Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Pagi harinya saat Nathan terbangun, Angel telah selesai menyiapkan sarapan. "Selamat pagi," sapanya. "Aku membuat pie stroberi, apa tuan mau mencobanya?"
Saat Angel baru mulai belajar memasak, Nathan membelikan buku resep untuk Angel sebab ia tak bisa mengajari Angel secara intensif, Nathan begitu sibuk dengan kebunnya.
Nathan berjalan menghampiri Angen dan mengambil sepotong pie, kemudian memasukannya ke mulut.
"Jadikah kita mengambil kacangnya?" tanya Angel sembari menatap Nathan.
Nathan hampir tersedak mendengar pertanyaan Angel, ia tak menyangka jika Angel sangat bersemangat untuk mengambil kacang. "Aku tidak tahu kau seperti terburu-buru." Nathan menggeser kursinya ke belakang dan pergi ke gudang untuk mengambil goni. "Ayo berangkat!" ajak Nathan.
Butuh beberapa jam bagi mereka untuk mengisi karung itu hingga penuh. Setelah penuh, mereka kembali ke rumah. Angel langsung menjemurnya di halaman, sementara Nathan membelah batang kayu.
"Apakah sudah semua kamu jemur?" tanya Nathan sembari menyeka keringatnya.
"Ya ini semua yang tadi kita peroleh."
"Aku pikir satu karung banyak, ternyata hanya segitu."
"Maksudmu, segini kurang?"
"Ya."
"Mungkin kau adalah manusia setengah tupai," gumamnya di bawah napasnya, tapimkemudian Angel berpikir jika Nathan ingin menjual kacang itu bersama dengan stoberi. Ia berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang.
Tak berapa lama kemudian Nathan menyusul dengan membawa banyak sayuran di keranjang. "Banyak sekali yang kau petik, apa kau ingin aku memasaknya semua dan kau menghabiskannya?"
Nathan tersenyum. "Jika tidak di petik semua, sayuran ini akan mati di pohon, kita bisa membaginya ke tetangga."
Membagikan? "Aku tidak tahu kita punya tetangga," ucap Angel.
Kau memeng tak pernah peduli dengan sekitar karena kau merasa tidak akan tinggal di sini.
"Ya sudah kau saja yang memberi pada tetanggamu, aku tidak kenal. Lebih baik aku mandi karena bau keringat. Tolong dagingnya di angkat jika sudah empuk." katanya dan menuju ke sungai.
"Iya," kata Nathan. Dia menyeringai dan membuka tutup panci untuk mengetahui seberapa matang daging yang di masak. Nathan mulai bersiul. Setengah jam kemudian, daging matang dan Angel datang.
"Lihat ini!" Angel memegang tangannya baginya untuk melihat telapak tangan dan jari-jarinya yang menghitam. “Aku sudah menggunakan sabun dan sudah menggosoknya."
"Ini berasal dari lambung."
"Maksudmu tanganku akan tetap seperti ini?"
"Untuk beberapa minggu."
Mata birunya menyipit. "Apakah kamu tahu ini akan terjadi?"
Nathan tersenyum sedikit dan mulai menyajikan makanan di mangkuk saji. "Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Aangel kesal.
Nathan menaruh panci yang sudah kosong di tempat cuci piring. "Kamu tidak bertanya," ia kembali lagi ke meja makan dan menarik kursi. "Sudah ayo makan dulu!"
Tangannya yang hitam mengepalkan tangan dan wajahnya dipenuhi dengan warna marah, meski demikian Angel tetap patuh dan duduk di sebelah Nathan menikmati makanan yang ia masak.
"Bagaimana aku bisa kembali ke gang senggol sekarang dengan tanganku yang hitam seperti ini?" Angel tak bisa membayangkan Madam akan menertawakan dan meledek dirinya.
Mulut Nathan melengkung masam. “Sebegitu pentingkah mereka untukmu?"
"Aku akan menemui Madam dan meminta uangku, jika dia melihat aku tidak cantik lagi, sudah pasti dia akan mengolok-olokku." Angel menyendokan nasi ke mulutnya.
"Lambungmu bermasalah karena mereka, jadi tak usah peduli pendapat mereka. Kalau kau mau pergi-pergilah, aku tidak akan menahanmu lagi."
"Ya aku akan lergi setelah aku melunasi hutangku padamu dengan tenagaku, selama ini aku berusaha keras membantumu di kebun, di ladang, di dapur untuk membayar semua uang yang kamu keluarkan untuk membawaku pergi dari gang senggol."
Emosi Nathan meledak. "Aku tak yakin kau melakukan ini semua, untuk membalas jasa karena aku telah mengeluarkanmu dari gang senggol."
"Apa maksudmu?"
"Katakan tetang lerasaanmu, Mara!! Katakan kalau kau mencintaiku, dan yang kau lakukan ini sebab kau nyaman berada di sisi."
“Jangan membuatku tertawa! Kau pikir aku betah berada di sini? tentu tidak. Aku sudah menghitung berapa banyak uang yang kamu keluarkan, kemudian aku mencocokan dengan jam kerjaku di sini."
"Omong kosong. Aku yakin kau mulai suka di sini.” Nathan menangkap taangan Angel dan memintanya untuk menatapnya. "Ayo katakan sekali lagi, jika kau tak merasa nyaman berada disini!!"
Angel sama sekali tak bisa mengucapkan hal tersebut sebab ia menyadari dalam hatinya ia merasa nyaman berada di kebun ini. Angel menghempaskan tangan Nathan. "Lepaskan!"
Ia beranjak ke tempat tidur dam membenamkan tubuhnya ke kasur. Jantungnya berdegup kencang seperti lokomotif. Dia menghela napas dan mendorong jari-jarinya ke belakang melalui rambutnya. "Aku mau istirahat sebentar sebelum nanti mengangkat kacang itu."
Nathan membiarkan Angel beristirahat, sementara dirinya kembali ke kebun stroberi.
...****************...
Saat Angel memastikan Nathan pergi, perlahan ia beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju halaman untuk memasukan kacang ke karung, ia hanya hanya menyisihkan sebagian kecil untuk di goreng.
Tinggal di perkebunan ini memang hampir tak membutuhkan banyak uang, sebab alam sudah menyediakannya. Sungai yang jernih bukan hanya bisa di gunakan untuk mandi, namun menyimpan banyak ikan. Peternakan sapi, kambing, ayam dan kuda. Hamparan kebun stroberi, sayur mayur di belakang rumah, pohon kacang kenari, bluebery. Semua tersedia di sini, tapi tetap saja Angel tak bisa tinggal di sini. Cinta hanya-lah ilusi baginya, ayahnya saja tak menginginkannya bagaimana dengan orang lain, terlebih orang setaat Nathan, dia berhak mendapatkan wanita suci yang tak pernah tersentuh.
"Kita akan menjalani hari demi hari, sayang." Nathan tiba-tiba saja datang saat Angel selesai menggoreng kacang, ia mengambil satu kacang yang sudah matang dan memakannya.
Angel berbalik dan melipat tangannya di dada. “Aku tidak akan tinggal di sini selamanya.Tempatku bukan di sini, dan kau tahu itu."
“Kamu pikir tempatmu di mana? Kembali ke rumah bordil itu?”
“Itu pilihanku, bukan?”
“Kamu bahkan tidak tahu kamu punya pilihan."
"Saya tahu apa yang saya inginkan."
"Kalau begitu maukah kamu memberitahuku?"
"Aku ingin keluar dari sini!"
"Aku tidak percaya padamu."
"Aku tidak meminta kau percaya, sebab yang menjadi keinginanku bukan urusanmu." Angel tertawa, tapi kemudian ia melotot ke arah Nathan, matanya berkilat. “Apa yang ada dalam pikiranmu saat kamu membawaku kemari?"
Nathan tidak menjawab untuk waktu yang lama. Dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah dia bisa membuatnya mengerti. "Aku ingin kau mencintaiku,” ucapnya dan melihat ejekan di wajahnya. "Aku mau kamu cukup percaya padaku untuk membiarkan aku mencintaimu, dan aku ingin kau tinggal di sini bersamaku agar kita bisa membangun kehidupan bersama. Itu yang aku mau." Kemarahannya larut pada ketulusannya.
“Tuan, tidak bisakah kamu mengerti itu mustahil?"
"Segalanya mungkin terjadi."
“Kamu tidak tahu siapa dan apa aku selain dari apa yang telah kamu lihat."
"Kalau begitu beri tahu aku."
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.