. Jadi Luna tidak ada sangkut pautnya."
Setelah mengatakan itu Bayu pergi meninggalkan Lolly sendiri. Bayu sudah lelah dengan adiknya, gadis itu hanya terobsesi dengan Arka, bukan cinta.
"Gue pastiin apa yang gue mau terkabulkan." gumam Lolly.
...*****...
Arka memasuki rumahnya setelah pulang sekolah, ia sudah siap jika mendapat hukuman dari ayahnya, karena nilainya yang jelek.
Arka, alisnya terangkat saat melihat keluarga nya berkumpul di ruang tengah. Cowok itu hendak melewati nya saja, namun urung karena namanya dipanggil.
"Arka, kamu sudah pulang?" kata Clara. "Sini bentar, nak."
Arka berjalan mendekati bundanya. "Kenapa, bun?"
"Besok Gilang bakalan pergi ke luar negri buat lanjutin kuliahnya, kamu nggak mau ucapin selamat tinggal sama dia?" ujar Clara.
Arka menatap Gilang yang tersenyum ke arahnya, namun Arka hanya memasang wajah datarnya. Dipikirkan Arka, enak sekali cowok itu. Bisa kuliah di luar negeri, tidak di tuntut sempurna oleh ayahnya, dan bebas melakukan apa saja.
"Bagus dong. Cita-citanya kan tinggi, setinggi harapan ayah." ucap Arka dingin. Bisa dilihat Prama, pria itu nampak sedang menahan amarahnya.
"Ayah nggak mau ngehukum Arka? Nilai Arka jelek loh, peringkat sepuluh dari belakang." lanjut Arka santai.
Clara nampak mengelus punggung Arka, mencoba untuk memberi pengertian kepada putranya. Clara sebagai ibunya tidak tega jika terus-menerus melihat putranya di pukuli oleh suaminya, namun semua itu tidak bisa Clara hentikan.
Prama menatap Arka remeh, "Udah nggak kaget si kalau nilai kamu jelek." Pria itu merangkul pundak Gilang. "Ayah udah nggak butuh kamu. Ayah sadar, cuman Gilang yang pantas buat nerusin bisnis ayah."
Sakit? Tentu saja itu yang Arka rasakan. Ayahnya memang tidak menginginkan kehadirannya di keluarga ini. Walaupun sudah sering kali pria itu menyakitinya, namun kali ini lebih membekas. Ayahnya nampak terang-terangan bahwa Arka sudah tidak dibutuhkan disini.
"Ayah." sentak Gilang. Sebagai kakak ia merasa tidak pantas untuk semua ini. Arka adalah anak kandung keluarga Prama sedangkan dirinya hanya anak pungut.
Walaupun bagaimana pun, Gilang tetap menyayangi Arka seperti adik kandungnya sendiri.
"Kamu sebaiknya pergi ke kamar buat ngemasin barang-barang kamu. Besok ayah antar sampai bandara." kata Prama lalu menuntun Gilang ke kamar tanpa mau melihat Arka disana.
Clara merentangkan tangannya, "Mau peluk?" tanya wanita itu.
Dengan senang hati Arka menerima pelukan bunda nya. Walaupun semua jahat pada Arka, tidak dengan Clara. Wanita itu sangat menyayangi kedua putranya.
"Ayah emang nggak sayang sama Arka ya, bun?"
"Bukan gitu. Ayah sayang kok sama Arka, ayah cuman mau yang terbaik buat Arka, makanya ayah berusaha ngajarin Arka." kata Clara lembut.
"Ayah itu egois. Dia cuman mau apa yang dia inginkan, ayah nggak pernah nanya apa yang Arka inginkan." entah sejak kapan air mata Arka jatuh tanpa di minta.
Arka lemah, mau sampai kapan dirinya harus pura-pura kuat. Dia bukan robot yang bisa setiap saat dan bisa apa saja.
"Maafin bunda, ya. Bunda nggak bisa berbuat banyak, nak." ucap Clara. Tubuh wanita itu bergetar menandakan ia menangis.
Arka melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Clara. "Bunda nggak perlu minta maaf, bunda nggak salah."
Clara mencium tangan Arka yang berada di pipinya. "Arka pasti kuat kan. Sekarang Arka mandi dan bersih-bersih, bunda bakalan masak makanan kesukaan Arka, ya."
"Iya bun," jawab Arka. Cowok itu pergi ke kamarnya untuk mandi. Dirinya benar-benar lemas sekarang, entah mengapa pikirannya sekarang terisi oleh nama Luna.
Sepertinya hanya Luna yang bisa membuat Arka semangat kembali. Tetapi mengingat jika Luna berhubungan dengan Bayu, musuh dari ALTARES, Arka mendadak marah.
"Kenapa, Na?"
semangat kak... ☺